KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 33. Siuman


__ADS_3

Cardiac Intensive Care Unit sekarang Raya tengah berada di dalam sana menyandang kabel kabel kecil di sekitaran dadanya ia masih belum membuka mata sayup nya.


Terlihat di sudut ruangan dua orang ibu duduk melamun, mereka masih menunggu pasien di hadapannya membuka mata, sepertinya kali ini kondisi pasien cukup serius mungkin karena trauma yang menghantam nya lebih kuat dari sebelum sebelumnya.


Sementara di luar ruangan masih ada Bagas yang masih mengenakan kaos dalam tampak berjalan mondar mandir.


Sedang Rafa terlihat tengah duduk di bangku menyanggah dahi dengan kedua tangan yang di satukan.


Yuda dan Reiner memandangi pasien yang terbaring lemah di ruang CICU mereka berdiri di balik pintu transparan memampang kekhawatiran di wajahnya.


Hans yang baru saja mengurus administrasi ia berjalan gontai menemui ke empat pemuda yang masih setia menunggu kabar putrinya.


"Kalian pulang saja dulu, biar Om sama Tante yang jaga di sini, besok kalian masih harus sekolah" usul Hans, namun ke empat nya sama sama menggelengkan kepala, Hans menghembuskan nafas pendek.


"Rafa, nanti papi kamu nyariin" Hans tahu keluarga Rafa sangat posesif dengan putra semata wayangnya, namun Rafa masih dengan posisi yang sama Rafa tidak menyahutinya.


Melihat Rafa yang tidak merespon, Hans mengalihkan pandangan ke Bagas yang kini tengah menyandarkan punggungnya ke dinding.


"Bagas, kamu bisa masuk angin setidaknya pulang lah ganti baju dulu" ucap Hans, namun Bagas juga menggelengkan kepala menurunkan pandangan dari Hans.


Lagi lagi Hans hanya menghembuskan nafas pendek, perhatian nya lalu beralih ke kedua pemuda tampan yang berdiri berdampingan.


"Yuda, Reiner" ucap nya namun mereka juga tidak meresponnya.


Hans menggelengkan kepala ia sudah merasa gagal menyuruh mereka pulang, keempat teman putrinya betul betul masih ingin menunggu di sana.


Dreeetttt dreeetttt dreeetttt dering ponsel Hans berbunyi ia langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, ia mendapat panggilan dari Hendrawan dengan segera ia menggeser tombol hijau untuk menerima nya.


πŸ“±"Halo "


πŸ“²"Bagaimana kondisi Raya?"


πŸ“±"Masih belum siuman"


πŸ“²"Aku masih ada urusan, secepatnya aku ke sana"


πŸ“±"Iya, Reiner dan Leta juga sudah di sini, kamu tidak perlu khawatir"

__ADS_1


Begitu beberapa percakapan mereka, tak lama dari itu Hans menutup panggilannya ia lalu duduk di sebelah Rafa yang kini menyadarkan punggungnya ke sandaran bangku.


"Ya sudah kita tunggu saja sama sama" lirihnya kemudian.


...****************...


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07:07 ketiga teman Raya sudah pulang ke rumah masing-masing karena mereka masih harus berangkat ke sekolah di penghujung Minggu nya.


Sementara Reiner baru saja sampai di rumah sakit lagi, subuh tadi Reiner pulang untuk mandi dan mengganti pakaian, Ia berjalan gontai menuju ruang CICU karena tunangannya masih berada di dalam sana.


Tiba di ruangan ia melihat Hans masih tertidur di sofa, Hans memang hanya sendirian di sana, malam tadi Mira dan Leta di paksa pulang oleh Hendrawan.


Hendrawan juga tidak terlihat di sana karena masih harus menggantikan pekerjaan calon besannya yang di tinggalkan begitu saja di kantor.


Reiner duduk di kursi yang berhadapan dengan ranjang besi, di tatapnya wajah kekasih yang masih memakai alat bantu pernapasan dalam keadaan terpejam.


"Cepat sembuh, buka mata mu, kamu jangan keras kepala begitu, aku mau ajak kamu jalan jalan, kemana saja kamu mau aku akan menurutinya, bikin kan lagi makanan untuk ku, aku pasti memakannya " lirihnya menatap dalam.


