KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 32. Baku hantam


__ADS_3

HAI PEMBACA, SAYA MEMANG JARANG KELILING UNTUK PROMO NOVEL INI, JADI LIKE NYA MASIH SEDIKIT RASANYA KURANG ENAK JIKA MENGGANGGU LAPAK AUTHOR LAIN, UNTUK KALIAN PARA PEMBACA SILAHKAN LIKE DULU SEBELUM BACA YA TERIMAKASIH ๐Ÿ™โ˜บ๏ธ


Tidak ada 10 menit mata tajam Reiner sudah bisa melihat mobil kekasihnya ternyata Raya sudah di seret oleh salah satu dari preman itu, pak Salim berusaha mencegahnya namun di halangi preman lainnya.


"Kalian siapa, jangan sakiti aku" ucap Raya dengan suara seraknya.


"Kamu ikut kita saja manis" jawab nya tertawa.


Bagas yang sudah lebih dulu sampai ia lompat dari motor berjalan cepat menghampiri preman yang sedang menyeret Raya ia mengambil batang kayu yang tergeletak di sekitar sana.


"Brengsek!!!" Bagas melemparkannya ke punggung preman itu ia masih terus berjalan cepat ke arah mereka dengan ekspresi wajah menakutkan.


"Aaakkk" seru preman itu saat tertimpa batang kayu dari Bagas.


Akhirnya Raya berhasil melepaskan tangan preman itu namun preman itu segera menoleh kembali ke arah nya.


Dug" Bagas mengayunkan kaki kiri nya kepada pria itu seraya mengepung kan kedua tangannya ke tubuh ramping Raya.


Ternyata satu kali tendangan kidal dari Bagas sudah bisa melumpuhkan lawannya.


Dengan gemetar Raya menyungkurkan wajahnya ke dada bidang sahabatnya "Bagas" lirihnya.


Melihat Raya sudah aman bersama Bagas, ketiga pemuda tampan yang lain berjalan menghampiri preman lainnya.


Dengan setengah terbang Reiner mengayunkan kakinya ke dada kekar salah satu preman lainnya DUG!!


"B*jing*n!!!" teriaknya sejadinya


Membuat sang preman jatuh terjengkang "Bangs*t!!!" teriak sang preman yang lalu berdiri kembali berduel dengan Reiner.


Sementara Rafa sudah berhasil menolong pak Salim yang sudah di ikat ia segera berduel dengan preman lainnya.


"Melawan bapak tua saja kalian ikat dasar pecundang!!" teriak Rafa mendaratkan kakinya pada preman di hadapannya namun tidak sampai jatuh mereka melanjutkan aksinya saling mendaratkan pukulan.


Sedang Yuda sudah membekuk lawannya lalu memukulkan siku ke punggung preman di hadapannya "Aaaaakk" seru sang preman.


"Berani beraninya llo ganggu Raya, bajing*n" teriaknya sejadinya.


Pak Salim juga mulai melawan semampu nya meskipun tidak sebugar ke empat pemuda tampan itu tapi pak Salim juga pernah belajar bela diri saat masih muda.


"Jangan keroyokan satu lawan satu kalo berani" sombong pak Salim ia memukul kan tangan yang sudah sedikit keriput ke wajah preman yang sedikit cungkring.


"Sialan, tua tua sakit juga pukulan nya" sahut preman cungkring itu.


Sementara Bagas terlihat sedang menuntun Raya ia mencoba memberikan pertolongan pertama, Bagas menyuruh Raya duduk di bahu jalan karena tidak mungkin melakukan nya di tempat tertutup seperti mobil.

__ADS_1


"Jangan panik, kita di sini, Jangan takut, liat gue Raya, tenangin diri llo Raya, jangan takut" ucap Bagas mencoba membuat Raya lebih relaks ia juga mengendurkan semua pakaian ketat Raya.


"Buka kancing baju nya, gue tutup pake ini" Bagas membuka kancing baju Raya lalu melepaskan baju seragamnya sendiri untuk menutupi bagian depan tubuh Raya.


Raya hanya menjawab nya dengan mengedipkan kedua matanya, Raya tahu sekali Bagas tidak bermaksud kurang ajar karena dokter Hendra juga melakukan hal yang sama.


"Gue ambil obat sama air minum di mobil, llo tunggu di sini ya" dengan hanya memakai kaos dalam Bagas segera berlari menuju mobil yang sudah jebol setelah di hantam para preman itu,


Bagas mencari tas Raya mengambil obat di dalam sana tak lama dari itu ia sudah bisa menemukan nya, Bagas sudah sangat paham betul dengan kebiasaan teman kesayangannya.


Ia segera berlari lagi menghampiri Raya yang sudah sangat pucat.


"Ayok minum Raya" Bagas menyuapkan pil pereda nyeri dada juga menyuapkan minuman pada teman kesayangannya.


