KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 73. Shareloc


__ADS_3

Di London, Tujuh jam yang lalu Reiner sudah bisa tenang karena Raya sengaja tidak memberi tahu tentang kejadian yang menimpa nya kemarin namun sepertinya Reiner mulai khawatir ketika tidak mendapat respon dari nomor-nomor keluarganya di Indonesia.


Sebelum nya Raya pamit istirahat namun rindu di hatinya masih melanda ia mencoba menghubungi nomor istrinya sekali lagi karena mungkin di rasa sudah cukup untuk istirahat, namun ternyata tidak juga di angkat.


Sampai akhirnya ia menelepon satu persatu nomor keluarga lainya yang juga tidak di angkat.


Di London masih jam delapan pagi dan dari semalam Reiner belum tidur ia terus menerus berkutat dengan ponselnya.


Seharusnya pemilik nomor-nomor yang ia panggil sedang tidak tidur karena di Indonesia masih siang. Saat Reiner menelepon pun berarti masih pagi. Reiner benar-benar tidak bisa tenang.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya "Masuk..!" Reinhard pun menurut karena pintunya memang tidak terkunci.


"Permisi tuan.." Reinhard menatap segan sepertinya tuannya belum tidur sedang maksud kedatangan nya saat ini untuk menyampaikan jadwal pekerjaan yang harus di lakukan hari ini.


"Katakan lah,, ada apa..?" ucap Reiner yang kini duduk di sofa kamar nya.


Reinhard sedikit ragu namun sudah terlanjur berada di dalam sana ia pun memberanikan diri untuk mengatakan niatnya.


"Hari ini ada pertemuan penting dengan klien tuan, dan harus berangkat jam sembilan" ucap nya.


"Atur saja..!" sahut lelaki yang masih menatap layar ponselnya.


"Anda tidak tidur tuan..? apa ada yang mengganggu pikiran mu..?" Reinhard menyandang gelar pakar ekspresi jadi bisa langsung mengetahui hanya dalam sekali melihat.


"Aku khawatir dengan istri ku, dia mendadak tidak bisa di hubungi.." pria tampan itu mengaku.


"Apa aku batalkan saja schedule hari ini..?" tawar Reinhard.


"Tidak perlu, kita lanjutkan saja, aku ingin pekerjaan ku disini cepat selesai..!"


Reinhard mengangguk.


...****************...


Di Indonesia, Bagas menanggal kan jas nya lalu berlari mengikuti Yuda yang sudah lebih dahulu berjalan cepat di susul dengan Andi yang juga berjalan cepat, tiba di lobby mereka bertemu dengan Rafa yang menatap bingung ketiga pria itu.


"Ada apa? kenapa kalian di sini?" tanyanya.


"Kamu ikut saja, kita jelaskan di mobil..!" sahut Yuda sembari masih berjalan cepat.


Ke empat pria itu menyambar pintu berbeda di mobil yang sama. Yuda segera menghidupkan mesin mobilnya, perlahan sosok mereka berlalu dari sana.


Di dalam mobil satu persatu mereka memberi tahu duduk permasalahannya kepada Rafa, dan kini mata Rafa tak berkedip teramat syok.


Bagaimana jika Reiner tahu? bagaimana jika Raya kenapa-kenapa? bagaimana jika calon bayi nya semakin memperlemah ibunya? Rafa mengusap wajah nya seolah menyesal.

__ADS_1


Sementara Yuda tampak berkutat dengan ponsel yang ia letakkan di phone holder mobilnya terlihat dari layarnya satu ikon mobil bergerak mendekati titik merah.


Sedang Bagas masih tidak mengerti kemana Yuda akan membawanya namun sepertinya Yuda begitu yakin.


"Halo... Ferdy... sambung kan ke ponsel ku sekarang... adik ipar yang ku ceritakan sekarang benar-benar sudah di culik..!!" ucap Yuda kepada seseorang di seberang telepon terlihat ia menggunakan earphone di telinga nya.


Yuda mencoba menekan rasa paniknya, untuk segera fokus dengan usahanya.


Sedang ponsel di hadapannya masih mengarahkan mobilnya ke titik merah yang sudah setengah perjalanan.


"Sepertinya tidak jauh lagi..!" ucapnya.


Bagas menatap bingung lelaki di sebelah nya "Sebenarnya kamu sedang apa..?" tanyanya sembari sesekali menatap ke arah layar ponsel Yuda.


"Iya sambung kan secepatnya..!" ucap Yuda lagi dengan seseorang di seberang telepon.


Kening Bagas semakin mengerut saat Yuda tidak menghiraukan nya. Sama halnya dengan Andi dan juga Rafa.


