
Seperti biasanya setiap Bagas datang ke kelas Raya, pasti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, Raya coba melerai pertikaian konyol Rafa versus Bagas.
"Udah udah, Bagas ngapain kesini, biasanya ada kabar?" tanyanya yang membuat Bagas cepat duduk di bangku depan mejanya.
"Ya, dua hari lagi ada pertandingan basket antar kelas, gue mau minta dukungan llo." nyengir Bagas dengan entengnya tak peduli Reiner memperhatikan nya.
"Eh ngapain Raya dukung Lo, Raya pasti dukung kelas nya sendiri dong, apa lagi Reiner sama gue yang main, ya gak Ya." tolak Rafa menatap sengit.
Bagas memutar mata malas "Gue lagi ngomong sama Raya ngapain Lo yang jawab si, mbambang!" kesalnya.
"Iya deeh, gue dukung kalian semua, jangan suruh gue memihak yang mana, kalian tuh temen gue semua." Raya menenangkan mereka.
"Iya tau tuh mereka, kayak anak kecil!" sahut Ria.
****************
Jam istirahat berikut nya Reiner berlatih basket di lapangan terbuka tentu saja para gadis tidak akan melewatkan kesempatan langka ini, jarang jarang bisa melihat Reiner sambil bergosip ria
"Ya ampun, itu liat, di bawah terik matahari pun masih terlihat ganteng banget." Ucap siswi D
"Iya, eh tapi dikelasnya ada juga loh, anak baru yang ganteng kaya Reiner, kalian udah liat belum?" sahut siswi E
"Iya gue liat, kemarin sempat berangkat bareng sama Raya, kayaknya mereka ada hubungan deh, secara kan Reiner juga punya pacar, pasti Raya juga mau balas dendam dong," imbuh siswi F.
Sementara Raya sibuk menatap Shela yang juga berlatih basket untuk pertandingan antar kelas lusa, Shela memang kapten tim di kelasnya itu juga yang menjadi alasan Reiner berhubungan dengan Shela mereka mempunyai hobi yang sama.
"Kalian memang cocok," gumamnya.
Melihat hal itu Yuda tidak tinggal diam ia segera mendekati Raya dengan berdiri di samping nya menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.
"Lo mau ke sana juga?" tanya Yuda yang mengikuti arah pandangannya.
Membuat Raya menoleh Yuda sekilas lalu kembali memandang tunangannya yang tengah bercanda tawa dengan selingkuhannya.
"Gue bahkan gak pernah pegang bola Yud." lirihnya.
"Mau gue ajarin caranya?" tawar Yuda.
"Iya, mau banget, kapan?" Raya excited
"Tunggu kamu sehat dulu aja,"
__ADS_1
"Ya deh," Raya memanyunkan bibirnya memperlihatkan kekecewaannya.
...****************...
Sementara di lapangan Shela tampak mengelap keringat yang membasahi wajah tampan kekasihnya.
"Nanti malam kita jalan yuk," ajaknya.
Namun tak sengaja Reiner menoleh ke arah kiri di sana Raya masih berdiri menatapnya tajam melihat hal itu Reiner segera menurunkan tangan Shela dari dahinya.
"Em gue sibuk Shel, gue ganti baju dulu ya" kali ini Reiner benar benar ingin menjaga perasaan tunangannya.
****************
Malam harinya di halaman belakang rumah Hendrawan, Reiner sibuk memainkan ponsel melihat lihat sosial media Raya "Kiyuuuuuttt." gumamnya.
Masih berpakaian rapi ala CEO Hendrawan menemui putra nakalnya, dilemparkannya kotak kecil berwarna biru ke dada putra semata wayangnya dengan spontan Reiner menangkap nya.
"Pah." ucap Reiner dia membuka kotak kecil berisi cincin berlian yang pernah ia sematkan di jari Raya "Pah, bukannya ini punya Raya, kenapa bisa ada di papah?" polos nya.
"Hans mengembalikan nya sekarang kamu bebas, bukan nya ini yang kamu mau?" ketus Hendrawan, "Maksud nya?" Reiner masih kebingungan.
"Raya memutuskan pertunangan dengan mu." Hendrawan memalingkan muka ke arah lain setengah tidak tega menyampaikan hal itu kepada putranya.
