
Tiba di pulau S peserta kunjungan wisata mulai kelelahan mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh namun senyum semangat mulai kembali setelah melihat keindahan alam di sekitarnya, mereka mengikuti arahan para guru untuk memasuki resort-resort yang berjajar.
Sementara Siska dan ketiga murid spesial nya masih berjalan menuju resort yang letaknya sedikit terpisah, Hans memang sengaja memesan resort khusus untuk Raya putri semata wayangnya juga Siska teman istri nya.
"Apa tempat nya masih jauh dari sini buk?" tanya Mei sambil mengikuti langkah wali kelas nya.
"Itu, sudah kelihatan kamar nya, kalian kalo ada apa apa panggil ibu ya, kamar ibu di sebelah kamar kalian" pesan Siska kepada Ria, Mei dan Raya.
"Baik buk" jawab mereka sambil terus berjalan menuju kamar yang sudah sedikit lagi mereka injak.
Seketika senyum kagum tertoreh di wajah mereka setelah memasuki kamar mewah yang tampak aesthetic mata mereka saling menyisir seluruh ruangan itu.
"Empuk banget" ucap Mei sambil memantulkan tubuhnya di atas ranjang king size yang terletak tidak jauh dari pintu kamar.
"Ih norak llo, di kamar Raya lebih empuk kali" sahut Ria yang masih memandangi seluruh sudut kamar nya.
"Gue istirahat sebentar ya, gue capek banget, kaki gue tertekuk di mobil, ya ampun berasa keram " lirih Raya sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk nya.
"Iya deh, llo duluan aja istirahat nya, gue sama Mei mau keluar sebentar" kata Ria sedang Mei hanya mengangguk saja.
"Iya deh,," sahut Raya yang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ya udah gue kunci dari luar yah, takut llo ketiduran, nanti gue gak bisa masuk lagi" usul Mei yang di jawab dengan anggukan kepala Raya.
Ria dan Mei mulai mengunci pintu kamar nya karena Raya juga setuju dengan usulan nya lagi pula mereka tidak bermaksud pergi lama hanya berkeliling di sekitaran kamar mereka saja.
"Eh Mei kita foto foto dulu di sana yuk" ajak Ria menunjuk tempat paling ideal untuk berpose, tanpa basa-basi mereka pun segera menujunya.
...****************...
Di tempat lain Reiner baru saja keluar dari kamar nya, yang terlintas dalam pikiran nya saat ini hanya ingin memastikan keadaan tunangannya kebetulan kamar mereka juga tidak terlalu jauh, ia pun berjalan menuju resort di mana kekasihnya berada.
Namun di tengah perjalanan Reiner melihat Ria dan Mei tengah asyik memanyunkan bibirnya di hadapan kamera nya.
"Eh, kalian kenapa cuma berdua di sini, Raya mana?" ketus Reiner.
"Yaaaa ampun gue lupa, Raya gue kunciin di dalam kamar Rei" sahut Mei menepuk jidat nya.
__ADS_1
"Kalian gimana si, kalo dia mau keluar gimana, sini biar gue aja yang bukain, mana kuncinya?" usul Reiner sambil mengasongkan tangannya.
"Iyaa, llo bisa temenin Raya dulu kan Rei, gue masih mau keliling hehe" nyengir Mei menyerahkan kunci kamar nya.
"Iya!" ketus nya.
Reiner berjalan sedikit cepat menuju kamar kekasihnya ia sudah berencana mengajak kekasihnya berjalan-jalan di sekitaran kolam aesthetic yang terdapat di pulau itu sebelum kemudian berkumpul untuk makan malam bersama.
Tiba di kamar Reiner memasuki ruangan yang tak berpenghuni ia melihat ke sekeliling hanya ada koper koper yang sudah terbuka.
"Raya kemana, ini bener kamarnya kan, kenapa gak ada orang nya?" mata Reiner menyisir seluruh tempat itu sampai akhirnya ia mendengar suara kericikan air dari dalam kamar mandi.
"Oh, lagi ke toilet" pikir nya, Reiner duduk di tepi ranjang menunggu kekasihnya sambil menggerakkan kakinya ringan.
