
Masih di meja makan panjang, keluarga besar Reiner & Raya baru saja menyelesaikan sarapan pagi mereka lalu melanjutkan obrolan di sana sebelum kemudian meninggalkan gedung pernikahannya.
"Jadi Rei... Raya... setelah menikah kalian mau tinggal di mana?" celetuk dari adik sepupu Hans yang sedari tadi memperhatikan keponakannya.
"Di rumah ku..!" jawaban dari Hans, Yana dan Hendrawan kompak.
Membuat seluruh orang di dalam sana saling melempar tatapan tidak terkecuali pasangan suami istri yang bersangkutan.
"Wan... Raya itu tidak bisa jauh dari mami nya.. kenapa kamu mau memisahkan mereka?" ketus Hans kepada besan laki-laki nya.
"Loh,, Leta juga sangat menyayangi Raya,, menantuku tidak akan merasa kesepian memiliki mertua seperti nya" balas Hendrawan yang juga ketus "Lagi pula tradisi nya kan perempuan yang ikut laki-laki, begitu Hans" imbuhnya.
"Itu kalau pihak perempuan nya dari keluarga biasa saja, kamu kan tau Raya penerus satu satunya keluarga ku, bagaimana bisa kamu mau mengambilnya dari ku?" saut Hans yang tak mau kalah.
Sedang peserta meja makan yang lainnya hanya diam mendengarkan perdebatan sengit antar besan.
"Sudah sudah, lebih baik mereka ikut aku saja sementara ini, lagian aku di Indonesia cuma satu Minggu, biarkan mereka tinggal di rumah ku dulu" pinta Yana.
"Tidak bisa, aku tidak akan mengizinkan menantuku tinggal satu atap dengan putra seniman mu itu, kamu pikir aku tidak tahu, kalau anak tiri mu menyukai Raya?" cerocos Hendrawan menatap mantan istrinya.
"Kalian kenapa jadi berebut begini? tanya saja ke Reiner sama Raya nya mau tinggal di mana?" timpal kakak sepupu Mira yang membuat seluruh orang di dalam sana mengalihkan pandangan ke sepasang suami istri yang baru saja menikah itu.
"Iya,, kalian mau tinggal di mana sayang?" tanya Mira memastikan.
"Sementara Raya tinggal bersama ku di apartemen ku saja, anggap saja kita bulan madu" jawab Reiner entengnya. Otak encer Reiner tidak menyulitkan pemiliknya memikirkan jawaban dadakan nya.
"Sudah selesai makan nya kan? kita segera pergi saja dari sini" ajak Reiner menggandeng istrinya. Dengan wajah lugunya Raya mengikuti ajakan suami nya meninggalkan meja makan yang menjadi ring perdebatan orang tua mereka.
Seharusnya para orang tua mereka memikirkan hal seperti ini sebelum menjodohkan mereka yang sama-sama anak semata wayang.
Sedang di tempatnya orang tua mereka masih bergeming mendengar jawaban enteng Reiner. Tapi mau bagaimana lagi putra putri mereka sudah dewasa sudah bisa menentukan rencana hidupnya sendiri.
...****************...
Tiba di kamar pengantinnya Reiner menelepon Gabriel untuk menyiapkan mobil dan segera kembali ke apartemennya.
Dengan berat hati kedua besan menyetujui usul Reiner, lagi pula putra putri mereka memang perlu waktu untuk berbulan madu.
Raya bukan wanita yang bisa di ajak bulan madu ke luar negeri, yang ada tenaga nya terkuras dalam perjalanannya saja jadi Lebih baik jika tidak usah kemana mana.
Toh dimana pun tempatnya asal bersama dengan orang yang tersayang pasti nyaman saja.
__ADS_1
Namun sepertinya Raya sedikit gundah dengan keputusan suaminya, sedari tadi Raya hanya diam saja memandangi kaca jendela mobilnya, Reiner yang melihat itu tidak bisa menahan pertanyaannya.
"Kamu kenapa diam saja hm?" tanyanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya..." kata Raya ragu.
"Apa kita putar balik saja ke rumah papi?" tanya nya lagi. Reiner tidak keberatan jika istrinya memintanya.
"Emmh.. kita coba dulu tinggal di apartemen, kita lihat apa aku bisa betah di sana atau tidak"
Reiner tersenyum mengangguk.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit dari gedung pernikahan mereka akhirnya mobil mewah Reiner sudah memasuki halaman parkir apartemennya di susul dengan beberapa mobil di belakangnya yang tidak lain adalah keluarga mereka.
