KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 7. Satu Minggu kemudian


__ADS_3

Pagi hari yang cerah di lapangan terbuka, Raya sudah memakai pakaian olahraga, ini kali pertama dia mengenakan nya, Raya memang tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga karena kondisi fisik nya yang tidak memungkinkan.


Dengan rambut hitam panjang yang di ikat ke atas, memperlihatkan leher jenjang yang tampak terawat, dengan senyum manis Raya berjalan mendekati Ria dan Mei.


Dan Yuda tersenyum menatap penampilan baru temannya pemuda itu segera berlari mendekat.


Sementara Rafa? pemuda itu masih saja terpesona dengan kecantikan Raya meski sudah setiap hari melihatnya.


"Gila, Raya cantik banget...." ucapnya dengan tangan yang menepuk nepuk bahu sahabat nya, tentunya tanpa melepaskan pandangannya dari Raya.


Sontak Reiner menoleh, pemuda itu terkejut melihat tunangannya memakai seragam olahraga, sungguh Reiner takut Raya nekat mengikuti aktivitas fisik yang bisa membuatnya sulit bernafas bahkan pingsan.


Dengan wajah angkuhnya, pemuda itu berlari menuju Raya "Raya...!!! llo ngapain di sini hah..??" ketusnya.


"Gue mau, ikut Ria sama Mei Rei.., kenapa..?" polos Raya.


"Lo..!!!" pekik Reiner melotot.


"Ikut gue sekarang...!!" pemuda itu menarik pergelangan tangan Raya.


"Lepas Rei...!!"


Yuda yang mendengar ketidak nyamanan Raya mulai mencekal tangan Reiner, pemuda itu berusaha menghentikan aksi arogan Reiner, sudah beberapa hari ini pemuda itu geram dengan sikap kasar Reiner pada Raya.


"Lepasin Raya Rei..!!" ucap nya membuat pemuda dingin itu mengerling sinis ke arah nya.


"Lo siapa..??, berani nyentuh gue..!! lepas gak..!!" pekik Reiner dengan nada yang meningkat.


Yuda tersenyum sinis "Gue lepas, setelah llo lepasin Raya..." tegasnya.


Bugh !! "Brengsek..!!" satu pukulan mendarat sempurna di wajah tampan Yuda hingga mengalir lah darah segar di ujung bibirnya.


Dengan gerakan perlahan, Yuda mengelap darahnya menggunakan punggung tangan.


Bugh !! "Lo lebih brengsek paham hah..!!" satu balasan di tempat yang sama oleh Yuda.


Adegan action mereka membuat murid lain tersentak, tiba-tiba saja mendapat tontonan seru gratis, menyaksikan pertarungan sengit antar pria tampan. Sungguh tidak boleh terlewat kan, bagai semut melihat gula, para murid berkerumun.


"Udah Rei, Yuda, jangan kaya anak kecil...!!" teriak Mei mencoba melerai, begitu juga dengan murid Rafa namun keduanya sama sama keras kepala.


Kini kedua tangan Reiner menarik kerah baju Yuda, pemuda itu menatap tajam pria yang beberapa hari ini membuatnya tidak nyaman.


"Baru saja pindah sudah mau jadi jagoan llo hah..??." umpat serapahnya.


Raya yang lemah jantung sudah pasti syok melihat pertengkaran mereka, gadis itu sudah terduduk di lantai, dan tampak kesulitan menata nafas, ia berusaha mengurangi sesak dengan mengelus-elus bagian atas dadanya.


"Rei... gue..." lirihnya.

__ADS_1


Rafa menoleh ke arah gadis itu "Rei, Raya Rei..!!" teriaknya.


Sontak Reiner mendorong Yuda sesaat setelah ia menoleh ke arah tunangannya, dengan segera pemuda itu mendekati gadis yang mulai tak sadarkan diri.


"Raya., Raya...!! Lo gak papa kan hm..?" paniknya yang tiba-tiba terlihat.


Sedang Yuda juga melangkah mendekat, tapi Rafa menghadang jalan nya "Lo mau kemana.. hah..?" ucapnya, tentu saja Rafa harus membela sahabatnya


"Raya....." lirih Yuda sendu.


Dengan wajah paniknya Reiner membawa tunangannya ke ruang UKS. Sedang Guru mereka mengondisikan murid lainnya agar tidak terlalu ribut "Bubar bubar!" teriaknya.


Tiba di ruang UKS Reiner membaringkan tunangannya di atas ranjang besi, dengan gerakan yang sangat cepat pemuda itu mengeluarkan ponsel kemudian menghubungi dokter yang biasa menangani Raya saat dalam keadaan darurat.


