Kamu Matahari Dan Aku Bulan

Kamu Matahari Dan Aku Bulan
Episode 44 Obat Apa Itu?


__ADS_3

Masih dimalam yang sama. Didalam sebuah rumah yang kosong dan sunyi. Tampak seorang pria berbaju serba hitam dan memakai topi hitam. Yang tak lain adalah pria yang mengikuti dan mengambil foto Nabila saat di bioskop tadi. Dalam sebuah ruangan pria itu tidak sendiri. Ada seorang wanita yang memakai topi hitam juga, berdiri tepat didepan pria itu. Namun, Sayang. Wajahnya tak terlihat karena redupnya lampu didalam ruangan itu.


Pria itu memberikan sebuah amplop ke si wanita itu. Saat si wanita itu mengambil dan membuka isi dalam amplop itu. Wanita itu langsung tersenyum sinis dengan wajah yang kesal. Wanita itu melempar isi dalam amplop itu kesebuah meja disana. Disaat itulah terlihat apa isi amplop itu. Beberapa buah foto yang diambil secara diam-diam. Dan yang mengejutkan adalah ternyata itu foto Nabila dan Rafa.


Foto itu berisikan semua kegiatan yang dilakukan mereka berdua hari ini. Mulai saat Nabila masuk kedalam mobil Rafa. Mereka pelukan dalam mobil. Saat mereka dalam bioskop. Saat mereka duduk ditaman. Sampai dimana Rafa dan Nabila berada di jembatan itu. Dan saat Rafa memberikan bunga kepada Nabila. Pria itu mengambil foto mereka berdua sepanjang hari secara diam-diam. Alhasil, si wanita yang melihat foto itu sangat geram sambil mengepalkan tangannya.


"Kau awasi terus mereka berdua dan laporkan ke aku." Kata si wanita itu. Lalu ia pergi dari rumah itu.


"Baik." Kata si pria itu tertunduk.


Keesokan Paginya...


Nabila terbangun dari tidurnya. Dalam hati Nabila, saat ini ia tidak ingin bangun dan tetap melanjutkan tidurnya. Mengingat kejadian kemaren membuat ia malas untuk datang ke kantor. Apalagi ia juga malu bertemu dengan Rafa sekarang. Kemaren malam ia sudah menolak Rafa. Ia telah mengecewakan hati Rafa. Nabila sangat merasa bersalah dengan Rafa.


"Ahhh, pagi ini aku harus ke kantor. Bertemu Rafa lagi. Ahh mau dimana aku letakan wajah ini. Aku sangat malu dan merasa bersalah dengannya." Kata Nabila. Ia mengacak-acak rambutnya.


"Baik, Nabila kau harus bersikap biasa-biasa saja. Anggap kejadian kemaren itu bukan apa-apa. Dan yakin kan hatimu kalau apa yang kamu lakukan kepadanya itu adalah tindakan yang benar." Kata Nabila meyakinkan dirinya sendiri.


"Baikah, aku tidak boleh berlarut-larut dengan keadaan seperti ini. Misiku belum sepenuhnya tuntas. Waktuku semakin hari semakin berkurang. Dan aku tidak boleh menyerah. Semangat Nabila!!!" Kata Nabila sambil mengepalkan tangannya keatas.


Setelah itu, Nabila pun bersiap-siap mandi. Membersihkan badan, hati, pikiran dan perasaannya. Nabila membasahi rambutnya dan berharap semua ingatannya tentang kemaren dilupakan. Krena bagi Nabila kejadian kemaren sangat membuatnya merasa bersalah.


Nabila pun sudah siap mandi, berpakaian dan merias wajahnya.


"Hari ini aku harus terlihat Fresh. Pagi ini aku harus selalu tersenyum dan jangan pikirkan lagi tentang kejadian kemaren. Huhhh, aku pasti bisa." Kata Nabila sambil melihat pantulannya di cermin.


Nabila mengambil tas yang dipakainya kemaren. Ia mengambil beberapa barangnya dan memasukannya ke tas kerjanya. Dan pada saat itu Nabila merasakan sesuatu didalam tasnya. Saat Nabila mengambil itu ia baru teringat itu pil obat Rafa.


"Owh, ini obat yang dimakan Rafa kemaren. Saat kepalanya sakit. Tapi, selama ini aku tidak pernah melihat obat sakit kepala seperti ini. Waktu itu di kantor Rafa juga memakan obat ini saat kepalanya sakit. Sebenarnya obat apa ini?" Kata Nabila sangat penasaran.


"Aku harus mencari taunya. Semoga ini bisa dijadikan petunjuk untuk mengetahui seuatu yang tak ku ketahui." Kata Nabila sambil memasukan pil obat itu kedala sebuah plastik dan memasukannya ke dalam tasnya.

