
Di 10 menit terakhir team Bagas belum bisa mengejar skor tim Reiner sampai peluit akhir dibunyikan "Priiiiiiitt" waktu selesai tim Reiner menang.
Senyum sesal terpampang nyata di wajah Raya melihat kekalahan teman tampan yang selalu bisa menghiburnya itu, ia menemui Bagas membawa minuman ditangannya.
"Ni minum gas, gue bawain khusus buat llo tau" ucap Raya sambil tersenyum.
Bagas tersenyum manis dan mengambil minuman dari tangan Raya ia menenggaknya sambil melirik ke arah Reiner.
"Makasih Raya cantik, tunangan llo ngeliatin tuh, llo gak papa?"
"Gak papa, ya udah gue ke loker ya, bye." Raya melambaikan jemarinya ringan.
Raya tahu setelah selesai pertandingan akan ada Shela yang tampil di lapangan ia tidak ingin melihat nya walau hanya sebentar.
"Ok deh" Bagas mengedipkan kedua matanya seolah tahu yang di pikirkan teman kesayangannya itu.
Sedangkan Reiner mulai tidak melepaskan pandangan dari Raya ia segera mengikutinya kembali saat Raya berjalan menyelusup berdesakan di antara siswa lain yang masih ingin menonton pertandingan berikutnya
"Kali ini jangan sampai lolos lagi." batin Reiner saat berjalan cepat menerobos banyak orang yang menutupi pandangan nya.
Reiner sudah keluar dari kerumunan siswa tapi ternyata ia kehilangan jejak Raya matanya menyisir ke sekitar, beberapa saat kemudian ia berjalan menuju ke sembarang arah dan bertanya ke segerombolan siswa di sana.
"Eh sorry, liat Raya gak?" tanya Reiner.
Para siswa itu merasa sangat tersanjung di sapa oleh siswa terpopuler di sekolahnya, dengan segera mereka menunjukkan arah kemana Raya pergi.
"Iya ke sana." jawab salah satu dari mereka tanpa melepaskan pandangan dari Reiner yang masih mengenakan kaos basket.
"Oh, makasih ya." ucap Reiner cepat cepat ia berlari ke arah yang baru saja mereka tunjukkan.
"Ya ampun dari deket ganteng banget," decak kagum mereka sambil melompat lompat saking gemasnya.
Reiner berjalan cepat tapi sengaja tidak ingin mengeluarkan suara sepatunya dan setelah beberapa meter dia berjalan, Reiner tersenyum saat melihat Raya yang sedang berdiri di bawah pintu lemari lokernya mengobrak abrik sesuatu di dalam sana.
Dengan langkah yang hati hati Reiner berdiri di belakang Raya namun ia belum berani memberitahukan keberadaannya, untuk sesaat Reiner lebih memilih menatap Raya dari tempatnya.
"Kemana sebenarnya, apa aku lupa membawa nya?" gerutu Raya sambil mengobrak abrik lemari lokernya
"Kamu cari apa?" tanya Reiner yang membuat Raya tersentak hingga menaikan kedua bahunya.
"Eh copot!" seru Raya spontan yang membuat Reiner menahan tawa.
Raya mengelus dada sesaat setelah sadar Reiner yang berbicara dari belakang, cepat cepat ia menutup pintu loker seraya membalikkan badannya.
__ADS_1
"Bukan apa apa, ngapain kamu disini?" sahut Raya terbata bata.
"Kamu lupa bawa apa lagi, biar aku ambilkan." tanya Reiner yang tiba-tiba menggunakan bahasa sopan.
"Sejak kapan kamu aku kamu aku, aneh bener denger nya." batin Raya yang setengah melamun memandangi wajah Reiner.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku tahu aku tampan?" ucap Reiner sambil tersenyum.
Raya semakin ternganga melihat perubahan sikap Reiner yang tiba-tiba tersenyum meski terlihat lebih tampan tapi menurut Raya itu sangat tidak wajar.
"Ya ampun, llo barusan senyum Rei, menakutkan sekali." batin Raya.
Reiner semakin besar kepala di tatap oleh wanita cantik pujaan hatinya.
"Jadi mau berapa lama kamu akan melihatku seperti itu?" goda Reiner masih konsisten dengan nada dinginnya.
