Kamu Matahari Dan Aku Bulan

Kamu Matahari Dan Aku Bulan
Episode 30 Tak Disangka


__ADS_3

Nabila sudah semakin terbiasa bekerja bersama Rafa sekarang. Bahkan, beberapa satpam dan karyawan lain sudah mulai menyapanya. Mereka sudah mengenal Nabila sebagai karyawan yang bekerja dikantor ini.


Nabila pun dengan ramah menyambut sapaan orang orang itu. Hal itu membuat Nabila tampak sangat ramah dan karena senyumannya itu Nabila terlihat lebih sangat manis.


Sesampainya di ruang kerja Rafa. Nabila pun masih saja tersenyum dan menampakan wajah cerianya.


"Kenapa kau senyum-senyum begitu? apa ada yang membuat perasaanmu senang hari ini?" Tanya Rafa.


"Ahh tidak, hanya saja aku merasa sangat bahagia karena beberapa orang sudah ada yang mulai menyapaku. Setidaknya aku merasa kalau aku diterima bekerja di kantor ini." Nabila berkata sambil tersenyum kearah Rafa.


"Baguslah, kalau begitu. Aku turut bahagia juga." Kata Rafa. Sambil tersenyum kearah Nabila.


Nabila membalas senyuman Rafa. Setelah itu, ia kembali bekerja. Rafa terlihat tidak tenang, gerak geriknya seperti ada sesuatu yang ingin dikatakannya kepada Nabila. Tapi masih ragu dan takut. Rafa pun akhirnya memberanikan diri untuk berbicara dengan Nabila. Tapi, tiba-tiba sekretaris Kim masuk membuat Rafa mengurungkan niatnya untuk memberitahukan sesuatu kepada Nabila.


"Permisi, Pak." Ucap sekretaris Rafa.


"Ada apa?" Tanya Rafa. Ia langsung bertanya kepada sekretarisnya.


"Pemimpin ingin bertemu denganmu, Pak." Kata sekretaris Kim.


"Maksudmu Ayahku?" Tanya Rafa.


"Iya, Pak. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya." Kat sekretarisnya.


"Baiklah, sebentar lagi aku akan kesana." Kata Rafa.


"Nabila, aku akan keluar dulu. Kalau ada sesuatu yang kau butuhkan kau bisa hubungi sekretarisku." Kata Rafa.


"Baik pak," Kata Nabila.


Setelah itu Rafa keluar bersama sekretaris Kim. Ia akan menemui ayahnya yang berada diruangan tak jauh dari ruangan Rafa. Setelah sampai didepan pintu ruangan Ayahnya, Rafa terdiam dan masih mempersiapkan diri. Ia memikirkan apa lagi yang akan dibahas ayahnya. Rafa sudah menebak oasti tentang pertunangan itu. Rafa pun membuka pintu ayahnya dan langsung masuk tanpa disuruh.


"Ada perlu apa Ayah memanggilku?" Tanya Rafa. Ia langsung duduk disalah satu sofa yang ada diruangan itu.


"Apa aku mengganggu waktu kerjamu?" Tanya Ayah Rafa tampak basa basi.

__ADS_1


"Tidak, sesibuk apapun aku. Jika ayah sudah memanggil aku pasti akan datanh. Aku akan menyempatkan waktu jika Ayah sudah memanggilku." Rafa tersenyum kearah Ayahnya.


"Kau sudah semakin mengerti kiranyaya." Ayah Rafa tertawa halus.


"Aku dengar berkat kau kita berhasil menjalin kerja sama dengan pengusaha Prancis ya." Lanjut Ayah Rafa.


"Benar, kemaren aku melakukan beberapa pertemuan dengan mereka dan hasilnya mereka setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan kita." Kata Rafa.


"Baguslah kalau begitu, kau sudah membuktikan kalau kau pantas mendapatkan jabatan ini." Ayahnya terlihat sangat bangga.


"Aku serahkan semua kerja sama ini kepadamu. Aku yakin kau bisa mengaturnya." Kata Ayah Rafa.


"Dan juga terkait persiapan acara festival itu. Bagaimana? sudah ada persiapan?" Tanya Ayah Rafa.


"Mengenai acara festival itu aku sudah mulai mempersiapkannya. Kami juga sudah melakukan rapat dengan karyawan lain." Kata Rafa.


"Aku dengar kau juga memperkerjakan seorang cewek untuk membantu mensukseskan festival ini ya. Dia bahkan bukan karyawan dari perusahaan kita ini." Ayah Rafa terlihat penasaran.


"Iya, aku sudah mempercayainya. Ia juga hebat dalam bidang seni, pengatur tata letak juga. Bahkan ia sangat ahli dalam desain serta dekorasi. Dia bisa membantu kita untuk membuat festival ini terlihat sangat meriah." Kata Rafa.


