
Seharian Reiner uring-uringan oleh karena tidak bisa menyentuh istrinya setiap mau mencium, Raya malah mual setiap mau di sentuh, Raya terus menghindar seperti ilang filing terhadap laki-laki tampan itu.
Sedang lusa Reiner sudah harus kembali ke London dan mungkin satu bulan kemudian Reiner baru bisa bertemu lagi dengan istri cantik nya, alangkah rindu nya nanti, maka sebelum itu terjadi Reiner terus berusaha merayu istrinya.
Sebenarnya perubahan sikap ibu hamil memang sudah biasa hanya saja itu terlalu cepat bagi Reiner. Bibir dan aroma tubuh istrinya masih menjadi candu baginya tapi sekarang sulit di raih nya.Suara penolakan Raya terus menerus menggema di dalam kamar nya.
...****************...
"Aaa Rei... aku tidak mau" keluh Raya tangannya menahan wajah yang menuju bibirnya.
Dengan sukar lelaki itu menarik kembali wajahnya "Sampai kapan aku tidak mencium mu? kenapa setiap aku cium kamu mual?" tanyanya dengan wajah yang galau.
"Aku juga tidak tahu, ini kan bawaan dari si dedek yang di perut ku" saut Raya dengan nada manjanya.
"Cek!" decak lelaki itu, matanya mengikuti gerak tubuh istrinya yang berjalan acuh menuju tempat tidur nya.
Dengan wajah cueknya Raya kembali memasuki selimut tebal tidak memperdulikan laki-laki tampan yang masih galau menahan rasa pusingnya "Aku mau istirahat" ucap nya.
Reiner terus mengikuti kemana Istrinya duduk "Kita coba sekali lagi mungkin kali ini tidak mual" rayu Reiner masih berharap. Tatapan lelaki itu mulai sendu.
"Mau di coba berapa kali lagi Rei,, aku mual,, kamu pikir merasa mual itu enak" tolak Raya dengan ekspresi merengut nya.
"Tapi apa alasannya? aku sudah wangi sayang, bahkan hari ini sudah tiga puluh kali aku menyikat gigi!" lanjut Reiner dengan wajah memelas.
"Ini kan bawaan dari baby mu, kenapa protes nya padaku" sungut Raya, ia lalu membetulkan selimut tebalnya sebelum kemudian di tarik kembali oleh suaminya.
"Kalau di cium mual, yang lain saja kalo begitu" ucap Reiner matanya menatap ke bagian dada istrinya.
Raya yang tahu maksud dari suaminya ia membetulkan kembali selimut nya menutupi bagian tubuh yang di tatap oleh laki-laki itu "Jangan mimpi kamu. aku risi. kamu tidak merasa si orang ngidam itu seperti apa" curah hati Istrinya.
"Ya ampun, apa ada ngidam separah ini? orang itu ngidam nya minta makanan atau apa begitu, itu lebih masuk akal, kamu mau apa sebut saja sayang, emas berlian? jet pribadi sepilot-pilot nya sekalian hah? aku turuti, asal jangan siksa aku begini" protesnya.
"Baby ku tau, mommy nya tidak boleh sembarangan makan, kamu terima saja kenapa si?" pekik Raya mengerutkan keningnya.
"Lalu apa salah Daddy nya? kenapa si baby menjauhkan Daddy dari mommy nya?" Reiner semakin sendu.
__ADS_1
"Ini karma, dulu kamu tidak menurut dengan papah Hendrawan, gimana rasanya sekarang?" ledek Raya.
Reiner menghembuskan nafas seraya memejamkan matanya "Aku tidur saja kalo begitu" lirihnya. Dengan arogan lelaki itu menelungkup di atas ranjang besarnya membelakangi Istrinya.
"Rei, kamu tidak mau menjagaku hah? apa aku sudah tidak menarik lagi bagimu? apa karena aku sudah hamil kamu menelantarkan ku?" cerocos Raya menarik t-shirt suaminya.
"Habislah masa pengantin baru ku!" batin lelaki itu.
"Rei .. kamu bilang mencintai ku tanpa syarat apapun... baru begitu saja kamu marah padaku" keluh Raya dengan nada gemetar seperti ingin menangis.
"Ya ampun, mulai mengeluarkan senjata manjanya. Tidak hamil saja manja apa lagi hamil, sungguh berlipat ganda manjanya" batin Reiner mengacak acak rambutnya.
