KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 56. Masih rindu berujung pilu


__ADS_3

...MASIH DI HARI YANG SAMA...


Tiba di muka gedung Gabriel sudah membukakan pintu mobil untuk bos nya lalu mulai berjalan memutar menuju pintu bagian kemudi setelah memastikan bos dan kekasih bos nya aman.


Tanpa bertanya apapun lagi Gabriel segera melajukan mobilnya, perlahan sosok mereka berlalu dari sana.


Reiner terus menerus menggenggam tangan lentik kekasihnya seolah tidak mau lagi di lepas nya sesekali ia menaikannya ke atas mendekatkan nya ke bibir seolah tidak bosan-bosannya mengendus aroma damai dari kulit tangan kekasihnya yang tercium sangat elegan dan anggun.


Parfum dan losion dengan Kandungan bahan baku yang beragam membuat paduan aromanya menjadi cukup rumit, seperti sweet vanilla, musk, spice, sumtuous flowers, serta oriental resins aroma nya terkesan sangat seksi dan sensual aroma itu yang selalu menjadi candu bagi laki-laki tampan itu.


"Tangan ku bisa habis di cium terus-menerus sama kamu!" protes Raya. Namun Reiner hanya tersenyum saja sudah terlalu lama Reiner tidak menghirup aroma damai dari kekasihnya jika habis pun setidaknya dia sudah merasa puas.


Sedang Gabriel hanya fokus dengan jalanan yang sudah mulai petang.


Dreeetttt dreeetttt dering ponsel Reiner berbunyi dengan malas nya ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, di lihatnya kontak bertuliskan Mr Reinhard memanggil nya.


Mata lelaki itu seolah ragu untuk mengangkat panggilan telepon dari komisaris nya membuat Raya meliriknya penuh tanya.


"Kenapa gak di angkat Rei, itu dari siapa? siapa tahu penting" ucap kekasihnya.


"Emmh,, iya,, " dengan berat hati Reiner menggeser tombol hijau di layar ponsel nya sebenarnya Reiner tahu komisaris nya akan menyampaikan hal yang tidak baik.


"Halo, ada apa?" tanya nya kepada seseorang di seberang telepon.


"Iya, baiklah aku mengerti, setelah mengantar calon istri ku, aku telepon lagi" lanjut nya yang di akhiri dengan memutuskan sambungan teleponnya.


Ucapan Reiner baru saja membuat Raya semakin curiga seperti nya kekasihnya masih saja menyembunyikan sesuatu dari nya.


"Kamu tidak pernah berubah, selalu menutup nutupi sesuatu dari ku" gerutu nya yang membuat Reiner menoleh dengan tiba-tiba.


"Apa maksudnya?" tanya nya. Namun kekasihnya tidak menyahutinya belajar dari pengalaman enam tahun yang lalu sekarang Raya lebih berani mendemonstrasikan perasaannya.


"Drama lagi ini pasti, anak ini bener bener kepo" batin laki-laki sinis itu.


"Kamu kenapa?" tanya nya lagi.


"Dulu kamu tidak mau menceritakan tentang ibumu padaku, kamu lebih suka menceritakan nya pada mantan kekasih mu itu, sepertinya sekarang pun masih sama, di mata mu aku hanya wanita lemah yang tidak bisa di ajak curhat oleh mu" curah kekasihnya tanpa menoleh membuat nya menghembuskan nafas pendek.


"Iya iya, ini tadi dari komisaris perusahaan ku, dia bilang ada sedikit masalah dengan perusahaan" ucap nya membuat Raya menoleh ke arah nya.


"Hemmm??" saut Raya penuh tanya.


"Persaingan bisnis di sana cukup ketat banyak mafia mafia perusahaan yang berusaha menjatuhkan pesaing nya, aku bukan nya mau menutupi nya aku hanya tidak mau membebani pikiran mu saja" terang nya.


"Lalu? kenapa seperti nya berat sekali jadi kamu, aku kira kamu senang dengan gelar sultan mu sekarang" saut kekasihnya.


