
Setelah membaca pesan dari Rafa, Nabila pun langsung naik taksi dan menuju restoran yang sudah di katakan Rafa sebelumnya. Selama perjalanan ke restoran itu, Nabila membalas pesan dari Rafa. Ia bertanya apakah Rafa baik-baik saja? ia juga mengatakan apakah Rafa ada masalah? Nabila benar-benar khawatir karena biasanya Rafa tidak pernah seperti ini.
"Kalau misalnya dia benar-benar ada masalah, atau ada kesibukan lain seharusnya Rafa batalkan saja janji hari ini. Dia tidak harus memaksakan pergi hari ini juga." Kata Nabila. Setelah itu Ia melihat pesannya tadi yang dikirimnya untuk Rafa, tapi Rafa bahkan tak membaca pesan dari Nabila.
Tak lama Nabila pun akhirnya sampai di restoran itu, Nabila pun langsung disambut oleh beberapa karyawan restoran yang ada disana.
"Hallo, selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" Tanya karyawan restoran itu dengan sangat ramah.
"Sebenarnya aku punya janji dengan seseorang di restoran ini. Tapi, orang itu belum datang, jadi dia menyuruhku untuk menunggu disini dulu." Kat Nabilla.
"Baiklah, dengan nama siapa yang memesan meja disini?" Tanya karyawan restoran itu.
"Dengan nama Rafa." Kata Bella.
"Owh pak Rafa, aku sudah menyiapkan meja untuk kalian berdua. Mari, akan saya tunjukkan meja untuk kalian." Kata karyawan itu. Nabila pun masuk dan mengikuti karyawan itu dari belakang, ia bergitu terpesona melihat restoran ini yang begitu mewah dan megah.
"Baiklah, disini meja kalian, selagi kau menunggu pak Rafa kami akan menyiapkan beberapa minuman untukmu." Kata karyawan itu. Nabila pun hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Tak lama setelah itu beberapa karyawan tampak memberikan minuman untuk Nabila.
"Terimakasih." Kata Nabila sambil tersenyum.
Setelah karyawan itu pergi, Nabila tampak sendiri duduk di slaah satu meja yang terletak di tengah-tengah dari meja lainnya. Diatas meja itu ada beberapa bunga yang terletak rapi, tidak begitu banyak pengunjung yang datang. Tampak hanya orang-orang elit dari kalangan atas saja yang datang ke restoran itu.
"Rafa tidak membalas pesanku, sebenarnya dia kemana? apa aku telepon saja dia ya?" Kata Nabila berbicara sendiri.
"Tapi, sebaiknya tidak usah, takutnya aku malah mengganggunya." Kata Nabila sambil menyimpan hpnya lagi. Ia memilih untuk menunggu Rafa sambil melihat beberapa orang yang sedang bermain biola yang begitu sangat indah didalam restoran itu.
__ADS_1
Tiba-tiba ada seorang pria memakai baju hitam, topi hitam dan masker hitam yang masuk kedalam restoran itu. Salah satu karyawan pun langsung berhenti didepan pria itu dengan wajah yang terlihat curiga
"Maaf pak, tapi sebelumnya apa kau bisa membuka maskermu terlebih dahulu. Kami berhak mengetahui siapa yang akan berkunjung ke restoran kami ini. Kami tidak bisa menerima orang yang terlihat mencurigakan." Kata karyawan itu dengan tatapan curiga.
Pria itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah kartu nama. Ia memberikan ke karyawan restoran tadi. Setelah mengambil kartu itu, si karyawan tadi langsung terkejut dan terlihat lebih sopan dari tadi.
"Jadi ternyata bapak adalah salah satu utusan dari buk Luna. Maafkan saya, karena sudah berlaku tidak sopan tadi." Kata karyawan tadi. Ternyata, restoran itu adalah milik ayah Luna, jadi semua karyawan sangat takut saat mengetahui kalau pria tadi adalah utusan dari Luna langsung. Ayah Luna terkenal dengan sikap tegas dan disiplin.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku kesini karena dapat perintah dari buk Luna." Kata pria tadi yang tak lain adalah Randi.