Namun Raya masih terlihat lemah, tangan Bagas terus menggenggam tangan Raya mencoba membuatnya merasa nyaman, ia tahu kecemasan Raya yang membuat nya lemah.


Tak sengaja Reiner melihat perlakuan istimewa Bagas kepada kekasihnya untuk sesaat ia mematung di tempatnya, melihat hal itu sang preman memanfaatkan kesempatan itu untuk memukulkan batang kayu ke kepala Reiner.


"Hyaaaaaaaaaaa" teriak sang preman.


"Dug" Yuda mengayunkan kakinya ke batang kayu yang sudah sedikit lagi menghantam kepala Reiner.


Sontak Reiner menoleh ia menyadari baru saja Yuda menyelamatkan kepalanya ia juga melihat Yuda mengambil alih preman yang sedari tadi berduel dengan nya.


"Sayang, kamu gak papa?" tanya Reiner posesif.


Wiuwiuwiuwiu" suara sirine polisi membubarkan para preman itu, mereka segera menaiki motor nya masing-masing berlalu dari sana, melihat hal itu polisi segera mengejar nya.


Sedang Yuda, Rafa dan pak Salim segera menghampiri Raya yang masih berada di bahu jalan.


"Kita bawa kerumah sakit aja sekarang" usul Bagas saat melihat kondisi Raya belum membaik padahal sudah meminum pereda nyeri dari dokter Hendra.


Setelah berteman dengan Raya, Bagas memang bercita-cita menjadi seorang dokter tidak heran jika ia tahu cara memberikan pertolongan pertama untuk Raya.


"Buka mobilnya" Reiner meruah panik.


Mereka segera membawa Raya ke rumah sakit, dalam perjalanan nya Reiner terus menerus menatap wajah kekasihnya yang sudah memejamkan mata, sesekali ia membetulkan baju seragam Bagas yang turun dari tubuh kekasihnya.


"Tolong jangan sakit lagi" harap Reiner mulai berkaca-kaca.


Tiba di rumah sakit dokter Hendra sudah menyambutnya karena sebelumnya Reiner sudah memberi tahu kedatangan nya.


Reiner membaringkan tubuh kekasihnya di atas ranjang besi yang sudah siap membawanya, lalu bergegas mendorongnya menuju ruang Intensive care unit (ICU).


Tiba di ruang itu Reiner di halangi oleh petugas medis di sana.

__ADS_1


"Silahkan tunggu di luar saja" ucap petugasnya.


"Saya calon suaminya, saya mau menemani nya" sahut Reiner masih ingin menerobos masuk ke dalam.


Mendengar ucapan Reiner petugas kesehatan pun merasa heran, bagaimana bisa anak SMA sudah menyebutnya sebagai calon suami.


"Tolong kerja sama nya" petugas tersebut menutup pintu dengan segera.


"Raya" lirih Reiner.


Reiner menyandarkan punggungnya ke dinding ia mencoba mengingat ingat kembali seseorang yang berpotensi untuk menyakiti kekasihnya.


"Sebenarnya siapa orang orang itu, beraninya membuat Raya seperti ini" gumamnya mengepalkan tangan.


Rafa Yuda dan Bagas tiba di sana mereka melihat Reiner berjalan mondar mandir di depan pintu yang bertuliskan ICU.


"Gimana Raya Rei?" tanya Yuda cemas.


"Gue juga belum tahu" lirihnya frustasi.


Ke empat pemuda tampan itu menunggu kabar dari dokter Hendra yang masih berada di dalam ruangan Intensive care unit bersama Raya.


Dokter Hendra sudah memasang kabel-kabel kecil yang menghubungkan jantung dengan alat pacu jantung.


Terlihat memonitor irama jantung sudah membuat dokter Hendra sedikit panik ia memberikan kejutan listrik dengan defibrilator.


"Satu kali lagi" ucap nya.


Bulir keringat di dahinya menjadi bukti kekhawatiran nya namun tak lama kemudian jantung Raya mulai berdetak normal kembali seketika dokter Hendra pun memejamkan matanya lega.


"Syukurlah, kita pindah kan ke kamar biasa" titah dokter Hendra kepada petugas medis lainnya.


Sementara di luar ruangan Reiner masih berjalan mondar mandir memperlihatkan kecemasan langkahnya terhenti saat seseorang membuka pintu ruangan Intensive care unit itu, ia segera berlari menghampiri dokter Hendra yang baru saja keluar dari sana.


"Gimana Raya dok" cemas nya.


"Untung lah masih baik baik saja setelah ini Raya kita pindahkan, kamu segera hubungi Hans" ucap Hendra menepuk-nepuk lengan Reiner.


.


.


.


. BERSAMBUNG DULU YA!!! NANTIKAN EPISODE BERIKUT NYA ๐Ÿ™โ˜บ๏ธ

__ADS_1


__ADS_2