
DOR..!! "Aaaaaaa" teriaknya.
Yuda menutup mulut Raya seraya menempatkan tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
"Jangan teriak, jangan takut, ada kita, bertahan lah demi baby dalam perut mu, jangan sampai dia juga ketakutan" bisik nya. Dan Raya mengangguk dengan mata yang membulat sempurna.
Yuda segera menenangkan Raya sebelum jantung lemahnya menyerang. Dan sedari tadi pun Raya memang mencoba kuat demi segumpal darah yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya, buah cintanya dengan suami tercinta.
Tidak masalah bagaimana kehamilannya terjadi, secara terencana, secara medis, ataupun terjadi begitu saja. Satu hal yang sangat pasti adalah, hidupnya tidak sama dengan yang dulu lagi. Ada dorongan dari dalam yang menguatkannya.
...----------------...
Kini tubuh mereka menepi ke dinding sebelum kemudian Luna memberikan aba-aba untuk mengikutinya "Cepat ikut aku..!" bisik nya.
Mereka bersembunyi di balik pilar kokoh yang hanya bisa menutupi satu tubuh orang saja.
Namun karena hanya ada dua pilar mereka harus berbagi satu sama lain. Yuda masih mendekap erat adik iparnya sedang Bagas di tarik oleh Luna yang masih sedikit geram dengan tatapan heran lelaki itu.
DOR!!! satu peluru sudah mengarah ke mereka.
Membuat Yuda semakin merangkum kepala adik iparnya.
Ekspresi wajahnya Raya seakan merasa bersalah batinnya terus menerus berseru "Rei, maaf kan aku..!"
Di setiap dekapan demi dekapan yang ia terima dari lelaki lain tak sadar dalam hati Raya terus menerus memanggil manggil nama suaminya.
❤️
London pukul 09 : 40.
"Uhuk-Uhuk... !!" Reiner tersedak kini matanya memerah. Dengan sigap nya Reinhard memberikan segelas air putih padanya.
Reiner pun meneguk air dari tangan Reinhard sebelum kemudian mengambil tissue dan mengelap bibirnya dengan selembar daluang lembut itu.
"Apa makanan nya tidak enak tuan..? atau terlalu pedas..?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak apa-apa..!" Reiner mengangkat tangannya memberikan isyarat bahwa dia baik-baik saja yang sepertinya tidak benar-benar baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku tidak mau makan ini.." tolak nya seraya menyorong piring berisi steik. Dan Reinhard menunduk menurut.
"Ambilkan aku salad saja..!" titahnya.
Tiba-tiba saja Reiner mengingat Istrinya yang tidak pernah memakan steik kesukaan nya mungkin dengan memakan salad Reiner bisa mengobati rasa rindu nya.
Sedari tadi ia merasakan panas yang terus menerus timbul tenggelam di dalam dadanya karena khawatir yang masih menghantuinya. Hingga dengan terpaksa ia menunda dua jam jadwal pertemuannya yang seharusnya jam sembilan menjadi jam sebelas.
Reinhard memberi kode kepada para pelayan yang berderet menunduk di samping meja makan untuk segera menyiapkan salad yang di minta tuannya. Dan salah satu dari mereka melaksanakan perintahnya.
Di tempatnya Reiner menatap Gabriel yang masih terlihat sibuk dengan ponselnya karena terus menerus mencoba menghubungi nomor-nomor keluarga bosnya di Indonesia.
"Apa sudah bisa di hubungi Briel..?" tanyanya. Dan sang ajudan menggeleng dengan tatapan sayu.
Sejujurnya Gabriel juga mencurigai sesuatu, pasti ada alasan saat keluarga bosnya kompak tidak menjawab telepon darinya namun masih belum berani mengatakannya karena menurutnya biarlah waktu yang akan menjawabnya.
❤️
...----------------...
Indonesia pukul 15 : 40.
"Ya ampun, perasaan ini,..." ucap Luna dalam hatinya. Tak sengaja Luna menghirup aroma damai dari tubuh dokter tampan itu. Matanya mengedip-ngedip merasa canggung.
"Mikir apa aku ini woy..!" Luna menggelengkan kepalanya. Membuat Bagas tersadar bahwa ia telah membuat wanita itu tidak nyaman.
