KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 35. Sopir pribadi yang baru


__ADS_3

Reiner terus berjalan cepat namun keluh ibunya menghentikan langkahnya "Aaaakhh" ia menoleh kembali kebelakang di lihatnya Yana jatuh bersimpuh, baru saja heels cantik Yana menjatuhkan tuan nya.


Masih dengan posisi yang sama Yana menundukkan wajahnya ia terisak sejadinya, sepertinya hari ini menjadi hari yang sial baginya.


Dalam batin Reiner ingin sekali mengangkat tubuh ibunya namun ternyata Indra sudah lebih dulu menghampiri Yana "Bangun lah" lembut Indra.


Melihat hal itu Reiner membalikan badannya kembali Ia melanjutkan langkahnya berjalan cepat menuju ruang di mana kekasihnya di rawat.


Tiba di pintu ia mengepalkan tangan sesekali ia menghela nafas dan menghembusnya perlahan ia mencoba mengembalikan moodnya.


Click pintu di buka, ia berpapasan dengan petugas rumah sakit yang baru saja mengantarkan makan siang untuk Raya.


"Permisi" ucap petugas, Reiner hanya tersenyum.


Pandangan nya lalu beralih ke gadis cantik yang masih duduk di ranjang besi, sengaja Reiner menorehkan senyuman di wajahnya ia tahu sekali tunangan nya sangat kepo.


"Rei" Raya masih bisa melihat kesedihan di wajah kekasihnya meski Reiner sudah susah payah menutupi nya.


Melihat calon menantunya datang Hans segera berpamitan, sedari tadi Hans memang sudah menunggu nya.


"Rei, Om keluar sebentar, masih ada yang harus Om urus, kamu gantiin Om dulu ya" ucap nya.


"Iya Om" Reiner melebarkan senyum.


Melihat tatapan kosong Raya ia pun segera mendekati gadis cantik yang selalu bisa menjadi obat dari segala keluh kesahnya, ia mulai duduk di tepi ranjang besi menghadap tunangannya.


Seketika ia memejamkan matanya saat merasakan sentuhan lembut di pipinya jemari tangan Raya menentramkan hati nya perlahan ia membuka mata memekarkan senyum nya.


"Ada yang ingin kamu katakan Rei?" tanya Raya, berharap Reiner mau menceritakan tentang Yana.


"Aku mencintaimu" singkat Reiner.


"Maksud ku bukan itu Rei, aku tau kamu sedang memikirkan Tante Yan...."


Hap!! Raya menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membulat saat melihat Reiner mendekatkan wajahnya.


"Aku tidak akan membahasnya lagi, tolong jangan menghukum ku lagi" ucap Raya dengan tangan yang masih menutup mulutnya.


Reiner tersenyum gemas melihat tingkah lucu kekasihnya.


"Gadis cantik yang pintar, aku tidak akan menghukum mu, turunkan tangan mu" titah Reiner namun Raya menggelengkan kepalanya.


"Turun kan!" paksa Reiner sekali lagi, kali ini Raya menurutinya perlahan Raya menurunkan kedua tangannya.


Cup" mata bulat Raya mengedip sekilas saat menerima kecupan singkat di pipi merahnya sebelum kemudian ia melihat senyum manis di wajah tampan kekasihnya.

__ADS_1


Mata Raya masih membulat ia menatap gerak tubuh Reiner yang kini duduk di kursi dekat ranjang besi nya.


"Bahkan jantung ku seperti mau lepas dari tempat nya, kenapa dia terlihat biasa saja?" batin Raya.


"A aku lapar" Raya mengalihkan pembicaraan.


Mendengar keluhan kekasihnya Reiner beranjak dari duduknya ia membuka tudung saji kecil yang baru saja di antar oleh petugas rumah sakit.


Di ambilnya salad buah yang di campur sayuran hijau tanpa yogurt ataupun mayonaise hanya di siram dengan sedikit minyak zaitun saja.


Ia duduk kembali di tepi ranjang besi menghadap tunangannya yang tiba-tiba saja merubah ekspresi wajahnya.


"Aku suapi, cepat buka mulutmu" titah Reiner menawarkan suapan dengan garpu di tangannya.


"Aku bosan makan salad terus, aku mau makan Steak sapi" Raya memalingkan wajahnya.


