
Malam ini Raya sudah rapih dengan gaun cantik nya dia ingin menghadiri pameran lukisan teman lamanya Emmh ralat lebih tepatnya lagi calon Kaka ipar nya, yah sekarang Yuda kan Kaka tiri Reiner bukan?
Dengan senyum semangat Raya menunggu jemputan kekasihnya yang sebenarnya tidak ikhlas mengantarkan nya tapi mau bagaimana lagi Raya memang menyukai acara pameran seperti itu, tidak hanya di pameran Yuda saja sebelumnya pun Raya sering mendatangi pameran dari seniman lain.
...****************...
Kini Reiner baru saja turun dari mobilnya berlari menuju pintu masuk rumah kekasihnya Ting tong seperti layaknya pemuda yang mau kencan Reiner terus menerus merapikan rambut nya yang sudah sedikit panjang.
Click tatapannya terpatri pada wanita cantik yang memakai gaun Lace dress tidak terlalu terbuka namun semakin menonjolkan kecantikan si pemakainya. Material renda menjadi salah satu bahan yang dapat membuat tampilan seseorang terlihat anggun secara instan apa lagi jika Raya yang memakainya.
"Kamu, cantik sekali yank" ucapnya terpaku membuat si penerima pujian tersipu malu.
"Kita langsung berangkat?" tanya kekasihnya.
"Emmh... iya" lanjut nya masih sedikit belum puas menatap kekasihnya.
Tapi dengan segera Reiner menggiring kekasihnya masuk ke dalam mobilnya dan tanpa basa-basi Gabriel pun segera melajukan mobilnya menuju galery Yuda.
Tiba di sana sudah di sambut dengan padat nya para pecinta seni yang sudah berderet untuk antri memasuki galery lukisan seniman yang akhir akhir ini menjadi idola bagi para kolektor seni.
"Rei, kenapa ramai sekali, aku bisa sesak nafas jika harus berdiri berdesakan dengan orang orang itu" keluh kekasihnya.
"Lagian kenapa kita kesini?" akhirnya Reiner menunjukkan penyesalan nya.
Mereka berdiam diri namun tiba-tiba seseorang menyapa sepasang kekasih rupawan itu, Gabriel tidak suka dengan pameran seperti itu jadi lebih baik jika menunggunya di dalam mobil saja.
"Maaf, anda benar nona Raya?" tanya wanita berseragam rapih itu.
"Iya kenapa ya?" tanya balik nya.
"Silahkan ikuti saya, kalian sudah di tunggu oleh pak Yuda" kata wanita itu.
Raya mulai tersenyum sudah sedikit lebih lega akhirnya dia tidak perlu lagi mengantri untuk masuk "Oh iya, baik" ucap nya.
Reiner yang sedari tadi diam mulai menyerukan suara nya "Sebenarnya seperti apa lukisannya kenapa ramai sekali, hekkmm aku tidak menyangka Yuda bisa lebih terkenal dariku" gerutu Reiner yang membuat wanita cantik di samping nya menahan tawa.
"Sayang, kamu itu pengusaha, terkenal mu ya cukup di kalangan pengusaha saja, lain sama Yuda dia bisa memasuki kalangan mana pun, dia itu kan seniman" saut kekasihnya yang membuatnya semakin menampakkan wajah dinginnya.
"Raya!" teriak Mei sumringah. Ternyata di dalam sudah ada banyak temannya yang menyambut kedatangan mereka.
"Mei Ria, ya ampun, kalian, lama banget kita gak ketemu" sapa nya senang. Kedua sahabatnya melongo melihat Reiner datang bersama Raya mereka tidak bisa berkata apa-apa.
"Kalian kaget ya, maaf ya, aku sengaja tidak kasih tahu kalian, aku mau kasih surprise, oiya sebentar lagi kami menikah loh datang ya" lanjutnya yang membuat kedua sahabatnya semakin melongo.
__ADS_1
"Hah??? menikah???" saut mereka kompak dan saling menatap.
"Kalian kenapa kaget si, aku sama Reiner kan sudah lama tunangan" imbuhnya. Namun kedua sahabatnya masih terlihat syok.
"Aku pikir Raya mau nikah nya sama Bagas, kenapa tiba-tiba sama Reiner lagi sih?" bisik Ria di telinga Mei.
"Sssuuuuutttt... kita doakan saja deh" balas Mei yang juga berbisik.
"Kalian bisik bisik apa sih?" tanya Raya sebelum kemudian mendengar suara seseorang yang tidak asing menyapanya dari belakang.
"Rei, Raya" seru nya membuat si pemilik nama menoleh kearah nya.
"Yuda, ya ampun kamu..." sebenarnya Raya mau bilang makin ganteng saja tapi di urungkan mengingat kekasihnya posesif "Apa kabar kamu Yuda?" lanjut nya bertanya.
"Baik, kamu makin cantik saja" ucap Yuda kepadanya.
