
Sontak William dan Cindy pun terkejut mendengar suara pecahan vas bunga itu. William pun langsung berlari kearah Arina dan melepaskan pegangan tangan Cindy. William khawatir jika Arina terluka akibat percahan vas itu. Entah perasaan darimana. William sangat sedih dan takut jika sesuatu terjadi kepada Arina.
William pun langsung memegang lengan Arina dengan wajah yang sangat cemas.
"Arina kau tidak apa-apa? apa kau terluka? Kemarilah. Hati-hati dengan pecahannya." Kata William. Ia langsung menarik tangan Arina dan membawanya menjauh dari percahan itu.
"Ahh, maafkan aku. Apa aku membuat kalian terkejut? maafkan aku. Aku sangat menggangu kalian." Kata Arina dan sangat merasa bersalah kepada Cindy. Karena arina membuat kekacauan dan keributan.
"Kenapa kau minta maaf. Kau kan tidak sengaja menjatuhkan vas itu. Kau tidak salah. Jangan berkata seperti itu." Kata Wiiliam sambil menatap Arina dengan wajah yang serius. Entah kenapa. Sikap William sangat berbeda dari biasanya. William lebih perhatian kepada Arina dan sepertinya William sangat menjaga Arina.
Arina pun melihat pecahan vas itu dan berniat untuk membersihkannya. Tapi, tiba-tiba William menahan tangan Arina.
"Biarkan saja itu. Biar aku yang membersihkannya." Kata Wiiliam sambil melihat pecahan vas dilantai.
"Tapi, kau sedang ada tamu. Ini sudah seharusnya menjadi tugasku." Kata Arina sambil melihat Cindy.
Sejak tadi, Cindy hanya terdiam dan melihat mereka berdua. Arina dan William. Cindy melihat perubahan sikap William. Dia begitu peduli dengan Arina. Dia bahkan sangat cemas jika Arina terluka. Cindy mengingat lagi, dulu William tidak pernah se peduli itu dengan dirinya.
Cindy melihat perbedaan tatapan mata William saat bersamanya dan saat bersama Arina. Berbeda. Tatapan William ke Arina sangat lembut dan penuh kasih sayang. Tapi, tatapan William kedirinya penuh dengan kebencian dan rasa sakit. Cindy sadar ia memang sudah membuat William terluka.
William baru sadar kalau Cindy masih ada disitu. Ia terlalu cemas dengan Arina sehingga melupakan Cindy. William melepaskan genggaman Arina lalu berjalan ke tempat Cindy tadi.
"Jadi, apa urusanmu sudah selesai? aku akan mempersiapkan bunga untuk pesta ulang tahunmu." Kata William sambil melihat Cindy. William langsung mengatakan inti Cindy datang kesini. Dan William merasa urusan mereka berdua telah selesai.
"Sudah, baiklah. Kalau bunganya sudah siap kau bisa menghubungi no ini. Dia yang akan menjemput bunga-bungaku." Kata Cindy sambil memberikan kartu yang berisikan no pembantunya.
William mengangguk dan mengambil kartu itu. Lalu, ia pergi dari hadapan Cindy. Tapi, sebelum itu Cindy langsung memanggil William lagi.
"William, aku ingin minta maaf. Untuk semua yang telah terjadi selama ini. Untuk luka dalam hatimu. Aku sadar semua itu salahku. Dan juga sulit untuk menemukanmu setelah kejadian di masa lalu itu. Karena itu, selagi kita bertemu seperti ini. Aku ingin minta maaf." Kata Cindy dengan wajah bersalah.
"Sebelum kau minta maaf, aku sudah dulu memaafkanmu. Tidak ada yang tau apa yang terjadi dalam hidup kita ini. Aku hanya mencoba untuk rela dan menjadikan pelajaran untuk kehidupanku di masa depan." Kata William sambil berbalik arah menghadap Cindy.
"Terimakasih, William. Aku senang mendengarnya." Kata Cindy sambil tersenyum kearah William.
__ADS_1
Cindy pun pamit kepada Arina dan berniat untuk pergi. Tapi, ia Cindy kembali mengahadap William dan memberikan sebuah undangan.
"Ini, undangan untukmu. Aku ingin kau datang di pesta ulang tahunku. Aku sangat berharap kedatanganmu." Kata Cindy sambil memberikan sebuah undangan ke William.
Awalnya, William ragu untuk mengambil undangan itu. Lalu, ia teringat akan prinsip dirinya. Tidak boleh membenci seseorang. Walaupun, orang itu telah membuat luka dihatinya. William pun mengambil undangan Cindy itu. William melakukan itu karena ia menghargai Cindy yang telah mau mengundangnya.
