
Setelah mengembalikan cincin secara sepihak Raya sulit sekali di temui hal itu membuat Reiner semakin geram saja hingga akhirnya.
"Tinggalkan tempat ini!" teriak Reiner sejadinya.
Satu kelas tersentak kaget mereka bertanya tanya kenapa tiba-tiba Reiner berteriak, kebetulan Yuda masih belum masuk ke dalam kelas jadi kepada siapa Reiner berteriak, namun Rafa yang tau maksud dari sahabatnya segera mengusir satu persatu teman temannya kecuali Raya.
Melihat teman temannya pergi Raya juga beranjak dari tempat duduknya namun dengan posesif Reiner menariknya.
"Kamu di sini!"
"Tutup pintu!" perintah Reiner yang langsung di jalankan oleh Rafa.
"Sebenarnya kamu mau apa Rei, aku takut" Lirih Raya dengan suara seraknya.
"Duduk lah, aku mau bicara" Reiner melihat ketakutan di mata kekasihnya ia menekuk lutut bersimpuh tepat di hadapan gadis cantik nya, ia mulai meraih jemari lentik yang sedikit gemetar disematkannya kembali cincin pertunangan mereka.
"Aku mau kamu pakai cincin ini lagi, aku tidak mau di putus secara sepihak begini, aku tidak terima" Reiner mencium singkat jemari yang sudah tersemat tanda kepemilikannya sontak Raya membulatkan matanya ada binar kesedihan di sana.
Senyuman Yuda akhir akhir ini sering menggetarkan hati nya, di tambah lagi Reiner masih terlihat menyayangi cinta pertamanya.
"Kapan kamu terima dengan penolakan Rei, bahkan saat kamu tidak menyukainya pun kamu harus mendapatkannya" batinnya.
Raya hanya bisa diam tanpa melawan menurutnya apa pun yang terjadi Reiner akan tetap memaksakan kehendaknya.
"Jangan menangis, mulai sekarang aku hanya ingin melihat senyuman mu saja, jaga senyum manis mu itu" ucap Reiner saat melihat mata tunangannya berkaca-kaca.
Mendengar ucapan Reiner Raya mulai merasa canggung ia menundukkan wajahnya namun gerakan nya terkunci saat Reiner menautkan dahi mereka dari jarak yang sedekat itu tatapan Reiner mengarah ke bibir mungil kekasihnya hingga terkesan memejamkan mata ingin sekali menyatukan kedua benda yang bisa melambungkan angannya.
Namun kali ini Reiner tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu, setelah kejadian di ruang kosong beberapa hari yang lalu, Raya mengembalikan cincin, itu yang terlintas di pikirannya.
"Tahan Rei, tahan" batin Reiner menahan gejolak.
"Aku akan pakai ini lagi, sekarang suruh yang lain masuk sebelum buk Siska melihat kita" Raya memalingkan wajah sebelum kekasihnya lepas kendali.
__ADS_1
Click!! suara pintu yang terbuka membuyarkan angan mereka, Reiner yang masih bersimpuh di bawah bangku Raya ia memiringkan kepala melihat ke arah pintu ternyata di sana sudah ada Yuda berdiri tegap dengan tatapan sinis.
Reiner beranjak dari posisi nya ia membersihkan celana di bagian lutut yang sedikit berdebu lalu kembali duduk di bangku nya, satu persatu siswa lain pun memasuki ruangan sambil bergosip.
"Reiner ini semau maunya sendiri, dasar" bisik siswi A
"Iya kasian itu Raya ketakutan amit amit punya pacar begitu" sahut siswi B dan masih banyak lagi hardikan lainya.
Ria dan Mei yang baru saja tiba terlihat kebingungan melihat teman temannya berbisik-bisik.
"Mereka kenapa?" tanya Mei, Ria hanya menaikkan kedua bahunya acuh.
Tak terasa bel menghamburkan para siswa hari ini Yuda berniat mengajak Raya pulang bersama kini Yuda berdiri di samping meja Raya melihat Raya membereskan buku-buku.
"Raya, kita pulang bareng gimana?"
"Emmh gimana ya, gue" ucap Raya ragu ia takut membuat Reiner murka dan menimbulkan pertengkaran diantara mereka lagi.
