Kamu Matahari Dan Aku Bulan

Kamu Matahari Dan Aku Bulan
Episode 31 Tidak Jadi


__ADS_3

Setelah selesai ngobrol dengan Ayahnya, Rafa pun balik keruangannya. Ia sudah


bersiap untuk memberikan sesuatu kepada Nabila.


"Aku yakin, Nabila pasti mau pergi nonton bersamaku." Kata Rafa. Ia melihat 2 tiket nonton bioskop yang sedang dipegangnya.


"Sebaiknya, apa yang harus aku katakan lebih dulu ya saat dia sudah balik? apa aku langsung memberikan tiket ini atau aku tanya dulu apa dia punya waktu hari Minggu besok? Hmm." Kata Rafa. Ia terlihat bingung dan terlihat berpikir.


Nabila terus berlari. Perkataan pelayan hotel itu tentang Luna terus terbayang bayang dalam ingatannya. Sesampainya di kantor Nabila berhenti sejenak. Ia mengontrol nafasnya yang terengah engah.


Saat ia sudah sampai didepan ruangan Rafa. Nabila meyakinkan hatinya. Apakah ia harus mengatakan semuanya kepada Rafa? Apakah yang terjadi jika Rafa tau ternyata Luna mempunyai kekasih gelap dan diam diam bersembunyi dibelakang Rafa.


Nabila membuka pintu perlahan. Saat Rafa melihat Nabila datang ia langsung berdiri dan bersiap memberikan tiket nonton itu.


"Nabila, ada sesuatu yang ingin aku katakan."


"Rafa, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."


Ternyata, saat Nabila masuk. Rafa pun langsung berbicara, begitupun Nabila.


"Owh, kau ingin mengatakan sesuatu juga. Kalau begitu kau duluan yang bicara. Ada apa?" Tanya Rafa. Ia mengalah dan menyuruh Nabila duluan bicara.


"Apa aku harus mengatakannya sekarang? apa ini waktu yang tepat? lalu, apa yang akan Rafa lakukan?" Tanya Nabila dalam hati.


"Maaf, tadi aku pergi keluar sebentar dan tidak memberitahu mu. Apa aku telambat masuk?" Tanya Nabila.


"Aku tidak berani mengatakannya. Jika Rafa tau. Pasti ia akan langsung mengatakannya kepada Luna dan membatalkan pertunangan itu. Pasti Luna akan mencari tau siapa yang membongkar semua ini. Lalu, Luna mungkin akan sangat marah denganku dan mengancurkan hidupku. Aku tidak mau itu semua terjadi.


"Lalu, jika itu semua terjadi. Tidak ada lagi kesempatan untukku. Untuk mengungkap semua masa lalu Rafa. Jika Ayah Rafa tau, aku ternyata bekerja disini bersama Rafa. Pasti ia tidak segan-segan untuk mengusirku. Baiklah, aku akan mengatakannya kepada Rafa setelah festival ini selesai saja. Aku akan memanfaatka waktu sebulan ini. Setelah itu aku akan mengungkap semuanya." ucap Nabila dalam hati."


"Owh, kau tidak telat. Jadi, apa hanya itu yang ingin kau katakan?" Tanya Rafa.


"Iya, hanya itu." Kata Nabila tersenyum kaku.


"Kalau begitu, kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Nabila.


"Oiya, sebenarnya, aku ingin mengajakmu pergi nonton hari Minggu besok. Aku punya 2 tiket nonton. Tapi, aku tidak tau mau mengajak siapa. Jika kau punya waktu, apa kau mau?" Tanya iRafa malu malu.

__ADS_1


"Sepertinya, hari Minggu besok aku juga tidak ada jadwal apapun." Kata Nabila.


"Jadi, apa kau mau pergi nonton bersamaku?" Tanya Rafa ragu.


Nabila tampak berpikir sejenak sambil melihat Rafa dan akhirnya Nabila pun setuju.


"Tentu saja, jika kau yang meminta aku bisa apa." Kata Nabila sambil tertawa.


"Yes." Secara tidak sengaja Rafa mengatakan itu dan wajahnya berubah sangat bahagia. Hal itu membuat mereka berdua tertawa.


Setelah itu, mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Rafa sangat bahagia karena Nabila mau pergi nonton bersama Rafa. Begitu juga dengan Nabila ia juga sangat senang karena Rafa mengajaknya pergi bersama.


Saat sekertaris Kim sedang bekerja. Ia melihat Luna datang dan berjalan kearah ruangan Rafa. Ia pun langsung berdiri dan mengehentikan Luna.


"Buk, apa kau ingin menemui Pak Rafa?" Tanya sekretaris Rafa.


"Kalau aku sudah kesini tentu saja aku ingin menemui Rafa. Emang siapa lagi selain Rafa yang pernah aku temui kalau kesini. Tidak mungkin dirimu." Kata Luna ketus.


Sekertaris Rafa teringat apa yang pernah dikatakan Rafa kepadanya.


