
Yuda mengutak-atik ponselnya karena suara dari earphone nya sudah tidak terdengar lagi. Sampai saat nya Yuda mendengar lagi suara gerak tubuh pemakai liontin itu hanya saja sudah tidak bercakap-cakap.
"Sepertinya Raya di tinggal sendiri, sudah tidak ada yang mengajaknya berbicara" ucap nya.
"Raya,, semoga kamu baik-baik saja..!" harap Bagas.
Yuda masih terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan kencang sedang Bagas sedikit tidak tenang dengan posisinya karena laju mobil yang menurutnya terlalu cepat sementara posisi Rafa dan Andi masih di belakang namun mereka mendekat ke sandaran jok depan nya.
Di sela perjalanan mendadak Bagas mendapat ide saat melihat plang apotek yang masih beberapa meter lagi dari mobilnya, ia pun menepuk-nepuk lengan lelaki di sebelah nya untuk menyampaikan maksud nya.
"Yud... kita menepi dulu di apotik depan, ada yang mau aku beli..." pinta Bagas. Tanpa bertanya apapun lagi Yuda menurut untuk segera menepikan mobilnya.
"Cek..!" decak Rafa.
"Mau apa lagi kamu gas..? dalam keadaan begini masih bisa inget apotek..!" protesnya dengan wajah heran nya.
"Sudah diam dan tunggu saja..!!" Bagas berlari ke apotek ia membeli beberapa suntikan dan cairan-cairan yang di kemas dalam botol-botol kecil terlihat ia juga membeli beberapa masker.
Setelah mendapatkan semua yang di perlukan ia pun segera berlari kembali menaiki mobil Brugh "Jalan...!" ucapnya.
Rafa tersenyum mencela saat melihat beberapa perlengkapan kedokteran yang terlalu asing baginya.
"Jangan bilang llo mau mengobati para penjahat yang gue hajar gas...!" ucapnya.
"Diam saja, ini akan membantu..!" sahut Bagas sembari memindah kan cairan dari botol ke beberapa spuit (alat suntik) yang baru saja di beli nya.
"Buat apa..?" Rafa masih belum paham. Secara Rafa hanya paham merayu wanita saja.
"Ini anastesi bius total, hanya dengan sekali tusuk orang itu akan pingsan.!"
Mendengar rencana Bagas ke tiga lelaki di sebelah nya baru mengingat kalo mereka tidak membawa senjata apapun sedang penjahatnya sudah pasti bersenjata bukannya kemarin mereka melihatnya sendiri tapi malah tidak terpikirkan.
"Gimana kalo kita cari pisau dulu..?" usul Andi.
Plak Andi meringis mendapati tepukan keras di lengan kekarnya "Kamu gimana si bang..!! Pisau sama pistol.. sebelum bang Andi menusukkan itu pisau, udah ketembak duluan kau bang..!" cibir Rafa
Andi membayangkan nya "Bener juga Mas..!" nyengirnya kemudian.
"Sudah-sudah.. kalian takut..? kalo kalian takut, lebih baik turun saja..!" pekik Yuda yang masih terlihat tidak tenang.
__ADS_1
"Aahhh.. sembarangan kamu, kita lanjutkan, aku tidak takut, lihat saja nanti, cuma dengan sekali kibasan tangan ku, bisa langsung pingsan tu orang.!" sombong Rafa kemudian.
Kini mobil mereka sudah memasuki tempat sepi, dari yang perkotaan berubah menjadi pemandangan pesawahan, sepertinya tempat penyekapan nya lumayan terpencil, sebelumnya Yuda pikir sudah sedikit lagi sampai ternyata masih harus melewati hamparan sawah yang lumayan gersang seperti sudah tidak di tanami apapun lagi.
Tubuh ke empat pria di dalam mobil bergoyang ke kanan dan kiri karena jalanan yang sangat rusak penuh dengan lubang.
Dan kini mata mereka menatap ke arah yang sama, mereka melihat satu buah hunian mewah besar di tengah-tengah hamparan sawah tersebut.
"Titik nya sudah sangat dekat, hampir menempel dengan mobil kita, apa itu tandanya rumah itu sasaran kita,..?" tanya Andi yang mengamati layar ponsel Yuda.
"Sepertinya begitu..!"
Mereka semakin yakin saat melihat kedua pria berbadan kekar berdiri tegap di depan pintu gerbang tampak menyandang senjata api di tangannya.
Perlahan Yuda memberhentikan mobilnya mereka berdiam diri sejenak memikirkan bagaimana caranya masuk ke dalam rumah mewah berdinding tinggi yang hampir menutupi bangunan besar di dalam nya.