"Hal seperti ini sudah biasa, makanya dulu kakek sempat memaksaku untuk mengikuti kelas khusus menghadapi masalah masalah di perusahaan, yah contohnya seperti masalah yang sedang terjadi ini" terang nya lagi.


"Oh, kenapa tidak kamu jual saja, lalu pindah ke Indonesia, apa kamu harus bolak balik ke sana terus?"


"Aku ini lemah jantung, kondisi fisik ku tidak memungkinkan untuk sering sering ke luar negeri" lanjut nya.


Raya berpikir jika sampai mereka menikah pasti Reiner masih sering bolak-balik ke London sedang kondisi nya tidak seperti wanita pada umumnya pasti akan menemui kesulitan nantinya.

__ADS_1


"Di sana masih ada mamah, ada makam kakek juga nenek, jadi aku tidak bisa semudah itu meninggalkan nya, kamu mengerti kan?" jelas laki-laki tampan itu berharap banyak kepada kekasihnya.


Sedikit demi sedikit Reiner mulai berterus terang, Raya masih belum bosan mendengar kan cerita hidup kekasihnya selama beberapa tahun ini di London.


Raya terus menerus mencecarnya dengan pertanyaan yang wajib di jawab oleh kekasihnya jika tidak Raya mulai menunjukkan wajah ngambek nya membuat Reiner tidak bisa mengelak nya.


...****************...


Tiba di halaman rumah klasik nya Raya mulai turun dari mobil mewah kekasihnya sesaat setelah seseorang membukakan pintu untuk nya.


"Silahkan Kaka ipar" ucap lelaki menjengkelkan di hadapannya.


"Kamu ini,," saut nya menaikan ujung bibirnya.


Muka tembok Gabriel terus menerus tersenyum meskipun kekasih bos nya tidak ramah pada nya.


Dari pintu lainnya Reiner turun berjalan menuju tubuh kekasihnya berdiri dengan percaya diri nya dia menggandeng tangan kekasihnya masuk ke dalam rumah namun ternyata tangan halus kekasihnya menahannya.


"Rei,, sampai sini saja" pekik Raya membuatnya menoleh tiba-tiba.


"Kenapa hm..?" tanya nya.


"Aku belum ngasih tahu hubungan kita lagi ke papi, izinkan aku bicara dulu sama papi ya" pinta kekasihnya.


"Apa om Hans tidak merestui kita?" tanya nya penuh kekhawatiran.


"Bukan itu, aku hanya tidak mau ujuk ujuk datang bersama mu lagi, bukannya terlalu aneh" terang Raya.


"Iya, setidaknya masuk lah dulu, aku mau memastikan kamu aman sampai rumah mu" perintah nya "Em em" Raya mengedipkan kedua matanya seraya tersenyum.


"Brother, kenapa tidak di lamar sekarang saja, sepertinya gairah brother sudah menggebu-gebu sekali" sindir Gabriel membuatnya mendaratkan kepalan tangan ke perut laki-laki itu.


DUG! "Kita pulang sekarang" titah nya seraya berjalan memasuki mobil mewah nya.


"Awww, sial, sakit" keluh Gabriel.


...****************...


Setelah mengantar kekasihnya pulang Reiner singgah ke apartemen miliknya dia mencoba mengurus sesuatu dengan Reinhard di sana, lalu kembali ke rumah ayahnya untuk beristirahat dan makan karena dia hanya menjadikan apartemen nya tempat untuk rapat saja setidaknya di sana tidak akan ada yang mengganggunya.


Baru saja sampai kamarnya Reiner sudah merindukan kekasihnya lagi yang ada di pikirannya hanya mengambil ponsel dan menelepon nya.


Tuuuuttt Satu, dua, tiga, empat, lima namun tidak juga di angkat.


"Cek!! kemana anak ini, kenapa lama sekali mengangkat nya!" decak nya yang lalu mencobanya kembali kali ini panggilan video.


Tuuuuttt Satu, dua, tiga, " Iya Rei...." dilihatnya gadis cantik yang sudah bersembunyi di balik selimut tebal dengan mata sembab karena lelahnya.


