
Dalam perjalanannya Raya terus menerus menatap jendela pikiran nya sedang di penuhi pertanyaan. Sebenarnya Raya ingin membuktikan bagaimana perasaan nya kepada Bagas namun ternyata Bagas menolak mencium nya.
Menurut Bagas itu hanya tindakan untuk membuat Reiner cemburu saja jika harus melakukan nya kenapa harus di hadapan mantan kekasihnya.
Dengan raut muka penuh tanya jua sesekali Bagas menoleh ke arah Raya di sela mengemudi nya.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Bagas.
"Gak apa-apa!" jawab Raya tanpa menoleh.
"Kalo boleh tau, sejak kapan Reiner di Indonesia? kamu tidak pernah cerita padaku."
"Aku sedang tidak mau membahas nya" singkat Raya.
Bagas membeku mendengar jawaban sahabatnya, suasana hati Raya sedang tidak baik, dahulu mungkin Bagas masih bisa dengan mudah menghiburnya namun seiring dewasa nya mereka hiburan kekanak-kanakan nya tidak lagi membantu nya jadi lebih baik jika diam saja.
"Aku yakin kamu masih sangat menyukai nya, itu yang menjadi alasan mu tidak menerima ku, aku yakin dalam hitungan hari kamu sudah bersama nya lagi" batin Bagas yakin.
Tiba di halaman rumah nya Raya langsung membuka sendiri pintu mobil nya padahal biasanya Raya menunggu Bagas membukakan pintu untuk nya.
Melihat hal itu Bagas mulai merasa tidak nyaman, Raya bukan orang yang tiba-tiba berubah seperti itu.
"Raya,!" Bagas mengejarnya setelah keluar dari mobilnya namun Raya masih melanjutkan langkahnya.
"Kamu kenapa? apa aku punya salah?" Bagas meraih jemari tangan sahabat nya.
"Aku hanya sedikit tidak mood saja, makasih ya jemputan nya, aku masuk, kamu hati-hati." lirih nya yang lalu pergi.
"Raya!" panggilan Bagas membuat nya menoleh kembali.
"Apa la...?" pertanyaan Raya terhenti saat melihat Bagas mendekatkan bibirnya namun tanpa sadar Raya memalingkan wajahnya.
"Kenapa aku menghindari nya? apa karena aku tidak benar benar menyukainya? atau karena aku masih canggung saja? sebenarnya bagaimana perasaan ku ini?" batin Raya masih terus berkecamuk.
Hal itu membuat Bagas mengurungkan niatnya perlahan Bagas beranjak dari posisinya. Beberapa saat lalu Raya menawarkan nya tapi Raya sendiri yang menolaknya.
"Aku pulang saja kalo begitu, kamu masuk lah, istirahat." Bagas memaksakan senyumnya "Bye!" imbuhnya.
"Em em" Raya mengangguk menatap kepergian sahabatnya yang tampak kecewa "Maaf gas" lirih nya.
"Aku semakin yakin dengan perasaan mu pada ku, mungkin sebaiknya aku menghindari mu saja mulai sekarang, itu bisa meminimalisir rasa sakit ku nanti" batin Bagas di sela langkanya.
...****************...
__ADS_1
Sedang keluarga Hendrawan tengah berkutat dengan rencana jamuan makan malam mendadak mereka.
Beberapa kerabat dekatnya di undang ke acara dadakan itu, sebenarnya makan malam itu sebagai bentuk rasa syukur nya atas kepulangan putranya.
Dengan semangat pula para kerabatnya menyambut undangan pesta syukuran Hendrawan, mereka sudah ingin sekali melihat wajah putra semata wayang Hendrawan yang sudah lama tak nampak.
Sedang Reiner tengah mengistirahat kan tubuh nya di atas ranjang empuk nya kamar nya masih sama seperti enam tahun yang lalu.
Tiba-tiba saja seseorang berlari menerobos masuk ke dalam kamar nya.
"Reeeeeeiiii" teriak Rafa menaiki tubuh sahabatnya dengan girangnya.
"Emm.. kamu.. berat.. turun!!" pekik Reiner memukuli punggung sahabatnya.
"Aku merindukan mu Rei, kamu tega sekali meninggalkan ku sendiri, hiks hiks hiks" celoteh Rafa.
