
Di dapur yang rapih dengan desain kontemporer Indra menyiapkan sarapan untuk anak semata wayangnya mereka memang tinggal berdua saja di rumah yang cukup luas.
Ada asisten rumah tangga tapi hanya datang untuk membersihkan rumah, mencuci pakaian dan menyetrika saja, untuk makanan mereka biasanya memesan on line atau memasak sendiri sebisa mereka, kadang ayahnya kadang juga anaknya tergantung mood mereka.
Sudah 7 tahun lamanya Indra menduda, alasannya bukan karena tidak laku, sebenarnya Indra masih terlihat sangat tampan tipe tipe om om gagah layaknya sugar Daddy lah, ia memilih sendiri karena masih terbayang dengan masa lalu nya.
No!!! bukan ibu Yuda tapi wanita lain, wanita yang pernah mengisi hati nya saat masih kuliah, sudah satu tahun mereka berhubungan lagi, hanya saja Indra masih belum berani membicarakan hal itu dengan Yuda putranya, tapi hari ini Indra berniat memberi tahu tentang wanita yang dia cintai.
"Pagi pah, wah, enak ni kayaknya." ucap Yuda saat melihat nasi goreng dengan telor mata sapi di atas meja makan bundar miliknya.
"Pagi.." sahut Indra.
Yuda duduk dan mengambil cutlery dengan kedua tangannya "Coba bisa makan sama Raya." batin Yuda dengan senyuman nakal nya.
Indra juga mulai duduk di kursi lainnya "Kenapa kamu senyum senyum sendiri begitu?" tegur Indra.
"Gak apa-apa, " Yuda mulai menyendokan nasinya melakukan ritual sarapan pagi bersama ayah tercinta.
"Hari ini kamu tidak perlu masuk dulu, papah ingin membawamu menemui seseorang." ucap Indra yang sebenarnya ragu.
"Uhuk-Uhuk,!!" Yuda tersedak mendengar ucapan Indra, dia sudah bisa menebak pasti ayahnya akan mengenalkan wanita untuk menjadi ibu pengganti, Indra mengambilkan air dan memberikannya pada Yuda.
"Pelan pelan makan nya." tutur Indra menatap wajah putranya.
Yuda menenggak air putih dari tangan ayahnya dan mengelap bibir dengan tissue.
"Yuda sudah rapih kenapa papah baru bilang? Yuda tidak bisa, hari ini Yuda ulangan." tolak Yuda.
"Apa kamu pernah menyukai perempuan?" tanya Indra mencoba memanipulasi putranya.
Yuda menautkan alisnya "Apa maksud papah sebenarnya?" Yuda mulai malas melanjutkan pembicaraan itu.
"Apa papah tidak boleh hidup bersama wanita yang papah suka, apa selamanya papah harus sendiri? kurang dari setahun lagi kamu kuliah keluar negeri, papah pasti akan lebih kesepian lagi." tanya Indra sekali lagi ia tahu betul yang ada di pikiran putranya.
__ADS_1
Yuda terdiam sejenak mendengar pertanyaan ayahnya, dia tidak ingin seseorang menggantikan posisi ibunya tapi dia juga bisa merasakan kesepian Indra selama ini
"Terserah papah saja." ngalah Yuda.
Mereka melanjutkan sarapan pagi nya dan tidak ada yang membuka obrolan setelah itu, Yuda sudah benar benar tidak mood berbicara dengan ayahnya.
Sementara di tempat lain Reiner menuruni anak tangga dengan langkah kaki yang lemah, rasanya mengantuk sekali tapi ia ingin segera menemui Raya di sekolah, mata sembab menjadi bukti kegelisahannya semalam.
"Makan dulu Rei sebelum berangkat." ucap Leta yang melihat wajah lusuh putranya.
"Gak usah." ketus Reiner.
"Kamu yakin mau bawa motor dengan keadaan seperti itu Rei?" tanya Leta namun Reiner tidak mendengarkannya lagi dia tetap berjalan keluar dari sana.
"Sudah biarkan saja, dia bisa makan di sekolah." sahut Hendrawan dengan nada dinginnya.