"Apa aku mengganggu? kamu sudah mau tidur di jam begini?" tanya nya menatap wajah Raya di layar ponsel.


"Emmh,, aku lelah hari ini,, aku tadi hanya baring baring saja,, tapi tiba-tiba ketiduran" saut wanita di layar nya.


"Ya sudah tidur lagi, aku menatap mu dari sini" kata nya pelan.

__ADS_1


"Aku sudah bangun, kamu suruh tidur lagi" ucap Raya sedikit emosi, sudah enak tidur di bangun kan lalu tiba-tiba di suruh tidur lagi siapa yang tidak geram Reiner yang melihat itu merasa sedikit menyesal sudah membangunkan macam tidur.


"Iya maaf" sesal nya.


"Gimana sama papi kamu? apa sudah merestui hubungan kita?" lanjut nya bertanya.


"Kalo seumpama papi melarang nya gimana?" tanya balik Raya sedikit menahan tawa karena itu bagian dari sekenario nya untuk mengerjai kekasihnya.


"Aku culik kamu, kamu pikir aku mau terima begitu saja" jawab nya ketus.


Seketika Raya menampilkan senyum lesung nya merasa puas dengan jawaban arogan kekasihnya ternyata Reiner masih ingin memperjuangkan nya.


"Kamu di suruh datang saja kesini, lagi pula om Hendrawan juga sudah berbicara dengan papi siang tadi" jelas kekasihnya yang membuatnya menampakkan senyum manis nya.


Tok tok suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Raya dengan segera dia menempatkan ponselnya ke phone holder di atas nakasnya Raya berniat menemui seseorang yang memanggil nya di balik pintu.


"Rei, aku buka pintu dulu ya, kayaknya mami manggil" pamitnya tanpa mematikan panggilannya.


"Iya" jawab kekasihnya.


Dengan percaya diri nya Raya beranjak dari selimut tebal nya membuatnya tidak sengaja memperlihatkan baju tipis yang ia kenakan saat itu.


"Astaga,, anak ini,, ceroboh sekali,, bisa bisanya cuma pakai baju seperti itu saat video call dengan ku" gerutu kekasihnya yang tidak terdengar oleh nya.


Setelah selesai berbicara dengan seseorang di balik pintu kamar nya Raya pun kembali memasuki selimut tebal nya lalu mengambil ponsel yang masih tersambung dengan kekasihnya.


"Rei, kamu kenapa?" tanya nya saat melihat kekasihnya mengusap usap dahi dengan raut wajah yang sedikit berbeda.


"Gak papa" jawab kekasihnya pelan.


Tak mau lama-lama menahan pusingnya Reiner segera mengakhiri panggilan video nya lagi pula kekasihnya sudah terlihat mengantuk secara kan sebenarnya Raya itu tidak bisa terlalu lelah atau jantung nya bisa menyerangnya kapan saja.


Reiner terburu-buru memasuki kamar mandi menuntaskan urusan nya di dalam sana. satu menit.... dua menit..... tiga menit....... empat menit..... sepuluh menit.....


"Haaiiiiyyssss.. lemah sekali aku, tidak bisa melihat tubuh nya sedikit saja, sial" gerutu laki-laki tampan yang baru saja keluar dari kamar mandi nya.


Seseorang di tempat tidur nya sedikit mengagetkan nya ia tidak tahu dari kapan ajudannya berada di dalam sana.


"Kamu,, tidak sopan sekali!" ketus nya menatap wajah ajudannya yang tampak mengantuk.


"Hoam... aku tidur duluan ya brother, capek sekali hari ini, lanjut lagi saja main solo di kamar mandi nya aku tidak tahu kok" ujar sang ajudan menyindir.


"Sial!!" erang nya.


Namun sang ajudan sudah mapan dengan selimut dan bantal nya, tidak mempedulikan lagi pukulan bantal yang mendarat beberapa kali di tubuh nya, Reiner merasa tertangkap basah oleh ajudan menjengkelkan nya.


"Menyebalkan, sejak kapan ada ajudan berani tidur di ranjang bos nya hah!!" pekik nya yang di acuhkan oleh sang ajudan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2