KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 67. Benang merah


__ADS_3

"Brengsek.!!!"


Teriakan laki-laki bule berjas hitam itu menggema di dalam ruang kerja mewah nya.


Terlihat beberapa pengawal yang berpakaian serba hitam menundukan wajahnya segan.


"Tidak kakeknya tidak cucunya, mereka sama-sama liciknya, mereka selalu saja memenangkan tender yang seharusnya bisa menguntungkan bagi perusahaan kita..!!" teriak pria itu dengan bahasa asing nya.


"Sekarang kalian cari tahu apapun yang menjadi kelemahan pria congkak itu..!!" lanjutnya masih berteriak tatapannya mengarah ke seluruh pengawalnya yang masih menunduk segan.


"Sebenarnya kami sudah tahu sesuatu tentang cucu dari Adyatama itu Mr" saut pria di sampingnya yang terlihat berbeda kedudukan dengan pengawal lainya.


"Oya..? apa itu..? katakan lah Clive..." tanya sang bos.


"Saat ini cucu Adyatama itu sedang pulang ke Indonesia untuk menemui kekasihnya, baru sekitar satu bulan lebih mereka menikah, saya sudah mencari tahu, dua hari lagi dia kembali ke London untuk mengurus proyek barunya itu" jawab Clive.


"Kita lebih mudah mengurus keluarganya di Indonesia dari pada yang di sini, aku amati Istrinya tidak pernah membawa bodyguard jika kemana mana, tidak seperti Ms Yana.." lanjut Clive dengan senyum liciknya.


"Hekkm... incar saja Istrinya kalau begitu. Aku mau tahu, apa pria congkak itu masih bisa menyombongkan dirinya di hadapan Anson Audrey?" ucapnya pelan dengan ujung bibir yang menyeringai.


"Utus beberapa orang yang di Indonesia suruh mereka mengurus keluarga yang menjadi kelemahan nya, hanya dengan cara itu aku bisa puas.." titah Anson.


"Kita lihat Yana, putra licik mu itu akan aku buat menderita seperti aku yang pernah menderita karena penolakan mu, Sebenarnya aku hanya ingin melihat putramu bangkrut, tapi aku berubah pikiran, sekarang aku mau dia kehilangan Istrinya mungkin..?" Anson tersenyum sinis.


Kebencian Anson bukan hanya persaingan bisnis saja tapi juga karena dendam hati kepada Yana dahulu. Sudah beberapa kali ingin membalasnya tapi tidak juga berhasil mengingat kokohnya dinding besar Halbert Adyatama.


...****************...


Sedang di tempat lain Reiner baru saja tiba di apartemen nya pagi tadi Reiner ke kantor Raya untuk mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham RUPS karena sekarang Reiner menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan mertuanya.


"Raya mana Mbak..?" tanyanya kepada Tami yang tengah berkutat dengan sayur mentah di dapurnya.


"Ada di kamar Den, sepertinya non Raya sakit lagi" jawab Tami yang menghentikan gerakannya.


"Ya sudah, lanjut saja silahkan" ucap Reiner membiarkan Tami meneruskan pekerjaannya karena dia sudah lapar jika terus di tanya yang ada tidak selesai selesai memasak nya langkahnya lalu menuju kamar.


"Sayang... " panggil Reiner saat memasuki kamarnya.


Reiner menoleh ke kiri dilihatnya wanita berwajah pucat bersembunyi di balik selimut tebal, Reiner pun segera duduk di tepi ranjang memastikan keadaan Istrinya.


"Kamu kenapa? tadi pagi kamu baik-baik saja" tanyanya memeriksa dahi Istrinya "Kamu panas kita kerumah sakit ya?" lanjutnya.


"Tidak perlu aku baik-baik saja, hanya demam sedikit kok" saut Raya menggenggam kecil tangan suaminya.

__ADS_1


"Tangan kamu saja panas sayang.."


"Rei,, kenapa kamu overprotektif begitu si, aku bilang aku baik-baik saja" ketus Raya masam yang membuat Reiner sedikit terkejut, tidak biasanya Raya ketus hanya karena masalah sepele.


"Iya iya kalo begitu kamu istirahat lah, I love you sayang.." ucap Reiner yang lalu mengadu kedua bibir mereka.


"Uuugghh...!" Raya menutup mulutnya seperti mau mengeluarkan sesuatu dari perutnya.


"Kamu kenapa..?" tanya Reiner bingung mulutnya menganga mentransfer nafas ke tangannya "Khah...Apa mulutku bau hm?" tanyanya lagi menatap wajah istrinya yang masih menutup mulut.


"Aku... uuugghh... "


Raya beranjak dari tempatnya berjalan menunduk ke toilet dengan panik Reiner pun mengikutinya.


"Uuueegghh" Raya memuntahkan sesuatu yang tadi pagi dia makan.


"Kamu sakit hm?" panik Reiner membantu mengelus tengkuk Istrinya yang masih terlihat kesusahan mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.


