KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 11. Tiga pemuda tampan


__ADS_3

Raya mulai duduk kembali di bangku nya, dia berusaha menguatkan diri sendiri,


"Lo gak lemah kok ya, Lo kuat!". Gumamnya membulatkan matanya.


Di tempat duduknya Reiner terus menatap punggung tunangannya yang enggan menoleh ke arah nya berkali-kali tangannya mengepal rasanya ingin sekali menjelaskan sesuatu berharap bisa meredam kemarahan Raya.


Namun keberaniannya belum sebanyak itu, lagi pula ia memang masih berhubungan dengan Shela juga masih menyukai kekasihnya ia tidak akan pernah menolak jika Shela menciumnya meski selama ini Reiner tidak pernah melakukannya sebelum Shela mendahului nya.


"Sial, kenapa Raya harus melihat nya" gerutunya.


Satu persatu murid lain mengisi kekosongan ruang kelas nya, mereka bersiap untuk mengikuti upacara bendera di Senin pagi nya.


****************


Di jam istirahat kedua, Raya masih terlihat fokus dengan tugasnya, sudah berjam jam berada dalam satu ruangan tapi Raya masih tidak mau menolehkan wajahnya ke bangku tunangannya.


Yuda juga enggan mengajak nya berbicara karena wajah cantiknya sangat terlihat tidak ramah hari ini. Mereka berdua hanya bisa menatap punggungnya dari tempat duduknya masing-masing.


Namun beberapa saat kemudian, Raya beranjak dari tempat duduknya ia berjalan menuju tempat duduk Ria yang tengah berkutat dengan tugasnya.


"Emmh, kita ke perpustakaan yuk?" ajak nya.


"Gue sibuk ya, Lo sama Mei aja deh!" kata Ria tangannya mendorong bangku di depannya memberikan tanda pada Mei.


"Gue juga sibuk, sama Rafa aja gih!" sahut Mei menoleh Raya dengan senyuman memohon.


"Ya udah gue sendiri aja" Raya mengambil buku dari dalam lacinya lalu berjalan keluar ruangan sendirian, Raya sengaja tidak mengajak Yuda karena mood nya sedang tidak baik.


Raya tiba di koridor menuju perpustakaan karena bangunan perpustakaannya memang terpisah dari jajaran kelas, tujuannya supaya tidak terlalu mengganggu waktu membaca anak anak, cuaca mendung tidak mengurungkan niat Raya.


"Seperti nya mau hujan, bahkan alam saja menangis saat hatiku kacau!" gumamnya di sela langkanya ia terus berjalan serampangan hingga langkahnya membeku saat melihat Shela berjalan ke arahnya dari arah berlawanan.


"Lo baik Ya?" tanya Shela yang kini sudah berada di hadapannya.


"Iya, seperti yang Lo lihat!" Raya merentangkan kedua tangannya.


"Bagus deh, kasian Reiner, capek kali pura pura perhatian terus sama llo, mau sampai kapan llo siksa dia, mendingan llo putus aja, Rei gak bakalan suka sama llo, tiap hari dia menggerutu karena llo, gue bosen dengernya" ucap Shela dengan nada dinginnya.


"Iya pasti capek, bilang ke cowok Lo suruh berhenti aja pura pura nya, atau mungkin sebenernya dia gak pura pura?" Raya melebarkan senyum dan menaikan turunkan bahunya.


Shela merubah raut wajahnya, dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Raya ucap barusan, sebenarnya Shela bukan gadis yang centil dia lebih banyak diam sifat angkuhnya sama seperti Reiner, tapi perubahan sikap Reiner akhir akhir ini membuatnya sedikit lebih agresif.

__ADS_1


Raya pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan yang ia tuju ia mulai melihat lihat buku menyusuri lorong satu ke lorong lainnya menyisir seluruh sudut di sana dengan perasaan yang tidak nyaman setelah berpapasan dengan Shela barusan.


"Suuuiiiitsuiit, Em em,.!" seru Bagas yang sedari tadi memperhatikan Raya dari celah buku yang berjajar di rak.


"Bagas! Lo udah lama di situ?" tanyanya dia tersenyum untuk yang pertama kali nya dari mulai dia melihat Reiner bersama Shela pagi tadi.


"Lumayan lah, gue lagi cari buku khusus ni, dari tadi muter-muter belum ketemu juga" jawab nya.


"llo nyari buku apaan?"


"Buku panduan mendapatkan Raya" Bagas mengeluarkan rayuan.


"Lo ini!" tawa Raya sambil menutupi wajah dengan buku di tangannya.


Setelah bercanda canda kecil di bawah rak mereka pun mulai duduk di bangku yang menghadap ke jendela besar, mereka melanjutkan obrolan sembari membaca buku yang mereka bawa, di sana mood Raya mulai membaik karena Bagas selalu bisa mencairkan suasana hatinya.


