KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 59. Malam pertama


__ADS_3

"Selamat ya buat kalian" suara Yuda mengalihkan pandangan kedua mempelai ke arahnya "Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah" lanjut Yuda tersenyum.


Sedang tatapan Raya fokus ke samping kanan dan kiri teman tampan nya itu, Raya mencari-cari seseorang di sana.


"Loh Yud, mana pacar mu? kenapa tidak di bawa? kamu bilang sudah punya pacar? kamu beneran gak mau kenalin ke aku?" tanyanya membuat laki-laki itu menampilkan senyum manis nya.


"Aku bilang kan rahasia" saut Yuda membuat Raya memanyunkan bibirnya seakan kecewa sedang Reiner hanya diam dengan gelagat dinginnya.


Selain Raya Rafa dan Gabriel tidak ada yang bisa membuat Reiner mengeluarkan suaranya.


Dari belakang Yuda dua orang wanita terburu-buru menerobos tubuh tegap Yuda "Raya, selamat ya, akhirnya kalian menikah juga" decak Mei sumringah.


"Iya selamat ya kesayangan ku" imbuh Ria.


"Kalian kenapa baru datang, kalian berasa jadi tamu yah, kenapa tidak bantu persiapan pernikahan ku, jahat sekali" gerutunya merengut.


"Raya, kita ini tidak seperti mu, kita ini cuma karyawan biasa, jadi hiks hiks menyedihkan, kita aja baru dapat cuti tau" alasan Mei yang memang kenyataan.


"Iya deh..." Raya juga memperlakukan karyawan nya begitu jadi dia juga memaklumi nya.


Sedang Bagas yang sedari tadi menatapnya perlahan meninggalkan tempat yang membuat rasa panas di hatinya.


****************


Hendrawan Leta, Hans juga Yana tampak sibuk dengan tamu tamu penting yang terlalu banyak, tamu mereka berdatangan tiada jeda nya tidak mungkin jika hanya dua orang saja yang menyambutnya.


Tamu masih terus berdatangan namun Raya sudah terlihat pucat, dari tadi pandangan nya sudah sedikit kabur, Reiner yang peka dengan keadaan istrinya dengan segera memberikan kode kepada dokter Hendra.


"Sayang, kamu ke kamar saja ya, nanti aku menyusul" ucap nya karena masih banyak tamu penting yang harus di temui.


"Iya Rei..." jawab istrinya.


Akhirnya Mira dan dokter Hendra membawa Raya ke kamar pengantin yang terletak di atas ruangan megah itu jadi mereka harus menaiki lift untuk menuju nya.


"Sayang kamu bertahan ya, sebentar lagi sampai kok" ucap Mira saat melihat wajah putrinya yang sudah terlalu pucat.


"Iya mi, Raya tidak apa-apa kok" saut Raya menenangkan ibunya.


Keluar dari lift mereka berjalan ke kanan tak jauh dari pintu lift mereka sudah melihat kamar pengantin Reiner & Raya.


Raya sedikit kesulitan melangkahkan kakinya karena gaun pengantin yang berat namun tidak membuatnya menyerah karena ini hari yang paling di nanti seumur hidupnya.


Ranjang king size putihnya sudah bertabur bunga mawar merah yang sengaja di buat oleh pihak gedung nya untuk menambah kesan romantis.


Tiba di sana Dokter Hendra segera memeriksa keadaan pasien nya membuat wajah nya penuh kekhawatiran.


"Gimana dok? Raya gak papa kan?" tanya Mira yang juga penuh kekhawatiran.


"Tidak apa-apa, dia hanya kecapean saja, tolong bantu Raya meminum obat ini" ujar dokter Hendra seraya memberikan butiran pil yang terbungkus botol kecil.

__ADS_1


"Sekarang aku kembali ke luar menemui Reiner dulu" lanjutnya.


"Iya,, baiklah"


Mira menutup pintu lalu segera membantu melucuti gaun pengantin berekor panjang yang terlihat menyiksa putrinya.


"Kamu ganti pakaian ya sayang, mami sudah siapkan baju tidur kamu" ucap nya lembut.


"Iya mi, " singkat putrinya yang sudah mulai menampakkan serak nya.


Setelah membantu Raya membersihkan diri Mira membaringkan tubuh putrinya menyingkap anak rambut di kening putrinya perasaan nya sudah mulai tidak karuan melihat kondisi Raya yang sudah sedikit lemah lagi.


"Sayang, kamu tidur ya, mami temenin di sini, tidur lah hm" tutur nya pelan.


"Iya mi" jawab putrinya.


Tak butuh waktu lama Mira sudah bisa menidurkan putrinya, Mira terus menerus menatap wajah putrinya seolah tidak tega menyerahkan nya kepada seseorang padahal Mira yang selama ini sangat mendukung perjodohan itu.


