KAU GADIS LEMAH!

KAU GADIS LEMAH!
Bab 69. Di bekap


__ADS_3

Saat ini apartemen Presdir tampan sedang di singgahi para orang tua nya keluarga besar itu berkumpul setelah mendengar berita tentang hamilnya Raya.


Ke khawatiran tersirat di wajah Hans dan juga Hendrawan, namun kata bahagia tertulis di senyum Leta dan Mira.


Secara kan ibu-ibu lebih mementingkan gengsi keturunan dari pada yang lainnya. Tapi jika Raya tidak boleh hamil siapa lagi yang akan menjadi penerus tahta mereka.


"Selamat ya sayang, rupanya cepat sekali kamu isi nya" ucap Leta yang kini menggenggam tangan menantunya.


"Iya mah, Raya juga tidak percaya bisa secepat ini" balas Raya tersenyum.


"Tapi.... kalian tidak melakukan nya sebelum...." ucap Leta yang terhenti namun sepertinya seluruh orang di dalam sana tahu maksud dari Leta.


"Tidak mah, terpikir pun tidak!" sanggah Raya.


Sedang Reiner hanya diam saja, memang nya kenapa jika sebelum menikah pun begitu pikir Reiner.


"Gimana Rei, istrimu sedang hamil, apa kamu masih mau melanjutkan keberangkatan mu itu?" tanya Hans yang kini menyandarkan kedua tangannya di sofa di sampingnya ada Istrinya yang terus menerus tersenyum.


"Iya, kasihan Raya, apa tidak bisa di batalkan?" sambung Hendrawan yang duduk di sofa lainnya.


"Rei juga bingung, tapi proyek ini penting sekali, bagi perusahaan Rei" jawabnya.


"Ya sudah Raya tinggal di rumah saja kalo begitu ya" ucap Mira menatap wajah menantunya sebelum kemudian mengalihkan pandangan ke putrinya "Setelah mengantar suamimu ke bandara kamu langsung pulang ke rumah ya sayang" tambahnya.


"Iya mi..."


"Nanti biar Andi yang mengantar kalian ke bandara, papi dan papah kamu ada rapat penting besok, jadi tidak bisa mengantar mu" usul Hans. Karena Gabriel sang ajudan juga akan ikut bersama bos nya, akan lebih aman jika Andi yang mengantar mereka.


"Iya, boleh, lagi pula besok Rafa juga akan ikut mengantar ku, kalian tenang saja" saut Reiner.


Setelah berbincang rindu mereka makan malam bersama sebelum kemudian keluarga Hans dan Hendrawan pulang ke rumah masing-masing, mau menginap juga tidak mungkin karena empat kamar sudah terisi oleh penghuni apartemen itu.


...****************...


Brugh Reiner menjatuhkan tubuhnya di sofa kamar nya pikirannya saat ini seolah tidak rela berpisah dengan istri yang baru saja di nikahi nya apa lagi dia harus meninggalkan nya dalam keadaan hamil.


Raya yang melihat ekspresi wajah suaminya mencoba menghibur dan meyakinkannya. Meski sebenarnya dia juga tidak ingin berpisah walau hanya sebentar.


Namun setelah beberapa bulan melihat Reiner mengalami masa-masa sulit di perusahaannya Raya turut senang saat ada proyek yang bisa membuat Reiner beranjak dari masa sulit itu, sebagai istri Raya harus tetap mendukung suaminya bukan?


"Rei .. " panggil nya "Hemmm" Jawab suaminya tanpa menoleh.


Melihat hal itu Raya sedikit tidak nyaman sepertinya mual nya benar-benar sudah menjauhkan nya dengan suaminya.


Dengan hawa yang sedikit masih tidak enak Raya duduk di pangkuan suaminya mungkin dengan begitu Reiner bisa sedikit terhibur.


Dan benar saja senyuman manis tertoreh di wajah tampan nya "Kamu sudah tidak risi lagi?" tanyanya tangannya melingkar ke pinggang Istrinya.


"Aku paksa dari pada kamu cari wanita lain di sana" jawab Raya, untuk beberapa saat mata mereka saling bertemu.


"Jangan menolak please..." harap Reiner tangannya mulai membuka kancing piyama istrinya.

__ADS_1


"Em em.." Raya mengangguk sebelum kemudian ia mendapati serangan mesra di dadanya.


"Dasar kamu ini..."


Raya hanya bisa pasrah menerima gigitan gigitan kecil di sekitaran sana, matanya terpejam dengan deru nafas yang menggebu.


...****************...


Esok harinya Rafa berjalan gontai keluar dari lift menuju unit apartemen milik sahabatnya. Sebenarnya sudah dari pagi sekali dia keluar dari rumah nya namun karena sibuk menggoda wanita yang ia temui di sepanjang jalan nya menjadi sedikit lebih lama sampai.


Langkahnya kini terhenti setelah melihat empat orang, satu wanita tiga lelaki berjalan ke arahnya "Dari mana saja kamu, lama sekali, hampir saja aku tinggal, penerbangan ku sebentar lagi" sungut Reiner kepadanya.


"Iya,, ada kendala sedikit tadi" sautnya.


"Kendala wanita? sampai kapan kamu jadi play boy begitu?" pekik Reiner sambil terus melangkah. Semua juga tau kebiasaan nyeleneh Rafa.


Rafa menaikan ujung bibirnya "Sampai menemukan cinta sejati ku" sautnya yang lalu mengikuti langkah ke empat orang itu menuju halaman parkir.