Namun Yuda masih fokus dengan suara dari earphone nya "Ssssseeeeccchhhssss...!" tersambung.


"Siapa nama mu..?" suara itu terdengar seperti wanita.


"Raya.. kamu sendiri siapa..? sebenarnya di mana aku..?" suara itu sangat-sangat Yuda kenal.


"Luna..!!" suara itu terdengar berteriak dan sepertinya laki-laki.


"Kamu jangan coba-coba menggagalkan pekerjaan papah lagi..!!"


Yuda menekan earphone nya matanya menyipit berharap bisa lebih jelas mendengar suara dari sana.


"Pah..! wanita ini sedang hamil, dia juga lemah jantung, kenapa papah tega menyandera nya? jangan membuat ku malu dengan menyiksa wanita lemah sepertinya..!" teriakan dari wanita yang di panggil Luna.


Yuda masih fokus dengan suara dari earphone di telinga nya, matanya terus menatap ke depan sembari sesekali melirik layar ponselnya.


Ketiga pria di sebelah nya mencoba mengganggu konsentrasi nya namun dengan sigap ia memberikan tanda stop dengan tangannya membuat ke tiga pria itu menurut tenang.


"Papah tahu dia lemah jantung, makanya papah culik dengan cara halus, bos kita menginginkan wanita cantik itu hidup-hidup." suara lelaki yang di panggil papah oleh Luna.


"Tolong biarkan aku pergi dari sini..! sebenarnya apa yang kalian butuhkan..? aku istri dari pemilik perusahaan besar di London, aku juga putri dari pemilik perusahaan berkelas di sini, apa yang kalian mau, mereka pasti menurutinya, aku lebih berharga dari harta mereka..!" seru Raya terdengar memohon.


"Benarkah demikian..? namun sayang...! kami setia dengan klien kami nona cantik...!" suara lelaki itu terdengar sedikit pelan.


"Bangsat..!!" Yuda memukul setir nya terbawa emosi.


Rafa memekik "Awas Yud..!! hati-hati..!!" ketiga pria di sebelah Yuda sedikit terpelanting dari posisinya.

__ADS_1


Baru saja Yuda hampir kehilangan keseimbangan mobilnya karena pikirannya terganggu oleh kecemasan ketika mendengar suara dari earphone nya.


"Kamu kenapa tiba-tiba berteriak..?" tanya Bagas tambah penasaran.


"Aku sudah memasang penyadap di tubuh Raya, aku bisa tahu sekarang Raya dimana, dari suaranya berarti dia masih memakai kalung liontin dariku..! berarti keberadaan nya pun benar di sana..! kita ke sana sekarang..!" terang Yuda di sela mengemudi nya.


"Apa yang kamu dengar? aku mau mendengar nya..!" Bagas berapi-api.


"Sepertinya Raya masih baik-baik saja,, suaranya terdengar tidak gemetar, dan sepertinya ada seorang wanita yang mencoba membantunya..! entah itu siapa, semoga saja mereka tidak menyakiti Raya..!" terangnya lagi penuh harap.


Mereka mulai menemukan titik cerah dari permasalahan ini, tidak sia-sia Yuda mempunyai teman sebanyak-banyaknya itu bisa menguntungkan bagi nya.


Teman Yuda banyak yang sudah menjadi ahli, dari ahli forensik balistik sampai ahli waris, eh sorry🤔 maksudnya ahli IT (Information Technology). Yuda bisa dengan mudah memiliki teman karena dia seorang seniman yang bisa memasuki kalangan mana pun.


Pertemuan nya dengan kawannya satu hari yang lalu adalah untuk meminta bantuan terkait percobaan penculikan Raya. Teman lainnya juga sudah menyelidiki asal pistol yang mereka dapatkan dari Joko.


Dreeetttt dreeetttt dering ponsel Andi mengalihkan perhatian nya dengan cepat ia menggeser tombol hijau di layar ponsel nya.


"Halo.. tuan..." ucapnya.


"Dimana kamu.? kenapa malah menghilang di saat begini hah..?" teriak dari seberang telepon.


"Maaf tuan, saya sedang di jalan menuju tempat di mana non Raya berada, saya bersama dengan mas Yuda mas Bagas dan juga mas Rafa.." terangnya.


"Apa..? kamu tahu sekarang Raya dimana..?" tanya Hans berapi-api.


"Iya seperti nya begitu..!" balasnya.


"Kirimkan alamat nya, aku juga akan ke sana..!"


"Baik tuan.." Andi menurunkan ponselnya lalu mengirimkan lokasi keberadaan nya saat ini bahasa gaulnya si (shareloc).


.


.


.


Jangan lupa like ya... untuk kalian yang sudah sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan belajar yang sudah mulai aktif semoga sehat selalu...


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2