KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 37. Posesif


__ADS_3

Pagi harinya tanpa alarm Leta menggeliat ia mulai membuka matanya sedikit malas, mata sembab yang terasa berat tidak mengurungkan niatnya beranjak dari sana.


Namun saat sudah setengah sadar ia merasa separuh tubuhnya tertindih, semalaman Hendrawan mendekap erat istrinya karena rasa bersalahnya.


Ingatan Leta tentang kejadian semalam masih melekat sakit hatinya pun masih terasa menyengat.


Sontak Leta menghempaskan tubuh suaminya dan seketika itu juga Hendrawan tersentak kaget.


Dengan pandangan yang masih samar-samar Hendrawan memegangi dahi yang di kerut kan.


Dilihatnya Leta mengambil kunci mobil dari dalam laci dan berjalan arogan "Mah" ucap nya yang sudah mulai curiga.


Namun Leta tak memperdulikan suaminya dengan hanya memakai dress tipis yang di balut kimono ia masih terus melanjutkan langkah menuju pintu kamar nya.


Hendrawan yang tahu maksud dari istrinya cepat cepat ia beranjak dari tempatnya.


Hendrawan menghalangi jalan istrinya dengan berdiri di ambang pintu yang masih tertutup ia meraih tangan istrinya dalam keadaan setengah sadar beberapa kali mengusap matanya berharap bisa cepat terbangun dari ngantuk nya.


"Mah, pagi pagi begini mau kemana?" tanya nya namun tak mendapat balasan.


"Mah" Hendrawan menggenggam tangan halus istrinya sesekali ia memejamkan matanya kuat kuat masih berusaha menyadarkan dirinya.


"Aku mau pulang " ujar Leta memalingkan wajahnya.


"Mau pulang kemana, ini rumah mamah" sahut Hendrawan.


"Kamu nikahi lagi saja mantan istrimu aku tidak akan menghalangi perasaan mu" imbuh nya.


Hendrawan tersentak dengan ucapan Leta tidak ada sedikitpun niat untuk memulangkan istri yang selama ini setia kepada nya.


"Mamah sadar dengan kata kata mu ini, papah tidak akan membiarkan mamah pergi demi menikahi wanita lain" Hendrawan sedikit berteriak saat mengucap namun masih menyerukan panggilan sayangnya.


"Ini tidak adil, aku hanya mencintaimu saja sedang di hatimu masih ada mantan istrimu, aku bisa melihat tatapan hangat mu padanya" balas Leta menatap cemburu.


Hendrawan menarik lengan Leta Hug!!! ia menempatkan tubuh kecil istrinya ke dada bidangnya berharap bisa meredam kemarahan istrinya.


"Tolong jangan seperti ini, papah mencintai mamah, papah minta maaf sudah menyakiti mamah" ucap nya menyesal.


Seumur pernikahan mereka mungkin baru kali ini Hendrawan menampakkan wajah bersalah nya.


Meski demikian Hendrawan tetap tidak menyangkal tuduhan istrinya karena memang begitulah adanya, Hendrawan masih memiliki perasaan terhadap mantan istrinya.


"Kamu tidak mencintai ku, kamu hanya sudah terbiasa hidup dengan ku" batin Leta sok tahu.


Selama ini Hendrawan tidak pernah mengkhianati istrinya sikap dinginnya bukan karena tidak mencintainya namun memang begitulah original nya.


"Aku rindu orang tuaku, aku mau ke sana hari ini" pinta Leta.

__ADS_1


"Baiklah papah antar, setidaknya gantilah pakaian mamah, orang orang bisa melihat tubuh indah ini" posesif Hendrawan.


Sebenarnya Leta masih belum puas dengan permintaan maaf suaminya seharusnya Hendrawan menyangkal perasaannya pada Yana setidaknya itu bisa membuat nya merasa lebih baik.


Namun kali ini Leta masih bisa memaklumi nya, lagi pula Leta juga tidak benar benar mampu jika harus meninggalkan rumah yang selama ini menaunginya juga suami yang menjadi candu baginya.


...****************...


Tak terasa sudah satu Minggu kini Raya sudah mulai bisa melakukan aktivitas kembali, tiba saatnya Raya mempersiapkan kunjungan wisata nya.


Sebenarnya Hans tidak mengizinkannya untuk mengikuti kegiatan itu namun dokter Hendra sudah memberikan lampu hijau.


Tentu saja Raya hanya berpedoman dengan pendapat dari dokter nya saja apa lagi itu bukan kunjungan wisata ekstrim mereka hanya pergi ke pulau untuk mengistirahatkan otak sebelum kemudian menghadapi ujian ujian menuju akhir semester.


Kini Raya berada di pusat perbelanjaan terbesar di kotanya bersama Reiner dan Andi sopir barunya.


