KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 16. Kedatangan Yana


__ADS_3

Yuda sudah berada di dalam mobil bersama ayahnya dari beberapa menit yang lalu Yuda hanya menatap ke arah jendela saja, Hal itu membuat Indra tidak nyaman, sesekali Indra menoleh ke arah Yuda selagi ia menyetir.


"Yuda, apa papah putuskan saja hubungan ini?" tanya Indra.


"Apa saat mamah masih hidup, papah juga masih mencintai wanita itu?" Yuda bertanya balik tanpa menoleh.


"Mamah kamu wanita yang sangat baik, tentu saja papah juga mencintai mamah kamu." tegas Indra.


Yuda menoleh ke arah Indra dengan senyuman menyindir "Juga? berarti papah memang tidak pernah melupakan wanita itu padahal sudah menikahi mamah begitu kan?" tukas Yuda.


Indra tidak bisa menjawabnya karena memang itulah yang terjadi pada hatinya, dia hanya bisa menerima pandangan buruk Yuda terhadapnya, itu menjadi pembicaraan penutup mereka, karena Indra enggan memulai percakapan lagi.


Sementara Di halaman belakang rumah Raya, Hans dan dokter Hendra tengah menikmati secangkir teh hijau membicarakan perkembangan fisik Raya.


"Penyakit jantung lemah masih bisa disembuhkan selagi itu bukan dari faktor genetik atau keturunan, tapi Raya memang menuruni kakeknya," Ucap dokter Hendra, yang lalu mengambil cangkir teh hijau nya.


"Lalu bagaimana dok, apa Raya masih bisa hidup seperti layaknya gadis seusianya, yang bisa traveling atau olahraga, aku kasihan dia pasti sangat bosan dengan gaya hidupnya yang terbatas." tanya Hans.


Dokter Hendra meletakkan cangkir pada tatakan nya "Kondisi jantung Raya sudah menjadi lebih kaku, Selain itu saya takut otot jantungnya berubah menjadi jaringan parut, tapi kasus seperti ini masih jarang terjadi, untuk mencegah terjadinya hal itu maka Raya tetap harus mengikuti apa yang saya sarankan." terang dokter Hendra.


"Iya saya mengerti," lirihnya, Hans tampak melamun mendengar penjelasan dokter Hendra.


Dreeetttt dreeetttt dering ponsel Raya menggetarkan bingkai foto masa kecilnya terlihat gadis cantik merangkul paksa anak laki laki yang tampan, Raya memegangi bingkai agar tidak terjatuh dan mulai mengambil ponsel untuk menolak panggilan telefon yang tiada hentinya.


"Mau apa lagi kamu Rei, aku sudah tidak butuh belas kasihan mu, Shela sudah berhasil membuat ku menyerah." ucap Raya.


Raya memandangi foto masa kecil bersama Reiner, dia mengingat ingat masa lalunya.


Flashback on 7 tahun silam.


Raya menghampiri Reiner yang tengah duduk di kursi taman dia membawa coklat untuk Reiner kecil "Rei, terima ini, ini untukmu." ucap Raya kecil.


"Kenapa kamu memberiku ini?" ketus Reiner kecil.


"Aku suka sama kamu Rei." senyum Raya kecil.


Reiner menatap wajah Raya dan membuang senyuman sinis "Jangan harap aku bisa membalas perasaan konyol mu itu, gadis lemah!" decak Reiner kecil.

__ADS_1


Flashback off.


"Setidaknya dulu kamu jujur Rei, tidak mengasihani ku seperti sekarang ini." lirih Raya.


****************


"Rei,!" Shela menemui kekasihnya di halaman parkir sekolah, Reiner membalikan badan dan tersenyum datar kepadanya.


"Rei Lo kenapa gak jemput gue tadi pagi?" tanyanya memastikan.


"Gue gak tidur semalaman, jadi gue berangkat bareng Rafa, sekarang gue juga mau pulang bareng dia, llo naik taksi lagi aja ya," ucap Reiner.


"Lo kenapa sih Rei, llo bosen bareng gue, llo berubah akhir-akhir ini, apa karena cewek penyakit itu?" tukas Shela menatapnya tajam.


Reiner sudah mulai kesal dengan ejekan Shela tapi juga tidak bisa marah pada Shela, Reiner menghembuskan nafas mencoba mengontrol emosi nya.


"Dia tunangan gue, dari awal llo tau kan, sekarang gue gak mau bahas apa apa lagi, gue pulang."