Saat sampai di teras Reiner melihat Rafa tengah memanaskan motor, dia segera berlari mendatanginya dan duduk di jok belakang, menurut nya terlalu bahaya jika harus menyetir sendiri dalam keadaan mengantuk.
"Rei, Lo ngapain, mata Lo kenapa kaya zombie begitu?" Rafa memalingkan muka ke arah Reiner dengan raut wajah yang sedikit bingung
"Gue udah janji mau berangkat bareng sama Dede Dede gemes depan gank itu, turun gak Lo sekarang!" tolak Rafa sambil mengelus kepalanya.
Namun bukannya turun Reiner malah memeluk Rafa dan memejamkan matanya dia sudah sangat mengantuk karena tidak tidur semalaman.
"Bodoh amat, cepetan." lirih Reiner seenaknya.
Terpaksa Rafa menjalankan motor besar kesayangannya meski sudah mulai merasa risih dengan tingkah Reiner hari ini tapi mau bagaimana lagi dia teman satu satunya
"Apes apes bukannya di peluk Dede gemes malah bocah zombie ini, sialan lu Rei." gerutu Rafa melepaskan tangan Reiner dari perut di sela perjalanan nya.
Sementara itu Shela masih menunggu kekasih yang biasa menjemput nya ia sudah mulai gelisah, tidak biasanya Reiner terlambat.
"Sudah siang kenapa Rei belum juga datang?" gumam Shela berjalan mondar mandir.
__ADS_1
Karena tidak ingin terlambat Shela memesan taksi online tentu saja Reiner yang mengisi saldo pay nya karena Shela bukan anak orang kaya seperti Raya.
Barang mewah miliknya pun hampir semuanya dari Reiner, selama ini Reiner menyukai Shela dengan apa adanya ia mengagumi kepribadian Shela yang mandiri juga cekatan sangat berbanding terbalik dengan Raya.
****************
Sesampainya di kelas Reiner melihat bangku Raya masih kosong, ia berjalan menuju bangkunya menundukkan kepala di meja.
"Gue bisa tidur dulu sebelum Raya masuk."
Bel masuk berbunyi pak Rahmat mulai memasuki kelas untuk mengisi jam pertama tapi Reiner masih belum bangun dari tidurnya hal itu membuat pak Rahmat berteriak
"Reiner!!"
"Iya pak!" Reiner mengangkat kepala dengan tiba-tiba, ia tersentak dengan suara keras guru matematika nya.
"Kamu kesini mau sekolah apa mau tidur?" tanya pak Rahmat.
Reiner hanya diam saja tapi memperlihatkan penyesalan nya dia mengalihkan pandangan ke bangku milik Raya juga Yuda yang sama sama masih kosong.
"Yuda sama Raya kemana?"
Perasaan Reiner semakin tidak karuan, ingin sekali keluar dari kelas tapi pak Rahmat bisa menyuruhnya keliling lapangan, Reiner hanya bisa menatap bangku kosong milik Raya, dia merasa kesepian meski di tengah keramaian.
Sementara itu, Yuda sudah berada di dalam restoran fine dining bersama ayahnya, sesekali dia melihat jam tangan karena sudah merasa bosan.
"Pah, kenapa lama sekali, Yuda mau ke sekolah." protes Yuda memasang wajah dingin.
"Kamu pasti sudah telat, papah sudah menelepon wali kelas kamu, dia sudah tahu kamu izin hari ini." tegas Indra.
Tak lama kemudian, terdengar dentukan heels dari wanita cantik usia 37 tahun menghampiri mereka, Indra menyambutnya dengan senyuman dan memperkenalkan kekasihnya pada putranya, mereka bertiga mengobrol santai.
"Tante tau Yuda kecewa, dulu Tante dan ayahmu sempat menjalin hubungan, tapi tidak berlanjut karena Tante di nikahkan dengan orang lain, Tante masih sangat mencintai ayahmu." begitu bunyi dari salah satu pembicaraan mereka.
__ADS_1
Yuda hanya bisa menerima meski sebenarnya tidak menyetujui, dia juga sudah sering memergoki Indra menelepon seseorang tapi sengaja tidak ingin membahasnya.
BERSAMBUNG