
Nabila benar-benar tidak mempedulikan Rafa lagi. Nabila merasa Rafa sepertinya bahagia bersama Luna. Dia tidak akan ikut campur. Padahal, Nabila hanya salah paham. Rafa sebenernya juga sangat tidak ingin melakukan itu. Tapi, Luna benar-benar sakit. Dan juga jika Rafa tidak membantunya. Luna bahkan langsung menelpon ayahnya dan membawa-bawa nama Nabila. Rafa tidak ingin semua itu terjadi.
"Tasya, bagaimana kalau kita menambah aksesoris bunga disekitar panggungnya. Hal itu akan menambah keindahan disekitar pantai ini." Kata Nabila. Tasya juga sangat fokus begitu juga dengan Nabila. Mereka tidak mengacuhkan Rafa sama sekali.
"Hei, apa kalian butuh bantuanku?" Tanya Rafa. Ia berniat untuk membantu mereka berdua.
"Maaf, Pak. Ini sudah seharusnya menjadi tugas kami. Saya dan Tasya bisa melakukan ini. Jadi, tidak ada yang perlu bapak bantu. Seharusnya bapak istirahat saja bersama calon tunangan bapak itu. Sebagai seorang CEO bapak kan bebas mau melakukan apa saja." Kata Nabila. Setelah itu langsung berbalik dan tidak menghadap Rafa sema sekali.
Tasya pun sedikit tertawa dengan perkataan Nabila. Ia sangat tau saat ini Nabila pasti sangat cemburu karena Rafa memegang tangan Luna. Nabila harus berbicara formal ke Rafa karena ada Luna. Pasti saat ini perasaan Nabila benar-benar sedang tidak baik.
Rafa pun merasa Nabila sikap Nabila sangat dingin kepadanya. Padahal, tadi Nabila tidak seperti ini kepadanya. Ia tersadar sepertinya Nabila cemburu karena Luna. Pasti ia cemburu karena Luna menggengam tangannya erat. Pikir Rafa. Padahal, tadi Nabila juga yang menyuruh Rafa untuk membantu Luna.
"Owhh jadi kau cemburu Nabila. Apa kau sudah mulai jatuh hati kepadaku? apa sekarang perasaanmu sudah tertuju untukku?" Kata Rafa dalam hati sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau kalian memang tidak perlu bantuan saya. Yasudah, saya istirahat dulu. Saya akan beristirahat bersama Luna sambil menikmati sejuknya angin di pantai ini." Kata Rafa. Diam-diam dalam hatinya Rafa tertawa. Ia ingin membuat Nabila semakin cemburu.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan Tasya dan Nabila. Rafa dan Luna benar-benar pergi meninggalkan Nabila. Hati Nabila kembali terasa sakit dan ia semakin cemburu. Ia benar kesal.
"Aku kesal, kesal, sangat kesal." Kata Nabila. Ia menghentakkan kakinya di pasir pantai itu.
"Nabila, kau kesal karena apa?" Tanya Tasya. Ia berpura-pura bertanya. Padahal, Tasya sangat tau Nabila pasti sedang cemburu.
__ADS_1
"Tidak ada. Tiba-tiba aku hanya teringat suatu momen yang sangat memalukan. Jadi, aku tiba-tiba kesal karena kenapa aku harus mengingatnya." Kata Nabila. Ia tersenyum terpaksa karena ia ingin menutupi kebohongannya itu. Tasya pun hanya menggelangkan kepalanya dan tertawa dalam hatinya.
Mereka pun lanjut bekerja. Setelah cukup lama bekerja. Tak terasa, hari sudah semakin malam. Langit sudah semakin gelap. Semua karyawan juga sudah selesai mengerjakan tugas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Nabila dan Tasya. Mereka semua berkumpul di satu titik. Saat ini mereka akan bersiap pulang karena pekerjaan mereka sudah selesai.
"Baiklah, pekerjaan kita sudah selesai. Kalian semua sudah bekerja keras hari ini. Baik, kita akan pulang. Kalian boleh kembali ke mobil kalian seperti tadi pagi " Kata Rafa. Semua karyawan pun bubar dan masuk ke mobil mereka masing-masing.