__ADS_1


Setelah semua selesai, Nabila pun keluar dari kamarnya dan pergi kemeja makan. Ia melihat ibunya yang sudah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk Nabila.


"Ibu, apa badan ibu sudah merasa baikan? Kata Nabila.


"Berkat kau badan ibu sudah sehat. Lihatlah ibu sudah bisa masak sarapanmu." Kata ibu Nabila sambil tersenyum.


Nabila mengangguk dan membalas senyuman ibunya. Pagi itu Nabila sarapan berdua dengan ibunya. Setelah selesai, Nabila pun berpamitan kepada ibunya, tak lupa ia mencium tangan ibunya.


Biasanya Nabila berbelok kearah kanan untuk menunggu bus dan pergi ke kantor. Tapi, sekarang Nabila berbelok kiri dan tampak bergegas.


"Aku harus ke apotek dulu. Aku harus mencari tau dulu tentang pil obat ini. Baru aku pergi kerja ke kantor." Kata Nabila.


Nabila sedikit bergegas karena Nabila tidak punya wkatu banyak. Ia berharap semoga ia bisa menemukan jawaban tentang obat ini.


Sesampainya di apotek, Nabila pun langsung mengatakan tujuannya kemari.


"Permisi, Buk." Kata Nabila.


"Ya, ada yang perlu saya bantu?" Tanya ibuk apotek itu.


"Bisa, tapi kalau masalah seeprti ini aku tidak bisa melakukannya." Kata ibuk itu.


"Lalu, bagaimana caranya, Buk?" Kata Nabila penasaran.


"Sebenarnya ada dokter yang bisa melakukanya. Tapi, saat ini ia pergi ke luar kota. Jadi, kau harus menunggu beberapa hari dulu." Kata ibuk apotek itu.


"Kalau boleh tau, berapa hari saya harus menunggu, Buk?" Tanya Nabila.


"Seminggu atau bisa lebih. Tergantung kapan dokter itu datang." Kata ibuk apotek.


"Kau bisa catat no hp mu disini. Kalau dokter itu sudah datang aku bisa menghubungimu." Kata ibuk apotek itu sambil memberikan secarik kertas kepada Nabila. Saat Nabila menulis no hpnya. Ibuk tu melihat lihat pil obat Nabila itu.

__ADS_1


"Tapi, kalau dilihat-lihat obat ini salah satu obat yang jarang dipakai orang. Bahkan, saya pun tidak ada menjual pil atau obat semacam ini." Kata ibuk itu.


"Apakah ini bukan obat sakit kepala atau semacamnya?" Tanya Nabila penasaran. Karena ia melihat Rafa meminum obat itu saat kepalanya sakit.


"Tidak, bukan. Ini tidak seperti obat sakit kepala biasa." Kata ibuk itu.


"Jadi, sebenarnya obat apa ini? kenapa Rafa memakan obat ini saat kepalanya terasa sakit?" Kata Nabila dalam hati.


Saat Nabila sedang berbicara dengan ibuk itu. Seorang pria datang untuk membeli obat penenang.


"Buk, apa kau punya obat insomnia? saya beli satu." Kata laki-laki itu.


Nabila pun melihat kesamping. Karena suara laki-laki itu tak asing ditelinganya.


"Randi?"Tanya Nabila.


"Eh, ternyata kau Nabila. Aku tidak terlalu fokus. jadi, aku baru sadar itu kau." Kata Randi tersenyum.


"Ada perlu apa kau kemari?" Tanya Nabila.


"Aku ingin membeli obat insomnia." Kata Randi sedikit ragu.


"Kau kenapa? kau sakit?" Tanya Nabila khawatir.


"Tidak, aku hanya tidak bisa tidur saja." Kata Randi.


"Nabila tidak boleh tau kalau aku minum obat ini karena suatu alasan yang tak bisa aku katakan kepadanya." Kata Randi.


"Kalau kau?mau beli apa?" Tanya Randi.


"Tidak, aku ingin mencari tau tentang sebuah obat. Tapi, itu bukan punyaku. Aku hanya ingin tau saja." Kata Nabila.

__ADS_1


Randi pun melihat obat yang dimaksud Nabila itu. Yang dipegang oleh ibuk apotek tadi. Randi melihat-lihat lagi dan ia merasa obat itu sepertinya pernah di lihatnya. Tapi ia lupa dimana dan kapan ia melihat obat itu.


"Obat itu sangat tidak asing. Tapi, dimana aku melihatnya ya." Kata Randi bertanya-tanya.


__ADS_2