"Rei, kamu sudah di sini" seru Hans yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Iya Om" sahut Reiner menoleh calon mertuanya.


"Raya, kamu sudah siuman" ucap nya tersenyum.


"Raya, sayang" sahut Hans yang segera mendekati putrinya untuk memastikan, ternyata Raya sudah membuka matanya.


Melihat hal itu Hans langsung menekan tombol pemanggil tim medis dan tak lama dari itu dokter Hendra pun masuk, kebetulan ia baru saja tiba di rumah sakit.


"Dok" sapa Hans.


Hans dan Reiner memberikan kesempatan dokter Hendra mengecek kondisi Raya, beberapa saat kemudian Raya sudah bisa tersenyum.


"Kamu ini gadis cantik yang kuat, kita buka saja" ucap Hendra sambil melepaskan alat bantu pernapasan dari wajah pasien nya.


"Gimana Raya dok?" tanya Reiner menatap Hendra.


"Sudah tidak apa-apa, tidak perlu khawatir, saya tinggal dulu sebentar" pamit Hendra setelah memastikan kondisi pasien nya sudah membaik.

__ADS_1


"Syukurlah, terima kasih" sahut Hans yang lalu membiarkan Hendra pergi dari sana.


Satu jam kemudian Hans pamit pulang, sudah seharian ia tidak mengganti pakaian nya, Hans lega melihat kondisi putrinya yang sudah sedikit membaik, lagi pula calon menantunya selalu bisa di andalkan.


"Sayang, kamu sama Reiner dulu ya, papi pulang dulu sekalian jemput mami" ucap nya membelai puncak kepala putrinya, Raya menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah Om titip Raya ya Rei" pamitnya menepuk bahu calon menantunya.


"Iya Om" sahut Reiner kemudian.


Hans berjalan gontai menuju pintu keluar perlahan sosok nya berlalu dari sana.


Reiner masih menatap kekasihnya lega "Cepat sembuh, aku kangen sindiran mu" ucap nya tersenyum tangannya tak henti henti membelai rambut lurus kekasihnya.


Raya masih menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya secuil, kali ini ada binar kebahagiaan di matanya, kekasihnya sudah benar benar menerima kondisi nya.


...****************...


Sementara di tempat tongkrongan Baron dan kawan-kawan tampak masam setelah gagal menculik Raya yang seharusnya bisa memancing kedatangan Reiner.


"Sial, untung saja kita berhasil lepas dari kejaran polisi, kalo tidak kita pasti sudah di penjara sekarang" decak Bima mengepal kan tangannya.


"Salah kamu sendiri kenapa harus menculik pacarnya, harus nya kamu hadang saja pemuda sombong itu, jangan libatkan anak gadis yang tidak bersalah" teriak Baron sang ketua geng, ia kecewa dengan kecerobohan anak buahnya yang menurutnya kekanak-kanakan.


"Tadinya aku hanya ingin bermain main saja dengan nya bos" sahut Bima menundukkan wajahnya segan.


"Dasar tidak berguna, lupakan saja membalas dendam Rangga, mereka bukan lawan kita, mereka pasti sudah meminta perlindungan dari kepolisian" sambung Baron, yang sudah sangat berpengalaman dengan dunia kepremanan.


"Tapi bos, sudah kepalang tanggung, mereka harus di beri pelajaran, sekarang mereka bukan cuma musuh Rangga saja tapi juga musuh kita, bos tega sekali membiarkan kami babak belur begini" sahut preman cungkring yang wajahnya sudah sedikit bonyok.


"Kalian ini pecundang, melawan bocah ingusan saja sampai babak belur begitu, sudah terserah kalian saja" acuh Baron.


Entah apa lagi yang akan mereka lakukan namun Baron sudah tidak mau repot dengan urusan anak buahnya, ia tidak berani menanggung resiko masuk penjara hanya karena masalah sepele.


Terimakasih yang sudah repot repot Like πŸ™πŸ˜Š


.

__ADS_1


.


__ADS_2