Flashback On


"Pak, aku ingin kau menjaga rahasiaku." Kata Rafa pelan kepada sekretarisnya.


"Ada apa pak?" Tanya sekretaris Rafa. Ia terlihat memajukan badannya kearah Rafa.


"Jangan sampai ada yang tau kalau Nabila itu bekerja dirunganku. Siapapun itu, termasuk Luna.Jiika dia tiba-tiba datang untuk menemuiku, suruh saja ia tunggu diluar dulu. Biiar saya yang keluar menemuinya." Kata Rafa.


"Tapi ... kenapa Pak?" Tanya sekretaris Rafa heran.


"Akan jadi masalah besar nantinya. Aku kasihan dengan Nabila, ia yang akan kena sasaran dari masalah ini. Karena itu, aku ingin melindunginya. Apalagi jika Luna tau, ia akan menyuruh wartawan datang kesini dan membuat gosip yang tidak benar. Aku tidak ingin semua itu terjadi." Kata Rafa.


"Baiklah Pak." Kata Sekretaris Rafa.


Flashback Off


"Awas, kau menghalangiku saja." Luna menghindari sekretaris Rafa.

__ADS_1


"Tapi, tunggu sebentar, Buk. Aku harus mengkonfirmasi dulu ke Pak Rafa. Apa ia punya waktu untuk bertemu denganmu." Kata sekretaris Rafa.


"Apa apaan ini, biasanya tidak pernah seperti ini. Emang ada apa didalam? apa kalian menyembunyikan sesuatu?" Tanya Luna. Ia mulai terlihat curiga, ia berjalan masuk dan bersiap untuk membuka pintu Rafa.


Tapi, disaat yang bersamaan Rafa juga membuka pintu.


"Ada ribut ribut apa ini?" Tanya Rafa. Ia keluar karena ia mendengar suara Luna dari dalam. Ia merasa Luna sedang berdebat dengan sekretarisnya dan setelah Rafa keluar ternyata betul apa yang dirasakannya.


"Kau seharusnya mengganti sekretarismu. Dia melarang larangku masuk keruangamu. Dia kira dia siapa." Kata Rafa. Saat Luna melihat Rafa keluar ia langsung menyalahkan Sekretaris Rafa. Luna melihat sekretaris Kim dengan tatapan kesal.


"Aku yang menyuruhnya melakukan itu. Emang kenapa? mulai besok jika kau mau menemuiku, kau harus menelepon dulu. Kita bertemu diluar kantor saja lagi." Kata Rafa dingin.


"Kenapa begitu? kenapa tidak dirunganmu saja? bisanya tidak apa-apa. Tapi kenapa sekarang tidak boleh?" Tanya Luna terlihat kesal.


Rafa memajukan sedikit badannya kearah Luna. Lalu ia berbisik ditelinga Luna.


"Apa kau mau pertunangan ini dibatalkan? apa kau mau semua orang tau kalau kita tidak benar benar saling suka? hubungan kita hanyalah sekedar perjodohan bisnis tidak lebih dari itu. Karena itu, kau harus tau batasmu sampai dimana." Kata Rafa dingin.


Luna pun mengepalkan tangannya erat. Ia sangat marah. Ternyata Rafa telah begitu berani dibanding dirinya sekarang. Luna merasa dia sudah dikalahkan oleh Rafa. Ia tidak menerima semua perkataan Rafa itu.


Luna memutuskan untuk pergi. Suasana hatinya menjadi sangat buruk. Ia tidak punya mood lagi setelah berbicara dengan Rafa.


"Tapi, kau ingin berbicara denganku? kenapa pergi begitu saja." Rafa tertawa melihat Luna yang sudah menjauh darinya. Rafa merasa Luna tidak berani lagi melawannya.


"Kerja bagus." Rafa melihat sekretarisnya dan menepuk pundaknya. Tanda bahwa Rafa sangat senang dengan kerja sekretarisnya.


"Terima kasih Pak, aku hanya menuruti apa yang anda katakan Pak." Kata sekretarisnya.


"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu." Kata Rafa. Ia tersenyum kearah sekretarisnya dan masuk kembali keruangannya.


Luna berjalan menuju lift dengan wajah yang marah. Niatnya dia ingin berbicara baik baik dengan Rafa. Tapi Rafa malah membuat hatinya menjadi sakit. Karena perkataannya tadi.


"Permisi, kau Luna kan?" Tanya sesorang pria. Ia menghampiri Luna yang sedang menunggu lift terbuka.


"Siapa kau? aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan orang yang takku kenal." Luna melihat orang itu dengan wajah jutek.


Saat pintu lift sudah terbuka. Luna tidak mengacuhkan pria itu dan masuk ke lift. Ia menekan lantai 1 dan pintu lift itu perlahan tertutup. Tapi, pria itu menahan pintu liftnya dan membuat pintu lift itu terbuka lagi. Pria itu tersenyum kearah Luna dan berkata.

__ADS_1


"Aku akan membantumu. Kita punya satu tujuan yang sama." Kata pria itu.


__ADS_2