Namun meski demikian Reiner tetap membalikkan badannya menatap wajah istrinya yang sudah mulai merembeskan bulir bening di sudut netra nya.
"Aku minta maaf, tidur lah, aku menjagamu hm..!" rayu Reiner lembut.
"Kamu tidak boleh tidur sebelum aku tidur" pinta Raya merengek. Dan lelaki itu hanya tersenyum mengangguk karena tidak mungkin menyentuh, istrinya pasti menolaknya lagi.
"Tidur lah!" tambahnya lembut.
Reiner menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang, tangannya mengelus puncak kepala Istrinya yang sudah terlelap.
"Kenapa gadis lemah seperti mu bisa menguasai pria kuat seperti ku" ucap Reiner. Di wajahnya tertoreh senyuman damai.
Tatapannya lalu beralih ke perut istrinya dia mengelus lembut bagian itu "Tumbuh lah tanpa menyakiti mommy mu, jangan lemah seperti mommy mu, kuatlah seperti Daddy mu ok!" ucapnya dengan wajah tersenyum.
...****************...
Sementara itu Anson tampak bergeming sepertinya pemandangan langit lepas di sore harinya masih menyilaukan matanya.
Kacamata hitam masih melindungi kornea mata birunya pikiran lelaki itu menerawang hati yang penuh dendam masih menyertai nya.
Anson Audrey seseorang yang tidak pernah mendapatkan penolakan, hatinya sangat hancur saat cinta tulus nya di acuhkan.
Anson mengingat ingat kembali kejadian 18 (delapan belas) tahun yang lalu saat pandangan pertama nya dengan Yana ingatan itu seolah menjadi konsumsi nya setiap hari.
__ADS_1
Di malam pesta ulang tahun pernikahan rekannya lelaki tinggi berjambang itu menggoyangkan gelas wine di tangannya tanpa di sengaja ia lalu membalikkan badannya DUG tatapannya terkunci pada wanita cantik dengan gaun berwarna putih yang setelah itu sudah tersiram oleh wine yang ia tumpahkan.
"Astaga...! gaun ku...!" seru Yana menatapnya kesal namun tatapan kesal wanita itu seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi Anson.
"Bibirnya, sorot matanya, dia cantik sekali"
"Kamu menumpahkan minuman mu, lalu kamu diam saja?" tambah Yana kepadanya yang masih menatap kelu.
"Apa aku melihat bidadari sekarang? dia sangat cantik dan anggun"
"Hai...!" Yana menjentikkan jarinya. Dan saat itu lah Anson tersadar dia telah membuat wanita di hadapannya marah.
"A aku minta maaf, aku ganti baju mu ya" ucap nya menyentuh bagian yang terkena minuman nya dan naas nya bagian itu bagian sensitif bagi wanita.
"Kamu..!" teriak Yana. Anson menyadari dirinya sudah terlihat kurang ajar di mata wanita itu.
"Aku minta maaf, bukan maksud ku begitu" gugup nya kala itu.
Mengingat hal itu bibir Anson tersenyum tulus.
Ingatannya lalu beralih saat wanita cantik berambut ikal itu menolak nya "Tapi aku tidak menyukai mu Anson, pria yang aku cintai saja aku ceraikan, bagaimana dengan mu, aku pasti hanya akan menyakiti hati mu saja" ucap Yana kepadanya.
"Tolong jangan tolak aku, perlahan aku bisa membuatmu jatuh cinta pada ku, selama ini aku tidak pernah mau menikahi wanita, hanya dengan mu saja aku ingin menjalin hubungan serius" sautnya kala itu.
Namun Yana tetap tidak luluh, berkali-kali Anson melamar wanita pertama yang mengetuk hati nya namun selalu di tolak dan saat mengingat hal itu dendam mulai menguasai pikiran nya.
"Aryana Adyatama.. sebentar lagi kamu menyesal sudah menolak ku.. Aku paling tidak suka di tolak.." ucap nya pelan dengan tatapan yang sinis.
Saat ini Anson masih membujang dia hanya bergonta-ganti pasangan untuk bersenang senang saja. Entah masih cinta atau karena dendam, dalam benaknya Anson masih ingin bersama dengan Yana.
.
.
.
__ADS_1
.