
Alarm membangunkan wanita yang masih dalam pelukan hangat suaminya sebenarnya tidak sengaja memasang nya hanya kebiasaan saja baginya. Diraihnya ponsel yang masih berdering di samping kepalanya lalu menggeser tombol sembarangan untuk mematikannya.
Sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka yang ia lihat pertama kali adalah tangan mulus suaminya yang menindih dadanya. Tatapan nya lalu beralih ke wajah lugu laki-laki tampan di samping nya.
Tanpa di buat-buat senyum manis pagi harinya mekar, kening nya mengerut penuh tanya. Namun pertanyaannya masih bisa di tahan lebih baik jika segera mandi terlebih dahulu sebelum kemudian membangunkan pujaan hatinya.
Perlahan Raya beranjak dari zona nyamannya lalu melanjutkan niatnya untuk membersihkan diri.
Suara kericikan air tidak menggangu lelap nya laki-laki tampan yang masih tidur menelungkup di atas ranjang pengantinnya. Lelap nya bukan karena pertempuran panas nya melainkan lelah nya menggerutu dan menjaga istri rapuhnya semalaman.
Selang beberapa saat Raya keluar dari kamar mandi lalu mendatangi tubuh dimana suaminya terbaring kali ini posisi tidur Reiner memeluk guling menyamping.
Dipandanginya wajah tampan suaminya tatapannya tertuju ke bibir keriting pria itu alaminya wanita dewasa yang mencintai laki-laki pasti ingin melu, ,mat nya.
Dengan mengibaskan rambut basahnya Raya membangunkan suaminya "Rei... " senyumnya.
Wajah lugu Reiner mulai sedikit bergerak kening di kerut kan sedikit kaget karena tetesan air yang mengenainya, matanya mulai terbuka sedikit malas karena ngantuk masih menderanya namun tak mengurungkan niatnya untuk melihat seseorang yang membangunkan nya.
Senyum manis tertoreh di wajah tampan nya saat melihat wanita cantik berambut basah yang hanya memakai handuk putih saja seakan menyerah kan diri kepada nya.
Tangannya mulai meraih balutan kain yang melekat di tubuh istrinya "Pagi sayang" ucapnya dengan suara beratnya.
Namun saat sudah melihat kedua keindahan milik istrinya ingatan nya mulai melintasi pikiran nya.
"Aaaqq" seru istrinya saat tubuhnya di gulingkan ke ranjang. Dengan segera Reiner menyelimuti tubuh istrinya yang sudah setengah nya polos.
Raya menautkan alisnya penuh tanya "Rei, aku sudah mandi, apa kamu menyuruh ku tidur lagi?" ujarnya.
"Emmh... kalo sudah mandi kenapa tidak pakai bajunya?" sambung suaminya gugup.
"Aku sengaja memperlihatkan nya padamu, apa kamu tidak suka? sekarang peluk aku" polosnya masih menatap suaminya yang merangkak di atasnya.
"Aku pasti kebablasan nanti" batin Reiner.
"Aku belum mandi, aku masih bau kan? aku mandi dulu, kamu pakai lah bajunya" alasan suaminya yang tidak masuk akal.
Raya mengendus aroma tubuh suaminya tidak sedikitpun tercium bau apapun selain wangi dari parfum semalam yang masih tersisa.
"Kamu tidak bau sama sekali" polosnya "Cium aku" lanjutnya merengek.
Cup Raya mengerutkan keningnya kembali saat hanya mendapat kecupan singkat yang tidak lebih dari satu detik.
__ADS_1
"Rei, itu bukan mencium, itu mengecup sedikit, tidak terasa" protesnya.
Reiner menurut untuk memberikan ciuman panas di pagi harinya tangan istrinya berjalan kemana mana membuatnya semakin dekat dengan kata gagal dalam usahanya untuk tidak menyentuh istrinya. Dengan berat hati Reiner menarik kembali bibirnya.
"Emmh aku... sa sakit perut sayang, aku ke kamar mandi dulu" gugupnya mencoba menghindar dan sepertinya wanita cantik di hadapannya tahu.
"Kamu tidak lagi menghindari ku kan Rei...?" lirihnya.
"Emmh.. tentu saja tidak!" sautnya "Sekarang kamu pakai baju nya, setelah ini kita sarapan, kamu pasti lapar kan?" lanjut suaminya bertanya.
"Iya.." Raya mengangguk karena memang sudah sedikit lapar.
...****************...
Dengan tergesa-gesa Reiner memasuki kamar mandi seperti anak gadis ia mengunci pintunya lalu berjalan ke cermin besar yang menampilkan bayangan wajah gugup nya.
