KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 41. Tanda kepemilikan


__ADS_3

"Sayang" suara seseorang dari belakang menyentak tubuh mungilnya.


Saat ini hati Raya masih bercelaru panas hati karena Shela masih mendera mengapa harus di tambah dengan ulah Reiner yang tidak sopan.


Raya mungkin tidak keberatan jika kekasihnya menciumnya toh itu juga bukan ciuman pertama mereka tapi setidaknya tidak dengan cara yang menakutkan seperti itu.


Harga diri nya seolah tercabik-cabik saat tubuh polosnya di sentuh seseorang yang bukan suami nya, Raya merasa di lecehkan.


Raya berjalan menepi menghindari sosok pemuda tampan yang masih menatapnya dalam, dengan acuhnya ia mengambil pakaian yang sudah di keluarkan dari dalam koper pink miliknya sebelum kemudian berjalan serampangan menuju kamar mandi.


Mata Reiner mengedip sekilas setelah mendengar pintu kamar mandi yang di hentakan dengan sangat keras "Braaaakkk".


"Apa lagi yang mau dia lakukan kali ini? aku harap dia tidak mengembalikan cincin nya lagi" cemas Reiner.


Sedang di dalam kamar mandi Raya masih menatap nanar cermin besar yang memantulkan bayangan indah dirinya, mulutnya enggan berbicara namun batinnya berkecamuk.


"Dia menyentuh ku karena dia laki-laki jika yang dia lihat Shela, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama" pikirnya sambil memakai satu persatu helaian kain ke tubuhnya.


"Aaaak,,," Raya memejamkan matanya kuat-kuat baru saja ia merasakan sengatan di jantung nya.



Kini Raya sudah mengenakan pakaian rambut panjangnya sudah terikat wajah cantiknya masih enggan tersenyum, dengan perasaan yang masih bercampur aduk Raya memutar kenop, sesekali ia memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya perlahan, berusaha mengurangi kadar amarah nya.


Click di balik pintu tatapan tajam menyambutnya.


"Sayang, aku minta maaf, aku janji tidak akan melakukan nya lagi sebelum kita menikah, aku..." ucap pemuda tampan yang beberapa saat lalu menyentuhnya, sentuhan lembut di bagian bawah punggung nya masih terasa akrab seolah bekas nya tidak mau hilang dari tubuhnya.


"Buk Siska sudah menunggu ku, biar kan aku pergi" potong Raya menerobos tubuh tegap yang menghalanginya namun sayang nya tangan hangat kekasihnya menarik nya.


"Tolong katakan kamu sudah memaafkan ku, aku akan membiarkan mu pergi" tatapan Reiner selalu saja mengarah ke bibir mungil yang kini menjadi candu baginya.


"Kenapa setiap melihat nya, aku bernafsu sekali, kenapa aroma tubuh nya memikat sekali, jika masih berdua dengan nya mungkin aku tidak mampu menahannya lagi" batinnya tak mau lama-lama Reiner melepas lengan halus di tangannya.


Reiner membiarkan kekasihnya berlalu dari pandangan nya gairah yang sudah padam kini berapi kembali, Reiner takut akan menjadi lebih menakutkan lagi.


"Awww sial !!!" sesuatu di bawah sana menyempitkan celananya.

__ADS_1


...****************...


Sementara di tempat lain peserta kunjungan wisata sudah berkumpul di halaman luas berhiaskan bunga warna warni.


Di sana sudah ada Bagas tengah menggerakkan bola matanya ke kanan dan kiri mencari cari sahabat kesayangannya, KEKASIH BAYANGAN mungkin itu judul lagu paling ideal untuk nya.


"Apa Raya masih di kamar nya? apa mungkin dia kelelahan? kenapa belum juga kumpul?" gumamnya.


Tak lama kemudian ia tersenyum saat melihat sosok gadis cantik yang baru saja melintasi pikiran nya berjalan mendekati nya namun ia melihat pria dewasa yang mengikuti sahabatnya.


"Panjang umur kamu Raya, tapi dia jalan sama siapa?" gumamnya.


"Gas, liat Mei sama Ria gak?" tanya Raya yang kini sudah berada di hadapan nya.


Senyum manis yang menghiasi wajah tampan nya memudar seketika saat melihat tanda kepemilikan yang tidak terlalu ketara, namun Bagas masih bisa menubuatkan bercak merah yang terlihat samar-samar itu.


"Gas, Bagas, hei, kamu kenapa melamun?" imbuh Raya.


"Belum, gue belum liat mereka, Emmh Ya, ini... " sahut Bagas seraya menyentuh bercak merah di leher sahabatnya.


"Bagas!! llo!! " sontak Raya teriak ia masih sedikit trauma dengan sentuhan seseorang di area yang baru saja Bagas sentuh.


