KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 49. Tikus tampan


__ADS_3

Sudah 30 menit Reiner menatap wajah mantan kekasihnya, seolah tidak bosan Reiner bahkan mencari posisi yang wuenak untuk melakukan nya. Sambil berbaring di sofa tangannya menyanggah kepala.


"Mau sampai kapan, menatap ku seperti itu? aku risih" ujar Raya melirik sekilas.


"Seharian penuh! aku mau balas dendam, sudah terlalu lama aku tidak melihat mu sedekat ini" sahut nya.


Merasa tidak mendapat jawaban lagi Reiner melangkahkan kakinya mendekati wanita yang masih berkutat dengan pekerjaannya.


"Sebenarnya kamu mengerjakan tugas apa? kenapa sibuk sekali!" protesnya yang kini berada tepat di samping Raya.


"Aku kesini memang mau kerja!" singkat Raya tanpa menoleh.


Click pintu ruangan terbuka Hendrawan berdiri di balik pintu namun kelihatannya masih belum menyadari keberadaan putranya.


Reiner yang menyadari itu dengan segera bersembunyi di bawah meja kerja Raya. Sontak Raya membulatkan matanya ia menutup rok span miliknya.


"Kamu ngapain di sini?" ketus nya melotot.


"Sssuuuuutttt,, aku belum menemui papah semenjak di sini, rencananya nanti malam aku baru menemuinya, papah pasti marah pada ku, jangan biarkan dia melihat ku" bisik Reiner.


"Raya!" seru Hendrawan.


"Emmh iya Om" sahut nya berdiri tiba-tiba.


"Ini Tante Leta mu menitipkan makanan untuk mu, makan lah selagi hangat" ucap Hendrawan menyodorkan kotak.


"Waaahhh enak nih, hemmm aroma nya, makasih Om" ucap nya.


Di bawah sana Reiner menatap risih paha mulus Raya.


"Anak manja ini kenapa rok nya mini sekali, setiap hari bertemu Bagas apa sengaja menggoda nya?"


Reiner menurunkan rok span milik Raya, pemandangan itu mulai mengganggu otak nya DUG sontak Raya menendang kaki nya.


"aaaawww sial" bisik nya.


Suara berisik dari bawah mengalihkan perhatian Hendrawan "Apa itu Ya?" tanya nya.


"Emmh tikus Om, iya, tikus, di sini lagi ada tikus" sahut Raya gugup.


"Enak saja kamu bilang aku tikus, mana ada tikus setampan ini" batin Reiner kesal.


"Masa iya di tempat bersih seperti ini ada tikus, mau Om panggil kan orang buat menangkap nya?" tawar Hendrawan pandangan nya ke arah putranya yang masih bersembunyi di bawah sana.


"Gak perlu Om, tadi udah aku tendang tikus nya" ucap Raya nyengir.


DUG satu kali tendangan lagi mendarat sempurna di kaki kiri Reiner.

__ADS_1


"aaaawww anak manja ini bener-bener cari gara gara, tunggu saja pembalasan ku" bisik Reiner mengelus kakinya.


"Ya sudah Om keluar lagi, masih ada urusan penting, kamu gak boleh kecapean, inget kondisi fisik mu" pesan Hendrawan.


"Iya Om, makasih ya makanannya, sampai kan juga terimakasih Raya sama Tante Leta" sahut Raya.


"Iya, kamu lanjut lagi kerjanya inget jangan capek capek" imbuh nya.


Hendrawan keluar dari ruangan Raya tanpa curiga sedikitpun, lagi pula Hendrawan sudah tidak yakin putranya akan kembali padanya.


Click pintu tertutup Reiner segera keluar dari bawah sana.


"Awww, kenapa hari ini aku sial sekali" ucap nya setelah terpentok atap meja, Raya hanya bisa menahan tawa saja.


"Kamu kenapa tertawa, bukan nya kasihan" gerutu Reiner mengelus kepalanya.


"Apa harus Kasihan dengan orang seperti mu? yang benar saja, kamu sudah kaya" ujar Raya kembali duduk.


Reiner sudah mulai kehabisan kesabaran "Sini kamu!!" ucap nya menarik tubuh Raya.


Di sandarkan nya punggung Raya ke dinding Brugh "Re Rei..." gugup Raya.


