
"Tenang gue bawain baju ganti buat lo " ucap siswi C dengan nada bicara yang berlenggak-lenggok.
"Lepasin gue!!" teriak Shela seraya meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari mereka.
Raya mendengar teriakkan Shela ia cepat cepat menuju ke sumbernya, Raya melihat tiga pemuda di sudut tempat itu tapi sengaja tidak menolongnya, Raya yang kebingungan akhirnya menghampiri mereka sendiri meski sedikit merasa takut.
Saat siswi C menyiramkan air pada Shela Raya menghalanginya dengan berdiri di depan tubuh Shela, ketiga pemuda yang berdiri di sudut tempat itu melihat Raya dalam keadaan basah hingga membuat baju ketat putih Raya transparan dengan segera mereka mengambil gambar Raya yang sudah terlihat helaian kain dalam dan memperlihatkan lekuk tubuhnya, sementara siswi nakal itu tampak terkejut melihat Raya yang tiba-tiba muncul
"Ya ampun Raya maaf, kenapa kamu di sini?" teriak siswi C ia ketakutan karena dia berpikir akan mendapatkan masalah sudah menyiramkan air pada anak dari donatur utama di sekolah nya.
"Kalian kenapa tega begini, pergi atau aku adukan kalian ke kepala sekolah!" ancam Raya yang sebenarnya merasa takut.
Ketiga siswi nakal terpaksa pergi karena tidak mau berurusan dengan Raya.
Shela yang baru saja di tolong bukannya berterima kasih malah meninggalkan Raya begitu saja dengan wajah arogannya, karena Shela merasa Raya yang membuat Reiner memutuskan nya jika saja Shela masih berhubungan dengan Reiner anak nakal itu tidak akan berani padanya.
Raya menatap tubuhnya sendiri ia baru sadar pakaiannya sudah basah kuyup dia menutupi tubuh dengan kedua tangannya.
"Bagaimana caraku keluar dari sini, aku malu jika keluar dalam keadaan seperti ini" gumam Raya, tapi tiba-tiba Rafa mendatanginya entah sejak kapan Rafa melihatnya "Raya " Sapa Rafa.
"Jangan ke sini!" Raya membalikkan badannya saat melihat Rafa mendekatinya begitu pun dengan Rafa berjalan mundur memberikan jaket kepada sahabatnya.
"Iya, gue gak akan liat lo, pake ini" ucap Rafa.
"Terimakasih " ucap Raya memakai jaket dari tangan Rafa.
Mereka berjalan menuju ruangan Siska untuk meminta baju ganti, biasanya Siska memang menyediakan untuk para siswa nya.
****************
Sementara ke-tiga pemuda yang sudah mengambil gambar Raya mereka tengah asyik menikmati pemandangan di ponselnya
"Liat Raya, seksi banget, body nya cuy" decak Rangga
"Nanti kirim ke nomor gue" sahut Roni
"Gue juga dong" imbuh Tian tapi tiba-tiba saja Reiner merebut ponsel mereka dari belakang.
Yang membuat mereka serempak menoleh ke arah Reiner "Rei, lo di sini?" kaget Rangga.
__ADS_1
Reiner melihat layar ponsel mereka dan tersenyum palsu, ia menaikkan satu alisnya menatap ketiga anak nakal itu.
"Uuhhh seksi sekali pacar gue, gimana menurut kalian?" tanya Reiner sambil memutar mutarkan ponsel ditangannya memasang wajah dingin.
Rangga sangat gugup tiba-tiba berurusan dengan Reiner tidak ada sedikitpun niat mencari gara-gara dengan siswa berwajah sinis itu.
"Iya Rei, Lo beruntung bisa dapetin Raya" sahut Rangga terbata bata.
Tanpa basa-basi Reiner menarik kerah baju Rangga kebawah dan memukulkan sikunya dengan sangat keras ke punggung pemuda nakal itu.
"Aaaak" seru Rangga jatuh tersungkur.
Reiner memiringkan kepalanya menatap Rangga dengan amarah.
"Bangun, cepat bangun, lawan gue!!!" tantang Reiner dia memberikan tanda panggil dengan tangannya.
"Gak Rei, gue gak berani, gue minta maaf, hapus saja foto nya" sahut Rangga yang masih berada di bawah kaki Reiner sedangkan Roni dan Tian tampak menundukkan kepalanya tidak berani melawan, mereka sudah tahu jam terbang Reiner dalam dunia perkelahian.
