
Malam sebelum pertandingan antar kelas.
Di dalam kamar yang serba hitam putih, Reiner berjalan mondar-mandir memandangi layar ponsel sesekali ia menggigit jemarinya karena gelisah, sudah berkali kali menelepon Raya tapi tidak juga di angkat.
"Sial, kenapa gue yang gelisah setelah Raya menghindar, bukannya gue memang mau Raya pergi, kenapa perasaan ini semakin kuat setelah dia menyerah," Reiner mencoba menelepon Raya kembali.
"Angkat Raya, mau llo apa sebenarnya, gue bakal lakuin asal jangan seperti ini." gumamnya.
Karena tidak juga mendapat balasan, Reiner berjalan ke sudut ruangan ia mengambil jaket juga kunci motor yang tersangkut di rak gantung dia berlari menuruni anak tangga menuju pintu keluar, ternyata Hendrawan baru saja tiba di sana.
"Mau kemana kamu?" tegur Hendrawan.
Namun Reiner tetap berjalan keluar tanpa menoleh ayahnya, tentunya hal itu membuat Hendrawan murka.
"Reiner!!" Hendrawan menggretakan gigi nya karena geram.
"Anak itu benar-benar tidak sopan, sama saja seperti Yana." gerutu Hendrawan.
Tapi Reiner tetap menyalakan motor berlalu dari sana, dia merasa ayahnya juga ikut bersalah atas pengembalian cincin Raya.
Leta keluar dari kamar menghampiri asal teriakan suaminya, dia yakin Hendrawan sedang murka dengan anak semata wayangnya.
"Kamu kenapa sih pah, tidak pernah membiarkan Reiner betah di rumah." bela Leta.
"Jadi menurut mu aku yang salah, jika mendidiknya dengan benar, dia itu jadi ngelunjak gara gara kamu selalu membela nya," ucap Hendrawan.
Leta mendekati Hendrawan, dia mengelus lengan suami tercinta untuk meredam kemarahannya
"Sudah pah, kita masuk saja ya, mamah siapkan makan malam,". senyum Leta.
"Ya ampun, kalian ini sama saja keras kepala nya." batin Leta menggelengkan kepalanya ringan.
Reiner melajukan motor dengan kecepatan tinggi dia bermaksud mendatangi Rafa di tempat biasa mereka nongkrong. Tempatnya sangat ramai muda mudi berseliweran di sana.
Setibanya di sana bola mata Reiner menyisir seluruh tempat itu ia mencari sahabat terbaik nya untuk beberapa saat.
Hingga akhirnya Reiner melihat Rafa tengah asyik berbincang dengan dua gadis muda Reiner menggelengkan kepalanya ringan.
__ADS_1
"Sialan play boy cap cay ini, enak enakan di sini sama cewek cewek." gerutu Reiner selagi berjalan cepat mendekati sahabat terbaik nya.
"Rafa,!" teriak Reiner, yang membuat pemilik nama dan kedua gadis itu spontan menoleh ke arahnya.
"Rei,," ucap Rafa
"Kak Reiner, makin ganteng aja," sahut gadis A,
"Iya, mau gabung gak, aku pesenin minum ya," imbuh gadis B.
Reiner tidak memperdulikan mereka, dia hanya langsung menarik lengan Rafa dan menyeretnya pergi dari tempat itu.
"Lo apaan sih Rei?" ketus Rafa menghempaskan tangan Reiner.
"Udah Lo ikut gue sekarang!" tegas Reiner menarik kembali sahabatnya.
"Ih ganteng ganteng sombong!" "Iya, nyebelin." gerutu kedua gadis yang mereka tinggalkan.
Kedua sahabat itu pun bergegas pergi melajukan motor dengan kecepatan tinggi, Rafa hanya mengikuti arah motor Reiner saja diapun belum tahu kemana Reiner membawanya, tidak ada 15 menit, mereka sudah sampai di tempat tujuan, biasalah darah muda tapi jangan di tiru ya!
"Wah llo parah banget Rei, llo tarik gue kesini buat nyaksiin kemesraan llo sama Shela" protes Rafa saat tahu Reiner membawanya ke rumah Shela.
Reiner menelepon Shela agar cepat keluar dari rumahnya, beberapa saat kemudian Shela menemui Reiner dengan senyum manis di wajahnya.
"Rei, Lo ke sini," sapa Shela.
"Iya, ada yang mau gue bicarakan." ucap Reiner, yang disambut hangat oleh Shela "Ngomong aja Rei, kenapa?" sahut Shela masih dengan senyuman.