Merasa terburu-buru Raya berusaha menyadarkan dirinya dari lamunan, ia bergegas pergi menghindari Reiner sebelum Reiner tahu rahasianya.
"Aku harus pergi sekarang " pamitnya.
Reiner sudah kehilangan kesabaran untuk meminta Raya tetap tinggal dengan sopan, ia menarik lengan Raya dan menyandarkan punggung Raya ke deretan loker di sana.
"Kenapa kamu menghindari ku terus?" decak Reiner.
"Eh nyosor si Rei" bisik salah satu dari mereka.
"Aku bukan menghindari mu aku memang harus pergi." lirih Raya menundukkan wajahnya karena mulai merasa canggung
"Tidak boleh." tolak Reiner yang kini sudah mengepung tubuh ramping Raya.
"Rei aku benar benar harus pergi atau nanti kamu yang kerepotan." Raya sudah tidak bisa menahan sesuatu di bawah sana.
"Aku bersedia " Reiner menantang.
Merasa gagal membuat Reiner mengerti, terpaksa Raya mengatakan rahasianya, Raya mendekatkan bibirnya ke telinga Reiner.
"Aku harus mengganti pembalut sekarang." bisik Raya yang sebenarnya malu sekali mengatakan nya.
Reiner merubah raut wajahnya dari yang menggoda kini tertoreh senyuman malu di wajah tampan nya, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ma af" ucap Reiner memberikan tanda silahkan dengan tangannya.
Reiner membiarkan Raya pergi dengan raut wajah yang sedikit memerah karena kecanggungan di antara mereka.
__ADS_1
"Kenapa di saat seperti ini, ada ada saja " batin Reiner kesal.
Raya segera menuju ruang yang biasa menyediakan kebutuhan nya.
"Kamu memang selalu membuat ku repot Rei" gerutu Raya di sela langkanya.
****************
Sementara itu di tempat lain Hans dan Hendrawan tengah membicarakan anak anak rupawan mereka, di temani dua cangkir americano yang terlihat masih ngebul di meja mewahnya.
Mereka duduk merentangkan tangannya ke sandaran sofa mengistirahatkan tubuh nya setelah berkutat dengan pekerjaannya setengah hari ini.
"Gimana Raya setelah mengembalikan cincin Reiner, apa sudah merasa lebih lega sekarang?" tanya Hendrawan.
"Yah, Raya baik, hanya saja lebih sering melamun, anak itu gengsi nya lebih kuat dari fisiknya" terang Hans.
"Aku tau Reiner masih ingin bertunangan dengan Raya, aku kasih dia kesempatan untuk memperbaiki diri, sebelum nantinya siap untuk kita nikahkan" ucap Hendrawan tersenyum singkat.
"Apa kamu serius ingin menikahkan mereka sebelum Reiner pergi ke Harvard, apa Reiner benar benar bisa menjaga kesetiaannya? meskipun Raya cantik tapi dia punya kekurangan, lebih baik jika tidak usah di nikahkan saja, dari pada nanti Reiner khilaf di sana" sahut Hans.
"Reiner itu menuruni ku, lihat saja meskipun aku tampan aku tidak pernah selingkuh seumur hidup ku " sombong Hendrawan menaikan kedua bahunya.
"Pokok nya aku serahkan saja sama Raya, aku tidak ingin memaksanya, jika nanti Raya setuju aku juga setuju" tegas Hans memalingkan pandangannya.
"Bagaimana jika nanti malam kita makan malam bersama saja, kita bisa tahu sebenarnya bagaimana perasaan mereka" usul Hendrawan yang masih semangat menjodohkan putranya.
"Terserah kamu saja " sahut Hans singkat.
Hans mulai ragu dengan Rainer setelah mendengar curhatan Raya beberapa hari yang lalu.
****************
Kini anak anak di kelas sudah kembali mengenakan seragam putih abu-abu nya, ada yang masih lelah setelah mengikuti pertandingan basket beberapa saat yang lalu.
Reiner yang selalu gagal berbicara dengan Raya mulai merasa gerah, ia mendatangi Raya yang sedang duduk di bangku kelas bersama teman temannya.
Reiner berdiri di samping meja Raya memandangi gadis cantik yang sedang menundukkan wajahnya karena takut.
.
.
Bersambung!
__ADS_1