KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 64. Syok kardiogenik


__ADS_3

"Gimana dok? apa perlu tindakan lebih lanjut?" tanya petugas medis di sampingnya.


"Kita perlu melakukan tes darah,Foto Rontgen, Elektrokardiografi, Endoskopi, CT scan, lalu segera lakukan MRI secepatnya" instruksi Bagas panik sambil mengambil satu persatu peralatan yang dibutuhkan.


"Baik Dok segera" setelah melakukan segala tes yang di intrusi kan oleh Bagas tak lama kemudian Bagas sudah bisa mengambil kesimpulan dari penyebab yang di alami pasiennya.


Meskipun masih dalam program spesialis Bagas sudah menguasai ilmu-ilmu nya.


"Setelah ini suntikan dopamine di botol infus nya!" intrusi Bagas kemudian. Yang lalu di jalankan oleh para petugas medis lainnya.


Bagas memeriksa monitor irama jantung Raya yang sudah sedikit membaik lalu keluar dari ruangan CICU untuk menginformasikan keadaan pasienya tiba di luar di sambut panik oleh suami dari pasiennya.


Reiner yang sudah sangat lama menunggu kabar dari Bagas karena proses pemeriksaan yang membutuhkan waktu lumayan dia segera berlari menghampiri dokter tampan itu "Bagaimana keadaan Raya?" tanyanya gelisah.


"Raya mengalami syok kardiogenik, karena itulah denyut jantungnya melemah" jawab Bagas menerangkan "Apa dia mengeluh nyeri dada?" lanjutnya memastikan.


"Tidak, dia tidak mengatakan apa-apa padaku" gusar Reiner kemudian.


"Aliran darahnya terganggu membuat pasokan nutrisi dan oksigen yang berperan pada sel dan organ tubuh agar berfungsi secara normal menjadi terhambat" terang Bagas kepadanya.


"Untungnya dia segera di bawa ke sini, syok seperti ini harus segera di tangani jika tidak...." lanjut Bagas yang lalu berhenti. Bagas sendiri tidak ingin itu terjadi pada wanita tercintanya.


"Jika tidak apa?!!" tanya Reiner ketus tangannya mulai menarik jas dokter itu.


"Raya bisa mengalami gangguan komplikasi lainnya atau bahkan kematian" lirih Bagas menurunkan pandangan nya.


TIK bulir penyesalan yang sedari tadi di tahan menetes dari mata Reiner cengkeraman tangannya mulai melemah turun dengan sendiri nya bagaimana jika dia membunuh istri tercintanya dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.


"Apa akan selamanya seperti ini? apa dia tidak akan sembuh seperti layaknya wanita lain?" tanyanya lirih di pikirannya sedikit frustasi.


"Kalo boleh tau apa yang membuat dia syok seperti ini?" tanya balik Bagas.


"Aku... aku melakukan sesuatu padanya, aku..." jawabnya ragu namun sepertinya laki-laki yang menanyakannya sudah bisa menebak, hal seperti ini sering terjadi pada pasien-pasien nya.


"Kamu tenang saja, dia masih bisa melakukannya lagi, hanya saja harus lebih hati-hati.." terang Bagas kepada suami pasiennya "Mungkin syok itu karena baru kali pertama nya, tubuhnya lebih cepat bereaksi terhadap hal hal baru" lanjutnya kemudian.


Sebagai seorang dokter Bagas terbiasa dengan profesional kerjanya meski sebenarnya hatinya panas mendengar wanita tercintanya di sentuh laki-laki lain walaupun laki-laki itu suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukan hal itu jika itu bisa membuatnya tetap bersama ku" lirih Reiner kemudian.


Bagas bisa melihat ketulusan hati saingannya, ternyata tidak sia-sia pengorbanan nya.


"Jam kerja ku sudah habis, mungkin setelah ini dokter lain yang menangani Raya, aku pergi dulu" pamit Bagas menepuk lengan laki-laki di hadapannya sebelum kemudian pergi dari sana.


Sebenarnya Bagas masih ingin menemani Raya, namun sekarang sudah ada seseorang yang lebih pantas melakukan hal itu.


Reiner sengaja tidak memberitahu keluarga nya karena tidak ingin membuat para orang tua posesif mereka khawatir dengan sabarnya Reiner menjaga istrinya sendiri bergantian dengan ajudan tangkas nya.


...****************...


Malam harinya Raya sudah mulai membaik karena syok nya segera di tangani oleh dokter-dokter hebat dan kali ini giliran shift Bagas yang memantau keadaannya, dokter tampan itu duduk di bangku mendampingi pasien yang tidak lain adalah sahabatnya.


