
Empat hari sudah putra semata wayang Hendrawan tidak pulang ke rumah, ia merasa sangat cemas sampai akhirnya ia mendapat informasi dari orang-orang suruhannya tentang keberadaan putra tampan nya.
Tanpa pikir panjang Hendrawan menuju tempat dimana putranya tinggal saat ini, dengan wajah dingin ia menghentakkan pintu mobil berjalan cepat menuju pintu masuk rumah mewah sahabat lama nya.
Dengan arogan ia menekan-nekan bel rumah itu dan tak lama dari itu sahabat lama nya pun membukakan pintu untuk nya.
"Dimana putra ku?" sinis Hendrawan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
"Reiner tidak ada di dalam, silahkan pergi saja, aku tidak mengizinkan mu masuk rumah ku " tolak Indra yang segera menghalangi jalan Hendrawan.
Merasa di halangi Hendrawan semakin yakin bahwa putranya berada di dalam sana.
"Aku tidak butuh izin dari mu untuk mengambil putraku sendiri!!" ketus nya.
"Reiner!!" teriaknya masih ingin menerobos masuk dan kali ini Indra membiarkan nya.
"Hend, apa kamu tidak tahu sopan santun?" umpat Indra mengikuti langkah Hendrawan.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan merebut Yana lagi darimu, aku hanya ingin menjemput putraku saja!!" ucap Hendrawan yang selalu berteriak.
"Reiner!!" teriaknya.
"Kamu terlambat hend, Yana sudah membawanya ke London menemui ayahnya" ucap Indra.
Sebenarnya Indra tidak tega melihat teman lama nya kelimpungan mencari putranya, Indra juga mempunyai putra ia tahu sekali perasaan Hendrawan saat ini.
"Apa maksud kamu?" Hendrawan menarik kerah baju Indra seraya melotot.
"Reiner itu cucu satu satunya tuan Halbert adyatama tentu saja dia tidak akan membuangnya!!" sahut Indra.
"Tapi dia juga putra semata wayang ku, berani sekali Yana membawanya!! apa ini bentuk pembalasan dendam mu pada ku hah? kamu sengaja membantu Yana mengambil putra ku? licik kamu ndra!!! " teriak Hendrawan yang di susul dengan kepalan tangan ke wajah sahabat lama nya.
DUG!! Indra mengelap ujung bibirnya dengan punggung tangan.
"Aku juga kasihan melihat Yana menangisi putranya setiap hari, maaf kan aku" Indra menurunkan pandangan nya merasa bersalah.
"Aaaaaaaaggghhhhhh!!!" teriak Hendrawan frustasi.
"Tega sekali kamu Yana, apa tidak puas sudah menyakiti ku, sekarang kamu memisahkan ku dengan putraku" lirihnya mengusap wajah.
Hendrawan menarik kembali kerah baju Indra "Cepat berikan alamat rumah Adyatama padaku sekarang, aku harus menyusulnya!!" desak nya.
"Kamu pulang lah, aku tidak akan pernah memberikan informasi apa pun lagi, percuma kamu memukuliku" tegas Indra pada nya.
"Bangs*t!!" teriaknya.
.
...****************...
.
Sementara Reiner sudah dalam perjalanan menuju London bersama ibunya menggunakan jet pribadi yang di siapkan oleh kakeknya.
__ADS_1
Di jok mewah nya Yana terus-menerus memandangi wajah putra nya yang enggan tersenyum, Yana tahu sekali sebenarnya Reiner tidak benar-benar ingin meninggalkan Indonesia.
"Sayang, apa kamu menyesal meninggalkan papah mu?" tanya Yana meraih jemari putranya.
Reiner masih tidak mau mengeluarkan suara nya, sedari tadi tatapan nya kearah yang sama.
"Mamah tahu kamu sangat menyayangi papah mu, mamah tidak akan memaksa mu tinggal bersama mamah, tapi setidaknya kamu temui dulu kakek mu, dia pasti sangat senang melihat mu, terakhir kali kakek melihat mu, kamu masih sangat kecil sekali, mamah yakin kakek terkejut melihat ketampanan mu sekarang" ujar Yana di selingi tawa kecil nya.
Dahulu nya ayah Hendrawan adalah rekan bisnis Halbert Adyatama saat masih berada di Indonesia, Halbert sendiri keturunan blasteran Indonesia Inggris yang sekarang menetap di London.
.
...****************...
.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 17 jam mereka tiba di bandara London Heathrow.
Di sana sudah ada para bodyguard berpakaian serba hitam kiriman dari Halbert Adyatama, Yana pun segera menggandeng putranya menuju mobil yang sudah siap menjemput nya.
Menyandang earphone di telinga nya Reinhard membukakan pintu mobil untuk mereka, Reinhard adalah orang kepercayaan Halbert Adyatama.
"Silahkan" ucap pria berusia 30 tahun itu.