"Ya, llo ikut kunjungan wisata nanti?" bisik Bagas ditelinga Raya.


"Emmh, belum tau, gue takut ngerepotin yang lain" jawab Raya tanpa menoleh.


"Kalo llo ikut, gue bikinin jus tomat lagi deh" Bagas merayu lagi.


"Kemarin aja masih berasa enek gas" tawa Raya mendorong ringan lengan Bagas.


"Gue kesini mau liat Lo, GR kan Lo?" bisik Bagas sekali lagi yang membuat Raya membulatkan matanya.


****************


Tak terasa Bel jam pelajaran terakhir berbunyi Raya mulai keluar dari perpustakaan karena masih ada jam buk Siska setelah ini namun ternyata di luar gedung sudah mulai turun hujan.


"Hujan Ya, gue anterin aja ya ke kelas?" Bagas merangkul Raya pandangannya ke atas memastikan hujan yang semakin deras.


"Gak usah gas, guru Lo udah mau masuk tuh, gue sendiri aja gak papa!" teriak Raya karena suaranya sudah teredam oleh rintikan hujan.


"Lo yakin Ya, licin itu lantainya" seru Bagas yang juga teriak.


"Gak papa, udah sanah, masuk" usir Raya mengibaskan tangannya.


Raya mulai berjalan di bawah atap koridor Raya terlihat kesulitan melangkahkan kakinya di lantai yang sudah basah, Bagas masih tidak tega melihat Raya berjalan sendiri dalam keadaan hujan apa lagi hujan berpotensi bahaya bagi penderita lemah jantung.


"Apa gue ikutin aja ya" pikir Bagas.

__ADS_1


Namun ternyata pak Rahmat sudah geleng-geleng di ambang pintu ruang kelas melihat Bagas yang belum juga masuk.


"Bagas masuk kelas!" dengan berkecak pinggang pak Rahmat memanggilnya.


"Oh, iya pak!" spontan nya kemudian.


Sedang Raya masih harus berjalan beberapa meter lagi menuju ruang kelas namun hujannya semakin deras saja.


"Ya ampun hujannya, aku bisa basah sampe kelas" gumam Raya.


"Dingin!" Ucap Raya sambil menggesekkan kedua telapak tangannya ke lengan yang sudah setengah basah tiba tiba pandangannya terkunci ke pemuda tampan yang berlari dari lorong lain menembus hujan menghampiri nya.


"Raya!" Yuda mengibaskan rambutnya yang basah sambil tersenyum dan berjalan mendekatinya.


Raya menatap wajah Yuda yang di penuhi bulir air hujan saat Yuda melingkarkan jaket ke tubuhnya, "Yuda, Lo, " Raya merasakan getaran dalam hatinya.


"Ya ampun, Kenapa terlihat tampan sekali dia" Raya masih setengah melamun.


"Kita ke kelas ya, llo pasti kedinginan." ajak Yuda saat melihat tatapan menyentuh dari mata Raya meski sebenarnya Yuda juga ingin merasakan sensasi bertatapan dengan orang yang di sukai di bawah rintikan hujan tapi Raya bukan gadis yang sekuat itu, tubuh Raya akan semakin lemah jika terus menerus terkena suhu dingin.


"Iya"


Mereka pun bergegas namun saat baru melangkahkan kakinya Raya melihat Reiner berdiri di sudut lorong dalam keadaan setengah basah menggenggam payung ditangannya yang entah dari mana itu.


"Rei" ucap Raya membeku.


Reiner mendekati mereka dan menyerahkan payung pada Yuda yang tampak mematung di tempatnya.


" Pakai ini" Reiner berlari menerobos hujan yang semakin deras sesaat setelah Yuda menerima payung darinya.


"Ada apa dengan Reiner?" ucap Raya dalam hatinya.


Yuda membentangkan payung dan menuntun Raya menuju ruang kelas mereka dan entah kenapa Raya hanya terdiam mendapat perlakuan istimewa dari mereka.


Sementara di kelas sudah ada buk Siska berdiri di ambang pintu mengawasi murid-murid yang belum juga masuk karena hujan, siswi berhamburan namun hanya sedikit yang masuk ke dalam kelasnya hingga akhirnya ia melihat murid kesayangannya.


"Raya, kamu baik baik saja, jangan lupa kamu pakai syal dari mami kamu, Mira bilang kamu tidak menjawab teleponnya tadi" Siska khawatir dengan kondisi putri temanya itu.


"Iya buk, Raya baik baik saja, barusan ponsel Raya habis baterai"


"Ya sudah masuk"

__ADS_1


.


__ADS_2