"Rei" Shela menatap nanar kepergian kekasihnya.


****************


☎️ "Iya kenapa?"


πŸ“ž "Maaf pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan bapak"


☎️ "Siapa? saya tidak merasa memiliki janji dengan siapa pun hari ini!"


πŸ“ž "Emmh dia bilang mantan istri bapak."


Hendrawan terdiam sejenak mendengar ucapan sekertaris dari seberang telepon, dia memegangi dadanya merasakan detak jantung yang meningkat.


☎️ "Emmh iya, suruh masuk saja."


πŸ“ž "Baik pak, saya mengerti."


Tak lama kemudian Yana masuk ia berjalan gontai menemui mantan suami yang masih terlihat tampan baginya, kemeja slim fit putih di padukan dengan dasi biru dongker Hendrawan tampak memesona, tatapan tajam nya seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi nya.

__ADS_1


"Apa aku mengganggu?" tanya Yana.


"Tidak, duduk lah, mau minum apa?" sambut Hendrawan menunjukkan sofa di sudut ruangan.


"Aku kesini bukan untuk duduk dengan mu apa lagi meminum sesuatu aku ingin kau mempertemukan ku dengan putraku" ucap Yana tanpa basa-basi.


Mendengar ucapan mantan istrinya Hendrawan kembali duduk di kursi kebesarannya ia merasa Yana sudah tidak berhak menemui Reiner setelah sekian lama ia meninggalkan putranya begitu saja tanpa kabar apapun.


"Jika itu yang kau mau, aku tidak bisa menurutinya, silahkan pergi saja." Hendrawan menunjukkan pintu keluar dengan pulpen di tangannya.


"Kamu tidak pernah berubah, masih dengan sikap arogan mu itu!" decak Yana.


"Kamu yang meninggalkan Reiner bersama ku, lalu sekarang kamu bilang aku yang arogan?" sindir Hendrawan tersenyum sinis.


"Aku pergi, tapi aku tidak akan menyerah, aku akan datang lagi menemui putraku bila perlu aku ke rumah mu, biar saja aku bertemu dengan istri mu." Yana lalu membalikkan badannya bergegas pergi dari sana.


"Silahkan saja, aku ragu Reiner masih mengingat wajah ibu yang menelantarkannya." sahut Hendrawan yang menghentikan langkah Yana dengan tiba-tiba.


Yana memejamkan mata menahan kekesalan dia meremas tas yang sedang ia genggam, rasanya ingin sekali mengacak acak wajah Hendrawan namun itu tidak akan mungkin terjadi, yang bisa ia lakukan hanya melanjutkan langkahnya keluar dari tempat itu. Yana pun mulai melangkahkan kakinya lagi dengan arogan meninggalkan mantan suaminya.


"Aaaaghhhh!!!!" Hendrawan menghancurkan seluruh isi mejanya ia merasa kesal dengan sikap mantan istri yang datang dan pergi seenaknya, meski sebenarnya ia masih memiliki perasaan pada Yana.


Sesaat setelahnya Hans melenguh melihat ruang kerja Hendrawan yang sudah porak poranda seperti kapal pecah.


"Wan, kamu kenapa?" tanya Hans sembari membereskan satu persatu barang-barang yang terjatuh.


"Sudah sudah Hans, biar pegawai saja yang membereskan nya, kamu ada apa ke sini?" Hendrawan mencoba mengembalikan moodnya.


"Nanti saja kita bicara nya, aku ke sini cuma mampir saja, masih ada dokter Hendra di rumah jadi aku langsung pulang lagi saja, atur dulu emosi mu, ingat darah tinggi."


Hans tahu mood sahabatnya sedang tidak baik saat ingin masuk ke ruang kerja Hendrawan tidak sengaja Hans berpapasan dengan Yana, ia yakin pasti karena itu Hendrawan marah.


Hendrawan menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya merasa tertangkap basah oleh calon besannya "Pergilah yang jauh sanah, sialan kamu!" umpat Hendrawan.


Hans tersenyum melihat tingkah laku sahabat nya "Ok, oya ingat darah tinggi Wan, Leta masih muda, bisa bisa..." Goda Hans yang belum selesai.


"Sudah pergi sana!!!" Ketus Hendrawan melemparkan sesuatu pada Hans, Hans menutup pintu masih dengan senyuman menggoda sahabat nya "Wan, Wan, Reiner itu mirip dengan mu," gumam Hans.

__ADS_1


__ADS_2