
Sementara Reiner yang sedari tadi menyusuri jalan tidak juga menemukan motor Yuda
"Sial, apa gue salah belok?" gue balik aja ke jalan yang tadi mungkin mereka ke sana" gerutu Reiner yang langsung menuju arah berlawanan.
Reiner terus menerus menyusuri jalan itu, hingga akhirnya melihat motor Yuda di salah satu halaman rumah mewah
"Apa ini rumah Yuda? mau ngapain Yuda bawa Raya ke sini? brengsek!" hardik Reiner.
Reiner segera berjalan menuju rumah Yuda yang memang terbuka pintunya, karena peraturan dari bapak RT setempat menyuruh membuka pintu saat membawa masuk tamu lawan jenis tujuannya agar tidak menimbulkan fitnah.
Reiner celingukan mencari-cari tunangannya, jika sampai ketemu Yuda sudah pasti babak belur, sampai akhirnya Reiner melihat Raya tengah menggenggam tangan Yuda, tentu saja Reiner murka ia langsung berjalan cepat ke arah mereka
"Yuda!!!" teriak Reiner sejadinya.
Emosi Reiner sudah di ubun-ubun hingga tidak peduli di mana dia berdiri saat ini dia hanya langsung menarik kerah Yuda dengan kedua tangannya
"Reiner" sahut Raya hingga membuat Yana semakin mematung karena mendengar sahutan Raya menyebut nama Reiner
"Apa aku tidak salah dengar, apa dia benar-benar putraku?" batin Yana.
Yuda yang memang sudah sangat emosi dia melampiaskan kemarahannya pada Reiner yang saat ini berada tepat di wajah nya mereka saling menatap karena amarah mereka masing-masing
"Brengsek!!" seru mereka.
Hingga akhirnya mereka mulai saling memukul, saling bertumpang tindih, berguling, Reiner di atas tubuh Yuda ia mendaratkan beberapa pukulan
"Raya tunangan gue, masih berani lo dekati, tidak tau malu" umpat Reiner tapi Yuda masih bisa menggulingkan Reiner hingga kini Yuda yang di atas ia membalas beberapa pukulan pada Reiner
"Berani nya lo masuk rumah gue, brengsek!!" hardik Yuda.
Indra kewalahan menghadapi kedua pemuda tangkas yang sama sama di bakar emosi
"Sudah, kalian bisa saling menyakiti sudah berhenti Yuda!" teriak Indra.
Yana semakin mematung melihat ke dua putra yang seharusnya akur malah membuat onar di hadapannya
"Rei, kenapa kamu mirip sekali dengan papah kamu nak" batin Yana kecewa.
Raya yang sudah terlalu syok menjatuhkan tubuhnya di lantai mengelus dada karena sengatan yang ia rasakan "Rei " lirih Raya.
Spontan kedua pemuda tampan yang tengah bertumpang tindih melihat ke arah Raya
"Raya " kompak mereka.
__ADS_1
Reiner yang sedang berada di bawah tubuh Yuda sontak ia mendorong Yuda dengan sekuat tenaga
"Minggir lo bangsat!" teriak Reiner, ia langsung mendekati Raya lalu mendekap erat kekasihnya dengan perasaan bersalah
"Raya" lirih Reiner mengecup singkat puncak kepala kekasihnya.
Yana yang sedari tadi mematung dia mulai memberanikan diri untuk berbicara dengan putranya " Reiner" panggil Yana.
Reiner mendongak ke arah suara yang tidak asing baginya, sungguh terkejut sekali tiba-tiba melihat seseorang yang selama ini ia nanti nanti setiap harinya
"Mamah" Reiner baru menyadari ternyata ibunya berdiri di sana menyaksikan kegaduhan yang ia buat.
Reiner bertanya tanya kenapa tiba-tiba Yana berada di Indonesia tapi tidak sekalipun menemuinya ingin sekali memeluk ibunya tapi dugaan dugaan aneh melintas di kepalanya.
Kenapa mamah di rumah Yuda, kenapa mamah tidak menemui ku, apa hubungan mamah dengan ayah Yuda dan masih banyak lagi pertanyaan lain dalam benaknya.
Yuda tidak kalah terkejutnya saat mendengar Reiner memanggil Yana mamah berbagai macam pertanyaan melayang di kepalanya
"Sebenarnya apa hubungan mereka?" begitu salah satu pertanyaan Yuda dalam batinnya.
Indra mengalihkan pandangan ke dinding berkali-kali dia mengusap wajah karena gundah, ternyata Reiner dengan Yuda saling membenci apa lagi sepertinya mereka menyukai gadis yang sama
"Apa harus terulang lagi" pikir Indra.
