
Ruangan Rafa.
Rafa dan Nabila kembali bekerja seperti biasanya. Nabila lebih disibukkan dengan persiapan untuk festival itu. Rafa dan karyawan lain sudah menyetujui konsep yang diajukan oleh Nabila. Mereka satu pendapat dengan Nabila.
Bahwa, jika festival itu diadakan di tepi pantai dengan suasana sejuk dan indahnya pantai. Akan bisa menarik para wisatawan maupun masyarakat sekitar situ untuk manghadiri acara festival itu. Selain itu, tema yang diajukan Nabila yaitu mengambil unsur kecantikan alam bisa menjadi salah satu daya tarik perusahaan mereka.
Sekarang, Nabila harus mengurus beberapa persiapan lain. Dan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk festival itu. Sekilas Rafa melihat Nabila yang lebih serius dari biasanya. Ia hanya tersenyum karena ia sangat puas dengan pekerjaan Nabila. Ia memang orang yang sangat bertanggung jawab.
"Nabila, apa kau mau minum kopi?" Tanya Rafa. Ia berdiri dan membuat kopi dengan alat yang sudah sangat canggih. Rafa tidak perlu lagi menggunakan bubuk kopi alami. Cuma perlu pakai alat itu dan menekan pilihan kopi. Dalam sekejap, kopi sudah selesai.
"Ah, tidak usah. Biar nanti saja aku ambil sendiri." Kata Nabila. Tapi, Rafa tetap saja mengambilkan minuman kopi untuk Nabila. Kalau dilihat-lihat Nabila sangat sibuk dan Rafa ingin membantu meringan kan pekerjaan Nabila dengan satu cangkir kopi.
"Ini, minumlah dulu. Jangan terlalu serius. Rileks saja kerjanya." Kata Rafa sambil meletakan cangkir itu diatas meja Nabila.
"Ahh, maaf merepotkanmu. Iya, aku harus bisa menuntaskan pekerjaan ini. Festival itu semakin hari semakin dekat." Kata Nabila sambil meminum kopi yang diberikan Rafa.
"Nanti biar aku suruh beberapa karyawan untuk membantumu mengerjakan tugas ini." Kata Rafa. Rafa ingin pekerjaan Nabila bisa terbantu juga. Ia takut kalau kecapekan kerja. Nabila bisa sakit. Rafa tidak ingin itu semua terjadi.
"Baiklah, terimakasih." Kata Nabila tersenyum.
"Oiya, hari Sabtu besok. Kita harus riset langsung ke tempat yang akan kita pakai untuk festival itu. Kita harus melihat secara langsung tempat dan Pantai itu." Kata Rafa.
"Baiklah, apa hanya kita berdua saja yang akan pergi?" Tanya Nabila. Entah apa yang dipikirkan Nabila tapi ia sangat senang jika mereka saja yang pergi berdua ke pantai itu. Tempat untuk acara festival mereka.
"Tidak, beberapa karyawan juga aku ajak. Banyak yang harus kita urus nanti saat disana." Kata Rafa tersenyum kearah Nabila.
"Owh begitu, baiklah." Kata Nabila terlihat lesu. Sebenarnya Nabila ingin ia dan Rafa bisa menghabiskan waktu di pantai itu berdua saja. Nabila berharap kalau mereka berdua saja. Rafa bisa mengingatnya lagi.
Rafa sadar wajah Nabila berubah saat ia mengatakan bahwa karyawan lain juga akan ikut. Ia hanya bisa tertawa melihat sikap Nabila yang seperti itu.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, hp Rafa pun berdering tanda ada yang meneleponnya. Rafa pun masih berdiri didekat meja Nabila. Rafa langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo, owh Erick. Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba meneleponku?" Tanya Rafa sambil berjalan kembali ke mejanya.
Saat Rafa menyebut nama Erick. Nabila langsung tersentak. Ia langsung teringat pertemuan terakhir antara dirinya dengan Erick. Saat di rumah sakit waktu itu.
Saat Erick bercerita tentang Rafa. Dan saat Erick mengatakan semua tentang apa yang terjadi dengan Rafa. Nabila juga langsung teringat saat Erick belum meneruskan kalimatnya saat mengatakan bahwa sebenarnya. Setelah kecelakaan itu Rafa tidak benar-benar lupa ingatan.