"Tidak boleh, kamu pantangan makan itu, aku suruh mbak Tami bawakan ikan saja gimana?" mendengar jawaban Reiner Raya menatap kesal kekasihnya.


"Aku bosa...." Raya tidak bisa melanjutkan keluhannya mulutnya sudah penuh dengan salad yang di suap kan secara paksa oleh kekasihnya mau tidak mau Raya harus mengunyah nya.


"Gadis pintar" ucap Reiner menahan tawa.


.


...****************...


Mereka menunggu Hans yang masih berada di dalam ruangan dokter Hendra, entah apa yang sedang di bicarakan nya namun sudah cukup lama.


"Papi lama sekali, aku ngantuk" ucap Raya dengan nada manjanya.


"Sabar" sahut Reiner yang kini berada tepat di hadapan nya.


Suara ranjang besi yang di dorong dengan sangat cepat mengalihkan perhatian mereka dilihatnya gadis yang sangat mereka kenal berlari mengiringi nya memampang kekhawatiran di wajahnya.


"Shela" ceplos Reiner kemudian.


"Shela kenapa Rei, dia bawa siapa?" tanya Raya yang masih menatap berlalunya gadis itu.


"Aku ke sana sebentar" Reiner beranjak dari duduknya lalu berjalan cepat mengikuti Shela namun di sela langkanya ia menyadari tindakan nya bisa menyakiti kekasihnya.


Langkahnya terhenti ia mengurungkan niatnya mengikuti Shela meski sebenarnya Reiner masih ingin mengetahui apa yang terjadi dengan mantan kekasihnya.


Reiner membalikkan badannya lalu berjalan gontai menghampiri kekasihnya lagi, di sana sudah ada Hans yang juga ikut menunggu nya.


"Rei, kamu mau kemana tadi, kenapa Raya di biarkan sendiri?" tanya Hans.

__ADS_1


"Emmh iya Om, tadi ada teman Reiner di sana" jawab nya segan.


"Kenapa ceroboh sekali aku, Raya pasti berpikir aku masih menyukai Shela" batin Reiner.


"Pi kita pulang, Raya ngantuk" ucap Raya meraih jemari ayahnya.


"Iya, harus nya tadi tidur saja di mobil, kenapa menunggu di sini" gerutu Hans saat mendorong kursi roda putrinya.


Mereka berjalan menuju parkiran di sana sudah ada Andi supir pribadi baru Raya, setelah kejadian pencegatan mobil Raya Hans mencari sopir tangkas yang masih bisa di andalkan untuk menjaga putrinya.


Tatapan Raya masih ke arah sopir muda yang membuka kan pintu untuknya dengan senyuman ramah.


"Silahkan" ucap Andi tersenyum.


Raya duduk di jok belakang bersama Hans sedang Reiner duduk di jok depan.


Setelah memastikan semua majikannya masuk ke dalam mobil Andi berjalan memutar menuju pintu lainya untuk mengemudi.


"Sudah siap tuan?" sigap nya.


"Iya jalan saja" titah Hans.


"Pi siapa ini, pak Salim kemana?" tanya Raya penasaran.


"Panggil saja bang Andi dia sopir kamu yang baru, pak Salim sudah tua, biar dia jaga di rumah saja, papi tidak memecatnya kamu jangan khawatir" terang Hans yang tahu betul kedekatan putrinya dengan pak Salim.


"Kenapa, aku nyaman sama pak Salim Pi" protesnya kemudian.


Mendengar penolakan anak majikannya Andi tetap fokus menyetir dengan gelagat ramahnya karena hal seperti itu sudah sering ia temui kala pertama masa kerjanya.


Dari kaca spion Reiner melihat tatapan Raya yang tidak lepas lepas dari sopir muda di sampingnya.


"Katanya ngantuk, tidur saja dulu" sahut nya.


"Iya, tidur lah di sini" ucap Hans menepuk-nepuk dadanya.


Raya pun mulai membenamkan wajahnya ke dada hangat ayahnya, ia mulai memejamkan matanya meski sebenarnya ada yang mengganjal dalam benaknya.


Lagi lagi Raya melihat perlakuan Reiner yang masih perduli dengan mantan kekasih nya ditambah lagi ia masih belum menerima keputusan ayahnya mengganti sopir pribadinya.


Raya sudah sangat dekat dengan pak Salim yang selalu menjadi teman curhat nya, hampir semua kisah hidupnya ia ceritakan kepada pak Salim.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2