"Ternyata Reiner mirip sekali dengan Hendrawan, ia sudah menjadi pemuda yang sangat tampan" batin Yana yang sudah meneteskan bulir bening di pipinya.
Wajah cantik Yana masih begitu akrab di mata Reiner bahkan hampir tidak berubah sedikitpun masih sama seperti saat terakhir melihatnya rasanya ingin memeluknya tapi sukar sekali melakukannya.
"Apa mamah sudah menikah lagi?" batinnya berkali-kali mata Reiner mengedip ngedip kecil berusaha mengontrol perasaan canggung di antara mereka.
Tangan Yana meraih wajah Reiner yang bertautan dengan puncak kepala Raya berharap di terima oleh putranya.
"Jangan menyentuh ku" Reiner menepis tangan Yana dengan acuh.
Melihat ketidak nyamanan Reiner Raya menyerukan suara.
"Rei, aku mau pulang" lirihnya kemudian selagi dalam dekapan tunangannya.
Seru suara kekasihnya membuyarkan lamunan Reiner yang di penuhi pertanyaan.
"Iya kita pulang sekarang" lirihnya membelai lembut pipi kekasihnya namun Raya hanya diam saja.
Melihat Raya yang lemah Yuda berniat mengantarkan Reiner dan Raya pulang sepertinya akan sulit jika di biarkan sendiri Yuda masih punya hati nurani
__ADS_1
"Kalian gue anterin aja, gue ambil mobil dulu sebentar" usul Yuda menawarkan bantuan.
Tanpa basa-basi Reiner mengangguk Reiner mengenyampingkan egonya ia mulai menggendong Raya berjalan keluar dari sana dengan tenaga yang seadanya Raya mengalungkan tangan ke leher Reiner.
Yana yang melihat Reiner bergegas pergi ia menyerukan suara berharap kali ini Reiner bisa menerimanya
"Reiner, apa mamah boleh ikut sayang?" ucap Yana yang menghentikan langkah Reiner.
"Anda tidak perlu repot-repot, silahkan lanjutkan saja urusan anda sendiri" sambung Reiner dengan nada dinginnya
Reiner mungkin sudah terbiasa tanpa Yana pertemuan yang harusnya mengharu biru ternyata tidak lebih dari angin lalu.
Samar samar Raya melihat Reiner menelan saliva karena goncangan yang ia rasakan saat itu Raya masih bisa melihat derita dibalik keangkuhan kekasihnya.
"Aku bisa merasakannya Rei" batinnya menatap kekasihnya.
Yana menjatuhkan tubuhnya di lantai lututnya sudah tidak bisa menopang beban derita yang ia hadapi anak yang lahir dari rahim nya menyebutnya anda mungkin itu definisi sakit tapi tidak berdarah.
Tangan Yana meremas tepian rok span yang ia kenakan bulir bening terus mengalir sebagai bukti penyesalannya.
"Hendrawan benar aku yang salah, aku yang jahat di sini, harus nya aku menemuinya, harus nya aku lebih berusaha untuk menemuinya aku yang sibuk dengan urusan ku sendiri selama ini" Isak nya.
Indra memapah kekasihnya duduk di sofa ia melingkarkan tangan ke tubuh Yana mencoba meredam rasa bersalah yang sudah berubah menjadi rasa sakit.
"Ini hanya masalah waktu saja, aku yakin Reiner segera menerima mu" sahut Indra menenangkan.
Sementara di halaman depan, Yuda membukakan pintu belakang mobil untuk Reiner dengan segera Reiner masuk dan menempatkan Raya di sampingnya Yuda menghentakkan pintu lalu berjalan memutar menuju pintu lainnya untuk mengemudikan mobil.
Reiner membenamkan kepala Raya ke dada bidangnya ia menyingkap anak rambut yang menutupi wajah tunangannya beribu sesal menancap di dadanya bagaimana bisa ia lupa kekasihnya selembut kapas yang jika di basahi amarah akan melemah.
"Aku minta maaf" lirih Reiner mempererat pelukannya.
Raya sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa, ia mulai memejamkan mata. Mereka bertiga segera berlalu dari sana menuju kediaman Hans Adiwangsa.
Sepanjang perjalanan pandangan Yuda tidak lepas dari kaca spionnya mengamati Raya yang memejamkan mata dalam dekapan Reiner, sepertinya Raya sangat merasa nyaman di sana
"Kenapa aku harus menyukai mu, aku selalu yakin pertemuan di toko waktu itu bagian dari takdir kita tapi ternyata takdir ini mulai menyakitkan" begitu pikir Yuda.
.
..
..
__ADS_1