
Reiner melajukan motornya dengan kecepatan tinggi sepanjang perjalanan nya dia hanya memikirkan Raya Raya dan Raya saja.
Sebenarnya Bagas juga sering membuat kesal hatinya namun masih bisa ia tahan. Biasanya kecemburuannya tidak sedalam itu, mungkin karena Yuda lebih tampan dari Bagas jadi sedikit lebih khawatir.
"Gue ke rumah Rafa aja deh" gumamnya ingin mengurangi kegundahan hatinya mungkin dengan mengunjungi sahabatnya ia bisa lebih tenang.
Reiner memarkirkan motor di depan pintu gerbang rumah Rafa, tampak seseorang berlari membukakan pintu karena sudah sangat mengenal nya.
"Wah mas Reiner, nyasar ya?" kata Pak Hamid dia satpam keluarga Rafa.
"Saya memang sengaja kesini pak, Rafa mana?" tanyanya sambil berjalan serampangan menuju pintu masuk rumah Rafa. Tapi tiba-tiba seseorang menyerukan suara dari arah kirinya.
"Woooy jagoan, gue disini!" teriak Rafa dari dalam gazebo kayu yang terletak di antara taman bunga rumah Rafa.
Reiner pun berjalan di jembatan menuju gazebo kayu milik sahabatnya, dia melihat Rafa tengah asyik bersandar dengan menyilang kan kakinya ke atas sementara dia sedang merasakan hawa panas karena boneka Yuda.
"Sialan Lo, enak enakan di sini!" gerutunya.
Rafa menepuk-nepuk bantal di samping nya tanda dia memanggil sahabatnya ke sana.
"Sini Lo, duduk!" ucap Rafa.
Reiner menjatuhkan tubuhnya dengan hembusan nafas yang singkat dia menatap langit langit seolah memendam pertanyaan, dia tengah merasakan hawa cemburu yang entah sejak kapan itu ia lupa kalau ia juga memiliki kekasih selain tunangannya.
"Lo kenapa Rei, muka llo di tekuk begitu, kalah taruhan bola ya llo?" tanya Rafa tangannya sibuk memainkan game di ponselnya.
"Menurut llo gue ganteng gak FA?" tanyanya yang tidak nyambung dengan pertanyaan Rafa sebelumnya ia terlihat masih memandang langit langit dengan tatapan kosong.
"Lumayan" kata Rafa masih sibuk dengan ponselnya.
"Kalo llo cewek, llo suka gak sama gue?" lanjut nya yang semakin ngawur saja di pikirannya terbagi mengingat ingat bibir mungil Raya beberapa saat yang lalu.
"Lo kenapa sih, llo gak lagi mabuk lem kan?" Rafa melirik sahabatnya yang terlihat sangat lesu.
"Menurut llo Yuda ganteng gak?" tanyanya lagi membuat pemuda di samping nya mulai geram menjawab pertanyaan darinya.
"Tau ah, kalo llo tanya cewek cantik baru bisa gue jawab, jangan bilang llo suka sama Yuda?". tukas Rafa yang lalu menatap wajah Reiner.
__ADS_1
Rafa duduk mendekati Reiner dan menempel kan telapak tangan ke dahi sahabat nya,
"Lo gak papa kan?" Rafa semakin penasaran.
"Apa sih llo, gue waras!" dengan tiba-tiba Reiner menangkis tangan Rafa.
"Lagian pertanyaan llo dari tadi ngawur Rei!'. tawa Rafa.
Reiner menggigit ujung bantal dan menarik nya dengan keras dia melemparkan bantal ke wajah sahabatnya lalu pergi meninggalkan Rafa yang tampak kebingungan sejujurnya Reiner merasa sia sia sudah mendatangi nya.
"Gue salah minta pendapat dari Lo FA, llo aja gak pernah tunangan, bisanya cuma gonta ganti gebetan melulu, play boy sialan" gerutunya selagi berjalan menuju motornya.
Reiner menuntun motor ke halaman rumah mewah di seberang rumah Rafa, mereka memang bertetangga. Reiner masuk ke dalam rumah yang sudah di sambut oleh orang tuanya.
"Gimana Raya Rei?" tanya Hendrawan yang sedari tadi menunggu kabar dari nya.
"Dia sehat!" ketus Reiner, dia menaiki anak tangga masuk ke dalam kamar.
"Pah, Reiner sepertinya belum bisa suka sama Raya!". Ucap Leta pada suaminya.
