
Saat wajah Rafa sudah semakin dekat kearah wajah Nabila dan siap mencium bibir Nabila. Tiba tiba lampu dalam ruangan itu hidup dan seketika membuat satu ruangan itu sangat terang. Hal itu membuat Nabila terkejut dan memundurkan badanya bahkan ia melepas genggaman tangannya dari Rafa.
Rafa pun membuka matanya dan melihat keseluruh ruangan ia terkejut karena ruangan itu sudah terang dan orang-orang sudah mulai beranjak dari kursi mereka dan bersiap keluar.
Nabila merasa malu jika mereka berciuman dengan lampu yang terang seperti ini. Semua orang akan melihat mereka. Karena itu, Nabila cepat-cepat menghindar dan menjauh dari Rafa.
"Maafkan aku. Tapi, filmnya sudah habis dan orang-orang pun sudah keluar dari ruangan ini. Kita juga harus keluar dari sini." Kata Nabila. Ia merasa canggung dengan Rafa karena kejadian tadi.
"Ah iya, kita juga harus keluar." Kata Rafa. Ia juga terlihat canggung dengan Nabila.
Mereka berdua pun sama-sama keluar dari ruangan itu. Karena masih merasa malu, selama perjalanan keluar dari gedung itu Nabila hanya diam saja. Begitupun dengan Rafa.
"Ya ampun, kenapa saat itu lampu harus hidup. Waktunya sangat tidak tepat. Padahal sedikit lagi Rafa akan menciumku. Sangat menyebalkan." Kata Nabila dalam hati.
"Sedikit lagi aku berhasil menciumnya. Tapi, lampu itu sangat mengganggu. Kenapa harus hidup disaat seperti itu. Benar-benar bikin kesal." Kata Rafa dalam Hati.
Mereka berdua pun hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Dalam beberapa saat tidak ada yang berani untuk berbicara duluan. Tapi, Rafa tidak mau berlarut-larutdengan keadaan seperti ini. Ia berusaha untuk membuka percakapan dengan Nabila.
"Film tadi sangat bagus. Aku suka endingnya. Akhirnya mereka bahagia bersama." Kata Rafa. Ia berusaha mengalihkan rasa canggung dan mengajak Nabila berbicara.
"Ah iya. karena itu. Aku sangat suka dengan film yang seperti itu. Sangat menyentuh hati." Kata Nabila. Ia berusaha untuk menormalkan kondisinya lagi.
"Lalu. setelah ini kita akan kemana?" Tanya Rafa. Karena janji mereka hari ini hanya menonton film saja. Jadi, Rafa bingung apa yang harus mereka lakukan lagi.
Nabila berpikir, hal apa yang bagus ia lakukan hari ini bersama Rafa. Nabila ingin mengambil kesempatan ini untuk membantu Rafa mengingat hal-hal yang terjadi antar dirinya dan Rafa dimasa lalu.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja disekitar taman itu." Kata Nabila. Ia menunjuk taman yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
__ADS_1
"Boleh juga. aku tidak keberatan." Kata Rafa. Ia mengikuti semua keinginan Nabila. Karena Raf sudah bertekad hari ini ia akan memenuhi semua keinginan Nabila.
Mereka berdua pun berjalan menuju taman itu. Awalnya. jarak mereka berdua saling berjauhan. Tapi, secara tiba-tiba Rafa kembali menggenggam tangan Nabila.
"Kenapa hari ini kau sangat berbeda Rafa. Kau sering menggengam tanganku." Kata Nabila. Ia menutupi hatinya yang begitu berdebar dengan pertanyaan seperti itu. Seakan-akan Nabila tidak menyukai dengan apa yang dilakukan Rafa.
"Apa kau risih kalau aku menggenggam tanganmu?" Tanya Rafa. Sontak ia melepas genggamannya dari tangan Nabila karena ia takut kalau Nabila tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
"Sebenarnya....." Nabila pun menggantungkan kalimatnya untuk membuat Rafa penasaran dengan jawabannya. Rafa pun semakin tidak sabar menunggu jawaban Nabila.
"Tidak masalah jika kau ingin menggengam tanganku. Untuk hari ini kau boleh melakukannya." Kata Nabila. Bahkan Nabila langsung memegang tangan Rafa kembali.