Setelah memastikan semua tuan nya aman Reinhard pun segera memasuki pintu lainnnya dan duduk di sebelah sopir pribadi yang akan mengemudikan mobil mewah mereka.
"Sudah siap nyonya?" tanya Reinhard.
"Baiklah, jalan pak sopir" titah Reinhard kepada sopir mereka dengan bahasa asing nya.
Di belakang mobil mereka ada satu mobil lagi yang mengikutinya khusus untuk para bodyguard kakek Reiner.
Mobil mereka menuju City of London yang merupakan pusat keuangan Britania Raya.
Ekonomi Britania Raya dapat dikategorikan sebagai perekonomian yang maju dan berorientasi pasar.
Halbert adyatama termasuk dari jajaran pengusaha sukses di sana.
Setibanya di kediaman Halbert adyatama, Reinhard turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil tuan nya.
Terlihat pria keriput yang menunggu mereka turun dari kendaraan mewah berwarna putih itu, senyum yang mengerutkan matanya mulai menyambut kedatangan cucunya.
"Reiner cucuku!" ucap nya mengasongkan kedua tangannya saat melihat pemuda tampan yang baru saja turun dari kendaraan mewah nya.
Namun Reiner masih diam dengan wajah dinginnya, wajar saja jika Reiner acuh, selama ini Yana dan Halbert tidak pernah menemui nya sekalipun semenjak perceraian Yana dengan Hendrawan.
"Rei, peluk kakek mu" pinta Yana menepuk punggung putranya.
Terpaksa Reiner menurutinya meski masih asing dengan wajah kakeknya.
"Kamu tampan sekali nak, kamu benar-benar mewarisi ketampanan kakek" ucap nya di selingi tawa kecil nya.
Namun Reiner masih tidak bersuara sedikit pun.
__ADS_1
"Ya sudah kita masuk saja" ajak Yana merangkul kedua pria di hadapannya.
Tiba di kamar Reiner menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang terletak di sudut ruangan nya, Reiner sudah terlalu lelah wajah dinginnya masih terus menyertai nya.
Reiner melihat layar ponsel yang masih bertemakan foto dirinya bersama Raya.
"Sekarang Raya lagi ngapain? aku merindukan mu, apa kamu merindukan ku juga" gumamnya menatap layar ponselnya.
.
...****************...
Malam harinya Halbert menemui cucunya di dalam kamar bersama dengan Yana, mereka berniat menyampaikan tujuan mereka memanggil Reiner ke sana.
"Rei,, kakek mu mau bicara" ucap Yana mendekati putranya.
"Bicara saja" sahut Reiner dengan nada dinginnya.
"Kamu benar-benar mirip sekali dengan Hendrawan, angkuh dan ketus, tapi kakek suka, laki-laki seperti mu itu bisa diandalkan" ujar Halbert masih menyisipkan tawa nya.
"Bagaimana, kamu sudah merasa betah di sini?" tanya Halbert.
"Aku kesini bukan untuk tinggal di sini, jadi kenapa harus betah?" jawab Reiner masih dengan nada dinginnya.
"Kamu benar, tidak mau menikmati semua kekayaan kakek mu ini?" tawar Halbert seraya menunjukkan seisi ruangan mewah miliknya.
"Ayah ku juga kaya, tidak perlu mewarisi harta anda aku masih bisa hidup nyaman" sahut Reiner masih ketus.
"Hendrawan itu hanya pemegang saham di perusahaan kecil Hans saja, lagian apa yang di harapkan dari ayah mu itu, dia bahkan lebih menyayangi anak gadis Hans dari pada putranya sendiri" Halbert berusaha mencuci otak cucunya.
"Anak gadis itu tunangan ku, sudah sewajarnya begitu" jawab Reiner menatap sinis.
"Kamu pikir kakek tidak tahu, kamu di putus secara sepihak oleh kekasih mu itu!" sindir Halbert tersenyum licik.
"Dengan kekayaan mu ini, kamu bisa merebut hatinya kembali, atau mungkin kamu bisa mencari yang lebih baik dari mantan pacar mu itu!" imbuhnya.
"Apa kamu tidak mau menunjukkan kekuasaan mu pada gadis yang menolak mu itu?" timpal nya.
Halbert terus menerus mencuci otak cucu semata wayangnya, dahulu mungkin Halbert adyatama masih bisa berdiri tegak mengurus perusahaan milik nya namun sekarang Halbert Adyatama butuh penerus tahtanya, mau tidak mau Reiner lah yang akan mewarisi kekayaan Halbert adyatama mengingat putri semata wayangnya belum juga memberikan cucu lain untuk nya.
"Aku pikirkan lagi nanti, sekarang tinggal kan aku sendiri" putus Reiner.
"Baik lah kalo begitu, istirahat lah"
.
.
Bagaimana apa cerita nya membosankan?? Tapi Terimakasih atas dukungan kalian π.
.
.
__ADS_1