Raya baru saja membeli beberapa helai baju, celana, juga sepatu namun masih ada yang belum terbeli.


"Rei, kita turun aja kebawah aku mau cari sesuatu" pinta Raya konsisten dengan nada manjanya.


"Iya kita naik lift aja" usul Reiner.


Mereka berjalan menuju lift, Reiner menekan tombol ke bawah tak lama dari itu pintu lift terbuka mereka pun segera memasuki nya berpapasan dengan ibu ibu yang mendorong trolley.


Raya lebih dulu memasuki lift sedang Reiner masih mengawasi dari belakang namun tiba-tiba,


"Aaaaakhh" reflek Reiner menangkap tubuh gadis cantik nya seketika jantung nya berdebar kencang saat mata sayup nya tidak sengaja menyorot ke bagian depan tubuh kekasihnya.


"Kenapa non?" tanya nya.


"Sakit banget" keluh Raya ternyata di lantai sudah ada minyak yang tercecer mungkin dari trolley ibu ibu tadi begitu pikir mereka.


"Apa nya" panik Reiner yang masih menahan tubuh Raya sesekali ia tidak sengaja menghirup aroma damai dari leher jenjang yang kini berada tepat di hidung bangir nya.


"Kaki ku hiks hiks" keluh Raya.


"Luruskan kaki nya, saya coba urut non" sigap Andi yang kini sudah berlutut di depan anak majikannya.


"llo beneran bisa bang?" tanya Reiner masih menatap panik.


"Bisa, makanya kita coba dulu" usul Andi.


Dengan terpaksa Reiner pun membiarkan Andi menyentuh kaki mulus kekasihnya beberapa orang yang kebetulan berada di dalam sana juga melihatnya.


"Awas aja modus llo" batin Reiner.


"Aaaaakhh aww, sakit bang hiks hiks"

__ADS_1


Suara keluh Raya menggelitik telinga beberapa orang di dalam lift, Reiner melihat ke sekeliling beberapa pria menatap mesum kekasihnya.


"Aaaakk" seketika Reiner membungkam mulut kekasihnya.


"Emmmmm" Raya memberontak, namun Reiner tetap mempertahankan posisinya tidak seharusnya suara itu di nikmati banyak pria begitu pikirnya.


"Sudah selesai non, seharusnya sudah tidak sakit lagi" ucap Andi menahan tawa melihat tingkah posesif Reiner.


Mendengar ucapan Andi Reiner melepaskan tangannya dari mulut kekasihnya.


"Jahat banget kamu Rei, aku sakit malah kamu bekap begitu" lirih nya.


Ting lift terbuka beberapa orang mulai keluar berlalu dari sana.


"Desahan kamu tidak wajar" posesif Reiner.


"Bukannya normal nya orang kesakitan itu teriak" polos Raya.


"Terserah" ucap Reiner memelankan suaranya "Tuhan, kenapa harus sepolos itu, anak manja ini" batinnya.


Di sudut tempat itu masih ada pria dewasa yang menahan tawa sedari tadi, Andi tahu betul maksud dari pemuda tampan di hadapannya.


Sejujurnya Ia pun merasa kan getaran saat keluh serak anak majikannya menggema di ruangan kecil itu.


"Gimana non masih sakit" tanya Andi memastikan, ia mulai beranjak dari posisinya.


"Iya udah gak sakit, bang Andi bisa di andalkan ternyata" tawa Raya.


Mendengar tawa Raya, Andi tersenyum namun Reiner memperlihatkan muka masam nya.


Tiba di lantai bawah Reiner masih menggandeng tangan kekasihnya posesif, di sepanjang jalan nya beberapa pemuda terpesona dengan kecantikan gadis nya raut wajah Reiner seakan menyesal sudah membawa Raya pergi jalan.


"Mau cari apa lagi?" tanya Reiner memastikan.


"Aku mau beli tas, tapi aku udah capek, dari tadi jalan terus" ucap Raya dengan nada manjanya.


"Kamu tunggu di sini, aku ke sana dulu"


Reiner pergi entah kemana namun beberapa saat kemudian ia kembali menggunakan skuter listrik yang di sewakan di lantai itu seketika Raya tersenyum melihat nya.



"Pake ini aja, mengurangi capek" usul Reiner.


"Makasih" nyengir Raya.


Sedang Andi masih berdiri tegap mengikuti sepasang kekasih itu sesekali ia menahan tawa melihat tingkah kedua anak rupawan itu.

__ADS_1


Raya mulai berkeliling lagi dengan skuter listrik nya sedang kedua pria yang bersama nya hanya mengiringinya dengan berjalan biasa mereka pun memasuki gerai tas terkenal melanjutkan belanjanya.



__ADS_2