Reiner menggenggam tangan Shela menatap tajam wajah kekasihnya "Gue, mau kita putus," ucap Reiner tanpa keraguan.
Rafa yang tengah asyik menyandarkan punggung ke dinding sontak mengangkatnya ia tersentak dengan ucapan Reiner yang tiba-tiba memutuskan hubungan dengan Shela, apa lagi Shela gadis pertama yang menjadi kekasih sahabatnya.
"Rei, lo gak serius kan?" tanya Shela yang juga terkejut mendengar ucapan Reiner hingga memperlihatkan mata yang berkaca-kaca.
"Lo tau gue udah ada Raya, llo cantik, llo bisa mendapatkan yang lebih baik dari gue." lirih Reiner.
"Jangan Rei, llo bisa terus berhubungan dengan Raya seperti biasanya, gue janji gak akan cemburu." ucap Shela.
__ADS_1
"Gue gak bisa, maaf, gue pergi, llo baik baik," lirih Reiner yang lalu pergi, ia tidak tega mendengar isak tangis gadis pertama yang singgah di hatinya.
Melihat hal itu Shela mencoba memanipulasi kekasihnya kembali ia masih belum bisa menerima keputusan Reiner.
"Gimana kalo Raya ninggalin llo, seperti yang terjadi dengan om Hendrawan, bukannya itu yang selama ini llo takutkan Rei!" teriak Shela dengan suara yang keras dan terisak karena sudah tidak bisa menahan tangisnya.
Reiner menghentikan langkahnya, ia menelan saliva karena goncangan yang ia rasakan setelah mendengar ucapan Shela, ia sangat rapuh jika sudah menyangkut tentang ibunya, namun ia tetap meninggalkan tempat itu meski Shela menghalanginya.
Reiner sudah berlalu dari sana sedang Rafa masih menatap Shela mematung di tempatnya.
"Lo tega Rei" lirih Shela sudah 2 tahun mereka menjalin hubungan, walau masih anak bawang, Reiner sudah menjamin kebutuhan Shela karena uang jajannya terlalu banyak jika di habiskan sendiri saja.
Beberapa saat kemudian Rafa memakai helm dan melangkah naik ke motornya ia juga ingin segera pergi dari sana.
"Shel gue pergi ya," pamit Rafa yang lalu melajukan motornya.
"Sialan Reiner, gue di suruh jadi saksi perpisahan mereka, emang kurang ajar tuh anak" gumam Rafa selagi mengendarai motor nya.
Tiba di rumah, Rafa membuat broadcast message ke grup sekolah, dia memberi informasi tentang keputusan Reiner yang akhirnya ramai di perbincangkan seantera jagat raya.
π©"Lo beneran fa" π©"ih akhirnya," π©" mampus tu anak miskin," π©"kan gaya sih jadi orang" π©"sombong angkuh begitu mau nyaingin Raya" π©"tapi gue kasian juga dengernya." dan masih banyak lagi komentar lainnya.
Reiner sengaja mengajak Rafa untuk menyaksikan keputusannya, berharap Raya bisa lebih percaya dengan kesungguhan hati nya, ia tahu jika masih berhubungan dengan Shela, Raya tidak akan pernah mencabut kata katanya.
Reiner yakin Raya akan segera memakai cincin nya kembali, tapi tiba-tiba Reiner teringat kata-kata Shela tentang ibunya.
"Aku yakin Raya bukan gadis yang seperti itu, Raya gadis yang tulus, dari dulu Raya menyukaiku, aku yakin dia tidak akan pernah meninggalkan ku seperti mamah" ucap Reiner.
Selama ini Reiner tidak merespon Raya karena menurutnya Raya memiliki potensi yang besar untuk meninggalkan nya suatu saat nanti, Raya mirip sekali dengan ibunya yang cantik dan juga kaya.
Dia selalu berpikir kecantikan dan kekayaan akan membuat Raya tidak bisa di kendalikan seperti Yana ibunya. Tapi ternyata Reiner sendiri yang tidak bisa mengendalikan perasaannya pada Raya.
Dia menyerah dengan perasaan yang semakin lama semakin kuat, dia sudah berani menanggung apapun resikonya asal bisa bersama Raya.
Reiner menatap foto Yana yang masih ia pajang di atas nakas "Kenapa dulu mamah meninggalkan Reiner dengan papah?" lirihnya.
.
__ADS_1
.
.