"Gak mungkin, dia cuma gengsi aja!". Kata Hendrawan pada istri dari pernikahan keduanya itu.
Sudah 10 tahun lamanya Leta menggantikan posisi Yana.
"Rei kangen mah!". Batin Reiner
Reiner tumbuh menjadi anak yang pendiam dan angkuh bersama ibu tirinya, Leta memang hanya ibu tiri tapi Leta tidak pernah menunjukkan kebencian pada Reiner.
Meski Reiner belum bisa dekat dengannya, Leta tetap memperlakukan Reiner seperti anak yang lahir dari rahim nya, sampai saat ini Leta belum juga diberikan keturunan.
****************
LUSA.
Hari ini Raya sudah siap menghadapi Senin pagi nya, Raya sengaja berangkat lebih awal membawa kotak bekal berisi kimbab untuk Yuda , dia berjalan dari lorong satu ke lorong lain nya menuju ruang kelas.
Tiba-tiba dia menghentikan langkah ketika melihat dua orang yang sangat dia kenal berdiri di sudut ruangan yang cukup sepi.
__ADS_1
Raya memundurkan langkahnya bersembunyi di balik tepian dinding yang menyembilu, Raya melihat setengah wajah Sela di balik tengkuk tunangannya, dia melihat jemari Sela menempel di punggung gagah pemuda tercintanya.
"Apa mereka ciuman?". Gumamnya sambil menekan nekan bagian atas dadanya, bulir keringat menghiasi dahinya meski angin pagi masih terasa sejuk, dia segera kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas dengan perasaan yang hancur.
Langkahnya terasa berat meski sebenarnya dia ingin sekali berlari saat sudah sampai di dalam kelas Raya meletakkan kotak bekal di atas meja Yuda dan mulai duduk di bangku nya dengan tatapan yang kosong.
"Gue udah tau mereka pacaran, harus nya gue terbiasa dengan perasaan ini kan!". Batin Raya.
Beberapa saat kemudian, Reiner dan Rafa masuk ke ruang kelas, Reiner tersenyum melihat Raya yang sudah bisa mengikuti pelajaran lagi, tiga hari ini dia merasa kehilangan sosok gadis cantik yang di kenal sebagai tunangannya.
Reiner melewati tempat duduk Raya tentu saja melihat kotak bekal di atas meja Yuda.
Tanpa basa-basi Reiner mengambil kotak dari meja Yuda dan memperlihatkan nya pada tunangan cantiknya.
"Ini punya Lo kan?" tanyanya posesif.
"Iya itu buat Yuda!". Ucap Raya tanpa menoleh.
Reiner masih bisa tersenyum sinis "Lo ngapain? Lo beneran suka sama dia?" tanyanya sedang tangannya masih memegang kotak berwarna putih itu.
"Kalo iya kenapa?" jawab Raya masih tidak mau menoleh. Baru saja Raya melihat nya bermesraan dengan gadis lain lalu sekarang sok berlagak cemburu.
Jawaban acuh Raya membuat Reiner melemparkan kotak bekal ke meja tunangannya hingga membuat suara "Braaaakkk" dia mulai menunjukkan kecemburuan nya
"Raya!" teriaknya membuat gadis lemah di hadapannya tersentak. sepertinya pemuda itu juga tahu ada sedikit perasaan sesal nya sudah membuat tunangannya terkejut.
Rafa yang juga tersentak karena teriakan Reiner terlalu keras dia masih tidak mengerti apa yang sedang kedua temannya ribut kan, dia hanya bisa mengelus dada saja
"Lo tau tunangan llo lemah jantung tapi suara lo kayak mercon begitu Rei." batin Rafa.
Raya beranjak dari tempat duduknya, dia memberikan kotak bekalnya ke Rafa.
"Ini buat Lo aja deh FA!" ucap Raya mengalah karena tidak ingin terus menerus membuat tunangannya teriak.
Rafa menautkan alisnya "Oh iya, makasih ya!". Kata Rafa yang merasa bingung dengan sikap kedua temannya.
Raya mendekati Reiner dia menatap bibir Reiner yang masih menyisakan tanda kecupan di sana,
__ADS_1
"Lain kali, Lo lap dulu sisa lipstik pacar Lo sebelum ketemu gue!". Ucap Raya seraya menyeka bibir lembut tunangannya.
Reiner terkejut tapi tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak bisa menyangkal atau menjelaskan apa pun pada Raya, dia hanya bisa menatap wajah Raya yang tampak menyembunyikan kemarahan di balik kediamannya.