
...Sorry kalo notifikasi novel recehan ku ini mengganggu kalian yah.. aku hanya lagi mau menyelesaikan kegantungan novel recehan ini.....
...----------------...
Bugh..!!!
Satu pukulan mendarat sempurna di wajah Anson. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, setelah di pukul wajahnya mengenai tepian pintu yang menyembilu. Darah mengalir di ujung bibir.
"Aaaakkk.. aw..." keluh Anson meringis.
"Gimana rasanya.? takut.? apa kau memikirkan akan bertemu dengan ku di sini hah.?!" ucap Reiner seraya berjalan perlahan mendekat, alisnya menaik sebelah menatap wajah takut sang CEO.
"Tolong jangan bunuh aku, aku minta maaf.." saut Anson menyatukan kedua tangannya memohon.
DUG..!!
Satu tendangan bebas mengarah pada dada kekar Anson. Hingga kini pria itu terlentang tak berdaya, mata tajam Reiner masih terus menusuk jantung nya, gemetar, bergetar, keringat bercucuran, ketakutan.
Reiner memperlihatkan seringai di ujung bibirnya "Aku tidak akan membunuhmu Anson, jika mau sudah ku kirim kau ke neraka..!! tapi aku akan membuat mu tersiksa di sini, bahkan siksaan tangan ku akan lebih menyakitkan dari kematian mu sendiri..!!"
Bugh..!!
Bertubi-tubi Reiner mendaratkan pukulan pada wajah Anson, wajah bule berjambang kini sudah tak nampak lekukannya, karena lebam dan cucuran darah yang menghiasi wajah Anson.
"Aaaakkk..." rintihan tangis Anson yang tadinya keras kini lirih sudah hilang tenaga.
Tak puas dengan itu, Reiner menarik rambut Anson dan menghempasnya ke lantai "Aaaakkk..!!!" teriak lirih Anson.
"Kali ini aku maafkan, jika sampai kau berani menyakiti keluarga ku lagi, tidak akan ku biarkan kau hidup..!!" ancam Reiner kemudian.
DUG..!!
Satu tendangan bebas sebagai penutup aksi Reiner kali ini, dengan wajah dingin lelaki itu berjalan keluar meninggalkan Anson yang sudah tak berdaya.
Dari SMA saja Reiner sudah berjiwa preman, bahkan yang berusaha melecehkan Raya saja ia acak-acak tanpa takut di hukum. Apa lagi sekarang, lelaki itu sudah menjadi raja dari perusahaan ternama.
Memang CEO masih di jabat oleh Yana, tapi dia lah founder nya sekarang, karena sang kakek sudah mewariskan semua hartanya pada cucu semata Halbert.
"Kita pulang sekarang..!! siapkan penerbangan kembali..!! aku tidak mau meninggalkan istri ku terlalu lama..!!" titah Reiner seraya melangkah. Dan yang pasti ujarannya di dengar oleh Gabriel beserta rekan lainnya.
"Siap..!! tuan..!!" ucap mereka serentak.
...----------------...
__ADS_1
Sementara itu di Indonesia, Raya tengah terbaring menggeliat kesakitan di atas ranjang besi yang kini di dorong oleh Hans dan Hendrawan. Sedari pagi tadi Raya memang sudah merasakan ada yang lain di perutnya, darah segar mengalir di antara kedua pahanya.
"Bertahan lah sayang.." ucap Hans menenangkan putrinya yang tampak sangat kesakitan.
"Hiks hiks hiks..." keluh Raya yang sudah menerjun bebaskan air mata di wajah cantiknya.
Raya di bawa ke ruang CICU, untuk berjaga-jaga kalau-kalau jantung lemahnya menyerang, dan kali ini Shima dan dokter Hendra yang menangani.
"Siap kan semua peralatan..!!" instruksi dokter Shima pada perawat yang bertugas mendampingi.
"Baik.. segera..!!" jawab mereka kompak kemudian melakukan apa yang di instruksi kan Shima.
Hasil dari USG mengatakan bahwa janin masih berdenyut hanya saja sudah berada di bibir rahim, jadi akan lebih berbahaya jika tidak segera di kuret, lambat laun janin tersebut akan keluar dengan sendirinya bahkan bisa membahayakan sang ibu.
Ternyata pemikiran panas Raya yang terlalu berlebihan membuat sang janin lepas dari kantung nya. Dengan terpaksa Shima memilih jalan kuret, tentunya setelah di setujui oleh keluarga pasien.
Empat jam berselang, kini Raya sudah siuman setelah di bius total oleh Shima. Matanya terus menerus menitihkan air mata penyesalan. Sudah bersusah payah membujuk sang suami menghamilinya kemudian gugur sebelum menjadi besar.
"Hiks hiks hiks..." Isak tangis nya membuat Hans merasa iba.
