KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 47. Bergeming


__ADS_3

"Apa sebaiknya aku tidak merespon semua perlakuan baik nya? kenapa aku merasa bersalah jika tidak menerima nya? Bagas baik dia juga bisa menjaga ku! jadi apa alasan ku menolaknya? bukannya terlalu mengada-ada jika tiba-tiba menolak pria sebaik dia?" batin Raya dalam lamunannya hingga tidak mendengar seruan sahabatnya memanggil manggil nama nya.


"Raya hey.."


Mobil Bagas baru saja memasuki halaman rumah mewah Raya namun wanita cantik di samping nya masih mematung di tempatnya.


Sejenak Bagas menikmati kecantikan sahabat kesayangannya, sambil tersenyum ia menyandarkan kepalanya ke sandaran jok mobilnya.


"Sebenarnya melamun kan apa kamu ini" gumamnya menatap dalam.


Tak mau lama-lama Bagas pun keluar dari mobil lalu membuka pintu lainnya ia meletakkan tangan kanannya ke atap mobil namun Raya masih bergeming.


"Raya, kita sudah sampai" ucap nya.


Masih asyik dengan lamunannya tiba-tiba saja Raya tersentak kaget saat melihat seseorang mendekatkan wajahnya "Bagas" kini wajah mereka hampir tidak berjarak.


Mata Raya mengedip-ngedip karena perasaan canggung nya.


"Kamu kenapa melamun?" Masih di posisi yang sama Bagas memekarkan senyum nya.


"Menjauh atau orang berpikir kamu sedang mencium ku" protesnya.


"Aku berharap juga begitu" sahut Bagas masih dengan senyum nya.


"Maunya!" Raya mendorong kening Bagas dengan jari telunjuk sebelum kemudian beranjak dari duduknya


Brugh suara hentakan pintu mobil.


"Terimakasih ya tumpangan sama traktirannya, aku masuk dulu, kamu hati-hati, jangan ngebut" ucap nya.


"Iya" Bagas mengangguk namun saat Raya sudah ingin masuk Bagas terpikir kan sesuatu "Emmh Ya,,," seru nya.


"Hemmm?" Raya menoleh kembali ke arahnya.


"Kapan pun juga aku siap melamar mu, jika perlu malam ini juga aku melamar mu" ucap nya.


"Emmh aku,,," Raya masih ragu, padahal sedari tadi ia memikirkan jawaban untuk pertanyaan Bagas.


"Ok ok, jangan di paksakan, aku masih mau menunggunya, sekarang kamu masuk gih, besok pagi aku jemput kamu" potong nya membelai lembut kepala sahabatnya, Bagas benar-benar tidak ingin membebani pujaan hatinya.


"Iya," sahut Raya menatap nanar sahabat nya.


Dari balik jendela kaca rumah nya Hans dan istrinya memperhatikan mereka.


"Menurut papi, apa mereka pacaran? sepertinya mereka semakin dekat saja" tanya Mira.

__ADS_1


"Papi tidak yakin, tapi kalau pun iya, Bagas pasti bisa menjaga putri kita, papi dengar Bagas tengah menjalani program spesialis jantung, menurut papi Bagas laki-laki yang cocok untuk Raya" jawab Hans.


"Tapi sepertinya Raya masih belum bisa melupakan Reiner pi, lihat saja Raya bahkan masih memakai cincin pertunangan mereka, mami kasihan melihat nya, mau sampai kapan Raya terus menerus memakai cincin yang tak bertuan itu, seharusnya dulu papi jangan izinkan Raya memutuskan pertunangan mereka lagi, ini semua salah papi" sahut Mira menatap sayu.


...****************...


Setelah melambaikan tangan pada sahabatnya Raya bergegas masuk ke dalam rumah, sesampainya di ruang tengah Raya melihat kedua orangtuanya berkumpul di sana.


Rasa lelahnya seketika hilang melihat senyum manis di wajah orang tuanya.


"Pi, mi.." Raya melakukan ritual cipika-cipiki dengan mereka.


"Pi,, siang tadi pak Dilan sudah menandatangani kontrak nya" ujar nya.


"Oya, apa kamu bertemu langsung dengan nya? katanya pria itu sulit sekali di temui" sambung Hans.


"Sepertinya memang begitu, tadi saja hanya ajudannya saja yang menemui ku, tapi papi tenang saja, pak Dilan sendiri yang menandatangani kontrak nya" lanjut nya.


"Bagus lah kalo begitu"


"Ya sudah Raya mandi dulu, lengket" pamit nya.


Raya berjalan menuju kamar yang memang terletak di lantai bawah, pikiran nya sudah mulai ruwet lagi.