Dan tinggallah mereka berlima. Rafa, Nabila, tasya, Randi dan Luna. Sebelum Luna datang mereka berempat emang berada dalam satu mobil. Saat akan pergi. Tentunya mereka harus satu mobil lagi saat pulang ini. Mereka sempat terdiam dan memandang satu sama lain.
"Jadi, apa kita tidak akan pulang?" Tanya Tasya. Ia memecahkan keheningan diantara mereka. Luna pun tiba-tiba langsung memeluk lengan Rafa.
"Rafa, kakiku masih luka. Aku tidak bisa mengendarai mobilku sendiri. Aku membutuhkanmu." Kata Luna. Ia terlihat menja di lengan Rafa.
"Biar aku yang bawa mobilmu. Lalu, saat sudah sampai aku akan meletakkan mobilmu di kantor. Setelah itu baru aku pulang dengan mobilku sendiri." Kata Randi.
"Haa betul sekali apa yang dia katakan. Nanti kalau sudah sampai. Kita akan kekantor dulu menjemput mobilmu. Setelah itu aku bisa pulang sendiri karena jarak kerumahku tidak terlalu jauh dari kantormu." Kata Luna. Ia sangat setuju dengan apa yang dikatakan Randi.
Rafa tampak memikirkan sejenak. Sepertinya itu yang terbaik. Luna juga tidak akan mau pulang sendiri. Pasti dia hanya ingin dengan Rafa.
"Baiklah, karena kita berlima. Berarti ada di salah satu mobil yang isinya bertiga." Kata Rafa. Ia sangat berharap Nabila satu mobil dengannya. Ia benar-benar tidak bisa jauh dari Nabila.
"Aku bersama Randi saja." Kata Tasya. Ia langsung berdiri disamping Randi. Tasya berpikir kalau ia bersama Rafa. Suasananya pasti sangat formal dan canggung. Karena itu ia memilih Randi.
__ADS_1
Sekarang giliran Nabila. Dia mau semobil dengan Rafa atau Randi. Rafa sudah bisa menebak Nabila pasti akan memilihnya. Mana mau Nabila jauh-jauh darinya. Pikir Rafa begitu. Ternyata, diluar dugaannya Nabila ternyata memilih Randi.
"Aku naik mobil bersama Randi dan Tasya." Kata Nabila. Seketika Rafa terkejut karena Nabila tidak memilih dirinya. Melainkan, lebih memilih Randi.
Randi pun dibuat tertawa dalam hatinya. Begitu juga dengan Luna. Ia benar-benar sangat puas dengan jawaban Nabila. Rafa pun hanya bisa menghela napasnya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Nabila sudah memilih sendiri. Kalau ia memaksa Nabila untuk naik mobil bersamanya. Pasti, semua orang akan curiga denga Rafa. Apalagi saat ini ada Luna diantara mereka. Untuk kali ini Rafa pun terlihat mengalah.
"Baiklah, kita naik ke mobil yang sudah dipilih." Kata Rafa terlihat lesu. Luna pun tampak gembira karena ia bisa menghabiskan waktunya bersama Rafa saja. Hanya berdua saja. Mereka pun akhirnya naik ke mobil.
Didalam mobil Luna. Rafa hanya diam dan tidak berbicara dengan Luna sama sekali. Hari ini kehadiran Luna benar-benar membuat dia kesal. Ia harus berjauhan dengan Nabila. Nabila juga bersikap dingin ini semua karena Luna.
"Rafa, kau marah denganku?" Tanya Luna. Ia hanya ingin mereka berdua saling mengobrol.
"Tidak, kenapa aku harus marah." Kata Rafa. Walaupun, saat ini Rafa benar-benar sedang kesal. Tapi, ia tidak ingin Luna tau. Luna pun mengangguk dan tidak berbicara lagi dengan Rafa.
Didalam, mobil Randi. Nabila dan Tasya duduk berdua di belakang. Mereka terlihat sangat lelah karena telah bekerja seharian. Nabila menyandarkan badannya ke belakang kursinya.
"Apa kalian lelah?" Tanya Randi.
"Seharian bekerja dengan cuaca yang sangat panas seperti ini memang sangat melelahkan." Kata Tasya.
"Apalagi jika melihat pemandangan yang sangat membuat hati kesal. Hari pun dibuat menjadi sangat panas." Kata Nabila. Dan yang ia maksud itu adalah Rafa.
__ADS_1