KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 13. Ruang kosong


__ADS_3

Pagi harinya mobil Raya baru saja sampai di halaman parkir sekolah seperti biasanya pak Salim selalu menurunkan anak majikannya di sana, sebenarnya mobil lain yang mengantar hanya sampai depan pintu gerbang saja tapi tidak dengan Raya dia memang murid spesial.


"Non, saya langsung pulang ya, seperti nya hari ini turun hujan lagi, seperti biasa nanti saya jemput ke kelas ya." tutur pak Salim.


"Iya pak, makasih, Raya masuk ya." ucap nya pamit.


Raya mulai turun dari mobil menghentakkan pintu dan berjalan menuju ruang kelas yang masih lumayan jauh, ia melihat ke atas menatap langit yang sedikit gelap.


"Sepertinya memang mau hujan," ucapnya.


"Raya,!" seru suara dari belakang menghentikan langkahnya secara natural ia menolehkan wajahnya ke sumber suara.


"Ada apa?" raut wajahnya berubah saat melihat Shela yang berjalan mendekati nya.


"Gue mau ngomong sama llo." ucap Shela yang kini berada tepat di hadapannya.


"Iya ngomong aja." sautnya cemberut.


Shela mengambil ponsel miliknya lalu mencolek colekan jemari nya di atas layar 6 inci yang lumayan mahal tentu saja kekasihnya yang membelikannya.


Shela masih berkutat dengan ponsel mahalnya sedang Raya masih menatap sabar gerak tubuh gadis yang menjadi saingannya itu.


"Gue mau kasih lLo tahu sesuatu." Shela mengangkat ponselnya ke telinganya, dia memutarkan rekaman suara "Rei, sebenarnya llo suka kan sama Raya? "Gue cuma kasihan aja sama dia, puas llo!" begitu bunyi dari rekamannya.


Raya mengedip ngedipkan matanya setelah mendengar percakapan tunangannya yang sengaja di rekam oleh Shela.


"Terus, llo mau apa, gue juga tau kok, gak usah llo perjelas, kenapa, llo takut Reiner beneran suka sama gue, sekarang llo pake cara ini, karena llo gak yakin dengan perasaan cowok llo." ucap Raya berusaha tidak terlihat lemah.


"Gue cuma mau llo sadar dengan posisi llo sekarang, di hidup Reiner llo cuma benalu buat dia, dia masih bersama gue karena rasa sayangnya, tapi ke llo cuma sebatas kasihan aja." terang Shela dengan nada dinginnya.


"Makasih perhatian llo, gue masuk kelas." lirihnya karena sudah tidak tahan dengan ejekan Shela, di hatinya sekarang seperti ada besi panas yang menancap, selama ini Raya tidak keberatan jika di acuhkan tapi terlalu sakit jika di kasihani.


"Aku bukan pengemis, kenapa kamu harus kasihan padaku? bahkan orang tuaku lebih kaya dari mu" gerutu jujurnya.


Raya melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas yang masih lumayan jauh karena sekolah mereka memang cukup luas namun tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan menyeretnya ke salah satu ruang kosong.


"Reiner!" teriaknya membulatkan matanya.


Reiner masih menggenggam lengan Raya saat menutup pintu ruangan itu, ruangan yang cukup sepi dan hening sekali hampir tidak ada satupun kursi atau meja di sana.


"Lo mau apa Rei?" Raya mulai mencurigai tunangannya. Hatinya masih kesal dengan rekaman suara yang ia dengar beberapa saat yang lalu.


Setelah menutup pintu Reiner melepaskan genggamannya lalu berdiri di hadapan gadis cantik yang di kenal sebagai tunangannya. Bola matanya bergerak-gerak ke kanan dan kiri menyisir seluruh keindahan gadis cantik nya.


"llo mau apa hah?" tanya Raya lagi dengan hati yang masih terasa panas.


"llo denger, gue mau jelasin yang terjadi kemarin" ucap nya.


"Yang mana?"


"Gue gak pernah nyium Shela, llo salah paham." jelasnya dengan entengnya.

__ADS_1


"Sejak kapan llo jelasin ke gue, sejak kapan llo nganggep gue? gue udah terbiasa lagi, gue gak akan ngadu ke Om Hendrawan tenang aja." saut tunangannya tersenyum sinis.


Tanpa pikir panjang Raya melangkahkan kakinya menjauh dari tunangannya namun langkahnya terkunci saat tubuh tegap laki-laki tampan mengukung nya kedinding.


Membuat nya membelalakkan matanya sejujurnya Raya tidak percaya dengan apa yang Reiner lakukan padanya.


"Lepasin gue," sambil memukul-mukul kecil dada bidang tunangannya berharap segera di lepaskan namun sayangnya justru membuat Reiner semakin mempererat pelukannya jemari Reiner menguasai sela-sela pangkal rambutnya, Reiner mensejajarkan bibir mereka dengan mendongakkan wajahnya.


Hawa dingin di ruangan itu membuat Reiner semakin tidak terkendali aroma parfum pagi harinya melambungkan angan angan pemuda tampan di hadapannya.


"Lo mau apa Rei" Raya memejamkan matanya karena wajah tunangannya sudah semakin dekat.


"Gue mau nunjukin perbedaan dicium sama mencium" ucap tunangannya yang lalu menjatuhkan bibir keritingnya.


Namun karena terlalu fokus dengan bibir mungil kekasihnya, Reiner tidak sengaja meregangkan pelukannya belum sempat menempel Raya sudah berhasil mendorong dan menampar pipi tunangannya Plak.