"Hehe" Raya hanya tersenyum karena tidak mau membuat Kekasihnya cemburu dan benar saja Reiner terus menerus berdiam diri dengan sikap dinginnya.
Yuda tidak terlalu kaget saat melihat kebersamaan Raya dan Reiner kembali karena sudah sering mendengar kabar itu dari ayahnya.
"Silahkan lihat-lihat, di sana letak dari lukisan paling aesthetic yang pernah aku buat, lihat lah" ajak Yuda.
Sepasang kekasih yang sebentar lagi menikah itu pun segera mengikuti langkah Yuda yang berjalan menuju lukisan utama dari pameran itu.
"Aku juga melukis pacar ku..." ucap Yuda "Tapi di sini" lanjut Yuda menunjukkan letak jantung hatinya berada.
"Ciyeee, orang mana Yud? apa aku mengenalnya?" tanya nya.
"Kamu tidak perlu tahu, rahasia" bisik Yuda di telinga nya membuat Reiner membulatkan matanya cemburu.
"Benar benar kurang ajar Kaka tiri sialan ini" umpat serapah dalam hatinya.
...****************...
Sudah cukup lama Raya berjalan memutari galery yang cukup luas itu namun tidak sedikitpun merasa lelah karena lukisan Yuda cukup memuaskan hatinya.
"Sayang, nanti kamu kecapean, kita pulang saja ya" ajak Reiner sebenarnya dia yang sudah merasa lelah.
"Emmh... iya iya, kita pulang" jawabnya mengalah.
Namun saat ingin berpamitan dengan pemilik pameran ternyata si pemilik sedang sibuk memberikan tanda tangan kepada para penggemar lukisannya Eh.. sebenarnya bukan lukisan nya sih tapi ke pelukisnya secara kan pelukisnya lebih indah dari lukisannya sendiri.
"Yah Rei, Yuda lagi sibuk di mintai tanda tangan uuhh sekarang dia terkenal, kenapa dulu aku gak minta tanda tangannya?" celetuk Raya menatap Yuda.
__ADS_1
"Helehh,, kekasih mu ini juga di mintai tanda tangan setiap hari tapi tidak sombong" timpal laki-laki sinis itu membuat Raya tersenyum lagi secara yang minta tanda tangan kekasihnya itu kan bukan penggemar nya tapi bawahannya.
"Iya iya,, kamu yang terbaik, tertampan, tercinta, tersayang" rayu Raya melebarkan bibirnya.
Tanpa berpamitan Raya dan Reiner langsung meninggalkan tempat itu menuju ke halaman parkir yang sudah di sambut oleh Gabriel. Dengan segera mereka memasuki mobilnya dan berlalu dari sana.
Setelah duduk di dalam mobilnya Raya mulai merasakan lelah nya kakinya terasa pegal karena berkeliling dengan sepatu heels yang cukup tinggi.
"Rei, aku lelah kakiku pegal" lirihnya.
"Kamu ini, aku bilang juga apa kan" saut kekasihnya sedikit ketus.
"Pijit" pinta nya merengek tanpa basa-basi Reiner menaikan kaki calon istrinya ke pangkuannya memijitnya dengan lembut.
Sedang Gabriel hanya menahan tawa melihat bos nya yang sudah memasuki level bucin akut.
"Brother, brother, gayanya sok galak, sama calon istrinya takluk" gerutu nya pelan. Namun Raya masih bisa mendengar nya.
"Fokus nyetirnya Briel" seru nya membuat Gabriel sedikit salah tingkah.
...****************...
Hari demi hari berlalu begitu cepat sudah dua Minggu ini keluarga Hendrawan mempersiapkan pernikahan putranya.
Hendrawan dan Hans tidak mau membuat perjodohan anak nya gagal lagi akhirnya mereka segera menentukan tanggal pernikahan.
Lagi pula umur kedua anaknya sudah cukup untuk menikah, mungkin jika yang menikah orang biasa akan terbebani dengan biaya.
Namun tidak bagi Reiner, meski perusahaan nya sedang sedikit ada masalah rekening nya masih lebih dari cukup untuk memeriahkan lima puluh pesta mewah sekaligus.
Orang orang Hans mulai mempersiapkan seluruh kebutuhan putrinya, Hans tidak mau membuat putrinya terlalu lelah dengan persiapan pernikahan nya.
Raya hanya cukup diam dan duduk manis melihat calon suami dan orang tua nya berkutat dengan resepsi yang akan diadakan sebulan lagi itu.
Undangan sudah di cetak, gaun pengantin sudah siap, Raya tidak perlu repot-repot fitting baju karena tubuhnya sudah sangat ideal dengan gaun pengantin yang sudah terpajang di butik mahal hanya tinggal gesek tunai beres urusan nya.
.
.
BERSAMBUNG... SEBENARNYA INI AWAL DARI HUBUNGAN MEREKA YA... SILAHKAN SIMAK SELANJUTNYA...
.
__ADS_1
.