"Kau masih seperti dulu. Kau sangat baik." Kata Cindy tersenyum. Setelah itu, Cindy pun baru benar-benar pergi dari toko Arina.
Saat sudah berada di dalam mobilnya. Cindy sempat terdiam. Lalu, ia tersenyum dan menghidupkan mobilnya. Dalam hati Cindy berkata. "William telah menemukan pengganti diriku."
William masih memegang undangan itu dengan terdiam. Ia menatap undangan itu. Entah apa yang dipikirkan William.
"Hei, kenapa kau melamun." Kata Arina sambil memukul lengan William lembut. Arina pun ikut melihat undangan yang dipegang William.
Tiba-tiba Arina merebut undangan yang dipegang Wiliam dan mengambilnya.
"Hei, kenapa kau mengambil undanganku." Kata William tersentak dari lamunannya.
"Oh iya. Aku hampir lupa. Baiklah, aku bersihkan dulu." Kata Wiliiam. Lalu, William pun langsung pergi dari hadapan Arina dan membersihkan pecahan vas itu.
Arina pun berjalan ke sebuah meja dan duduk di salah satu kursi didepan meja itu. Arina melihat lihat isi undangan ulang tahun Cindy itu. Arina pun tertawa saat ia melihat seuatu yang lucu tertulis dalam undangan itu.
William pun yang sudah siap membersihkan pecahan itu langsung duduk dihadapan Arina. Ia heran kenapa Arina ketawa-ketawa sendiri.
"Hei, apa ada sesuatu yang lucu? kenapa kau tertawa."Tanya William heran.
"Apa Cindy memberikan undangan ini untuk mengundangmu?" Tanya Arina dan berhenti tertawa.
"Iya, dia mengundangku. Ia juga sangat berharap aku datang di pestanya." Kata William apa adanya.
"Kalau begitu, kau dalam masalah." Kata Arina kembali tertawa.
William pun masih heran dengan perkataan Arina itu. Ia tidak mengerti sama sekali.
__ADS_1
"Kenapa aku kena masalah?" Tanya William.
"Apa kau tidak baca dibagian belakang undangan ini. Disini dikatakan kau harus membawa pasangan kalau mau datang ke pestanya. Terus juga tertulis disini bahwa jomblo dilarang datang ke pesta." Kata Arina.
William melihat tulisan itu dan ternyata benar. Tadi, dia tidak terlalu fokus dengan bagian belakang undangannya. Ternyata jika ingin datang ke pesta Cindy. William harus membawa pasangan.
"Apa Cindy ingin mempermalukanmu lagi. Dasar, dia kan tau kalau kamu sekarang jomblo. Ngapain juga dia masih mengundang kamu." Kata Arina terlihay kesal.
"Aku tidak tau jika ada peraturan seperti itu disebuah pesta ulang tahun." Kata William.
"Sudahlah, tidak usah datang. Aku tidak akan tinggal diam jika kau dieprmalukan di pestanya itu." Kata Arina.
"Tidak, aku tetap akan datang. Kalau aku mundur berarti secara tidak langsung aku sudah mengatakan kepadanya kalau aku gagal. Aku tidak ingin lagi seperti itu." Kata William.
"Tapi, kau tidak punya pasangan, William." Kata Arina.
"Ada." Kata William dengan wajah yang tiba-tiba tersenyum.
"Apa kau akan membawa pacar bohongan? atau kau akan membawa teman wanitamu?" Tanya Arina heran.
"Aku akan membawa seorang wanita yang sangat aku kenal." Kata William.
"Kalau begitu. Baguslah. Kau hubungi dulu temanmu itu. Apa dia mau atau tidak." Kata Arina dengan nada sedih. Terlihat dari wajahnya. Arina sepertinya cemburu melihat Rafa pergi dengan wanita lain.
"Baiklah." Kata William sambil mengeluarkan hpnya. Arina pun tidak mau ikut campur lagi urusan Willliam. Ia berdiri dan pergi dari hadapan William.
Saat Arina berjalan, tiba-tiba hpnya berbunyi. Arina langsung mengeluarkan hpnya dari dalam kantung roknya. Ia melihat siapa yang meneleponnya. Disitu tertera nama William.
"Hei, William. Kenapa kau meneleponku." Kata Arina.
"Aku sedang menelepon seseorang itu. Orang yang akan aku ajak ke pesta itu. Bersamaku. Dan itu adalah dirimu." Kata William tersenyum kearah Arina.
Arina langsung tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa terkejut. Dan terdiam.
__ADS_1