KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 38. Mengendap ngedap


__ADS_3

Setelah mengelilingi pusat perbelanjaan yang cukup luas kedua pria gagah yang mendampingi Raya mulai kelelahan, dengan menyandang banyak paper bag di tangan masing-masing mereka masih sabar mengikuti Raya.


Raya yang melihat ekspresi wajah mereka akhirnya menyudahi saja belanja nya.


"Rei aku lapar" ucap Raya, kalimat itu yang sedari tadi di tunggu tunggu oleh kedua pria gagah yang mengikuti nya.


"Kita makan malam di sana" Reiner menunjuk restoran fine dining di sudut tempat itu, mereka pun segera menujunya.


Tiba di restoran Reiner menarik satu kursi mempersilahkan tunangannya duduk sebelum kemudian ia duduk di kursi lainnya, namun pandangan Raya malah fokus ke Andi yang menduduki kursi lain.


"Bang Andi duduk di sini saja" ucap Raya sambil menunjuk kursi di samping nya.


"Tidak non saya di sini " sahut nya segan Andi melihat ekspresi wajah Reiner yang tidak terlalu suka dengan keberadaan nya.


"Gak apa-apa, itu buat yang lain, gak enak loh makan sendirian" sambung Raya yang terlalu polos, Raya mana tahu dinner romantis.


Dengan terpaksa Andi menuruti perintah anak majikannya meski sebenarnya tidak nyaman dengan tatapan posesif pemuda tampan dihadapannya.


Wajah tampan Andi mulai membuat Reiner tidak nyaman, apa lagi tubuh tegap nya menjadi kelebihan pria dewasa itu, senyum ramahnya menjadi daya tarik tersendiri bagi nya.


Tak mau lama lama Reiner memanggil waiters dengan menjentikkan jari nya dan tanpa basa-basi Reiner memesan makanan yang sama untuk mereka


"Tiga salmon salad, tiga air mineral, tiga lemon thea" ucap nya.


Setelah mencatat nya Waiters pun segera menyerahkan pesanan mereka ke bagian kasir karena memang begitulah prosedur nya.



"Rei kenapa pesanan nya sama semua, kamu bukannya suka steak?" tanya gadis cantik yang sedari tadi menjadi pusat perhatian para pengunjung lainnya.


"Kalo aku pesan itu, kamu pasti juga mau itu" sindir laki laki berwajah sinis itu.


Jawaban Reiner membuat Raya memanyunkan bibir dan sedikit menaikan ujung nya.


Beberapa menit kemudian tatapan Reiner dikuasai oleh waiters cantik yang datang membawakan pesanan mereka, melihat itu Raya mengikuti arah pandangan kekasihnya Raya sedikit terkejut.


"Shela, llo ngapain di sini?" celetuk Raya, pertanyaan itu menghasilkan lirikan sinis dari mantan kekasih tunangannya.


"Ngapain lagi, udah jelas gue kerja di sini" jawab Shela dengan nada dinginnya.


Reiner masih belum menyerukan suara nya ia masih mematung di tempat nya, sebenarnya ada pertanyaan yang ingin sekali ia utarakan pada mantan kekasihnya namun tatapan tajam Raya membekukan gerakan nya.


"Silahkan, cepetan makannya" ucap Shela yang lalu pergi.


Mereka melanjutkan makan karena sudah lumayan lapar, tidak ada yang membuka obrolan setelah melihat sosok Shela di dalam sana.


Di balik sorot mata sendu nya Andi mulai meraba yang terjadi pada anak majikannya namun masih belum bisa mengambil kesimpulan.

__ADS_1


Sedang Raya masih memperhatikan kegusaran kekasihnya setelah melihat Shela yang selalu saja kebetulan, Raya mulai mencari cara untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan dalam benak nya.


"Kayaknya Reiner gelisah banget, Aku yakin kalo aku tinggal, Reiner pasti nemuin Shela, apa aku coba aja ya? tapi gimana kalo beneran begitu? tapi aku penasaran" batinnya.


"Rei, aku ke toilet yah" pamit nya.


"Iya, hati hati" Reiner menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Mendengar jawaban Reiner Raya menatap heran, baru kali ini Reiner membiarkan Raya sendiri, padahal sedari tadi ia tidak melepaskan tangannya walau hanya sebentar.


"Biar saya antar non" Andi beranjak dari duduknya karena begitulah titah Hans kepada nya, Andi harus selalu mengawal kemanapun Raya pergi.


"Iya bang" sambung nya.


Melihat Reiner yang membiarkan nya pergi dengan bodyguard tampan nya sudah sedikit janggal, tapi mungkin saja Reiner sudah tidak cemburu dengan Andi lagi begitu prasangka baik Raya.


