
Nabila mengalungkan tangannya di leher Rafa. Mereka berciuman semakin dalam. Apalagi Rafa yang begitu erat memeluk pinggang Nabila. Membuat mereka semakin hanyut dalam ciuman itu. Nabila bahkan tidak menghentikan ciuman Rafa itu. Ia bahkan meneruskan dan terus saja bermain-main dengan bibir Rafa. Rafa pun merasakan Nabila tidak menolak ciumannya. Dan malah meneruskannya Rafa pun dibuat tersenyum disela-sela ciumannya.
Nabila berpikir selama ini Rafa sudah banyak berkorban untuknya. Bahkan Rafa melawan bayangan itu sendiri. Rafa bahkan merasakan rasa sakit itu juga sendiri. Nabila juga pernah mengecewakan Rafa. Ia juga pernah menolak perasaan Rafa. Nabila juga sering berbohong kepada Rafa. Saat ini Nabila hanya ingin menuruti keinginan Rafa. Nabila berpikir kadang ia juga harus mengalah dan mengikuti keinginan Rafa.
Setelah mereka berciuman cukup lama. Nabila pun mendorong dada Rafa. Dan melepas ciuman mereka berdua. Saat ini Nabila begitu kehabisan nafas. Dan Nabila merasa ciuman itu sudah cukup. Saat ciumannya dan Rafa sudha terlepas. Pipi Nabila pun langsung merona saat Rafa tersenyum kearahnya. Nabila baru merasakan malu itu saat ia dan Rafa tidak berciuman lagi.
"Kenapa, kau menciumku tadi?" Tanya Nabila. Ia berusaha untuk membela diri. Agar Rafa tidak lagi menatapnya seperti itu.
"Tadi, aku hanya ingin memberikan sebuah kecupan. Karena kau telah menyelamatkanku. Aku pikir itu hadiah dariku untukmu. Tapi, tak disangka kau sangat memperdalam ciuman itu." Kata Rafa. Saat ini Rafa tersenyum puas karena wajah Nabila langsung dibuat merona saat Rafa mengatakan hal itu.
"Aku bukan memperdalam. Tapi, karena tadi itu kau menciumku secara tiba-tiba. Aku tidak bisa mengontrolnya." Kata Nabila. Ia berbicara dengan Rafa tapi tidak menatapnya. Nabila terlalu malu untuk melihat Rafa.
"Yasudahlah, yang penting kita berdua sama-sama menikmatinya." Kata Rafa sambil tersenyum lagi.
"Hahh , tapi...." Nabila masih ingin mengelak. Tapi, Rafa sudah duluan membuat Nabila diam. Rafa memeluk Nabila sekali lagi. Sambil membisikkan sesuatu.
"Terimakasih. Untuk semua yang terjadi hari ini. Ingatlah, aku akan selalu menunggumu." Kata Rafa. Ia melepas pelukannya dari Nabila dan berjalan ke mejanya.
Nabila hanya bisa terdiam setelah Rafa melepas pelukannya. Dalam hatinya Nabila sebenarnya juga sangat senang dan bahagia untuk apapun yang terjadi hari ini. Nabila semakin berharap semoga semakin kesini. Rafa semakin ingat lagi dengan dirinya.
Mereka pun lanjut bekerja lagi. Nabila awalnya ingin mengambil sesuatu dalam saku bajunya. Tapi, Nabila merasakan sesuatu didalam kantung bajunya. Nabila mengeluarkannya dan ia baru teringat itu vitamin yang diberikan Randi tadi. Tapi, melihat kondisi Rafa saat ini. Nabila pun mengurungkan niatnya untuk memberikan vitamin itu kepada Rafa.
__ADS_1
"Aku kasih ke Rafa saat kondisinya memang sudah baik saja. Aku takut kalau sekarang aku kasih. Bisa-bisa vitaminnya malah tudak cocok dengannya." Kata Nabila dan meletakan vitamin itu kedalam laci mejanya.
Tak terasa hari sudah semakin sore dan ini waktunya pulang. Jam kerja mereka telah selesai. Seperti biasa sebelum pulang Nabila merapikan dulu seluruh buku dan alat-alat kerjanya. Baru sudah itu Nabila mengambil tasnya dan berdiri.
Rafa pun sudah siap merapikan semua pekerjannya dan bersiap pulang. Seperti biasa Rafa selalu mengatakan kepada Nabila kalau dia yang akan mengantar Nabila pulang.