Di dalam mobil mereka bercanda gurau saling memukul kepala karena begitu lah kebiasaan Rafa, Gabriel dan juga Reiner sedang Raya hanya tersenyum melihat tingkah laku ketiga pria itu hingga mobil yang di kemudian oleh Andi memasuki halaman parkir Bandara.


Setelah Andi memarkirkan mobilnya Reiner, Rafa, Gabriel dan juga Raya berjalan berdampingan menuju TERMINAL TIGA penerbangan internasional sedang Andi bersiaga di dalam mobilnya.


Sesampainya di sana tatapan Raya mengarah ke dua orang pria yang sangat ia kenal berdiri di tengah keramaian ruangan luas itu "Yuda....!" panggil nya.


Yuda yang menyadari keberadaan mereka juga menyambut nya "Kalian kenapa di sini?" tanyanya tersenyum karena Yuda memang murah senyum.


"Rei,, kamu mau ke London.?" tanya Indra menatap putra tirinya karena dia juga mau ke sana untuk menemui istri tercintanya.


"Emmh... iya pah" Reiner mengangguk. Indra sering mengunjungi rumahnya di London jadi pria itu sudah tidak asing lagi bagi Reiner.


"Raya, kamu kok kelihatan berbeda sayang? sepertinya terlihat lebih cantik dari biasanya" ujar Indra menatap wajah cerah ibu hamil itu.


"Terimakasih Om.. Eh.. pah.." ucap Raya yang belum terbiasa dengan panggilan itu. Di wajahnya tertoreh senyuman kikuk.


"Akhirnya kamu panggil ayahku papah, tapi ternyata untuk putra lainnya" batin Yuda yang terus menatap adik iparnya.


"Apa kamu juga mau ikut Yud..?" tanya Raya menatap Yuda.


"Tidak, aku hanya mengantar papah saja" jawabnya.


"Oh..." Raya mengangguk beberapa kali.


...****************...


Sambil menunggu Gabriel check in Reiner terus menerus menggenggam tangan Istrinya seperti tidak ingin di lepasnya.


"Rei ... kamu menyakiti tangan ku" keluh Raya.


"Maaf sayang" ucap Reiner merenggangkan genggaman nya.


"Rei .. kita masih bisa video call kok, jaman sekarang kan sudah canggih sayang, jangan galau begitu dong" ucap Raya saat menyadari gamang hati suaminya.

__ADS_1


"Aku batalkan saja ya sayang, perasaan ku tidak enak" saut Reiner tatapannya di penuhi ke khawatiran yang entah kenapa.


"Emmmmm... kamu khawatir ya, aku pulang sama Yuda hm..? kamu kenapa masih cemburu begitu, lagian mana ada pria yang mau menggoda ibu hamil?" seru Raya sok tahu.


"Bukan itu, aku memang sudah khawatir dari semalam" gusar Reiner kemudian.


"Kamu lupa, kamu sudah menandatangani kontrak proyek barumu itu?" saut Istrinya yang membuatnya terpaksa harus melanjutkan niatnya.


Reiner menghela nafas berat lalu menghembuskan nya singkat "Iya.. kamu hati-hati ya, kamu di antar Rafa nanti, jangan sampai lepas dari dia, ok..."


Raya menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membuat tanda OK sambil tersenyum.


...****************...


Setelah melihat pesawat yang di tumpangi suaminya take off Raya pun segera berjalan berdampingan bersama dengan Rafa menuju lobby.


Dan lagi-lagi Rafa terlalu fokus dengan wanita di jalanan dari pada menjaga wanita bersuami di sebelahnya.


"Rafa... kamu ini malu-maluin tahu..." protes Raya memukul punggung temannya.


Rafa meringis mendapati perlakuan teman cantiknya "Sakit juga pukulan mu Ya" seru nya.


Tiba di depan mobil mewah yang seharusnya menjemput mereka belum muncul juga.


"Bang Andi kemana? kenapa belum menjemput kita? apa masih di tempat parkir?" tanya Rafa celingukan.


"Aku lupa kasih tau dia, hehe.. kita samperin saja deh ya.." ajak Raya.


"Kamu tidak apa-apa? nanti kecapean lagi" saut Rafa.


"Tidak apa-apa dekat ini.. sekalian jalan-jalan FA.."


"Iya deh.."


Kedua orang itu pun berjalan ke kanan menuju halaman parkir, sesampainya di sana Andi malah tidak di tempat nya.


"Bang Andi kemana lagi nih?" tanya Raya celingukan "Cari minum kali ya?" tambahnya.


"Mungkin saja.. kita tunggu saja deh" saut Rafa sebelum kemudian ia mendapat panggilan telepon, dengan cepat dia meresponnya karena sepertinya itu sangat penting dan rahasia.


"Ya, aku angkat sebentar yaa" pamitnya. Dan Raya mengizinkan.


Sambil menunggu Rafa selesai menelepon Raya mengeluarkan ponselnya bermaksud mengirim pesan teks kepada Andi untuk segera kembali ke mobilnya.


"Eeeemmmm...!!!" tiba-tiba saja seseorang membekap kan kain hitam ke wajah nya.


Tubuh lemah nya tidak bisa meronta meski masih tersadar matanya membulat penuh ketakutan tangannya berusaha melepaskan diri dari seseorang yang tidak bisa dia lihat.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2