KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 12. Curhatan Raya


__ADS_3

Jam pelajaran terakhir selesai, tapi hujan tak kunjung henti, Raya masih meringkuk di meja nya gadis lemah itu mulai kedinginan, payung yang ia pakai sudah di bawa pemiliknya, jadi mau tidak mau Raya menunggu sampai hujan reda "Kenapa hujan nya lama sekali." lirihnya.


Kemudian Ria dan Mei mendekat, kedua gadis itu berpamitan, mereka sudah jenuh menunggu hujan yang tak juga reda sementara hari sudah semakin sore bukannya tega tapi mereka tahu Raya masih memiliki tunangan yang meskipun acuh tapi masih bisa diandalkan.


" Ya, kita mau hujan-hujanan udah sore, Lo tetep di sini sama Reiner atau sama Yuda ya, gak papa kan?" pamit Ria.


"Iya gak papa kok, pulang aja dulu," Raya tersenyum.


Beberapa saat kemudian, pak Salim masuk ke dalam kelas menjemput anak majikannya yang sudah seperti anak sendiri, dia membawa dua jas hujan satu untuk Reiner satu lagi untuk Raya.


"Mas Reiner sini!" sapa pak Salim yang berdiri di ambang pintu. Dengan segera Reiner menghampirinya.


"Ini jas hujan mas, kita pulang yuk, nanti non Raya kedinginan." ajak pak Salim.


Reiner mengangguk dan langsung mengambil tas di bangkunya lalu mendekati Raya yang masih menundukkan kepala, pemuda itu memang sudah tidak tega melihat Raya meringkuk di bangkunya. Reiner pun menyentuh bahu gadis itu lembut.


"Ya, pakai ini." ucapnya.


Raya mendongakkan wajahnya ke arah Reiner yang sedang menunduk "Emmh, dari mana kamu dapat ini?"


Raya celingukan hingga melihat pak Salim berdiri di ambang pintu kelasnya.


"Pak Salim," ucapnya.


Reiner tersenyum tanda ia mengajak Raya segera bergegas, gadis itu pun mulai membereskan buku-buku sambil menunggu Reiner membukakan jas hujan dari bag nya.


"Sini gue pakein." tawar Reiner. Dan Raya manggut-manggut setuju.


Reiner memakaikan Raya jas hujan berwarna pink transparan, pemuda itu tersenyum saat menaikan penutup kepala, ternyata Raya terlihat begitu imut dimatanya.


"Ya Tuhan kapan gadis ini terlihat jelek, bener bener gak adil." batinnya.


Dan Entah dari kapan Shela sudah berdiri di ambang pintu belakang kelas mereka, gadis itu menyaksikan perlakuan istimewa Reiner pada Raya.


"Lo keterlaluan Rei." gumamnya.


Tentu saja Yuda juga menyaksikan pemandangan itu dengan sejuta kesabaran, dia masih sangat yakin Raya bisa ia dapatkan suatu saat nanti.

__ADS_1


"Perasaanku ini tepat hanya waktunya saja yang salah" begitu pikir nya.


Setelah melihat Shela berdiri di ambang pintu belakang, Reiner pun segera berjalan ke arah kekasihnya, pemuda itu memberikan jas hujan yang seharusnya dia pakai.


"Lo pulang sendiri ya, gue nganter Raya, jangan lupa pakai ini." ucapnya.


Senyum yang baru saja menghiasi wajah cantik Raya kini memudar ketika Shela datang.


"Aku hampir melupakan adegan mesra mereka tadi pagi hanya karena Reiner memakaikan jas hujan ini, aku benar benar payah, aku tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa Reiner bukan untuk ku, aku masih saja terus berharap hal yang tidak mungkin."


Raya mengalihkan pandangan dari sepasang kekasih itu, dia bergegas menuju pak Salim yang masih setia menunggunya.


" Ayok pak, kita pulang berdua saja." lirihnya.


Pak Salim mengangguk pria tua itu memapah Raya dengan hati hati, pak Salim memang sudah sangat mengerti hubungan rumit anak majikannya, pria itu selalu menjadi teman curhat Raya saat berada di dalam mobil.


"Yang sabar ya non," ucapnya.


Reiner yang melihat Raya pergi tanpa menunggunya dengan segera pemuda itu mengejar tunangannya, tapi sayang Yuda mulai geram.


" Sudah cukup llo tarik ulur perasaan Raya Rei," Yuda menarik lengan Reiner.


"llo pikir llo bisa menaklukkan nya, hati Raya tak selemah fisiknya" tutur Yuda yang lalu pergi.


Shella mulai mendekat kembali "Rei, sebenarnya llo suka kan sama Raya?" tanyanya menyelidik.