"Semoga Reiner selalu bisa membuat mu bahagia sayang" harap nya.


...****************...


Hari sudah semakin larut tamu tamu undangan sudah mulai menyurut Reiner yang sedari tadi tidak tenang dengan segera mendatangi wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya.


Setelah berbincang-bincang dengan dokter Hendra pikiran Reiner semakin tidak karuan, langkahnya semakin cepat menuju kamar pengantin nya.


Tiba di kamar Mira sudah menyambutnya sedari tadi Mira memang sedang menunggu menantunya datang.


"Rei, mami keluar ya, sekarang gantian kamu yang jagain Raya" ucap nya pelan.


"Iya mi" saut nya.


Setelah mertuanya keluar Reiner segera menutup pintu dan menguncinya, Reiner melangkahkan kakinya mendekati wanita yang sudah tertidur pulas di balik selimut tebal.


Reiner bersimpuh di bawah ranjang pengantinnya menatap kuat wanita yang berbaring di atas sana ia mencium lembut kening istrinya tatapan penuh gairah nya sekarang berubah menjadi tatapan sayu penuh sesal.


"Hampir saja aku menyakitimu" ucapnya tangannya tidak henti-hentinya mengelus puncak kepala istrinya.


Flashback On.


"Rei, kondisi Raya tidak seperti wanita lain, kamu tahu itu kan?" ujar dokter Hendra kepada nya.


"Iya, memangnya kenapa dok?" tanyanya penasaran.


"Saya berbicara seperti ini, karena saya sudah sangat lama mengenal mu, saya juga tahu perasaan mu tulus kepada istrimu" ucap dokter Hendra penuh harap.


"Iya tentu saja" sautnya tatapan matanya masih di penuhi pertanyaan.


"Kini saatnya saya berbicara sebagai dokter dari pasien saya" imbuh dokter Hendra masih sedikit tidak nyaman mengatakan nya.

__ADS_1


"Iya lalu?" tanya Reiner penuh kekhawatiran.


"Begini Rei, untuk berhubungan dengan nya kamu bisa lebih berhati-hati, bisa saja lemah jantung Raya menyerangnya, apa lagi saat kondisi fisik nya sedang tidak baik, seperti sekarang ini contohnya, dia masih lelah" terang dokter Hendra.


"Tolong jangan kamu paksa dia dulu, untuk melakukan nya, saya berbicara seperti ini karena saya juga laki-laki" timpal dokter Hendra penuh harap.


Flashback Off


"Aku rela tidak menyentuh mu seumur hidup ku, asal tidak menyakiti mu, aku mencintaimu tanpa syarat apapun" ucapnya lirih.


Tak lama dari itu Reiner membersihkan dirinya mengganti pakaian tidurnya lalu memasuki selimut tebal nya.


Perlahan Reiner memindahkan kepala istrinya ke lengan kiri nya dengan lembut Reiner membetulkan posisi tidur istri cantik nya.


Pikiran serakah nya mulai berdatangan dan tanpa sadar ia meraih sesuatu yang sensitif di hadapannya.


Namun seketika ucapan dokter Hendra terngiang kembali di pikirannya, dengan segera ia mengurungkan niatnya.


"Astaga, kenapa aku lupa, aku tidak boleh menyakiti nya" ucap nya yang membuat wanita di pelukannya menggeliat.


"Emmh.. " seru istrinya.


"Sssuuuuutttt, tidur lah lagi" bisik nya pelan.


Ternyata Raya tidak menyadari tubuhnya sedang berada dalam pelukan suaminya. Mungkin karena sudah terlalu lelah, dan lagi pun sebelum tidur Raya meminum obat dari dokter Hendra mungkin pil yang dia minum ada efek kantuknya.


"Bahkan dalam keadaan tidur pun kamu masih cantik sekali" ucap nya pelan dengan bibir yang tersenyum kagum.


"Kamu tahu, cukup memelukmu saja aku sudah sangat senang" gumamnya pelan Reiner meyakinkan dirinya sendiri bahwa cintanya sangat tulus kepada istrinya.


"Aku tidak akan menyentuh mu, sampai kamu benar benar kuat menerima serangan dari ku" imbuhnya tertawa kecil.


"Dasar gadis lemah, di mataku kamu masih gadis lemah, tapi kamu keras kepala, selalu mau tau masalah ku" timpal nya terkekeh kecil.


Malam pertama nya Reiner terus menerus menggerutu sesekali tertawa kecil dengan gerutunya sendiri, namun sepertinya wanita yang di gerutu kan sama sekali tidak mendengarkannya.


.


.


Silahkan komentar yaa Kaka Kaka reader tercinta jangan lupa like juga. Terimakasih... sampai ketemu di bab selanjutnya πŸ™πŸ₯°


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2