KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 24. Hari pembantaian


__ADS_3

Setelah selesai berbincang dengan Shela Reiner menaiki kuda besi kesayangannya, ia memutar kunci dan bergegas pergi, meskipun sebenarnya Reiner sudah punya rencana mengajak Raya pergi jalan-jalan tapi kali ini terpaksa ia gagal kan mengingat situasi dan kondisi yang tidak mendukung.


Raya yang baru saja sampai halaman parkir, melihat Reiner melajukan motor tanpa menunggunya bahkan di kelas Reiner enggan menyapa nya tentunya membuat Raya memasang wajah melas seketika.


Yuda yang melihat itu mencoba menawarkan satu kali lagi untuk menghiburnya, syukur syukur jika Raya mau.


"Ya, lo beneran gak mau ikut kerumah?" tanyanya.


"Boleh deh" tanpa pikir panjang Raya menganggukkan kepalanya karena kebetulan Raya sangat menyukai seni lukis apa lagi Yuda yang mengajaknya.


"Kita naik motor gak papa kan?" sambungnya.


"Iya deh" timpal Raya.


Setelah meminta izin ke pak Salim mereka mendatangi motor gede berwarna putih mengkilap milik Yuda, Yuda pun segera memakai helm dan melangkah naik ke motor namun Raya masih terlihat kebingungan di tempat nya.


"Ayok Ya, naik" kata Yuda.


Raya tersenyum malu "Gue gak bisa naiknya Yud" sautnya menggaruk kepala. Membuat Yuda tertawa kecil mendengar pengakuannya.


Bagaimana bisa ada gadis seumuran Raya tidak bisa menaiki motor, Yuda melepaskan helm dan turun dari motornya.


" Ya udah gue bantu naik, pegangan" ucap nya tersenyum.


Dengan perasaan yang aneh Yuda menyompong Raya naik ke motor untung saja Yuda tidak memakai jam deteksi jantung seperti Raya bisa bisa meledak itu jam karena detak jantung Yuda yang tidak beraturan.


Setelah selesai memastikan Raya aman Yuda segera naik untuk mengemudikan motornya, mengatur nafas untuk mengontrol perasaan anehnya.


"Fuuuuhhh... Siap Ya?" tanyanya memastikan.


"Iya pelan pelan ya Yud!" saut gadis dibelakang nya.


Yuda tersenyum tentu saja pelan pelan meskipun harus seharian sampai di rumahnya asal bermotor dengan Raya ia rela.


...****************...


Sementara Reiner tampak berhenti di pom untuk mengisi bahan bakar, Reiner melamun sambil menunggu abang abang mencurahkan cairan ke motor nya.


"Isi Full bang" ucap Reiner tatapan matanya mengarah ke jalan raya.

__ADS_1


"Iya, baru pulang lu tong" sapa si Abang yang di acuhkan oleh nya.


Reiner tidak sengaja melihat motor Yuda yang melaju sedikit pelan membonceng seseorang yang sangat ia kenal yang tidak lain adalah tunangannya sendiri.


"Itu bukanya, Aaaakhh sssiiiiittt..!!!! si brengsek Yuda cari gara gara!!!" teriak Reiner memukul motornya.


"Lah ngapa lu tong" saut si Abang tersentak.


Reiner bermaksud mengikuti mereka tapi si abang abang masih belum selesai juga, entah seberapa banyak yang di curahkan.


"Bang udah ngisi nya, gue buru-buru" ketus Reiner yang lalu bergegas menjalankan motornya.


"Kagak sabaran amat si lu tong" gerutu si Abang.


Reiner mengikuti arah motor Yuda tapi masih belum terpikir untuk mengambil alih Raya.


"Gue mau tahu sebenarnya mau di bawa kemana Raya sama si brengsek itu, cari mati tuh anak" hardik Reiner.


Perasaan Reiner semakin jengkel sepertinya satu hari ini akan jadi hari pembantaian bagi Reiner karena kebucinannya.


Reiner masih terus mengikuti arah motor Yuda, jika di pikir kenapa Yuda sampai tidak menyadarinya, tapi jika di pikir lagi mungkin karena terlalu fokus dengan gadis cantik yang di bonceng hingga membuat sekeliling menjadi kabur.


Yuda terus melajukan motornya dengan pelan meski sebenarnya lutut Yuda sudah sedikit keram karena tidak terbiasa mengemudikan motor se pelan itu, begitu juga dengan Reiner tapi ia masih bisa sedikit lebih sabar.