Hendrawan memasukkan tangannya ke dalam saku celana masih menatap ke arah lain dia Ingin menunjukkan kebebasan yang selama ini Reiner idam idamkan.
"Kamu tidak perlu lagi bertanggung jawab atas dirinya, kamu boleh melakukan apa saja yang kamu suka." lirihnya.
Reiner beranjak dari tempat duduknya, dia segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar menabrakkan tubuhnya untuk membuka pintu, sesampainya di kamar ia mengambil jaket di atas sofa juga kunci motor di atas nakas, karena terburu buru tidak sengaja Reiner menjatuhkan kotak biru yang dia bawa.
"Sial !" teriaknya.
Dia segera meringkus kotak itu dengan gerakan yang sangat cepat dan berlari lagi menuruni anak tangga masih dengan terburu-buru hingga menabrak Leta yang tengah berjalan dari arah berlawanan
"Maaf mah."
"Kamu mau kemana Rei?" tanya Leta kebingungan.
Hendrawan yang baru datang dari halaman belakang dia membuang senyum sinis saat melihat putranya kelimpungan
"Hekkmm sekarang nyesel kamu." ucap Hendrawan.
__ADS_1
"Pah Reiner kenapa terburu-buru seperti itu?" polos Leta menoleh suaminya.
"Biarkan saja bocah nakal itu, sudah tidak perlu lagi di urusi, dia sudah hebat.!" umpat serapah keluar dari mulut om om tampan yang tengah berdiri di ambang pintu.
Leta hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku anak vs bapak yang sama sama arogan.
Di sela larinya Reiner memakai jaket hitam kebanggaannya, dia memasukkan kotak biru kedalam saku saat sudah berada di jok motor, cepat cepat dia memakai helm menyalakan motor berlalu dari sana.
Reiner melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, di balik kaca helm mata tajam Reiner seolah menyimpan banyak pertanyaan
"Kenapa Raya, apa ini karena Yuda, apa karena kejadian tadi pagi, aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya" gumamnya.
Kini motor Reiner sudah memasuki halaman rumah Raya, dia segera berlari ke arah pintu masuk dan menekan bel dengan arogan, pak Salim yang tengah menikmati waktu santai nya setengah berlari menghampiri calon menantu keluarga majikannya.
"Rumahnya sepi mas, non Raya sama keluarga nya sedang menginap" terang pak Salim.
"Dimana pak?" cecar Reiner.
"Mereka cuma memberi tahu mau menginap saja, tidak memberi tahu dimana nya." jelas pak Salim.
Reiner menyanggah kedua tangan ke tengkuk seraya membalikkan badannya, membuka bibir yang menunjukkan kekecewaan sontak ia menendang pot bunga di samping pintu.
"Aaaaghhhh...!!!" teriaknya frustrasi.
Teriakan Reiner membuat Pak Salim tersentak tapi hanya bisa melihat saja.
" Saya pulang aja pak. terimakasih."
Reiner langsung pergi dari sana melajukan motornya dengan kecepatan tinggi sepanjang perjalanan hanya hardik hardik dan menghardik yang dia keluarkan dalam gumamnya.
Sementara di tempat lain, Raya juga tampak murung, di dalam kamar rumah lain milik keluarga mereka Raya memandangi bintang dari balik jendela yang terbuka
"Kenapa sayang, jangan bilang kamu menyesal, sudah mengembalikan cincin Reiner." ucap Hans mendekati putrinya.
"Aku menyesal kenapa tidak dari dulu saja Pi." sahut Raya masih memandang ke arah yang sama.
"Ya sudah kamu tidur, besok kamu tidak perlu masuk dulu ya, kita menginap." ucap Hans membelai pucuk rambut putrinya.
Raya mulai memasuki selimut tebal dan segera memejamkan matanya, sedang dikamar Reiner ia tampak gelisah berulangkali menggulingkan tubuhnya beranjak dari tempat tidur berjalan mondar mandir dari kamar ke balkon lalu masuk lagi kedalam selimut sesekali ia juga mengacak acak rambutnya tapi tetap tidak bisa menenangkan pikirannya.
.
__ADS_1
.