Nabila berusaha mendengar obrolan antara Rafa dan Erick dalam telepon itu. Tapi, karena jarak Nabila dengan Rafa jauh. Jadinya, Nabila tidak bisa mendengar dengan jelas.
Setelah itu Rafa sudah menutup panggilannya. Dan berdiri seperti akan keluar.
"Nabila, aku keluar dulu ya. Ada seorang teman yang ingin bertemu denganku." Kata Rafa tersenyum.
"Ahh, baiklah." Kata Nabila sambil tersenyum.
Saat Rafa sudah keluar. Nabila langsung berdiri dan mengikuti Rafa dari belakang. Nabila sangat penasaran.
Rafa terus berjalan sampai ke luar, tepatnya di taman kantor. Ternyata, tebakan Nabila benar. Rafa bertemu dengan Erick tepat di taman kantor itu. Mereka duduk di salah satu kursi taman dan terlihat saling mengobrol. Nabila pun bersembunyi di salah satu pohon dekat dari tempat Rafa duduk.
"Apa Erick mau mengatakan tentang diriku? ah itu pasti tidak mungkin." Kata Nabila mengira-ngira.
"Hei Rafa, bagaimana kabarmu? baik-baik saja bukan?" Tanya Erick tersenyum.
"Iya, aku baik-baik saja. Karena pekerjaan, kita jadi jarang bertemu sekarang ya." Kata Rafa.
"Iya, kau sibuk. Begitu juga denganku. Tapi, untung saja saat ini kau mau menyempatkan waktumu untuk bertemu denganku disini " Kata Erick.
"Iya, karena kau langsung datang ke kantorku. Jadi, bagaimana bisa aku menolak." Kata Rafa tertawa.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" Tanya Rafa.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan" Kata Erick. Rafa pun mengangguk menunggu perkataan Erick.
"Apa kau bisa berhenti untuk memakan obat yang sering aku berikan waktu itu? aku ingin kau tidak lagi makan obat itu." Kata Erick terlihat serius.
"Owh, obat itu. Kenapa? aku masih meminumnya. Jika, kepalaku tiba-tiba sakit lagi." Kata Rafa.
"Jangan diminum lagi. Kalau kau sakit kepala minum saja obat biasa. Jangan minum obat itu." Kata Erick.
"Apa ada masalah dengan obat itu?" Tanya Rafa.
"Tidak, hanya saja jangan minum obat itu lagi. Kau kelihatannya sudah sangat sehat. Untuk apa lagi minum obat itu, kan. Tidak baik untuk tubuhmu." Kata Erick sambil tersenyum.
"Maafkan aku Rafa, aku sudah banyak melakukan kesalahan kepadamu. Aku belum bisa mengatakannya kepadamu. Tapi, perlahan aku akan membantumu. Seperti ini dulu." Kata Erick dalam hati.
"Owhh, ternyata kau teman yang perhatian juga, ya. Kau bahkan memikirkan kondisiku." Kata Rafa tertawa.
"Aku juga punya tanggung jawab untuk kesehatanmu. Aku kan dokter pribadimu." Kata Erick tersenyum.
Nabila yang mendengar tentang pembicaraan mereka berdua langsung dibuat heran. Kenapa Erick membicarakan tentang obat itu. Nabila tau obat apa yang dimaksud Erick tadi. Obat yang Rafa minum waktu dimobil. Dan obat yang Nabila bawa ke apotek untuk mencari tau obat apa itu sebenarnya.
Nabila kembali melihat mereka. Ternyata, Erick sudah akan pergi. Bukannya, kembali ke dalam. Nabila malah mengejar Erick. Saat Erick sudah jauh dari Rafa dan akan masuk kedalam mobilnya Nabila langsung memanggil nya.
"Erick, tunggu sebentar!" Kata Nabila berteriak. Erick pun langsung menoleh kearah Nabila dan menutup pintu mobilnya kembali.
"Ehh, Nabila. Kenapa kau disini?" Kata Erick sambil melihat penampilan Nabila yang memakai baju kerja.
"Sebenarnya aku bekerja disini. Maaf aku tidak bisa mengikuti perintahmu untuk menjauhi Rafa dan malah semakin mendekatinya." Kata Nabila sambil tersenyum kaku.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Erick terkejut.