Raya terus berjalan sampai saatnya Raya menemukan sekat dingin yang bisa di jadikan tempat persembunyian nya.


"Bang " ucap nya sambil membalikkan badannya.


DUG!!! wajah mungil Raya menabrak dada kekar bodyguard yang sedari tadi mengiringi langkah nya.


"Aduuuh ini dada orang apa patung selamat datang sih, keras bener, sakit..." batin Raya mengelus hidung mungilnya.


"Toilet nya di sana non" tatapan Andi kebawah karena tinggi mereka sangat jauh berbeda.


"Maksud nya?" polos Andi.


"Udah bang Andi di sini saja ok" usul Raya yang terpaksa menyembunyikan tubuh besar bodyguard nya.


Dengan menyembul kan kepalanya Raya mengintai kekasihnya yang ternyata sudah tidak ada di kursinya.


"Reiner kemana?"


"Non kenapa kita jadi kaya detektif Conan begiiii..." tanya Andi yang di hentikan jari telunjuk mungil.


"Sssuuuuutttt.... bang Andi diem dulu" ucap Raya menyipitkan matanya tentunya hal itu mendebarkan jantung yang tertanam di balik dada kekar sang bodyguard.


Ternyata Raya sudah melihat Reiner di dalam ruangan smoking area restoran itu.


"Dari sini aku gak bisa dengerin pembicaraan mereka, aku mendekat saja" gerutunya sambil mengendap ngedap ke ruangan dimana kekasihnya berdiri.


Dan benar saja di sana sudah ada Shela namun karena posisi nya terlalu dekat Raya tidak bisa menyembulkan kepalanya ia hanya bisa mendengar percakapan mereka dari balik dinding penyekat.


"llo bisa kehilangan beasiswa, kalo waktu belajar llo di isi sama kerja part time begini" suara kekasihnya.


"Mamah sakit, gue butuh biaya buat ngerawat nya Rei, anak manja kayak kalian gak akan tau rasanya jadi gue" suara saingannya.

__ADS_1


"Gue masih transfer ke rekening llo, pake itu buat pengobatan Tante" sambung Reiner kemudian.


"Gue gak mau pake, sekarang llo bukan siapa-siapa gue, gue udah selesai kerja nya, gue mau pulang, llo lanjutin aja lagi makan malam romantis llo" suara Shela yang lalu tidak terdengar lagi.


Braaaakkk suara itu menyentak tubuh mungil Raya, mungkin Reiner terlalu khawatir dengan mantan kekasihnya begitu pikir Raya.


"Bahkan Reiner masih membaginya uang jajan" batinnya.


Raya mulai menunjukkan dirinya di sana ia sengaja menangkap basah kekasihnya.


"Rei" sapa nya.


"Emmh Raya, aku ..." gugup Reiner.


"Aku mau pulang, aku udah capek banget" lirihnya.


"Iya"


Raya bersikap seperti biasanya ia memang sudah sangat khatam dengan perasaan cemburu nya, setelah membayar makanan nya mereka menuju halaman parkir perlahan sosok mereka berlalu dari gedung megah itu.


Di perjalanan nya Raya hanya diam saja pandangan nya tidak lepas dari kaca jendela.


"Kenapa mereka selalu saja di pertemukan, apa sebenarnya mereka berjodoh? apa aku pihak ketiga dalam hubungan mereka?" pikir nya.


"Aahhh tapi tidak juga, yang seharusnya mengalah itu Shela bukan aku" imbuhnya.


"Tapi aku kasihan dengan Shela, aku masih punya papi yang bisa membayar beberapa orang untuk menjaga ku, tapi Shela mungkin cuma punya Reiner saja" timpal nya.


"Tapi kenapa aku harus baik padanya, dia bahkan tidak pernah berbicara baik padaku" masih dalam batinnya.


"Aaaaaaaaaaaaaqqqqqq" teriak nya yang menyentak kedua pria di dalam mobil nya.


"Kenapa non?" tanya Andi mengamati nya dari kaca spion.


"Kamu kenapa?" tanya Reiner yang sedari tadi memperhatikan kekasihnya.


"Eh, aku gak papa, aku cuma ngigo aja" sahut Raya tertangkap basah.


"Ngigo gimana, kamu dari tadi gak tidur, kamu ngelamun sayank" ucap Reiner sambil mengelus kepala kekasihnya.


"Itu kebiasaan baru ku, aku tidur sambil melek" sangkal Raya yang membuat Andi menahan tawa.


.


Bab berikut nya kunjungan wisata πŸ™


.

__ADS_1


__ADS_2