"Nabila, seperti biasa kita pulang sama, ya." Kata Rafa sambil berjalan kearah pintu. Nabila pun hanya bisa mengangguk dan mengikuti Rafa keluar. Mereka jalan berdampingan dan menuju parkiran mobil.
Pada saat yang bersamaan Tasya pun baru saja keluar kantor dan menuju parkiran juga untuk mengambil mobilnya. Pada saat itu, Tasya melihat Nabilla. Awalnya, Tasya ingin menyapa dan memanggil Nabila. Tapi, ia mengurungkan niatnya karena Nabila Sudah lebih dulu masuk ke mobil Rafa. Dan Tasya pun melihat dalam mobil itu ada Rafa.
"Itu bukannya pak Rafa, ya. Kenapa Nabila pulang dengan pak Rafa? kenapa Nabila terlihat begitu dekat dengan pak Rafa." Kata Tasya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Tasya terlihat heran dan sedikit curiga.
Tasya pun balik ke mobilnya disaat Rafa dan Nabila sudah tidak terlihat lagi. Saat Tasya akan membuka mobilnya. Dari arah kirinya ia melihat Randi yang baru saja masuk ke mobilnya. Tasya langsung terpikir dengan rumah kosong itu. Yang katanya itu adalah rumah kakek Randi. Tasya pun iseng mengikuti kemana Randi pergi.
Saat dalam perjalanan pulang. Didalam mobil Rafa. Nabila tidak banyak bicara. Ia lebih menikmati pemandangan diluar. Sambil memikirkan hal-hal lain. Rafa tiba-tiba memegang tangan Nabila. Nabila pun langsung menoleh dan terlihat heran kenapa Rafa tiba-tiba memegang tangannya.
"Apa aku boleh memegang tanganmu? aku lebih nyaman seperti ini." Kata Rafa.
"Baiklah, untuk kali ini aku akan mengikuti seluruh keinginanmu." Kata Nabila tersenyum.
"Oiya, jangan lupa besok kita akan pergi ke tempat dimana kita akan mengadakan festival itu." Kata Rafa mengingatkan kembali ke Nabila.
__ADS_1
"Ahh iya. Besok sudah hari Sabtu. Aku hampir lupa." Kata Nabila.
"Besok pagi kita semua akan ngumpul dulu di kantor. Baru kita berangkat sama-sama ke pantai itu." Kata Rafa.
"Baik, untuk besok jam berapa aku harus tiba dikantor?" Tanya Nabila agar ia punya jadwal untuk besok.
"Jam 9 sudah harus kumpul di kantor. Aku juga akan mengabarkan ke semua karyawan yang akan ikut besok." Kata Rafa.
"Oke, baiklah." Kata Nabila. Setelah itu mereka pun saling diam dan melanjutkan perjalanan ke rumah Nabila.
Saat sudah sampai didepan rumah Nabila. Seperti biasa Nabila selalu pamit dan berterima kasih kepada Rafa. Nabila baru akan masuk saat Rafa sudah pergi dari dekat rumahnya.
Nabila pun masuk kedalam rumahnya. Ia menyapa dan memeluk ibunya yang sedang sibuk menjahit didepan tv. Hari ini perasaan Nabila begitu senang. Karena hari ini ia berciuman dengan Rafa. Entah kenapa sebenarnya Nabila sangat ingin berciuman dengan Rafa. Ia merasa lebih bahagia dan senang jika melakukan hal itu. Karena dari dulu Rafa merupakan orang yang disukainya dan dicintainya juga.
"Ibu, aku sudah pulang. Apa ibu sudah makan?" Tanya Nabila. Tapi, ibu Nabila hanya diam dan tidak mengacuhkan Nabila.
"ibu, kenapa ibu mengacuhkanku?" Tanya Nabila heran.
"Dengan siapa kau pulang tadi, Nabila? ibu sudah melihatnya semua. Kenapa kau tidak mengatakannya kepada ibu? asal kau tau setiap hari ibu memperhatikanmu saat kau pulang bekerja, Nabila." Kata ibunya. Sontak Nabila terkejut.
"Apa ibu melihat Rafa tadi? apa akhirnya ibu tau aku dan Rafa sudah semakin dekat lagi?" Kata Nabila dalam hati.
__ADS_1