
Nabila benar-benar keluar dan meninggalkan Rafa sendiri diruangannya. Saat ini hati dan perasaan Nabila begitu terluka mendengar semua perkataan yang diucapkan Luna tadi. Nabila tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan Luna tadi. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Rafa maupun Luna.
Nabila pun keluar dan duduk ditaman kantor. Nabila mencari tempat duduk yang sepi dan tidak banyak orang. Karena saat ini Nabila benar-benar ingin mengeluarkan semua apa yang dipendamnya dengan tangisan. Hanya itu yang bisa Nabila lakukan agar rasa sakitnya berkurang.
Nabila duduk sendiri ditaman itu dan mengeluarkan tangisannya yang sangat pilu dan sangat menyedihkan. Semua perkataan Luna terus terbayang dipikirkannya. Apalagi saat Luna mengatakan kalau Nabila tidak akan pernah bisa mengambil posus Luna untuk menjadi pasangan hidup Rafa.
Nabila merasa ia tidak punya kekuatan lagi untuk melanjutkan semua rencananya ini. Harapannya untuk mengembalikan ingatan Rafa sepertinya benar-benar mustahil untuk dilakukannya. Rasanya Nabila tidak tau harus melakukan apa lagi. Ia tidak punya cukup kemampuan untuk melawan Luna dan kenyataan dirinya yang sekarang.
"Apa aku tetap harus melanjutkan rencana ini? rasanya aku benar-benar sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melanjutkan semua ini. Aku....." Kata Nabila sambil tetap menangis tersedu-sedu. Sesekali Nabila menghapus air matanya yang sudah jatuh membasahi bajunya.
"Bagaimana ini.... hatiku benar-benar terasa sakit. Kenapa aku harus menerima kenyataan yang begitu menyakitkan seperti ini. Aku tidak kuat....." Kata Nabila masih terus menangis. Tangisan yang sangat pilu.
Tiba-tiba datang seorang pria yang menghampiri Nabila. Ia melihat Nabila dan begitu merasa bersalah karena telah membuat Nabila menangis seperti itu. Ia langsung duduk disamping Nabila. Hal itu membuat Nabila langsung terkejut dan menoleh ke pria itu.
"Rafa..." Kata Nabila terkejut. Ia langsung menghapus air matanya karena ia tidak ingin Rafa melihatnya dalam keadaan sedih seperti ini.
Perasaan Rafa pun langsung terasa sakit saat mengetahui wanita yang disukainya menangis seperti ini. Tanpa aba-aba Rafa pun langsung memeluk Nabila. Ia benar-benar ingin melindungi Nabila saat ini.
"Rafa, apa yang kau lakukan." Kata Nabila ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Rafa.
"Menangis lah. Jangan ditahan-tahan. Aku akan menemanimu disini." Kata Rafa sambil menepuk pundak Nabila pelan. Nabila pun hanya bisa diam dan tetap berada dipelukan Rafa. Ia memang tidak bisa menahan tangisannya ini.
"Nabila, maafkan aku. Aku belum bisa melindungimu dan malah membuatmu menangis seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa melindungimu." Kata Rafa. Ia masih memeluk Nabila.
__ADS_1
"Tidak, ini bukan salahmu. Aku juga bersalah, aku seharusnya sadar kalau kau itu sudah punya calon tunangan. Dan tidak seharusnya aku mendekatimu seperti ini. Aku benar-benar melakukan tindakan yang salah." Kata Nabila. Rafa langsung melepas pelukannya dan menatap Nabila.
"Jangan salahkan dirimu seperti itu, Nabila. Bagaimanapun aku tidak mencintai Luna. Hanya kau wanita yang aku cintai. Kau tidak salah. Aku yang salah karena aku masih belum bisa membatalkan pertunangan ini. Aku yang salah. Aku benar-benar pria yang lemah." Kaya Rafa tertunduk lesu.
Nabila terlalu kasihan melihat Rafa menyalahkan dirinya seperti ini. Nabila tau Rafa sudah begitu berusaha untuk melakukan semua ini. Ia juga sudah berusaha untuk mengingat dan melawan rasa sakit di kepalanya karena bayangan tentang masa lalu antara dirinya dan Rafa.
"Tidak, Rafa. Jangan salahkan dirimu lagi. Sebenarnya, tidak ada yang perlu disalahkan. Kita hanya perlu menerima kenyataan yang sebenarnya. Kau sudah memiliki Luna dan aku bukan siapa-siapamu. Itu sudah cukup jelas." Kata Nabila. Saat ini Nabila tidak menangis lagi.