"Sialan itu kucing" decak nya.


Yang ternyata membuatnya kehilangan jejak motor Yuda karena sudah belok di perempatan jalan di depan sana, untuk sesaat Reiner kebingungan.


"Sial, kemana belok nya tadi? ke kiri apa ke kanan?" decak Reiner.


...****************...


Sementara Yuda sudah berada di halaman rumahnya, ia turun terlebih dahulu untuk membantu Raya turun dari motornya, setelah melepaskan helm Raya, Yuda menggandeng tangan teman cantik nya untuk segera masuk ke dalam rumah nya.


"Masuk, tenang aja Ya, gue gak akan macem macem" goda Yuda.


"Iya percaya" sautnya.


Raya celingukan melihat rumah Yuda yang super kontemporer hampir tidak ada satupun pernak pernik di rumahnya mungkin karena semua penghuninya laki-laki.

__ADS_1


"Galery nya di ruangan itu, gue ambil minum dulu ya" ucap Yuda sambil menunjukkan pintu yang tertutup di sudut rumahnya.


Yuda berjalan di depan Raya untuk menunjukkan jalan karena Raya belum pernah ke sana sebelumnya, jadi sudah pasti Raya keder.


Namun saat memasuki area dapur yang cukup luas tidak sengaja Yuda melihat adegan mesra ayahnya dengan calon ibu penggantinya.


Membuatnya bergeming, tangannya mengepal karena goncangan yang sedang ia rasakan.


Raya menutup mulutnya setengah tidak percaya melihat teman duda ayahnya bermesraan dengan wanita yang tidak asing baginya.


"Apa itu Tante Yana? " ceplosnya.


Sontak Indra melepaskan cumbuan mesra dari kekasihnya mereka baru menyadari ternyata ada orang lain di ruangan itu "Yuda" sapa nya.


Cepat cepat Raya menggenggam kepalan tangan Yuda untuk meredam kemarahan temannya, Raya sangat tahu sekali apa yang tengah Yuda rasakan saat itu.


Sedang Indra memperlihatkan wajah gugupnya setelah di pergoki putranya, apa lagi Yuda belum terlalu setuju dengan hubungannya bersama Yana.


Tapi jika ingin membina hubungan baru terkadang harus ada yang tersakiti lebih dulu, entah itu anak atau mantan kekasihnya.


"Yuda, kamu sama Raya?" tanyanya yang lalu menggandeng kekasihnya untuk diperkenalkan dengan Raya "Yana, ini Raya anak Hans" imbuh nya.


Yana terpaku melihat anak dari sahabat mantan suaminya sudah tumbuh besar menjadi gadis cantik, matanya berkaca-kaca saat tiba-tiba mengingat putra kandung yang sudah lama ia tinggalkan.


"Jadi kamu Raya?" tanya Yana menatap kuat.


"Iya Tante" lirih Raya yang masih menggenggam kepalan tangan pemuda tampan di sampingnya.


Raya melangkah mundur saat Yana mendekati nya Raya berpikir karena Yana lah Reiner menjadi pemuda yang penuh amarah angkuh dan tidak berperasaan.


Yana pergi ke luar negeri meninggalkan Hendrawan 12 tahun yang lalu saat Reiner masih sangat kecil, dari lahir pun Reiner memang tidak begitu merasakan kasih sayang Yana, karena Yana masih sibuk dengan kuliah nya, Yana menikah setelah lulus SMA belum sempat kuliah dia sudah di jodohkan dengan Hendrawan hingga akhirnya timbullah konflik remaja diantara Hendrawan dengan Yana.


Meski usia Hendrawan 5 tahun lebih tua dari Yana tetap tidak bisa menjadikannya dewasa dia tetap angkuh dan arogan seperti sekarang ini.


Tentunya Hendrawan tahu yang di nikahi itu mantan kekasih dari temannya tapi lagi-lagi karena kebucinannya membuat Hendrawan tidak memperdulikan Indra.


Indra yang frustasi di tinggal nikah oleh kekasihnya tiba-tiba terjebak cinta satu malam dengan wanita cantik yang sangat mencintainya mereka menikah saat ibu Yuda sudah positif hamil dan lahirlah Yuda, maka tidak heran jika usia Yuda dengan Reiner sepantaran.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2