"Kenapa?, lo takut bokap lo jadi pengangguran, gue gak akan ngadu bokap gue tenang, sekarang lawan gue!!!" teriak Reiner menghentakkan satu kakinya geram.
Reiner menunggu beberapa saat namun tidak juga mendapat perlawanan, di tariknya lagi Rangga lalu membenturkan tubuhnya ke dinding "Aaaak" seru Rangga mengalir cairan merah dari hidung nya.
Reiner menarik rambut Rangga yang kini berhadapan dengan dinding tatapan tajam nya seolah bisa menghancurkan pemuda nakal itu.
"Iya Rei silahkan saja" Rangga yang sudah tidak berdaya lagi, bukan karena sakitnya tapi takut dengan kekuasaan Hendrawan.
Reiner melepaskan Rangga tapi mendekati Tian dan Roni yang masih berdiri berdampingan tanpa ancang-ancang Reiner memutarkan tubuhnya mengayunkan kakinya ke wajah kedua bocah nakal itu.
"Brengsek!!" teriak Reiner membuat mereka jatuh bersamaan.
"Lo inget rasa sakit ini, jadikan pelajaran buat kalian semua, jangan pernah menatap apa lagi menyentuh Raya" Reiner menendang kecil kaki mereka lalu pergi dengan wajah arogannya.
Sementara di dalam kelas Raya sudah duduk di bangku nya ia melihat bangku Reiner yang masih kosong.
"Kenapa Reiner belum datang?" gumam Raya.
Beberapa saat kemudian Reiner masuk ke dalam kelas dengan mood yang tidak baik wajah arogannya lebih terlihat menakutkan dari biasanya hingga Raya tidak berani menegur nya.
Reiner duduk di bangku nya mengutak-atik ponsel ditangannya ia berusaha menghapus foto Raya agar 100% tidak bisa di pulihkan lagi karena kecanggihan zaman sekarang yang bisa mengabadikan jejak digital, Reiner tidak mau kekasihnya jadi tontonan gratis para laki laki mesum.
__ADS_1
Raya melirik ke arah Reiner yang masih memasang wajah angkuh seolah bisa membekukan seluruh ruangan itu "Rei, gue pengen curhat, tapi lo malah cuek lagi ke gue, apa pengakuan semalam itu bohong?" batin Raya yang masih saja berpikir negatif pada tunangannya.
...****************...
Jam pelajaran pertama selesai saat Siska membereskan buku-buku tiba-tiba saja Dimas masuk ke dalam kelas, dia mendekati Siska dan membisikkan sesuatu padanya, Siska pun tampak mengangguk angguk kan kepalanya.
"Reiner ikut saya sekarang!" seru Siska.
Sontak Raya menoleh ke arah Reiner ia bertanya tanya apa yang sudah Reiner perbuat hingga guru memanggilnya karena semua juga tau jika guru memanggil Reiner alasannya pasti bukan karena tunggakan SPP.
Reiner mengikuti Siska dan pak Dimas ke kantor, sesampainya di sana
"Duduk Rei" ketus Siska Reiner menurutinya.
"Apa benar kamu sudah menghajar tiga murid sekaligus pagi tadi?" tanya Siska.
"Iya," singkat Reiner.
"Kamu tahu itu tindakan kriminal, itu kekerasan, menindas siswa lain ada undang-undang nya" ketus buk Siska Reiner hanya diam saja.
"Sekarang kamu minta maaf atau saya panggil pak Hendrawan ke sini" ancam Siska.
"Silahkan saja, panggil ayah saya, karena saya tidak akan meminta maaf pada mereka" ketus Reiner yang bergegas pergi.
Melihat sikap Reiner Siska beranjak dari tempat duduknya sudah tidak bisa membendung amarah.
"Reiner!! kamu tidak sopan!" teriak buk Siska yang menghentikan langkahnya.
Pak Dimas hanya geleng-geleng kepala melihat sikap arogan Reiner
"Kamu lari saja keliling lapangan sampai ayah kamu datang!" titah pak Dimas yang di bantu oleh beberapa guru lainnya.
Reiner lebih memilih lari keliling lapangan dari pada meminta maaf pada ke-tiga pemuda yang menurutnya bajingan
"Saya akan lari" ucap Reiner.
Pihak sekolah menelepon ayah Reiner untuk segera datang, sedangkan di tepi lapangan sudah ada deretan siswa menonton pemuda tampan memutari lapangan.
Raya tampak kebingungan ia menerobos jejeran siswa yang tengah melihat tunangannya di hukum
__ADS_1
"Kamu kenapa Rei?" gumamnya.
.