"Jangan katakan hal itu Nabila! aku membencinya. Aku tidak akan biarkan Luna menjadi tunanganku. Aku hanya ingin menikah dengan dirimu. Jadi, tolong beri aku sedikit waktu lagi untuk membuktikan semua itu kepadamu." Kata Rafa. Ia benar-benar sangat tulus saya mengatakan hal itu.
"Rafa..." Kata Nabila.
"Jangan bicara lagi Nabila. Aku tidak ingin ada penolakan darimu lagi. Biarkan aku yang melakukan semuanya." Kata Rafa sambil menggenggam tangan Nabila.
"Sebaiknya kita kembali masuk Rafa. Kita harus lanjut bekerja." Kata Nabila. Rafa pun mengangguk dan mereka masuk bersama kedalam kantor.
Diruangan yang berbeda, lebih tepatnya diruangan Tasya dan Randi. Meja kerja mereka 7bersebelahan, mereka juga tampak sangat serius mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Tiba-tiba hp Randi yang terletak diatas meja pun berbunyi tanda ada panggilan masuk. Tak sengaja Tasya pun melihat kearah hp Randi itu dan ia melihat nama Luna di layar hp Randi.
"Itu Luna, orang yang merencanakan rencana jahat bersama Randi. Kenapa dia menelpon Randi siang-siang begini? apa ada sesuatu yang mereka rencanakan lagi?" Tanya Tasya dalam hati dengan sangat penasaran.
Randi pun langsung mengambil hpnya. Ia berdiri dan keluar dari ruangan itu. Sepertinya Randi sengaja mengangkat telepon itu diluar agar Tasya tidak mendengar obrolan mereka berdua.
__ADS_1
Saat Randi sudah keluar dari ruangan mereka. Tasya pun diam-diam juga ikut-ikutan keluar dari mengikuti Randi dari belakang. Sampai Randi berhenti di tempat yang sudah sangat sepi.
"Halo, ada perlu apa kau menelponku?" Tanya Randi saat ia sudah mengangkat telepon dari Luna itu.
Tasya pun bersembunyi dari Randi sambil mendengarkan percakapan dari Randi.
"Apa? malam ini? ditempat biasa kan. Emang ada apa? kenapa tiba-tiba kau menyuruhku datang kesana lagi?" Tanya Randi heran. Tasya pun semakin mendekat untuk mendengar lebih jelas pembicara mereka berdua.
"Sepertinya mereka berdua akan bertemu lagi ditempat kemaren. Pasti dirumah kosong itu lagi. Kali ini apa lagi yang mereka rencanakan." Tanya Tasya heran.
"Baiklah, pulang kerja nanti aku langsung ke tempat itu. Ya, baik." Kata Randi setelah itu ia menutup panggilannya.
Tasya pun menyadari kalau Randi sudah selesai berbicara dengan Luna dalam telepon itu. Ia langsung bergegas lari dan cepat-cepat masuk kedalam ruangannnya lagi. Tak lama Tasya duduk Randi pun juga masuk dan duusk di meja kerjanya. Lebih tepatnya disamping Tasya.
Tasya pun tidak bisa mengontrol nafasnya yang tidak teratur karena berlari tadi. Randi pun menyadari itu dan heran sambil bertanya kepada Tasya.
"Tasya? kau habis olahraga ya? kenapa nafasmu tidak teratur seperti itu. Kau juga berkeringat." Kata Randi heran.
"Ahh tidak, tiba-tiba aku merasa kepanasan. Sepertinya cuaca diluar sangat bagus." Kata Tasya. Ia berusaha menutupi kebohongannya itu. Tasya pun mengeluarkan sapu tangannya yang bewarna pink itu. Ia menghapus keringatnya.
Randi melihat sapu tangan itu lagi. Ia kembali menyadari sapi tangan itu benar-benar mirip dengan yang ia temukan terjatuh di dekat rumah kosong itu.
"Sapu tangan itu benar-benar sangat mirip. Apa jangan-jangan Tasya yang waktu itu datang kerumah kosong tempat aku dan Luna bertemu. Rumahnya juga dekat dengan rumah kosong itu. Aku harus mencari tau dulu. Bisa-bisa gagal rencanaku kalau Tasya tau semua rencanaku." Kata Randi dalam hatinya.
__ADS_1