"Ayah tidak boleh tau kalau itu adalah Nabila. Bisa bisa nanti ia menghancurkan rencana yang telah aku buat. Bagaimana kalau Ayah mengusirnya. Itu tidak boleh terjadi." Kata Rafa dalam hati.


"Dia hanya gadis biasa. Ayah juga tidak mengenalnya. Soal dia biar aku saja yang urus." Kata Rafa.


"Baiklah, aku percayakan kepadamu." Kata Ayah Rafa.


"Oiya, bagaimana hubunganmu dengan Luna?apa baik baik saja?" Tanya Ayah Rafa.


"Sejauh ini baik baik saja, Yah." Rafa tidak terlalu suka dengan obrolan ini. Ia hanya menjawab seadanya biar Ayahnya tidak lagi bertanya.


Ruang Rafa


Nabila terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya, lalu, ia melihat jam ditangannya.


"Bentar lagi waktunya istirahat makan siang. Aku mau mampir ke supermarket nantik ah. Aku ingin membeli beberapa cemilan." Kata Nabila mengambil dompet dan hpnya dan bersiap keluar.

__ADS_1


Hari ini, cuaca sangat bagus.Nabila ingin menikmati minuman yang segar. Karena itu ia memilih mampir ke supermarket daripada makan di restoran. Sesampainya di supermarket Nabila sibuk memilih beberapa minuman kaleng. Ia bahkan membeli beberapa coklat. Setelah selesai membayar Nabila pun keluar dan membuka 1 kaleng minumannya dan langsung meminumnya.


"Hahhhh, segarnya." Kata Nabila.


Setelah meminum minumanya, Nabila lanjut berjalan dan berniat untuk balik lagi ke kantor. Tapi ia melihat Luna bersama seorang laki laki. Bahkan Luna memeluk cowok itu sangat erat dan mesra. Cowok itu pun memeluk pinggang Luna dengan sangat mesra juga.


"Itu bukannya calon tunangan Rafa ya, kalau tidak salah namanya Luna. Ia juga orang yang berbicara kasar waktu aku tak sengaja menyenggolnya. Tapi, siapa cowok itu?" Tanya Nabila. Ia mengintip di salah satu mobil yang terparkir tak jauh dari situ.


"Ya ampun, mereka masuk ke hotel. Bahkan mereka terlihat sangat serasi seperti sepasang kekasih. Apa dia temannya ya? tapi kenapa terlalu mesra begitu ya." Kata Nabila. Ia terlihat sangat curiga.


Lalu, Nabila melihat seorang karyawan hotel itu yang berjalan keluar. Nabila cepat-cepat menghampiri karyawan itu.


"Permisi, apa kau karyawan hotel disana ya?" Tanya Nabila.


"Benar, ada apa ya? apa kau mau pesan kamar malam ini?" Tanya karyawan itu dengan wajah gembira.


"Tidak, tidak, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan." Kata Nabila. Seketika wajah karyawan itu berubah.


"Mau nanya apa? cepat, aku tak punya waktu." Karyawan itu langsung berubah jutek.


Nabila hanya menghela napas melihat kelakuan karyawan hotel itu. Tapi ia tetap fokus ke pertanyaannya.


"Apa kau tau cewek itu? yang lagi dipeluk mesra oleh cowok berjas hitam itu?" Nabila menunjuk kearah Luna.


"Owhh, itu Buk Luna dan laki laki itu adalah pacar gelapnya. Kau diam saja ya. Jangan bilang ke siapa-siapa bisa tau saya nanti yang kena pecat." Kata Karyawan itu sedikit berbisik ditelinga Nabila.


"Darimana kau tau?" Tanya Nabila. Ia ingin meyakinkan lebih lanjut.


"Aku sudah cukup lama bekerja di hotel itu. Kami juga sudah tau kalau Buk Luna itu selalu membawa pacar gelapnya ke sini. Tapi kami dibayar banyak untuk tutup mulut soal hubungannya itu." Kata aryawan itu.


"Dia sepertinya tertekan dengan perjodohan antara dirinya dengan salah satu penerus perusahaan Maju jaya. Malau tidak salah namanya Pak Rafa. Sepertinya gara gara itu ia melakukan hal seperti ini." Kata Karyawan itu terus saja bicara.


Setelah selesai bertanya kepada pelayan hotel itu. Nabila cepat-cepat kembali ke kantor. Ka ingin mengatakannya kepada Rafa. Tentang hubungan Luna dengan kekasih gelapnya itu.


"Aku tidak ingin cewek itu menyakiti Rafa. Hubungan terlarang itu harus diketahui Rafa. Rafa harus membatalkan pertunangan itu. Dia bukan cewek yang cocok untuk Rafa." Kata Nabila dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2