"Berhenti bersikap seperti anak gadis, turun cepat, nanti orang orang berpikir kita gay" sungut Reiner menggoyang kan tubuhnya berharap bisa melepaskan pelukan Rafa.
"Aku kangen kamu Rei, hiks hiks hiks" sahut Rafa dengan nada rindu nya.
Click pintu kamar terbuka Gabriel menatap kikuk kedua laki-laki di hadapannya.
"Emmh,, apa aku mengganggu kalian? maaf" ucap Gabriel melongo.
"Brother" Gabriel masih menatap kikuk.
"Apa yang kamu pikirkan? kita ini teman dekat dari kecil" teriak Reiner ia tahu yang ada di pikiran ajudannya.
"Oh, begitu, hehe" nyengir Gabriel.
"Dia siapa Rei.?" tanya Rafa menatap Gabriel.
Reiner duduk bersila masih di tempat yang sama.
"Kenalkan ini Gabriel dari London, dia adik dari orang kepercayaan mendiang kakek ku, dia teman sekaligus ajudan ku" ujar Reiner.
Gabriel pun segera menyambut perkenalan nya dengan teman kecil bos nya "Gabriel" ucap nya.
"Rafa, sang penakluk wanita" nyengir nya kemudian.
...****************...
Sedang di rumah nya, Hans dan Leta masih belum bisa membujuk putrinya untuk datang ke pesta mantan kekasihnya. Tadi sore saja Raya sengaja menghindar kenapa malam harinya harus datang ke acara nya begitu pikirnya.
__ADS_1
"Sayang, mami tidak enak jika kamu tidak ikut hadir, om Hendrawan sangat menyayangi mu, apa kamu tidak menghormati nya? kamu tidak perlu menemui Reiner, cukup datang saja berkumpul dengan yang lain" bujuk Mira.
"Iya, lagi pula selama ini keluarga Reiner masih baik kepada mu, jangan kekanak-kanakan begini" imbuh Hans.
"Raya malas mi, pi, lagian Raya tidak punya baju pesta" alasan Raya.
"Mami yang cariin sekarang kamu mandi saja cepetan" perintah ibunya.
"Kalian kenapa memaksa begini sih?" decak Raya yang masih bergelut dengan selimut tebal nya.
"Sudah, tinggal saja kalo begitu, biar saja Hendrawan kecewa" timpal Hans yang lalu pergi dengan raut muka kecewanya.
"Sayang, papi kamu mulai marah, kamu mandi cepat, mami cariin baju nya ya" bujuk sang ibu.
"Huuuuuffff..... kalian ini" Raya menghembuskan nafas pendek lalu berjalan menuju kamar mandinya.
Beberapa saat kemudian Mira dan Tami sibuk mencari baju untuk Raya, Mira melemparkan baju Raya satu persatu sembarangan.
"Anak ini, kenapa tidak punya baju pesta satupun, semua nya tidak ada yang cocok untuk pergi ke pesta" cerocos Mira.
"Kenapa tidak pakai baju nyonya saja, mungkin ada yang cocok untuk non Raya" usul Tami.
"Iya juga ya, ya sudah aku cari dulu, kamu bereskan semua baju baju ini ya, maaf jadi merepotkan kamu" ujar Mira yang lalu pergi.
Sedang Tami mulai membereskan baju baju yang sudah tercecer berantakan di atas kasur nona muda nya.
Tak lama dari itu Mira kembali ke kamar putrinya dilihat nya Raya sudah keluar dari kamar mandi.
Cepat cepat Mira memaksa putrinya memakai gaun yang dia ambil dari lemari nya.
"Cepat pake ini, kamu mami dandanin" paksa Mira.
"Apa sih mi, Raya gak perlu dandan, buat apa coba" tolak Raya.
"Kamu nurut saja sama mami, Tami pegangin Raya cepat, aku mau dandani dia" perintah nya memaksa.
"Iya nyonya, " Tami pun memegangi paksa nona muda nya.
"Aku tidak mauuuuu" tolak Raya meronta kecil.
Mereka mendadani paksa Raya, Mira masih ingin menjodohkan Reiner dan Raya kembali. Mira masih semangat menunjukkan kecantikan Raya di hadapan Reiner. Menurut nya Reiner laki-laki yang cocok untuk Raya.
.
__ADS_1