
Hari berganti, di dalam ruang rawat inap VVIP Hendrawan baru saja bangun dari tidur nya, matanya langsung mengarah ke samping kanannya di sana ada Andi dan juga Hans masih tertidur pulas dalam keadaan terduduk di sofa.
Hendrawan tidak tahu sejak kapan mereka tertidur karena sebelumnya mereka masih tertawa tawa sembari menjaga putri cantik mereka.
Kini pandangan nya beralih ke ranjang besi yang seharusnya ada tubuh menantunya di sana. Namun mata ngantuk nya mendadak hilang saat mendapati ranjang besi yang tidak berpenghuni.
"Raya..!" Hendrawan langsung terlonjak.
Hendrawan berjalan gugup ke toilet yang ternyata kosong. Hatinya mulai tidak menentu langkah nya lalu menuju ke arah pintu ia keluar dari kamar itu "Raya..!" seru nya sembari menoleh ke kanan dan kiri.
Namun yang di lihat hanya lorong kosong karena ruangan itu tidak banyak orang berlalu lalang. Ini janggal sangat janggal kenapa tiba-tiba mereka tertidur dan kenapa Raya tidak ada di tempatnya. Pikirannya sudah mulai frustasi
Dengan dahi yang sudah berkeringat Hendrawan kembali ke kamar mendatangi kedua pria yang masih tidur di sofa.
Dengan arogan Hendrawan menggoyang- kan satu persatu tubuh ke dua lelaki itu "Hans, Andi, Raya kemana?" teriaknya nyaring.
Tak butuh waktu lama kedua pria itu terbangun dari tidurnya "Hm..? Raya..?" ucap Hans melototi ranjang besi putrinya.
Andi beranjak dari tempatnya berlari ke luar melakukan hal yang sama seperti Hendrawan barusan. Dan ternyata nihil.
Hans dan Hendrawan menyusul Andi ke luar "Kemana Raya..?" tanya Hans dengan intonasi yang frustasi.
Mereka panik dan langsung curiga mengingat alasan Raya di rawat karena percobaan penculikan.
Hans berlari menuju resepsionis area mungkin di sana bisa mendapat informasi yang menenangkan pikirannya di susul oleh kedua pria di belakangnya "Kak, pasien di kamar VVIP kemana?" teriak nya penuh penekanan. Tangannya menggebrak-gebrak kecil meja tinggi itu.
"Maksud bapak..?" tanya wanita itu bingung.
"Anak saya hilang, tidak di kamar nya" teriak nya penuh kesal.
Wanita itu mulai mengerti yang di ucapkan Hans ia tampak menghubungi seseorang yang bertugas di bagian keamanan.
Tak lama dari itu beberapa orang menghampiri mereka dengan HT (Handie talkie) di tangannya.
"Kenapa bisa sampai kecolongan, hah..? rumah sakit apa ini, pengamanan nya tidak becus..!!" teriak Hendrawan menarik kerah baju petugas itu.
Petugas itu memalingkan wajahnya takut seraya berkata "Tenang pak, kita lihat CCTV dulu kita ke sana mari silahkan" instruksi petugas itu.
Dengan wajah yang penuh kekhawatiran mereka bertiga mengikuti langkah petugas menuju ruang CCTV. Mereka menunggu si petugas mengutak-atik keyboard lalu memperlihatkan rekaman CCTV di jam jam mereka tertidur.
__ADS_1
"Ini lihat lah pak, apa benar ada seorang kurir yang datang ke tempat bapak..?" tanya petugas menoleh sekilas ke arah Andi.
"Iya kami memesan makanan dan kami memakan nya bersama" jawab Andi mengiyakan.
"Atau jangan-jangan..." celetuk Hendrawan menatap Hans, ingatan mereka beralih ke beberapa jam yang lalu saat memakan pizza yang mereka pesan di restoran terkenal. Dan setelah itu mereka tidak ingat apa-apa lagi.
"Bodoh..!! aaaagghhh...!!" Hans menjambak rambutnya sendiri.
Kini gambar nya beralih ke pasien wanita yang di bawa saat tertidur menggunakan ranjang dorong oleh beberapa orang berpakaian serba putih mirip seragam dokter.
"Siapa mereka?" tanya petugas itu melototi layar komputer nya "Mereka bukan dokter kita pak..!" lanjutnya.
Tubuh Hans ambruk, matanya terpejam kuat, panik sudah pasti, putri kesayangan dan satu-satunya itu di bawa penculik yang entah siapa.