"Kenapa dia agresif sekali, sebelumnya dia ketakutan jika ku sentuh" gerutunya mengusap usap dahi nya.
"Rei jangan begini, Rei jangan begitu, kita belum menikah Rei...." celotehnya menirukan gestur istrinya.
"Kenapa sekarang dia yang memintanya" sambung nya.
"Kuat kuat Rei, tahan" lanjutnya memelas "Tubuhnya sangat indah apa aku bisa menolaknya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Aku mandi dulu saja" Reiner menanggal kan pakaian nya lalu memasuki pintu kaca buram matanya terpejam saat merasakan guyuran air dari shower nya.
Bayangan kedua gunung kembar istrinya masih terus membayangi nya membuat sesuatu di bawah sana terus menerus mengeras.
"Siiaall" umpat nya pada dirinya sendiri.
...****************...
Sedang di tempatnya Raya sudah mengenakan pakaian nya lalu menyingkap gorden yang masih membuat kamar pengantinnya gelap.
"Ternyata indah juga pemandangan dari atas sini" ucapnya.
Lama menunggu suaminya keluar dari kamar mandi akhirnya Raya pun tertidur lagi mungkin efek kantuk dari obat yang dia minum semalam masih ada.
Tak lama dari itu Reiner keluar hanya memakai handuk di setengah badannya, senyuman tulusnya mulai mekar saat melihat wajah lugu istrinya yang sudah tertidur lagi.
"Tidur lah lagi, dari pada menggoda ku" ucapnya tersenyum.
__ADS_1
Setelah memakai pakaian kasual nya Reiner mendekati istrinya yang masih terpejam di sofa menghadap jendela kaca besar, sinar matahari di pagi hari menghangatkan tubuh rapuh istrinya.
Tok tok suara ketukan mengalihkan perhatian nya dengan santainya Reiner membuka pintu.
"Maaf tuan sudah mengganggu, tapi kalian sudah di tunggu keluarga di meja makan besar di bawah, tapi jika kalian ingin menikmati sarapannya berdua saja kami akan segera menyiapkan secepatnya kemari" ucap pelayan berseragam rapih di balik pintu.
"Tidak tidak, biar saya yang turun kebawah bersama istri saya" jawabnya tanpa ragu.
Setidaknya jika bersama sama dengan yang lain tidak ada drama goda menggoda dulu.
"Rei,, " seru istrinya.
Percakapannya dengan pelayanan membangunkan tidur istrinya baguslah Reiner tidak perlu repot-repot membangunkan nya.
"Sayang,, kita ke bawah,, ikut sarapan bersama yang lain.." ajak nya.
"Iya.. " saut istrinya yang memang sudah lapar karena semalam belum sempat makan Raya sudah tertidur.
Pasangan suami istri yang baru saja menikah itupun bergegas memasuki lift yang kebetulan kosong, mereka menuju lantai di mana keluarga nya melakukan ritual sarapan bersama kerabat besarnya, masih di dalam lift Raya mulai menyampaikan pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyakan kepada suaminya.
"Rei... apa semalaman kamu memeluk ku? jam berapa kamu tidur? apa tidur ku ngorok? atau aku mengigau?" tanyanya penasaran. Raya takut suaminya ilang filing. Dan sepertinya laki-laki tampan di hadapannya juga tahu.
Reiner melingkarkan tangan ke perut istrinya "Sekitar jam empat aku tidur, tentu saja aku memeluk mu semalaman, kamu istriku sekarang, apa tidak boleh?"
"Kamu tidur seperti setengah pingsan gimana sempat mengigau?" lanjut nya tersenyum.
Tiba di lantai bawah keluarga besar mereka sudah duduk berjejer di kursi masing-masing menghadapi meja makan yang super panjang tatapan mata keluarga besar mereka seolah menyerukan kata "Ciyeee" pada sepasang suami istri itu.
Tanpa merespon apapun dengan gelagat dinginnya Reiner menarik kursi untuk istri tercintanya "Duduk lah" katanya sebelum kemudian ia duduk di kursi sebelah kirinya.
Lirikan sinis tertuju ke laki-laki menjengkelkan di sebelah kirinya.
"Ekm ekm.. brother gimana semalam?" bisikan yang di dengar dari laki-laki menjengkelkan itu membuatnya melotot kan matanya.
Rafa yang melihat itu sudah mulai tahu yang terjadi di malam pengantin sahabatnya dia hanya menunduk sambil tersenyum senyum.
.
.
.
__ADS_1
Tinggalkan jejak Like ... atau komentar sembarang juga boleh hehe...
.