
Rafa pun pergi ke kantor bersama ayahnya. Rafa sekarang berada didalam mobil ayahnya. Sejak tadi mereka sibuk membicarakan tentang bisnis dan tentang kemajuan perusahaan. Ayah Rafa pun tampak serius memberikan informasi-informasi penting tentang kerja sama yang dilakukan perusahaannya dengan perusahaan Perancis.
"Ini dokumennya. Untuk pertemuan nanti kau perlu membawa dokumen ini." Kata ayah Rafa sambil memberikan sebuah map.
"Baik, Yah." Kata Rafa.
"Apa tidak ada lagi yang kau butuhkan?" Tanya ayah Rafa.
"Sepertinya hanya itu saja yang aku butuhkan, Yah." Kata Rafa.
Ayah Rafa pun mengangguk tanda ia sudah puas dengan jawaba Rafa. Ayah Rafa pun tak banyak bicara dan hanya sibuk memainkan hpnya. Rafa melihat ayahnya yang tampak tenang langsung mengambil kesempatan itu untuk bertanya kepada ayahnya.
"Yah, kerjasama perusahaan ini, aku sudah bisa melakukannya. Aku juga sudah mengerti cara meningkatkan dan menjalin kerjasama ini. Jadi, apa aku masih perlu bertunangan dengan Luna?" Tanya Rafa serius. Dan secara tiba-tiba membuat ayahnya terkejut.
"Apa yang kau pikirkan Rafa? apa kau berpikir bahwa pertunangan ini hanya sekedar main-main? jika kau bertunangan dengan Luna kau tidak hanya menyatukan dua perusahaan tapi dua keluarga sekaligus." Kata ayah Rafa.
"Bagaimana kalau aku tidak mencintainya, Yah?" Tanya Rafa tiba-tiba. Pertanyaan Rafa itu membuat ayahnya terkejut seketika.
"Mungkin hari ini kau belum bisa menerimanya. Tapi, yakin lah seiring berjalannya waktu kau akan bisa mencintainya." Kata ayah Rafa lebih tegas daripada sebelumnya.
"Yah, mencintai seseorang tidak lah semudah itu. Benar kata ayah jika tunangan ini bisa menyatukan 2 perusahaan dan 2 keluarga kita. Tapi, sebenarnya yang terpenting cinta itu menyatukan 2 hati. Menyatukan 2 perasaan menjadi satu. Itu yang terpenting, Yah."
"Jika 2 hati itu belum menyatu sampai kapan pun aku ataupun Luna tidak akan pernah saling mencintainya,Yah. Apa ayah tega melihat anak ayah sendiri tidak bahagia dalam hidupnya." Kata Rafa sambil melihat ayahnya. Dan dengan wajah yang tak dapat diartikan.
"Ayah sudah melakukan yang terbaik buatmu. Turuti saja semua apa kata ayah. Ayah yakin kamu pasti akan bahagia." Kata ayah Rafa.
__ADS_1
Rafa hanya bisa menghela nafas saat ayahnya sudah berkata seperti itu. Ia tidak ingin melawan ayahnya hari ini. Hari ini Rafa ada pertemuan penting Rafa dengan beberapa tamunya. Ia tidak ingin konsentrasinya buyar karena perdebatan ini. Dan Rafa pun memilih diam.
Tiba-tiba ayah Rafa melihat Rafa lagi dengan wajah yang sangat penasaran.
"Ada sesuatu yang terpikir oleh ayah." Kata ayah Rafa.
"Apa, Yah?" Tanya Rafa heran.
"Tadi pagi, saat sarapan. Kenapa kau mengungkit kecelakaan itu lagi? sudah 4 tahun berlalu. Sejak saat itu kau tidak pernah bertanya dan ingin tau lagi tentang kecelakaan itu. Tapi, sekarang kau membahas itu lagi? Tanya ayah Rafa masih dengan wajah yang penasaran.
Dalam hati Rafa berpikir kenapa ia bertanya tentang kecelakaan itu karena mimpi tadi malam yang membuatnya penasaran. Kenapa mimpi itu membawanya kembali ke saat dimana dirinya ke kecelakaan. Kenapa Rafa harus melihat peristiwa yang mengerikan itu kembali. Dan satu lagi yang membuat ia penasaran adalah Nabila. Kenapa dia bisa muncul dalam mimpi Rafa dan mengatakan kalau ia adalah kekasihnya Rafa.
Karena itulah, Rafa bertanya lagi tentang kecelakaan itu. Karena sampai saat ini, Rafa hanya teringat saat ia ditabrak oleh sebuah mobil. Lalu, ia masih bisa mengingat saat ia di operasi karena luka parah dikepalanya. Rafa masih bisa merasakan saat dirinya koma dan tidak sadarkan diri selama berbulan-bulan.