Raya memejamkan matanya saat merasakan sentuhan tangan Bagas menarik paksa ikat rambut nya.


Raya menundukkan wajahnya, tangan nya memegangi dada karena baru saja Raya merasakan kembali sengatan di jantung nya.


Entah sampai kapan Raya merasakan sengatan seperti itu, sudah segala cara dilakukan untuk mencegah nya bahkan makanan yang tidak ia sukai harus di konsumsi setiap harinya itu sangat membosankan baginya.


"llo kenapa Ya? ". "Non kenapa?" kedua pria di hadapannya serempak.


"Gak papa, aku cari Ria sama Mei aja, bang Andi gak usah ikuti aku terus, aku risih lagian di sini gak akan ada yang ngapa ngapain aku tenang aja, bang Andi bikin Raya gak nyaman, bang Andi mendingan jalan-jalan di sekitar sini menikmati liburan nya, aku baik baik saja" protes Raya yang lalu pergi.


"Tapi non" Andi menghembuskan nafas pendek ia membeku di tempatnya mendengar penolakan dari nona muda nya.


"llo bodyguard nya ya bang?" tanya Bagas memastikan Andi menjawabnya dengan melebarkan senyumnya.


Suasana hati Raya sedang tidak baik jadi lebih baik jika menghilang saja dari pandangan orang orang yang over protective kepada nya.

__ADS_1


"Apa bang Andi juga melihat nya,,? atau jangan-jangan buk Siska juga melihatnya, Rei, kamu benar benar tidak sopan !!" batin Raya berkecamuk.


...****************...


Para peserta kunjungan wisata mulai berkumpul untuk makan malam bersama sebelum kemudian melakukan game untuk mengisi liburan mereka, di tempat terbuka mereka menikmati hidangan yang sudah di siapkan oleh petugas resort nya, lampu kelap kelip bertaburan di atas kepala mereka.



Malam ini Raya menutupi tanda kepemilikan nya dengan syal teman temannya tidak mencurigai nya karena cuaca dingin di sekitar sana sangat mendukung untuk menyandang nya.


Mei Ria Raya Yuda Rafa mereka duduk berdampingan sedang Reiner baru saja tiba di sana, suasana hati Reiner masih canggung jika melihat wajah kekasihnya.


"Eh Rei, tumben llo gak nempel terus sama Raya, dari mana aja llo?" bisik Rafa di telinga nya.


"Bukan urusan llo" acuh nya matanya menatap wajah kekasihnya yang masih sepi dari senyuman.


"Kenapa jadi kaya anak baru PDKT gini si, baru kali ini gue sekikuk ini, llo harus ajak dia ngomong Rei, llo calon suaminya, memangnya kenapa kalo menyentuhnya, beberapa bulan lagi juga llo nikahi dia, llo gak salah Rei" batinnya berbicara dengan dirinya sendiri.


"Rei llo gak makan?" tanya Rafa menyenggol siku sahabatnya.


"Emmh, gue gak lapar, buat llo aja gak papa, ambil aja jatah gue" sahut nya.


"Hap," seru Reiner saat satu suapan mendarat di mulutnya.


"Kamu makan sekarang, habis kan semuanya" ketus Raya kepada nya.


"Emmh iya sayang, aku makan" ucap nya tersenyum lega sambil mengunyah makanannya.


"Akhirnya, Raya mau bicara lagi, memang aku tidak salah kan, lagian apa seberani itu marah ke tunangan tampan nya?" batinnya percaya diri.


Reiner masih berpikir sentuhannya yang menjadi alasan satu satunya kemarahan Raya, Reiner belum bisa menyadari perhatian nya kepada mantan kekasihnya mungkin bisa membuat Raya menyerah untuk yang kedua kalinya.


Melihat hubungan Raya dan Reiner sudah semakin lengket Ria menyenggol nyenggol lengan Yuda sebelumnya Ria sempat ingin menjodohkan Yuda dengan Raya.


"Yud, llo gak cemburu liat Raya sama Reiner?" bisik Ria.


"Gak, kita cuma temen kan, apa hak gue cemburu?" ucap Yuda tersenyum.

__ADS_1


Sebenarnya perasaan Yuda masih sama namun sekarang situasinya sudah berubah, dahulu mungkin Reiner mengacuhkan Raya tapi sekarang mereka saling mencinta, yang bisa Yuda lakukan saat ini hanya pasrah, lagi pula Yuda tidak ingin kejadian ayah nya terulang kembali, untung nya Yuda lebih bijak.


Maaf jika penulisan masih amatir, tapi kalau kalian mau aku lanjut silahkan komentar yaa.. Terimakasih atas pengertiannya ๐Ÿ™โ˜บ๏ธ


__ADS_2