"Kamu bawa koper Raya ke dalam" perintah nya kepada sang ajudan.
"Beres"
Reiner menggiring keluarga dan istrinya memasuki apartemen mewahnya lalu mempersilahkannya duduk di ruang tamu yang cukup kontemporer.
"Emmh.. Rei tidak terlalu suka ada orang lain mi" jawabnya.
"Loh,, Raya kan tidak bisa masak, lagi pula apa kamu mau menyuruhnya beres-beres rumah sendiri?" tanya Mira khawatir.
"Iya, ambil lah beberapa asisten dari rumah, kasihan Raya sendiri di sini, pasti kesepian nanti" imbuh Hans.
"Iya Rei.." timpal Hendrawan.
"Terserah Raya saja, asal dia nyaman di sini" jawabnya.
"Ya sudah, mendingan mbak Tami saja yang menemaninya, dia kan lebih tahu apa yang boleh di makan dan tidak boleh di makan Raya" usul Mira.
"Iya lebih baik begitu saja, tambah dua lagi untuk bersih-bersih, Tami nanti kecapean bekerja sendiri" saut Leta.
Hans mengambil ponsel dari dalam saku celananya menekan kontak bertuliskan Andi dan sepertinya langsung tersambung.
"Halo ndi... kamu pulang ke rumah jemput Tami, Reni, Mila bawa mereka ke sini, suruh bawa pakaiannya juga, mereka harus menemani Raya di rumah barunya" perintah Hans.
Tak lama dari itu Hans menurunkan telepon nya lalu menatap putrinya yang masih menampakkan wajah gundah nya.
__ADS_1
"Kamu yakin mau tinggal di sini?" tanyanya.
"Iya Pi..." jawab Raya meyakinkan ayahnya meski berlawanan dengan hatinya.
...****************...
Sudah dua hari tidur bersama namun Reiner belum juga menyentuh istrinya Raya yang memang polos tidak merasa curiga sedikitpun.
Sedang Tami yang di suruh memantau perkembangan hubungan anak majikannya mulai mencurigainya.
Sepertinya Raya belum juga menunjukkan perbedaan setelah menikah, setidaknya ada gestur tubuh yang bisa di jadikan ciri khusus untuk mengetahui wanita sudah di buka segelnya atau belum, tanpa mengurangi rasa hormat Tami mulai menanyakannya kepada majikannya.
"Non Raya,, gimana sama malam pertama nya? apa sudah berhasil?" tanyanya sambil mengupas buah yang di minta oleh anak majikannya di meja makan.
Raya menautkan alisnya berani sekali Tami menanyakan hal itu kepadanya.
"Mbak Tami... ngapain tanya itu, itu rahasia tahu... tidak boleh di ceritakan sama orang lain" jawab nya.
"Hehe... bukan begitu non, mbak Tami kan juga pengen lihat non Raya punya baby mungil yang lucu, pasti nanti baby nya tampan atau cantik sekali" saut Tami yang pandai menjawab.
"Iya, doakan saja ya mbak... Raya bisa punya baby lucu" ucap nya.
"Mbak Tami benar juga.. pasti lucu sekali baby kita, apa lagi kalau mirip papinya kan? eh tapi dia itu kan ketus, mirip aku saja kalau begitu, eh tapi aku kan manja, jadi harus mirip siapa donk??" batin Raya yang tidak jelas.
Kini Raya mulai mempertimbangkan perkataan asistennya sepertinya dia tidak perlu kesepian lagi jika ada baby mungil di tengah keluarga mereka apa lagi Reiner akan lebih sering bolak-balik ke London tanpa mengajak nya, jadi tidak ada salahnya jika cepat cepat punya anak.
.
.
.
Tinggalkan jejak Like nya Kaka Kaka reader tercinta... upah nulis kali... wkwkwkwk... masalah nya view nya nambah tapi like segitu gitu saja heran othor... sampai ketemu di bab selanjutnya ππ₯°..
Aku memang sengaja tidak terlalu banyak meminta dukungan dari Author lain, aku mau tahu pembaca asli novel ini berapa begitu kira-kira nya.
Tapi buat Author yang suproot Terimakasih ya... kalian the best...π
.
.
__ADS_1