"Maaf..! aku hanya ingin melindungi mu..!" ucapnya gugup seraya melepas tautan wajahnya dari telinga Luna. Dan untuk sesaat mata mereka saling bertemu.
DOR.!! suara itu membuyarkan tatapan mereka.
Letusan demi letusan mengarah ke dua pilar itu, Yuda pun mengambil pistol yang terselip di celana jeans nya pistol itu ia dapat dari anak buah ayah Luna yang ia lumpuhkan saat hendak masuk ke ruang tamu.
"Tangkap Gas..!" ucapnya.
Seraya melemparkan satu pistol ke Bagas dan dengan sigap dokter itu menangkap nya setelah memastikan Bagas mendapat senjata dari nya Yuda kembali membidikkan tembakan ke arah lawan.
Namun ternyata Bagas tidak juga menarikan pelatuk pistol nya. Luna yang melihat itu menyatukan kedua ujung alisnya seakan geram.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja, apa kamu mau mati di tangan mereka..?" ucapnya. Wajahnya mendongak ke atas karena wajah Bagas terlalu tinggi untuk di pandang nya.
"Aku ini dokter, aku biasa menyembuhkan penyakit orang, bukan menyakiti orang..!" alasan Bagas. Padahal sepertinya tangan Bagas gemetar memegang pistol itu.
Bibir Luna tersenyum mencela melihat nya "Biar aku saja .!" ucapnya yang lalu mengambil alih pistol dari tangan Bagas.
Luna membidikkan tembakan ke arah anak buah ayahnya sendiri namun tidak bermaksud membunuhnya ia hanya ingin melukai kakinya saja.
Dengan lincah gadis tomboi itu meletuskan benda di tangannya tubuhnya timbul tenggelam di balik pilar kokoh itu, sama halnya dengan Yuda.
Namun sepertinya Bagas mulai merasa tidak nyaman dengan hentakan demi hentakan tubuh kecil gadis tomboi yang mengenai tubuhnya apa lagi bagian sensitif nya masih terasa nyeri setelah beberapa saat yang lalu mendapat tendangan bebas dari Luna .
"Kenapa kamu tidak bisa diam hah?" protesnya.
"Jika aku diam, kalian tidak akan bisa keluar dari sini, mengerti..!!" balas gadis itu ketus.
"Kamu bilang di sini tidak ada anak buah papah mu, kenapa ternyata banyak, apa kamu membohongi kami hah.?" Bagas mulai tidak mempercayai wanita itu.
"Aku bilang sedikit lebih sepi, bukan tidak ada.!! daripada ngoceh lebih baik bantu aku dengan membiarkan ku berkonsentrasi..!!" cerocos Luna di sela aksinya.
...****************...
Di tempat lain Rafa yang sedari tadi mendengar seluruh percakapan rekan-rekannya sedikit banyak tahu yang harus di lakukan saat ini, ia mengamati beberapa anak buah ayah Luna yang masih membidik ke satu arah. Rafa pun segera mengambil tindakan untuk segera memuluskan jalan Yuda yang sudah sedikit lagi bisa membawa Raya keluar.
"Bang Andi kita bantu Yuda" instruksi Rafa pada Andi. Dengan segera Andi bersiaga karena mereka berdua belum di curigai.
DUG Rafa memukul bagian belakang kepala salah satu pria yang tengah melakukan baku tembak dengan Yuda dan Luna.
"Satu beres,,!" ucapnya tersenyum puas dengan menepuk silangkan telapak tangannya.
Rafa mengambil alih pistol lelaki itu lalu membidikkan tembakan ke lawannya sasaran mereka hanya lengan atau kaki saja sepertinya jiwa mereka belum ke level pembunuh.
Begitupun dengan Andi yang terus membantu rekan-rekan nya dari tempatnya, dengan pistol di tangan nya ia melumpuhkan lawan lawannya. Sepertinya Andi cukup terlatih dengan senjata api itu. Berkali kali Andi menjatuhkan pistol lawannya, tidak salah Hans membayar nya mahal-mahal.
"Bajingan..!" gumamnya.
.
__ADS_1
Hibur Author dengan like ya hehehe...🥰😍
.