Seketika mata Hendrawan memerah penuh dengan amarah, tangannya mencengkram kerah belakang petugas itu "Goblok..! kenapa sampai ada orang yang menyamar dan keamanan tidak mengetahui nya hah..?!" marah nya berteriak.
Dreeetttt dreeetttt dering ponsel Hendrawan sedikit mengalihkan perhatian nya. Dengan tangan yang sedikit gemetar ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana nya.
Matanya terpejam frustasi saat melihat nama Putraku di layarnya.
"Aku harus jawab apa padanya..?" lirihnya.
Hendrawan tidak berani merespon panggilan dari putranya. Lelaki itu tak mengindahkan nya meski terus menerus terulang getaran ponsel di tangannya.
"Kenapa kalian diam saja..?" cepat telepon polisi..!!" teriak Hendrawan kepada petugas.
Dengan wajah yang merasa bersalah petugas menyambar telepon dari meja kerjanya ia lalu melakukan perintah lelaki penuh amarah itu.
...****************...
Di tempat lain Raya baru saja membuka matanya, ia melihat ke sekeliling sepertinya ruangannya sedikit berbeda dengan sebelum ia tertidur. Namun Raya belum mencurigai nya mungkin saja Raya di pindah kamar kan saat ia terlelap, karena biasanya pun begitu. Raya selalu membuka mata di kamar yang berbeda beda.
"Sudah bangun buk..!" tanya dokter wanita yang baru saja tiba. Dokter itu memeriksa keadaan Raya dengan stetoskop nya.
"Syukurlah sepertinya keadaan ibu sudah membaik..!" ucapnya.
Raya bingung mendapati dokter wanita yang terlalu asing baginya. Raya hapal semua wajah dokter di rumah sakit langganan nya itu. Tapi mungkin saja masih baru pikiran positif nya.
"Dok... Bagas kemana..? Emmh maksudnya dokter Bagas..!" tanyanya.
__ADS_1
"Ada, dia masih bertugas mengurus yang lain, jadi sekarang saya yang menggantikan nya" jawab dokter wanita itu tersenyum.
"Lalu kenapa sepi, dimana papi, papah, sama keluarga ku yang lain..?" Raya mulai sedikit mencurigai nya.
"Mereka baru saja keluar untuk mengurus administrasi buk, sekarang buk Raya tenang ya" ucapan dokter itu lembut, tidak seharusnya di curigai.
"Iya.." Raya mencoba untuk tidak curiga. Entah kenapa sejak ia hamil Raya menjadi lebih tegar menghadapi segala sesuatu yang baru. Sebelum nya Raya pingsan saat mendapati perlakuan mencurigakan. Karena hawa cemas yang melandanya.
Namun sekarang secemas apa pun Raya tidak pingsan, kemarin saat percobaan penculikan pun jantung nya tidak menyerang padahal ia di bekap oleh seseorang yang menakutkan.
Jika Joko tidak memasukkan anastesi ke kain hitam nya pun mungkin tidak akan pingsan. Entah karena kekuatan dari sang janin yang dikandungnya atau karena penyakitnya yang sudah sedikit membaik.
...****************...
Kembali ke rumah sakit Yuda tengah berjalan cepat menuju ruang di mana Raya di rawat, matanya tertuju pada dokter yang sedang bercakap-cakap dengan resepsionis area VVIP keningnya mengerut saat melihat ekspresi wajah dokter tampan itu marah.
Dengan langkah yang terburu-buru Yuda mendekati dokter itu "Ada apa Gas,..?" tanyanya padahal belum sampai di hadapan Bagas.
Bagas menoleh ke arah Yuda "Aaaagghhh...!!!" teriaknya dengan wajah yang frustasi.
Yuda yang melihat itu semakin tidak menentu sebelum kemudian Andi berlari menghampiri mereka "Non Raya di culik..!" seru nya.
"Aaaagghhh..!! Bangsat..!!" Bagas hanya meracau karena tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tubuhnya terduduk di lantai dengan kedua tangan yang meremas rambutnya.
Terlihat seluruh orang di dalam sana menatap mereka penuh tanya.
"Apa..? kenapa bisa begitu..? bukannya kalian menjaganya..?" Yuda panik.
"Sepertinya mereka memasukkan obat tidur ke makanan kita..!"__"Bajingan..!" racau Bagas menendang kursi dihadapan nya.
"Tenang lah dulu, lebih baik kita cepat bergerak untuk menemukannya .!" usul Yuda.
.
.
.
Slow up ya... soalnya... lagi sedikit sibuk... sambil menunggu pembaca baru sampai ke bab ini...
__ADS_1
.
.