Wajah damainya selalu bisa menghipnotis wanita di hadapannya hingga kini dia melihat linangan air mata di pipi sahabatnya yang di selingi dengan Isak tangis.


"Kamu kenapa hm? apa aku salah melepaskan mu bersamanya?" tanyanya mata sendunya masih terus menyertai laki-laki berjas putih itu.


"Kenapa aku harus menikah? sedang aku hanya merepotkan suamiku saja" jawab Raya menyeka air matanya yang tiada hentinya.


"Merepotkan? sepertinya suamimu tidak merasa demikian, dia hanya khawatir saja dengan kondisi mu, itu bagus berarti dia mencintai mu dengan tulus" tuturnya dengan tatapan yang naik turun.


"Kamu tahu tidak? ada suami yang membiarkan istrinya selingkuh asalkan tidak menceraikannya, ada juga istri yang rela di pukuli suaminya hanya karena rasa cintanya, bahkan ada yang rela mati jika tidak bersama dengan orang yang di cintai nya" terangnya menjelaskan


"Dengan terus bersamanya, itu sudah menjadi keuntungan baginya, kamu tidak perlu memikirkan hal lain yang membuatnya semakin sakit" imbuhnya kemudian.


"Aku bisa berbicara seperti ini karena aku juga merasakannya, hanya dengan melihat mu bahagia itu sudah menjadi keuntungan bagiku" timpal nya lagi, sementara wanita di hadapannya mulai menimbang nimbang perkataannya.


"Sudahlah, kamu istirahat sekarang, panggil aku kalau perlu sesuatu, aku masih banyak pasien yang perlu di kunjungi" lanjutnya pamit sambil memeriksa jam di tangannya.


Bagas melangkah keluar setelah mendapat anggukan kepala Raya tiba di luar ruangan di tarik oleh seseorang yang sedari tadi mendengarkan pembicaraannya dengan sahabatnya.


Brugh... kini tubuhnya terpelanting ke dinding pandangannya lalu mengarah ke laki-laki yang menatapnya sinis.


"Kamu mencoba terlihat baik di hadapan istriku hah?" teriak laki-laki itu kepadanya.


"Apa maksudmu?" tanyanya ketus.

__ADS_1


"Jangan coba-coba memanipulasi istriku atau aku bisa mencabut gelar doktor mu itu" ancam Reiner menunjukkan kekuasaan nya.


"Kamu tidak pernah berubah, sifat arogan mu masih terus membuat mu semena-mena" jawab sang dokter dengan ujung bibir yang menyeringai.


"Seperti kamu yang cemburu melihat ku dengan nya, itu juga yang aku rasakan saat dia bersama mu" lanjutnya berkata.


"Seperti panas hati yang kamu rasakan saat melihatnya nyaman dengan ku, itu juga yang aku rasakan saat dia nyaman dengan mu" imbuhnya dengan mata yang mulai berapi-api.


"Kamu pikir mudah menjadi aku hah?" teriaknya mendaratkan pukulan yang hanya membuat si penerima pukulan sedikit melangkah mundur.


"Aku yang menyembuhkan lukanya saat kau meninggalkan nya, setelah beberapa tahun ini aku menjaganya lalu tiba-tiba kamu hadir merebutnya lagi, aku yang berjuang tapi kamu yang bahagia, aku yang tersiksa lalu kamu yang menikahinya!! kamu pikir itu mudah bagiku hah??!!" timpalnya sedang laki-laki di hadapannya hanya diam mendengarkan keluhannya.


"Setidaknya berikan aku kesempatan untuk merawatnya, itu sudah cukup bagiku" pintanya yang lalu melangkah pergi tanpa mendengar jawaban apapun lagi dari laki-laki pencemburu itu.


Sedang di tempatnya Reiner masih mematung hingga seseorang memanggil nya dari belakang "Brother..." seru Gabriel membuatnya menoleh ringan.


Air mineral di tangan Gabriel membuatnya ingin memadamkan api yang membakar hatinya saat ini, diraihnya botol kecil dari tangan ajudannya lalu menenggaknya.


Namun di hatinya masih terasa panas ia lalu menyiramkan air ke wajahnya berharap bisa menyejukkan hatinya Byuuurr namun tidak juga meredam kecemburuannya.


Ingin berteriak tapi di dalam sana ada seseorang yang akan kaget mendengar teriakkan nya.


Gabriel menautkan alisnya melihat perilaku aneh bosnya "Brother... " sapa nya sekali lagi namun Reiner masih terus menyembunyikan suaranya.


Bangku menjadi penopang tubuhnya yang semakin lemah karena panas di hatinya Brugh kini tatapan nya mulai kosong.



.


.


.


BERSAMBUNG.. LIKE NYA YA...😚😘


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2