Apa lagi sepertinya penjagaan rumah itu begitu ketat. Sedang mereka hanya datang dengan tangan kosong.
"Sial, ketat juga penjagaan nya.!" seru Rafa sembari melihat ke sekelilingnya dan yang di lihat hanya hamparan sawah yang gersang. Benar-benar hanya ada satu rumah besar itu saja.
Melihat mobil berhenti di wilayah nya para penjaga pun mendekati mereka, mungkin untuk memastikan jika mobil tersebut bukan musuhnya.
"Eh mereka kesini..!" Rafa menepuk bahu Bagas.
"Yud..! tangkap..!" lanjutnya sembari melemparkan satu spuit (alat suntik) ke Yuda.
GEP dengan sigap Yuda menangkap nya.
Dengan bibir yang menyeringai mereka menunggu kedua pria berbadan kekar itu menghampirinya.
Tok tok satu pria mengetuk kaca jendela Bagas sedang satunya lagi mengetuk kaca jendela Yuda.
Yuda memberikan aba-aba kepada lelaki di sebelah nya sebelum membuka kaca jendela secara bersamaan.
"Satu... dua... tiga...!" Cep..!!
Tak butuh waktu lama kedua pria itu jatuh ke tanah karena spuit (alat suntik) yang menancap di lehernya.
"Dan sekarang bagian ku..!" giliran Rafa yang menyeringai.
__ADS_1
Andi membantu Rafa menyeret tubuh kedua pria itu ke semak-semak lalu melucuti pakaian seragam serba hitam nya sembari menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang melihatnya.
Setelah itu Bagas keluar dari mobil ia mengganti bajunya dengan satu seragam yang mereka ambil dari kedua pria itu sedang yang satunya lagi di pakai oleh Rafa.
Namun setelah mengganti pakaian nya Bagas memunguti pakaiannya sendiri lalu menyimpan nya di mobil, Rafa yang melihat itu tampak bingung.
"Gas, kenapa kamu biar kan orang itu telanjang hah..?" pekik Rafa dengan wajah penuh tanya, kedua ujung alisnya hampir menyatu karena heran.
"Lalu..? apa aku harus memakai kan baju mahal ku kepadanya.?" sahut Bagas kemudian.
Rafa menggelengkan kepalanya "Kamu tega sekali Gas, gimana kalo ular nya di patok ular..? di sini pasti banyak binatang melata Gas..!" ujarnya.
"Apa urusannya dengan ku.! kalo kamu kasihan ganti saja dengan pakaian mu.!" Bagas masih kekeh.
"Enak saja, pakaian ku juga lebih berharga, aku dapat ini dari pacar pertama ku.!" balas Rafa yang juga memunguti pakaiannya. Jika di pikir lagi sayang-sayang juga menurutnya.
Yuda mulai menggelengkan kepalanya karena geram "Kalian kenapa ribut lagi.? kita harus gerak cepat..!" seru Yuda dari dalam mobilnya.
Ketiga pria yang masih di luar segera masuk ke dalam mobil, Yuda memberikan earphone ke masing-masing temannya tujuannya untuk memudahkan komunikasi mereka kalau-kalau sampai terpisah di dalam.
"Ok.. cek dulu.. apa sudah tersambung.?" Yuda memastikan earphone nya berfungsi dengan baik.
"Ok..!" ketiga pria di hadapannya mengangguk.
"Gimana dengan pistol ini..? tadi aku memungutnya dari kedua pria itu.." Andi menyodorkan dua pistol.
"Aku tidak usah, aku tidak suka dengan benda-benda seperti itu" tolak Bagas.
"Ya sudah, Biar Rafa dan bang Andi saja yang memegangnya, untuk berjaga-jaga" putus Yuda dan keduanya setuju.
"Nih pakai ini..!" Bagas memberikan masker kepada Rafa dan Andi. Untungnya Andi selalu memakai pakaian serba hitam setiap harinya jadi tidak perlu repot-repot ganti.
Bagas Rafa dan Andi lebih dahulu memasuki rumah target sedang Yuda masih di dalam mobil menunggu aba-aba dari ketiga temannya, dengan seragam hitam ketiga temannya sedikit lebih mudah menyelinap.
Tiba di dalam mereka menoleh ke kanan dan kiri ternyata banyak pria berseragam serba hitam yang berjejer di setiap sudut rumah itu.
Takut di curigai Bagas menyerukan suara yang sudah pasti di dengar oleh semua rekannya.
"Kita berpencar saja..! aku akan ambil jalan ke selatan..!" ucapnya tangannya mengibas memberi kode.
__ADS_1
.
Tinggal kan jejak Like.. π