Rafa pun sangat bahagia saat Nabila mengatakan hal itu. Ia langsung membalas genggaman tangan Nabila tak kalah kuatnya dari Nabila.
"Jangan kuat-kuat nanti tanganku bisa hancur." Kata Nabila sambil menertawai Rafa.
"Haha, aku terlalu bahagia. Maafkan aku." kata Rafa sambil tertawa.
Saat sudah sampai ditaman itu. Nabila melihat ada orang yang berjualan permen gulali. Nabila melihat permen itu dengan mata yang berbinar karena permen itu adalah salah satu makanan favoritnya. Rafa menyadari itu, ia melihat Nabila sepertinya sangat ingin membeli permen itu.
"Nabila, kau tunggu disini sebentar ya." Kata Rafa. Ia pun langsung berlari.
"Rafa, kau mau kemana?" Tanya Nabila. Tapi Rafa sudah duluan pergi dan tak mendengar pertanyaan Nabila.
Nabila pun menunggu ditempat tadi ia berdiri. Tiba-tiba Rafa datang dengan membawa 2 permen gulali satu warna pink satu lagi bewarna biru. Rafa memberikan yang warna pink untuk Nabila.
"Jadi, kau pergi tadi mau membelikan ini untukku? darimana kau tau aku ingin membeli ini?" Tanya Nabila. Ia sangat kagum dengan Rafa karena Rafa itu adalah pria yang sangat peka.
__ADS_1
"Tidak perlu dipikirkan tentang itu. Sekarang makan saja permennya. Itu gratis untuk kamu." Kata Rafa. Ia tertawa melihat Nabila yang makan permen itu seperti anak kecil. Rafa pun memegang dan mengelus kepala Nabila lembut.
Hati Rafa semakin yakin bahwa ia memang sudah jatuh hati kepada Nabila. Tidak perlu ada bukti lagi. Perasaanya sendiri yang sudah membuktikan hal itu. Rafa semakin yakin kalau Nabila memang wanita yang sangat diidamkannya. Perasaan Rafa terus berubah menjadi tenang dan hangat setiap ada Nabila. Karena hal iti, Rafa sangat yakin ia ingin memiliki Nabila.
Setelah mengelus kepala Nabila Rafa pun lanjut memakan permennya. Namun, ia tiba-tiba merasa tidak asing dengan keaadaan seperti ini. Rafa merasa dulu sepertinya ia pernah melakukan hal seperti ini juga. Perasaannya begitu yakin.
"Kau kenapa?" Tanya Nabila. Ia melihat Rafa yang tampak memikirkan sesuatu.
"Aku merasa sepertinya dulu aku juga pernah melakukan hal yang sama seperti ini." Jawab Rafa.
"Apa Rafa mengingat tentang diriku? saat itu aku dan Rafa juga pernah melakukan hal seperti ini saat kami dibelanda. Kami makan permen gulali bersama." Kata Nabila.
"Mungkin dulu kau pernah melakukannya dengan seseorang. Tapi, kau mungkin sudah lupa." Kata Nabila. Kalau ia mengatakan kepada Rafa tentang masa lalu itu mungkin Rafa akan tekejut. Jadi, Nabila masih belum ingin mengatakannya.
"Bisa jadi." Kata Rafa. Ia pun melanjutkan makan permennya. Tiba-tiba Rafa beranjak dari tempat duduknya dan tampak mengambil satu petik bunga matahari. Setelan itu. Rafa kembali ketempat Nabila.
"Apa itu?" Tanya Nabila penasaran.
"Ini untukmu." Rafa menyelipkan bunga itu di rambut Nabila didekat telinganya. Hal itu membuat Nabila tampak sangat cantik.
"Kau sangat cantik. Sangat cantik." Kata Rafa.
" Benarkah? apakah benar sangat cantik?" Tanya Nabila. Ia tersenyum dan meyakinkan Rafa.
"Jika ada kata yang lebih dari cantik aku akan menggunakan kata itu. Karena kau benar-benar sangat cantik. Seperti tuan putri." Kata Rafa tersenyum kearah Nabila.
"Jika aku seperti tuan putri. Apa kau mau jadi pangeranku?" Tanya Nabila. Ia tersenyum kearah Rafa.
__ADS_1
"Pasti, sangat mau." Kata Rafa.
Mereka berdua pun saling tatap-tatapan dengan wajah yang saling tersenyum.