Tapi, karena Nabila dan bayangan yang selalu muncul dalam pikirannya membuat Rafa merasa ada sesuatu yang mengganjal hati dan perasaannya. Seperti ada sesuatu yang ia lupakan dan yang tak diketahuinya.
Ayah Rafa langsung terdiam saat Rafa mengatakan kalimat "Atau emang sengaja dilupakan" kata itu berputar-putar dikepala ayah Rafa.
"Itu sangat tidak masuk akal Rafa. Keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi. Kau sudah pulih seutuhnya." Kata ayah Rafa.
Mereka pun akhirnya sampai di depan kantor. Ayah Rafa duluan keluar daripada Rafa. Rafa masih terdiam dan termenung. Rafa berpikir jika dia memang sudah pulih seutuhnya kenapa ia masih meminum obat itu. Obat yang sering dikasih Erick untuknya.
Tak perlu waktu lama. Rafa pun akhirnya keluar dan berjalan beriiringan bersama ayahnya dan masuk kedalam kantor. Semua karyawan menunduk kepada mereka berdua. Tanda mereka sopan dan menghargai atasannya. Karena Rafa dan ayahnya adalah seorang pemimpin dan satunya merupakan seorang CEO perusahaan.
Sebelum Rafa dan ayahnya masuk. Randi dan Nabila pun baru saja masuk kantor. Mereka berjalan beriringan berdua. Dan tampak saling mengobrol. Tapi, mereka pun berhenti saat mereka melihat semua karyawan tampak menunduk dan memberikan jalan untuk seseorang yang baru saja datang. Karena penasaran, Randi pun melihat kearah belakangnya dan melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Randi melihat orang itu. Ternyata itu Rafa dan ayahnya. Begitu juga dengan Nabila, ia melihat Rafa dan ayahnya baru saja masuk kantor. Nabila langsung terkejut. Sebenarnya bukan karena Rafa. Tapi, karena ayah Rafa. Kalau ayah Rafa sampai tau bahwa Nabila bekerja disini. Di perusahannya. Habislah Nabila. Ia tidak bisa lagi berada didekat Rafa dan mengungkap kebenaran.
Rafa dan ayahnya pun semakin dekat dengan Randi dan Nabila. Keringat dingin bercucuran dikening Nabila karena saking ketakutannya. Saat ini Nabila sangat takut jika ayah Rafa melihatnya.
"Hei, Randi." Sapa Rafa saat mereka sudah berada di didepan Randi. Ayah Rafa pun melihat ke seseorang yang Rafa sapa. Ayah Rafa seperti mengenal Randi.
"Kau Randi kan? kau satu sekolah dulu dengan Rafa. Ternyata kau bekerja disini." Kata ayah Rafa dengan wajah sombong.
Randi hanya bisa menunduk dan tak melihat ayah Rafa.
"Kenapa kau bisa masuk ke perusahaan ini? apa kau sudah punya banyak uang sekarang?" Ayah Rafa begitu merendahkan Randi.
Randi pun hanya bisa menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Ayah, sudah lah. Semua karyawan melihatmu." Kata Rafa. Ia melihat sekelilingnya dan benar semua karyawan hanya fokus kepada mereka berdua. Rafa pun langsung mengubah topik pembicaraan.
"Apa kau sendiri saja Randi?" Tanya Rafa.
Randi pun hanya bisa menyembunyikan kemarahannya. Karena ia sadar sekarang posisinya adalah seorang bawahan dan mereka adalah atasannya. Dan Randi pun terpaksa menjawab pertanyaan Rafa.
"Tidak, hari ini aku pergi bersama....." Ucapan Randi terhenti karena ia tidak melihat Nabila yang berdiri disampingnya tadi.
Tanpa disadari Randi, tadi Nabila diam-diam berputar arah dan pergi dari tempat ia berdiri bersama Randi. Tapi, pergerakan Nabila terlalu lambat membuat Randi masih bisa melihat Nabila yang sudah sedikit menjauh dari tempatnya berdiri tadi. Dengan posisi Nabila membelakangi mereka.
"Dengan siapa?" Tanya Rafa heran karena ia tidak melihat siapa-siapa disamping Randi.
__ADS_1
"Itu dia, hei na...." Panggil Randi.
"Ku mohon Randi, jangan panggil namaku. Kumohon. Nanti ayah Rafa tau kalau aku berada disini. Please. Siapa pun bantu aku." Kata Nabila sangat takut.