"Raya pulang bareng gue, Lo pergi aja sana" ketus Reiner yang masih membereskan tas nya.
Reiner beranjak dari duduknya ia menarik pergelangan tangan Raya yang baru saja selesai membereskan buku-buku.
"kita pulang sekarang!" acuhnya dengan sedikit terpaksa Raya mengikuti tunangannya.
"Kenapa si llo gak bisa sedikit sopan sama Yuda Rei " batin Raya di sela langkanya.
"Arogan" Yuda membeku di tempatnya menatap punggung sepasang kekasih itu.
****************
Mereka berjalan bergandengan layaknya pasangan romantis lainnya, saat melewati toilet Raya menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"Emmh Rei, gue mau ke toilet " Raya menarik narik baju tunangannya.
__ADS_1
"Iya, aku tunggu di sini" Reiner tersenyum melihat wajah imut kekasihnya saat merengek.
Raya pun berjalan ke toilet lalu masuk ke salah satu bilik yang berjajar namun saat mulai menuntaskan urusan nya di dalam sana tiba-tiba Raya mendengar ucapan para bad girls yang baru saja keluar dari bilik lainnya.
"Eh, gimana kalo kita lanjutkan misi kita yang belum sempat terlaksana" ucap siswi A menggebu.
"Misi yang mana?" sahut siswi B.
"Itu si Shela, tadi pagi kita gagal ngasih pelajaran ke dia kan " terang siswi A.
"Ok deh besok kita bawa dia ke belakang gudang gimana, Reiner gak mungkin bisa ngeliat, iya gak sih" usul siswi C
"Ok sip, tapi sekarang kita keluar yuk nongkrong dulu di cafe biasa" ajak siswi B yang tiba-tiba menghilang begitu saja suaranya karena sudah keluar dari sana.
Raya yang baru saja selesai ia langsung keluar dari bilik dan mulai mencuci tangannya ke wastafel, di hadapan cermin Raya setengah melamun mengingat percakapan sekelompok bad girls itu.
"Kenapa mereka jahat sekali, aku jadi kasihan sama Shela, apa aku bilang ke Reiner saja ya, aku memang cemburu tapi aku tidak boleh berbuat jahat juga padanya " gumamnya.
Raya keluar dari toilet dan segera menghampiri Reiner dengan raut wajah yang sedikit ragu, ia ingin melaporkan yang baru saja dia dengar di toilet, tapi Reiner yang sedari tadi menunggu cepat cepat menggandeng tangan Raya.
"Sudah selesai kan, kita pulang naik motor saja" ajak Reiner.
Menurut Reiner jika pulang dengan pak Salim tidak akan leluasa bermesraan dengan Raya tapi jika memakai motor setidaknya Raya bisa memeluk Reiner saat di bonceng.
Mereka segera menuju motor gede berwarna hitam kesayangan Reiner tapi saat melihatnya Raya teringat ketika Shela memeluk Reiner erat-erat di atas motor hitam itu, Raya berpikir dia akan memakai helm yang setiap hari Shela pakai, jantung Raya berdetak kencang hingga membuat jam deteksi jantung pemberian Hendrawan berbunyi.
Raya menghempaskan tangan Reiner "Aku tidak mau, aku pulang dengan pak Salim saja, aku tidak biasa naik motor " ketus Raya meski sebenarnya dia ingin sekali merasakan sensasi angin yang menerpa wajah seperti yang selama ini dia tonton dalam adegan film romantis.
"Kenapa? aku pelan-pelan bawa nya, aku gak kan ngebut tenang aja " Reiner tersenyum karena dia pikir Raya hanya ketakutan saja.
"Aku tidak mau memakai helm Shela aku juga tidak mau duduk di tempatnya, aku pulang dengan pak Salim saja " ketusnya berjalan cepat ke arah mobil pak Salim.
"Raya, " teriak Reiner berharap bisa membuat Raya kembali tapi Raya tetap masuk ke dalam mobil "kita pulang pak" titah Raya kepada sopirnya.
__ADS_1
"Mau naik motor saja pilih pilih sekali anak manja itu" gumam Reiner yang masih mematung di tempatnya.