Jadi, ini merupakan salah satu rencana yang telah dia dan Luna atur sebelumnya di rumah kosong itu. Entah apa setelah ini yang akan terjadi, Randi dan Luna benar-benar sudah melakukan aksi mereka
"Apa ada yang bisa saya bantu, pak." Kata karyawan itu.
Randi pun membisikan sesuatu ke karyawan tadi, ia terlihat serius. Tak lama setelah itu, karyawan tadi pun mengangguk dan langsung pergi dari hadapan Randi, begitu juga dengan Randi ia langsung keluar dari restoran tadi.
"Buk, maaf mengganggumu sebentar, tapi saya baru dapat kabar dari pak Rafa dan pesan ini ditujukan untuk anda." Kata karyawan itu.
"Rafa?" tanya Nabila heran, pesannya tak dibalas oleh Rafa, tapi karyawan ini mendapatkan kabar dari Rafa. Nabila hanya terlihat heran.
"Iya, katanya malam ini pak Rafa tidak bisa pergi ke restoran ini. Ia menyuruhku untk mengatakan kepadamu agar kau pergi ketempat ini." Kata karyawan tadi sambil memberikan secarik kertas ke Nabila. Dalam kertas itu ada sebuah nama tempat yang harus Nabila datangi.
"Apa ini benar-benar pesan dari Rafa? kenapa dia tidak mengubungiku saja?" Tanya Nabilla heran.
"Hpnya lagi ada masalah, buk. Tadi yang menelepon sekretarisnya." Kata karyawan itu.
__ADS_1
"Owh begitu, karena itu mungkin dia tidak membalas pesanku." Kata Nabila sambil mengangguk.
"Baiklah, jadi aku harus ketempat ini sekarang juga? apa begitu yang diakatakan Rafa." Tanya Nabila untuk meyakinkan kembali.
"Iya, benar sekali, buk. Kami juga sudah mempersiapkan mobil di depan yang akan mengantarkanmu langsung ketempat itu. Ini juga perintah dari pak Rafa." Kata karyawan itu.
"Baiklah kalau begitu, aku akan langsung pergi." Kata Nabila. Ia pun mengikuti karyawan tadi dan setelah itu masuk ke mobil yang telah di siapkan untuknya.
Selama diperjalanan Nabila hanya diam sambil sesekali melihat hpnya. Ia masih berharap Rafa akan meneleponnya langsung.
"Apa ini salah satu kejutan dari Rafa, sepertinya dia sengaja membuatku bingung seperti ini dan tidak membalas pesanku agar kejutannya semakin berhasil. Baiklah, aku juga sudah tidak sabar dengan kejutannya itu." Kata Nabila sambil tersenyum.
Ternyata perjalanan ke tempat itu tidaklah menghabiskan waktu yang cukup lama, Nabila sudah sampai dan turun dari mobil itu.
"Tempat apa ini? terlihat sepi dan juga tidka banyak orang yang datang kesini." Kata Nabila sambil berjalan menelusuri tempat itu sambil mencari Rafa.
"Tapi, Rafa dimana ya? bagaimana bisa aku menemukannya ditempat yang luas seperti ini." Kata Nabila masih terus berjalan lurus kedepan.
"Sepertinya aku melihat mobil Rafa disana, Aku yakin itu pasti Rafa." Kata Nabila.
Saat ini ia melihat mobil Rafa yang terparkir di dekat sebuah jembatan dekat dengan beberapa pohon jambu disana. Nabila pun begitu antusias sambil berlari kecil menghampiri Rafa.
Nabila pun mulai melihat Rafa berdiri tak jauh dari tempatnya, ia membelakangi Nabila sehingga Nabila tidak bisa melihat wajah Rafa.
Tapi semakin dekat Nabila berjalan ia melihat dengan jelas ternyata Rafa tidak sendiri, ada seorang wanita didepannya dan ternyata itu adalah Luna. Tapi, yang lebih membuat Nabila terkejut lagi adalah ternyata mereka saling berciuman bibir, bahkan Luna mengalungkan tangannya di leher Rafa. Nabila pun langsung terkejut sambil menutup mulutnya, ia pun menjatuhkan tasnya dan membuat Rafa maupun Luna menoleh ke arah Nabila.
__ADS_1
"Nabila!!" Kata Rafa terkejut.