Click seseorang membuka pintu kamar mandi Reiner pun menoleh secara natural, dilihatnya gadis cantik yang hanya terlilit handuk putih di tubuh nya.
"Rei" ucap Raya membelalakkan matanya.
"Emmh, aku gak tau kalo kamu mandi yank, a'aku,,, tunggu di luar, k'kamu ganti baju dulu aja" gugup Reiner mengalihkan pandangan nya.
"I iyya" Raya masih mematung di tempatnya menatap punggung kekasihnya yang sudah berjalan menuju pintu kamar namun entah kenapa tiba-tiba saja Reiner membalikkan badannya berjalan cepat ke arah nya dengan sorot mata yang dalam.
"Rei, kamu kurang ajar sekali" batinnya masih memegangi ujung handuk yang melilitnya.
"Reiner jangan!!" lirih nya yang kini mulai merasakan sentuhan di area lehernya hembusan nafas yang menggebu-gebu menggelitik di telinganya tanpa sadar pipinya sudah di basahi bulir-bulir air mata.
Tubuh Raya membeku karena gerakan nya terkunci oleh tangan yang melingkar di bagian bawah punggung nya, tangan Raya masih mempertahankan handuk yang masih melindungi aset berharga miliknya.
"Aku tidak bisa menahannya lagi, aku minta maaf sayang" ucap Reiner dengan suara berat yang di selingi dengan deru dera nafas nya.
Reiner masih mendaratkan bibirnya ke bahu polos kekasihnya ia menghirup aroma damai yang menghantuinya beberapa hari ini.
Mendengar Isak kekasihnya Reiner menghentikan aktivitas nya perlahan ia membenamkan dahi nya ke bahu polos gadis cantik yang sudah terisak.
"Kenapa aku melakukan ini, Raya pasti ketakutan, dia pasti menganggap ku laki laki kurang ajar" batinnya memejamkan matanya.
Perlahan Reiner beranjak dari posisinya ia menatap wajah kekasihnya yang kian memerah masih dengan Isak yang tiada hentinya.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud begini, aku..." Tok Tok Tok!!! suara ketukan pintu membelalakkan mata mereka.
__ADS_1
"Raya, kamu di dalam nak?" suara Siska dari balik pintu.
"Emmh sayang, aku, " gugup Reiner.
"Kamu masuk ke dalam lemari cepetan" panik Raya sambil mendorong dada bidang kekasihnya menuju pintu lemari di sudut ruangan.
"Tapi aku,,," ucap Reiner saat sudah berada di ambang pintu lemari.
"Udah cepetan, atau kamu kena hukuman lagi" bentak Raya sedikit melotot.
"Sayang" lirih Reiner saat melihat wajah kekasihnya menghilang dari pandangan nya.
Raya berjalan sedikit cepat menuju pintu yang masih di ketuk ia menyeka air mata dengan kedua tangannya sebelum kemudian membuka pintu yang sebenarnya tidak terkunci, jika saja Siska tidak punya sopan santun mungkin sudah memergoki mereka.
Click " B'buk Siska, aku lagi mandi t'tadi" ucap nya menurunkan pandangan nya.
"Muka kamu kenapa merah begitu, kamu sakit? Mira telepon tadi, kata nya nomor kamu gak aktif" ujar Siska menatap panik.
"Setelah ini Raya nyalakan hp Raya" sahut Raya masih gugup.
"Ya sudah kita kumpul ke depan, pak Dimas sudah menunggu kita, Ria sama Mei kemana?" tanya Siska sambil memiringkan kepalanya menatap ke dalam kamar.
"Emmh mereka keluar, Raya nanti ke depan sekarang Raya ganti baju dulu" jawabnya berharap Siska cepat pergi.
"Ya sudah ibu tunggu di sini, kamu cepet ganti baju nya" sambung Siska kemudian yang membuat Raya semakin panik saja.
"Kenapa harus menunggu di luar, gimana cara nya Reiner keluar dari sini?" perlahan Raya menutup pintu kamar dan segera menguncinya.
"Sayang" suara seseorang dari belakang menyentak tubuh mungilnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1