"Dok, Raya pingsan..!!" ucapnya yang langsung menutup panggilannya.


Sungguh Raya terlalu lemah untuk menyaksikan kegaduhan yang Reiner buat, petugas kesehatan pun segera memeriksa kondisinya, memberikan pertolongan pertama.


"Bisa tunggu di luar saja Rei...?" ucap petugas.


Dan pemuda itu menurut "Ini yang gue benci dari llo, llo terlalu lemah Raya...!!" batinnya sembari melanjutkan langkah.


Sebagai donatur utama ayah Raya memang sengaja melengkapi peralatan medis di sekolah, mengingat putri semata wayangnya sangat membutuhkan.


...----------------...


"Raya..." lirihnya.


Jangan ditanya kenapa Yuda panik, dia sudah menyukai Raya sejak pandangan pertama nya, siapa yang tidak jatuh hati pada gadis cantik seperti Raya, senyum tulusnya membuat Yuda berdebar setiap saat.


"Sudah, kita doakan saja Raya gak papa, kita lanjut saja!"


Pak Dimas mencoba menenangkan teman Raya yang terlihat tidak fokus mendengarkan pengarahan nya.


"Tapi pak, kita khawatir, kita juga pengen liat Raya!". sahut Ria cemas.


"Iya pak, dia kemarin baru aja masuk, gara gara di rawat satu Minggu, kita khawatir!" imbuh Mei merengek.


"Sudah ada Reiner, kamu bisa lihat nanti setelah jam pelajaran selesai!". Tegas pak Dimas.


...----------------...


Beberapa saat kemudian dokter Hendra keluar dari ruang UKS.


"Gimana dok? Raya gak papa kan?" tanya Reiner dengan wajah paniknya.


"Dia harus di rawat di rumah sakit sekarang juga, saya sudah telepon ambulans..!"

__ADS_1


Reiner mengepalkan kedua tangannya, bibirnya mengerucut geram, dalam batin pemuda itu menyalahkan Yuda jika saja Yuda tidak memancing kemarahannya, ini semua takkan pernah terjadi...!!


Tak mau lama-lama Mereka segera membawa Raya ke rumah sakit, Reiner juga memberi tahu keluarganya, wajah angkuh nya sekarang terlihat sangat khawatir entah sejak kapan tapi Reiner merasa lebih takut dengan kondisi Raya.


Mira yang tiba lebih dahulu wanita itu berlari dengan raut wajah cemas, dengan berjalan serampangan ia menghampiri calon menantunya.


"Rei, gimana Raya hm..?" paniknya.


"Tante, semoga gak papa, kita doa aja..." lirih Reiner masih dengan wajah paniknya.


Mira menatap Raya dari balik jendela kaca, mengelus perlahan sekat transparan dengan wajah memelas.


"Kenapa kamu begini terus nak..?" lirihnya.


"Kriiiiiing ...!!!"


Dering ponsel Reiner berbunyi, pemuda itu lantas melangkah beberapa meter dari Mira kemudian mengangkat panggilan.


πŸ“²"Halo...!".


πŸ“±"Rei, Lo dimana...?".


πŸ“²"Gue, di rumah sakit, Raya sakit lagi...!".


πŸ“±"Lo gak papa kan..?".


πŸ“²"Gak papa, gue bolos hari ini, llo pulang bareng Rafa ya..."


πŸ“±"Oke deh, Lo hati hati, jangan lupa makan ya...!".


πŸ“²"Iya...".


Reiner memutuskan panggilan, pemuda itu berdiri menyandarkan punggung ke dinding, wajahnya menengadah ke atas menatap sisi langit langit, memperlihatkan wajah gundah nya.


"Gue ini... gak lagi jatuh cinta sama Raya kan..? gue cuma kasian aja kan..? gak mungkin gue suka..!! gue benci cewek lemah itu..!!" gumamnya.


...----------------...


Sedang di dalam kelas, Mei tampak kesal, sudah berkali-kali gadis itu mencoba menelepon Reiner, tapi tidak juga diangkat.


"Sial bener ini si Rei, gue pengen denger kabar Raya, tapi gak di angkat angkat!" gerutunya.


"Ya udah, sepulang sekolah, gimana kalo kita ke sana..? Lo mau ikut gak Yud..?" ucap Ria sekalian menawarkan Yuda.


"Gue gak usah dulu, takut Reiner masih marah, nanti malah ribut lagi..." kata Yuda, padahal pemuda itu juga berniat menjenguk nya sendiri nanti.


"Coba Reiner, bijak kaya Lo Yud..." ucap Mei yang selalu kecewa dengan sikap Reiner.

__ADS_1


__ADS_2