"Aku... " ucap Raya lemah matanya masih bisa melihat kepanikan suaminya sebelum kemudian Brugh tidak sadarkan diri.


...****************...


"Raya,, sayang,," panik Reiner yang lalu menggendong Istrinya.


Reiner membaringkan tubuh Raya di ranjang super king size nya lalu meraih ponsel Istrinya yang tergeletak di atas nakas dia menekan kontak bertuliskan Dr Hendra dan sepertinya langsung tersambung "Halo, dok, Raya pingsan lagi" seru nya.


"Baiklah.." ucapnya setelah mendapat jawaban dari seberang telepon.


Reiner mencoba menyadarkan Istrinya semampunya ia meraih minyak angin dari dalam laci lalu menyodorkannya ke hidung mancung Istrinya "Sayang... sadarlah... Raya..." ucapnya masih dengan kepanikannya.


Dalam benaknya bertanya tanya mungkin karena semalam dia memacu tubuh istrinya lagi tapi tidak mungkin karena dia juga sangat berhati-hati sekali, dan sudah beberapa kali melakukan itu Raya tidak apa-apa.


"Sebenarnya kenapa kamu hm.. sadarlah.." seru nya.


"Emmh..." saut Raya yang membuatnya sedikit lebih lega "Bangun sayang, kamu gak papa kan?" tanyanya kemudian.


Dua puluh menit kemudian dokter Hendra datang ia langsung menuju ke kamar utama apartemen itu terlihat pasien nya sudah sadarkan diri namun masih sangat pucat.


Dia memeriksa keadaan pasien nya dengan stetoskop, tidak menemukan gejala lemah jantung yang menyerang kecerdasan otaknya bisa langsung menyimpulkan namun perlu di teliti lebih lanjut lagi.


"Aku panggil anakku saja kesini, dia tinggal di apartemen ini, mungkin dia masih belum bertugas" ucap dokter Hendra seraya mengeluarkan ponsel lalu mengirimkan pesan teks kepada putrinya.


"Kenapa tidak dokter saja?" tanya Reiner bingung, masa iya seorang dokter Hendra tidak bisa mendiagnosa keluhan pasiennya.

__ADS_1


"Tenang lah, sepertinya ini gejala lain" terang dokter Hendra kemudian.


Tak lama dari itu suara bel berbunyi "Dia sudah datang sabar lah Rei" ucap dokter Hendra yang melihat kegelisahan laki-laki di sebelah pasiennya.


Suara langkah kaki dari luar sudah semakin dekat "Silahkan dok, di sana non Raya nya" suara Tami dari luar kamar.


Mendengar itu dokter Hendra menyambut kedatangan putrinya.


"Shima, coba kamu periksa Raya sepertinya dia..." ucap dokter Hendra yang terhenti hal itu membuat Reiner semakin gelisah.


"Cepat periksa lah" titah laki-laki sinis itu.


Dokter Hendra keluar dari sana membiarkan putrinya memeriksa Raya, sedang Reiner masih menatap panik istrinya.


Setelah beberapa saat memeriksa tubuh pasiennya Shima sudah bisa menduga sesuatu "Sepertinya Istri anda sedang hamil pak," ucap Shima kepada suami dari pasiennya.


"A appa?" Reiner melenguh entah senang atau khawatir yang harus dia rasakan saat ini.


"Apa dok? aku hamil..?" tanya Raya bersemangat dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kita tes saja dulu ya, silahkan masukkan air kecil buk Raya di sini nanti aku yang akan periksa selanjutnya" instruksi dokter Shima sebelum kemudian menuntun Raya ke toilet.


Sedang Reiner masih bergeming di tempat nya "Aku tidak memasukkan nya kenapa bisa hamil?" tanyanya pada diri sendiri.


Selama beberapa kali melakukannya Reiner selalu membuang cairannya diluar dia sengaja tidak ingin membuat istrinya bersusah payah mengandung anaknya dia hanya memasukkannya saat malam pertama nya saja dan itu pun tidak di sengaja.


"Apa yang pertama itu langsung jadi?" imbuhnya.


"Aaaasss sial...!! kenapa subur sekali hanya di masukkan sekali saja langsung jadi." gerutu nya pelan tangannya mengacak acak rambutnya.


Sedang di kamar mandi Raya sudah mulai melihat tanda positif di testpack yang masih di pegang dokter Shima "Apa itu tandanya aku benar-benar hamil dok?" seru nya berapi-api.


"Iya, selamat ya buk Raya" ucap dokter Shima tersenyum.


Raya yang tadinya lemah mendadak bersemangat dia berjalan sedikit cepat menuju suaminya yang masih menampakkan wajah gelisah.


"Rei, aku benar-benar positif, aku akan punya baby mungil yang mirip dengan mu hiks hiks" seru Raya menghambur ke pelukan suaminya.


"I iyya sayang" saut Reiner mengelus rambut lurus istrinya dengan tatapan yang masih kosong.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2