"Hekkmm.. ketakutan kamu sekarang!"


"Ja jangan macam-macam kamu! ini kantor ku, aku bisa membuatmu di seret dari sini" ancam Raya.


"Oooom Hend....." teriak Raya namun sudah teredam oleh tangan mantan kekasihnya.


"Emmmmm...." seru Raya membulatkan matanya.


"Aku harus menghukum mu! beraninya gadis lemah seperti mu menantang ku, apa kamu sengaja membuat ku geram? kamu tahu hukuman nya akan enak?" Reiner tersenyum licik.


"Emmmmm,,, " Raya masih terus melawan sekuat tenaga.


"Kamu selalu saja memaksakan kehendak mu seperti ini, aku benci kamu!" batinnya.


Raya menutup mata nya seiring dengan mendekatnya wajah mantan kekasihnya yang langsung mengarah ke telinga nya.


Click seseorang baru saja tiba spontan Reiner menoleh ke arah pintu, Raya mengambil kesempatan untuk menginjak kaki nya.


"Aaaawww" teriak Reiner mengibaskan kakinya tampak kesakitan.


"Brother," seru Gabriel namun wajahnya tampak menyesal sudah memasuki ruangan tanpa permisi, ternyata baru saja ia menggagalkan usaha bos nya.


"Aduuuh setelah ini, kena hukuman aku pasti" batinnya menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


Tuuuuttt "Pak tolong keruangan saya, ada tikus yang harus bapak tangkap di sini cepat" Raya berbicara dengan seseorang di seberang telepon.

__ADS_1


"Kamu mau mengusir ku?" tanya Reiner melotot.


"A aku pergi saja kalau begitu" pamit Gabriel yang sedari tadi membeku di tempatnya.


"Bawa bos mu pergi juga" teriak Raya.


Teriakan Raya membekukan langkah Gabriel " aduuh kenapa aku harus berada di tengah-tengah mereka, sial" gumam nya memejamkan matanya kuat kuat.


"Kamu ngapain masih di sini? keluar!!" perintah Raya menunjuk pintu matanya melototi pria tampan di hadapannya.


"Awas saja kamu!" Reiner mengalah pergi dia berjalan gontai meninggalkan tempat itu dengan mulut yang masih menggerutu.


"Huuuhhh,, hampir saja jantung ku meledak" Raya menghembuskan nafas nya lega.


"Kenapa dia biasa saja? sepertinya dia memang sudah biasa begitu dengan banyak perempuan, dasar cabul" gerutu Raya seraya duduk di kursi putar nya.


...****************...


Tiba di luar ruangan kedua pria tampan itu mendapat perhatian dari para karyawan wanita di sana, kharisma dari kedua laki-laki itu menyihir seluruh mata dan mulut mereka, namun keduanya masih sibuk menggerutu saja.


"Kamu tidak sopan, kenapa kamu tidak tunggu saja di luar hah?" ucap Reiner geram.


"Aku sudah lama menunggu, aku kira kaka ipar menyandera mu, makanya aku susul, aku tidak mengira ternyata malah brother yang menyandera nya di kantor nya sendiri" gerutu Gabriel matanya mengedip ngedip dengan seluruh wanita yang menatap mereka.


"Jangan murahan kamu!!" pekik Reiner memukul kepala ajudannya.


"Aaawww" hal itu membuat seluruh wanita di dalam sana menahan tawa.


"Bisa tidak, jangan memukul ku di hadapan para wanita cantik, pasaran ku turun" protes Gabriel, langkah mereka sudah memasuki lift.


"Setelah ini kita kemana?" tanya ajudan nya.


"Kita kerumah papah, aku mau pulang ke sana, setelah mengantar ku kamu langsung pulang ke apartemen, jangan kelayapan" jawab bos nya.


"Iya" sahut sang ajudan.


.


.


**Jangan lupa like hehe,, Terimakasih yang sudah vote.. jika masih ingin melihat kisah mereka sampai kan keinginan kalian jangan ragu.. hehe..


SILAHKAN JIKA INGIN MENGKRITIK SAYA AKAN JADIKAN ITU PELAJARAN KARENA INI KARYA PERTAMA KU, TERIMAKASIH YA. πŸ™**


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2