"Apa ini juga karena kasihan!!!" teriaknya tatapan mata Raya di penuh dengan kebencian. Raya sudah sangat geram dengan kelakuan tunangannya yang seenaknya.


"Maksud kamu apa?" tanya pemuda tampan itu seraya memegangi pipi dan menatap wajah kekasihnya penuh tanda tanya.


Raya segera mengambil kesempatan untuk meninggalkan tempat sepi itu ia membuka pintu dengan arogan sambil melirik pemuda tampan yang masih diam mematung di tempatnya.


"Lo pikir gue selemah itu Rei," gumamnya.


Sedang di tempatnya Reiner masih menatap penuh tanya menimbang nimbang perkataan gadis cantik nya.


"Maksud nya kasihan apa? Gue cuma mau nunjukin, perasaan gue ke llo" lirihnya.


...****************...


"Raya!" panggilnya. Membuat si gadis menoleh dan menghentikan langkahnya "Yuda," sapa Raya.


Dengan langkah kaki yang setengah berlari Yuda menghampiri sang gadis pujaan hatinya tak lupa menyisipkan senyum manis nya.


"Lo ngapain dari sana, llo gak takut ada demit, katanya di sini angker loh." ucapnya menggoda.


"Tenang aja demit nya gak bakal bisa macem-macem ke gue, kita ke kelas yuk." sahut Raya.


"Iya,!".


Karena masih penasaran Yuda menoleh sekali lagi ke arah ruang kosong yang baru saja di singgahi Raya, dia melihat Reiner juga dari sana dengan raut wajah memelas.


"Hekkmm... Gue yakin llo ditolak." batinnya tersenyum sinis.


"Emmh Ya, kunjungan wisata nanti, llo ikut kan?" tanyanya sambil berjalan mengiringi langkah kaki Raya.


"Lo mau nya gue ikut apa enggak?" tanya balik Raya.


"Ikut dong, gue belum banyak temen, gue takut cengok di sana" harapnya.


"Gue pamit dulu ke dokter Hendra, dia yang lebih tau kondisi fisik gue, soalnya kan jauh juga tempat nya." terang Raya.

__ADS_1


"Iya, " sautnya yang penuh harap.


Di tempat lain Hans tengah asyik menatap jendela lebar yang menyuguhkan pemandangan kota di sekitar kantor nya sebenarnya Hans sedang memikirkan bagaimana caranya menyampaikan keinginan putrinya kepada Hendrawan.


"Hendrawan sangat menyayangi Raya, sepertinya sulit membicarakan hal ini padanya." gumamnya.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya "Masuk," titahnya.


Ternyata batin mereka saling bertaut, Hendrawan datang sendiri menemuinya.


Di tangan Hendrawan memegang kotak berisi jam tangan remaja yang terlihat sangat mahal.


"Hans, aku kemarin belikan ini buat Raya, ini bagus untuk mendeteksi detak jantung nya, mungkin ini bisa sedikit membantu." ucap calon besannya.


Hans terdiam sejenak, tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini satu sisi dia ingin menuruti keinginan putrinya di sisi lain Hans tahu ketulusan hati Hendrawan.


"Iya, nanti aku sampaikan ke Raya, gimana kalo kita ngopi?" tawarnya mencoba mencairkan suasana sebelum kemudian membicarakan hal lainnya.


"Tentu saja" saut Hendrawan.


...****************...


Sementara di dalam kelas sudah memasuki jam istirahat pertama dengan selengean Rafa duduk di atas meja Raya mengayunkan kakinya namun matanya menatap gadis cantik di bawahnya.


"Neng Aya cantik, kunjungan wisata ikut dong." ucap Rafa dengan menaik turunkan alisnya.


"Apa sih kalian, kenapa pertanyaan kalian sama dari kemarin, emang kenapa kalo gue gak ikut?" saut Raya.


"Gak ada Lo gak ada yang bisa buat nyegerin pemandangan ya." jawab Rafa nyengir hingga memperlihatkan deretan gigi gingsul nya.


Mei yang mendengar itu menimpuk kepala Rafa dengan pulpen di tangannya.


"Aakk!" seru Rafa mengelus kepalanya.


"Sembarangan llo, emang cuma Raya aja yang cantik, gue juga cantik." ketus Mei dengan suara yang sangat keras.


"Ya ampun Mei suara llo kayak petasan spirtus llo cewek apa bukan si!" teriak Rafa.


Membuat Reiner tersenyum melihat tingkah kedua teman sekelasnya. Rafa yang tidak sengaja melihat senyumannya dengan sigapnya menegurnya.


"Lo barusan senyum Rei?" tanyanya.


"Hah, apaan!" saut Reiner yang tiba-tiba mengembalikan wajah angkuhnya.


Raya masih kesal dengan kelakuan Reiner pagi tadi, dia enggan menoleh ke arahnya.


Tak lama dari itu Bagas menghampiri mereka yang masih asyik bercanda tawa di dalam kelas nya. Bagas memukul punggung Rafa dengan buku tebal di tangannya.


"Minggir minggir, pamali duduk di meja cewek cantik, llo mau bisulan?" usir nya.


Membuat Rafa melompat dan membalikkan badannya ke arahnya.

__ADS_1


"Ngapain Lo ke sini, kelas ini tuh tempat para siswa unggulan, menyingkir lah dari sini wahai makhluk hina." ejek Rafa berkecak pinggang.


"Sa AE cilok"...


__ADS_2