"Terima, tidak ya? tapi jika aku menerima nya, dia menjadi suami ku? apa tidak lebih canggung lagi, selama ini aku nyaman menceritakan semua kisah hidupku dengan nya, lalu kepada siapa lagi aku ceritakan itu semua? pasti canggung sekali," gumam nya.


Padahal dahulu Raya memutuskan Reiner karena Reiner masih menceritakan keluh kesahnya pada orang lain, harus nya Raya lebih nyaman jika bersama dengan seseorang yang selalu menjadi teman curhat nya.


"Lalu bagaimana jika dia mencium ku? uuuuhhhhh apa aku harus berciuman dengan sahabat ku sendiri" Raya menutup wajahnya memikirkan kecanggungan yang belum terjadi.


"Aku tidak bisa membayangkan nya hiks hiks hiks..." gerutu nya.


...****************...


Di London sepasang kekasih berjongkok di hadapan batu nisan dengan pakaian serba hitam menaburkan bunga segar, air mata masih mengaliri wajah cantik Yana meski sudah enam bulan lamanya Halbert Adyatama berpulang, terlihat beberapa bodyguard juga mendampingi mereka.


"Sudah lah, mau sampai kapan kamu menangisi kepergian ayah mu, biar kan ayah mu tenang di sana, sekarang kita pulang ya" ucap Indra pada kekasihnya.


"Iya,," Yana mengangguk seraya beranjak dari posisinya.


Mereka berjalan menuju mobil mewah milik nya masih di iringi bodyguard Yana.


"Ndra,, apa hari ini kamu benar-benar ingin pulang ke Indonesia?" tanya Yana di sela langkanya.


"Iya, Yuda pasti menunggu ku, hari ini mungkin Yuda sudah berada di Indonesia, secepatnya aku kesini lagi, lagi pula terlalu banyak yang aku tinggal di kantor, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal?" ujar Indra sambil membukakan pintu mobil nya.

__ADS_1


"Iya, aku pasti kesepian lagi" lirih Yana memasuki mobil mewah nya.


Indra sudah menikahi Yana akan tetapi hubungan nya masih terhambat oleh tempat tinggal mereka, Yana tidak bisa meninggalkan rumah besarnya terpaksa Indra mengalah bolak-balik Indonesia London setiap bulan nya.


Namun meskipun sudah menjadi saudara tiri, Yuda dan Reiner tidak pernah saling bertemu.


Beberapa tahun ini Reiner sibuk dengan pendidikan dan perusahaan milik nya.


Sedang Yuda juga sibuk dengan sekolah seni nya di Sydney, baru-baru ini Yuda juga sering mengadakan pameran lukisan nya.


...****************...


Hari berganti seperti biasanya Raya pergi ke kantor di antar oleh Bagas setelah dewasa Raya sudah jarang di antar oleh pak Salim atau Andi, sekarang sudah ada Bagas yang setia mengantar jemput nya, setibanya di sana Raya berjalan menuju lift di sambut para karyawan-karyawan nya.


Senyum ramah selalu menghiasi wajah cantiknya, tiba di lantai empat Raya keluar dari lift lalu berjalan lagi menuju ruang kerja pink nya.


Namun saat ingin memutar kenop pintu, seseorang menyerukan suara nya.


"Buk Raya maaf!" ucap nya.


"Iya kenapa?" Raya menoleh ke belakang dilihatnya wanita berwajah gugup terburu-buru menghampiri nya.


"Emmh barusan ada laki-laki yang masuk ke dalam ruangan buk Raya, maaf saya sudah melarang nya tapi dia tidak mau mendengar nya" ucap Rinda salah satu staf nya.


"Siapa?"


"Emmh katanya pak Dilan, dia bilang sudah temu janji dengan buk Raya" sambung Rinda kemudian.


" Oh pak Dilan, dia memang investor baru kita, sudah gak perlu gugup begitu, aku masuk dulu, kamu lanjut kerjanya" senyum Raya menyentuh lengan karyawan nya.


Raya melanjutkan langkahnya membuka pintu ruang kerja nya, dilihatnya seseorang sudah duduk di kursi kerja miliknya.


"Tidak sopan sekali orang ini" batinnya.


"Emmh maaf itu tempat duduk saya" ucap nya memiringkan kepalanya berusaha melihat wajah investor baru nya.


.


.


Jangan lupa like hehe,, SILAHKAN JIKA INGIN MENGKRITIK SAYA AKAN JADIKAN ITU PELAJARAN KARENA INI KARYA PERTAMA KU, TERIMAKASIH YA. πŸ™


.


.

__ADS_1


__ADS_2