"Gue cuma kasihan aja sama dia, puas llo!" Ketus Reiner kemudian, kini langkahnya berjalan ke arah halaman parkir, karena hujan sudah mulai reda.


Mereka tetap pulang bersama entah kenapa Reiner masih belum bisa memutuskan salah satu dari mereka, mungkin karena Reiner masih sangat muda, masih labil.


...----------------...


Malam harinya di kamar yang serba PINK Raya duduk di tengah tempat tidur, bersembunyi di balik selimut tebal miliknya, tak lama dari itu Hans menghampiri, kebetulan pria itu tidak sibuk.


"Putri cantik papi ngelamun ya," tanyanya mengagetkan membuat Raya tersentak karena gadis itu tengah mengosongkan pikirannya.


"Papi....! tumben papi punya waktu buat Raya, biasanya papi sibuk, gak peduli sama Raya," sindirnya.

__ADS_1


"Ya deh papi hari ini mau dengerin curhatan Raya, gimana kamu sama Reiner?" Hans masuk ke dalam selimut tebal dan menempatkan tubuh kecil putrinya ke dalam pelukan.


"Raya mau putus aja pi boleh kan?" Raya mendongakkan wajahnya selagi dalam dekapan sang ayah.


Penuturan itu membuat Hans menatap wajah putrinya dengan kening yang mengerut, pria itu terdiam sejenak.


"Papi gak salah dengar sayang, kamu mau putus, apa masalah nya, bukannya kalian baik baik saja selama ini kan?" cecar nya menyelidik.


Kemudian Raya menyilang kan kakinya lalu menautkan rambut ke telinga nya.


"Pi, Raya sudah dewasa sekarang, Raya tau yang terbaik buat Raya, papi tau Reiner juga butuh kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, kita gak boleh egois pi, Reiner memang menurut selama ini tapi Raya tau dia tertekan dengan hubungan ini, Raya juga masih kecil, jalan Raya masih panjang, Raya masih bisa memilih seseorang yang bisa menerima Raya dengan apa adanya setulus tulusnya, Raya juga masih harus kuliah, kenapa harus membelenggu Reiner dengan cincin ini. Raya gak mau jadi orang yang egois pi tolong mengertilah." terangnya.


"Kamu serius nak..? kenapa tiba-tiba..?." tanya Hans yang masih bingung dengan ucapan putrinya.


"Raya serius balikin aja cincin ini ke Om Hendrawan, yah pi.. please.. dia pasti mengerti kok, posisi kami anak-anak nya..." jawab gadis itu meyakinkan.


Hans membelai rambut putrinya "Maafkan papi sayang, kalau ternyata perjodohan ini membuat mu tidak nyaman.. papi coba bicara dengan Hendrawan ya, tapi kamu harus janji, jaga diri kamu baik-baik."


Hans tahu betul, putrinya tidak akan sembarang berbicara, pasti ada alasan dari semua perkataan nya. Hans percaya putrinya tidak akan pernah berniat menyakiti siapapun.


Cukup lama pria itu menepuk nepuk lengan putrinya, hingga kini gadis itu tertidur dalam dekapannya, kemudian Hans membetulkan posisi putrinya, lalu berjalan keluar menuju kamar menemui sang istri.


"Mi, papi mau bicara sebentar..." ucapnya duduk di tepi ranjang.


Mira pun ikut duduk berdampingan dengan nya, wanita itu menyambut hangat suaminya.


"Iya bicara saja." ucapnya.


"Raya memintaku, mengembalikan cincin Reiner, dia ingin memutuskan pertunangan mereka." ucap Hans.


Mira menautkan alisnya "Pi ngapain papi ladeni si, Raya masih kecil, dia pasti lagi marah sama Reiner terus..." ucap Mira yang belum selesai.


"Raya bukan anak yang menyerah hanya karena hal kecil, Raya anakku tidak akan gegabah, dia pasti punya alasan sendiri, aku yakin itu." Sahut Hans yang memotong pembicaraan Mira.


"Aku malah curiga ini gara-gara kedekatan nya dengan Yuda Pi," tukas Mira.


"Anakku bukan orang yang seperti itu, dia tidak bisa menjelekkan orang lain atau sengaja menuduh, jika dia sudah berani mengutarakan niatnya sudah pasti ada apa-apa dengan Reiner, aku percaya putriku." tegas Hans.

__ADS_1


Mira sangat mendukung hubungan Raya dengan Reiner, dia yakin Reiner pemuda yang baik, tapi tidak akan ada gunanya melawan keinginan suaminya, dia harus mengikuti nya apapun itu.


__ADS_2