"Sudah lah sayang.. kamu masih bisa hamil lagi.. kamu masih muda sayang.. percaya lah.. tuhan kasih kamu titipan baby mungil yang kuat setelah ini.." ucapnya.
"Ini semua gara-gara Rei.. dia pasti menyakiti seseorang.. tuhan marah padaku karena ulahnya.." saut Raya menyalahkan.
...----------------...
Sedang di London Reiner sudah duduk tenang dalam mobilnya, tentunya setelah menjalani drama baku tembak dengan beberapa pengawal Anson yang masih tersisa di luar gedung.
Lelaki itu benar-benar sudah mengacak acak singgasana Anson Audrey bagai membalikkan telapak tangannya. Begitu mudahnya Reiner membalaskan dendam.
"Brother..."
"Hmm..??" Reiner menoleh dingin ke arah Gabriel menghiraukan sang ajudan yang tampak memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Aku di rumah dulu yah.. mantan kekasih ku sudah ingin bertemu dengan ku.. kasih lah aku waktu untuk berpacaran brother.. ku mohon.." pintanya.
"Terserah..!! aku bisa pulang sendiri..!!" jawab singkat Reiner mengizinkan.
"Ok..!! terimakasih bos ku yang tampan.. kau sangat baik padaku.." ucap Gabriel menjilat.
...----------------...
Sementara di tempat lainnya lagi, Yuda tampak menuruni mobil mewah miliknya, dengan langkah gontai lelaki itu menuju sebuah pintu tinggi bercat abu-abu.
__ADS_1
Rumah milik kekasihnya lah yang pemuda itu satroni, Ting Tong.!! dengan santainya pemuda itu menekan bel.
Tak lama dari itu seorang pria membukakan pintu untuknya, wajah sumringah lelaki paruh baya itu menyambut kedatangan Yuda.
"Yuda.. nak.. lama sekali kamu baru ke sini.." sapa hangat dari pria yang tidak lain adalah calon mertuanya. Martin nama ayah Chloe.
"Iya Om.. Yuda sibuk mengurus sesuatu akhir akhir ini.." saut pemuda itu tersenyum ramah.
"Chloe ada kan Om..?" tanyanya lagi.
"Ada.. ayok masuk lah.. dari seminggu yang lalu dia tidak mau keluar dari kamar.. entahlah.. makan pun tak mau.. Om bingung.. sebenarnya kenapa anak itu..??" ujar Martin seraya menuntun Yuda masuk ke dalam rumah.
"Ya sudah,, kamu bisa kan ke atas menemui Chloe sendiri.? Om masih mau mengurus tanaman Om.. gak papa kan.?"
"Iya.. gak papa Om.. Yuda bisa sendiri.."
Setelah mempersilahkan Martin pergi ke halaman, Yuda mulai menaiki anak tangga menuju kamar Chloe yang terletak di lantai atas.
Sesekali tangannya merapikan rambut berusaha terlihat rapih di hadapan sang kekasih yang sudah satu Minggu ini tak memberi kabar padanya.
Tok tok tok !!!
Dengan sabar lelaki itu mengetuk pintu kamar bercat abu-abu, tak lama kemudian seorang gadis membukanya dengan gerakan malasnya.
BRAK..!!
Gadis itu berusaha menutup pintu kembali setelah melihat Yuda berdiri di balik pintu, tentunya di halangi oleh Yuda, tenaga yang hanya seberapa itu takkan mungkin menang melawan tubuh tegap sang pacar.
"Mau apa lagi kamu ke sini..??!!" sapa ketus Chloe menatap tajam Yuda.
Yuda tersenyum "Tentu saja menemui mu, aku masih kekasih mu, kenapa, ada apa dengan mu? apa aku berbuat salah padamu hmm.?" tanyanya berusaha meraih tubuh Chloe yang kini menolak rangkulannya.
"Pergi.. pergilah..!! temui cinta pertama mu itu.. bukannya kamu masih menyukainya.. aku merelakan mu sekarang.. kita putus..!! jangan datang lagi ke sini..!!" usir Chloe menepis sentuhan demi sentuhan yang Yuda lakukan.
Dan ucapan Chloe membuat Yuda mulai peka, jadi itu alasan Chloe mengabaikan Yuda selama satu Minggu ini.? Yuda tersenyum lagi.
"Kamu cemburu yank.?" tanyanya.
Chloe mengernyit "Cemburu.? setelah memberikan liontin hati pada adik ipar mu di depan mata ku.. masih bisa kamu bertanya begitu padaku Yud..?" ketus nya.
"Aku minta maaf, itu tidak seperti yang kau kira.. aku bisa jelaskan yank.. kasih aku kesempatan.. please.. aku merindukan mu, jangan begini.. aku rindu memeluk mu.." bujuk Yuda masih berusaha meraih tubuh sang kekasih.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung...!